Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Xia Mode Manja


__ADS_3

Semalaman, Xia terus saja menangis sampai menyebut nama Chen di dalamnya. Membuat Tama yang tidur di sebelah kamarnya menjadi tidak bisa tidur dengan tenang. 'Anak itu makan apa, sih? Oh, mengapa tangisannya begitu nyaring sampai telingaku sakit, ya?' batin Tama.


Tama tidak menduga jika Chen memiliki adik yang menggemaskan sampai dirinya saja tidak mau bertemu dengannya lagi. Pertemuannya dulu, Xia tidak begitu menggemaskan, sehingga rasanya Tama ingin membuangnya ke kali, jika ada kali di dataran Tiongkok. Perlahan, Tama keluar kamar dan ingin mengecek semua barang yang hendak dilelang malam nanti.


Ketika Tama sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada pesan masuk dan itu dari Feng.


- Feng.


Kemudian Tama pun membalasnya karena tidak terima dengan pesan Feng.


- Tama.


- Feng.


Tama hanya pernah bertemu dengan Xia beberapa hari dan kemudian Xia sudah pergi ke Amerika. Tidak tahu pastinya, Tama menyebutnya belum pernah mengenal Xia karena memang belum akrab.


***


Di kamar, Xia mengatakan kepada Sachi jika dirinya begitu sedih karena sudah tidak memiliki keluarga. Xia hanya ingin di peluk dan di sayangi. Sejak kecil, dirinya selalu saja diasingkan dari keluarga, tidak menerima kasih sayang selayaknya dan selalu dibenci karena tingkah Ibunya. Sachi menginap dan dia masih ngantuk karena semalaman begadang menemani Xia nangis.


"Kak, lalu aku harus bagaimana? Kakak pergi meninggalkan aku sendirian. Padahal, kakak sudah mulai baik kepadaku sebelum aku kembali ke Amerika. Dia malah pergi meninggalkan aku selamanya seprti ini? Aku sungguh ingin menyusulnya mati. Hua .... aku mau menangis lagi ...." ujar Xia dengan air mata berderai.


"Tenanglah, jangan bicara seperti itu. Kamu masih ada keluarga dari pihak kakakmu, bukan? Keluarga Tuan Chen pasti mampu menerimamu dengan baik," Sachi mencoba menghibur gadis berusia 15 tahun itu.


"Tidak mungkin, Kak. Mereka tidak mengenalku, bagaimana bisa mereka menerimaku begitu saja. Jika aku bisa meminta, aku ingin menyusul Kak Chen. Aku sangat merindukannya, aku kesepian!" Xia terus saja menangis.


Ketika Xia mengeluh, Tama yang mendengarnya langsung mengetuk pintu kamar Xia. Merasa tidak tega, Tama pun mencoba bicara dengan Xia. Berharap Xia mau tinggal di asrama sekolah baru di Tiongkok.


"Kakak!" seru Xia langsung berdiri kala melihat Tama membuka pintu seraya mengetuknya.

__ADS_1


"Um, saya … ada hal yang ingin aku katakan padamu," Tama mengatakan dengan ragu-ragu.


"Apa itu?" tanya Xia lirih .


"Saya ingin kamu masuk ke asrama sekolah. Disana, nantinya kamu tidak akan merasa kesepian, bagaimana? Apakah kamu mau? Saya mohon kamu harus mau, ya?" Tama memang tidak ahli dalam membujuk. Ucapannya begitu lirih, lembut bahkan bisa membius Sachi yang saat itu hanya diam menatapnya.


Memang ucapan Tama membuat Xia menjadi semakin sedih. Dirinya sudah merasa hidup hanya sendiri di dunia. Dengan lirih, Xia ingin sekali menyusul keluarganya pergi. Remaja ini terus menginginkan kematian dirinya sampai membuat Tama kesal.


"Kamu ingin mati? Ya sudah, sekarang saja!" ketus Tama.


"Kakak!" teriak Xia terkejut. Di luar ekspektasi Xia, dikira Tama akan membujuknya, malah ternyata Tama mendukungnya.


Xia kembali menangis. Gadis berusia lima belas tahun itu benar-benar belum siap hidup sendiri. Meski tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, Xia tidak dekat dengannya. Dia pun menangis sekencangnya sampai membuat Tama harus mencomot bibir mungilnya.


CUP!


Seketika Xia diam karena di comot bibirnya oleh tangan halusnya Tama. "Diam dan tenang. Jika kamu tidak mau diam, aku akan membuangmu ke Amerika lagi, mau!" ancam Tama dengan wajah yang serius. Xia mengangguk paham.


"Kecil? Dia kecil?" sahut Tama.


Sachi mengangguk pelan.


"Dia pernah membunuh banyak orang menggunakan racun racikannya. Apa itu yang dimaksud kecil? Tubuh dan usianya memang masih kecil. Tapi otaknya begitu licik!" Tama memang bicara tanpa menggunakan rem.


Mendengar pernyataan dari Tama membuat Xia sedih. Air matanya menetes sampai membasahi tangan Tama yang sebelumnya masih mencomot bibir Xia. Ucapan Tama mengingatkan Xia kepada masa lalu, dimana dirinya selalu diperalat oleh Ibu kandungnya sendiri untuk berbuat jahat.


"Mmmmm ...." ucap Xia dengan lirih.


"Ngomong apa kamu?" tanya Tama dengan ketus.

__ADS_1


Sachi menampik tangan Tama yang saat itu mencomot bibir Xia sedikit erat. Tama baru sadar jika dirinya menyentuh seorang gadis kecil. Dalam hatinya, dia langsung beristighfar.


"Xia, kamu tinggallah bersamaku. Aku akan merawatmu dengan baik. Aku akan mengurus pindahan sekolahmu, bagaimana?" begitu lembut Sachi mengatakan itu.


Xia menggeleng.


"Semua orang meninggalkan aku, tidak menginginkan aku. Pantas sekali jika aku mati. Seperti yang kakak ucapkan tadi, aku akan mati hari ini agar aku tidak menjadi beban siapapun!" seru Xia, kesal.


Tama tidak menyangka jika ucapannya direspon oleh Xia. Dia bingung sendiri karena itu. Tama hendak pergi sebelum hatinya luluh kepada gadis kecil itu.


"Kakak ..." suara Xia menghentikan langkah Tama. "Aku ingin ikut tinggal bersama kakak," lanjutnya.


Baru saja Tama merasa iba, sekarang dibuat kesal lagi. Tama menghela napas panjang dan mengusap-usap dadanya dengan pelan. Sabar memang adalah kunci utama dalam menghadapi segala masalah. Pria berusia 27 tahun dengan tatanan rambut rapi itu pun menoleh ke arah gadis kecil berambut lurus di sana. "Apa yang kamu katakan tadi?" tanyanya.


"Ah, tidak. Dia mengatakan jika dia akan tinggal bersamaku. Bukan begitu, Xia? Kau akan tinggal bersamaku, bukan? Hm? Katakan iya, ayo!" Sachi mulai membela Xia.


Tak sekalipun Tama menggubris apa yang dikatakan oleh Sachi. Dia hanya menatap mata Xia yang dimana Xia juga menatapnya dengan tatapan tajam.


"Karena sementara harta Kak Chen kamu yang urus, jadi aku harus tinggal bersamamu sebagai bentuk tanggung jawab!" jelas Xia, tegas.


"Bocah! Tanggung jawab apa yang kamu maksud itu? Kamu masih memiliki Ayah kandung yang wajib menjagamu. Untuk apa kamu mau tinggal bersamaku?" desis Tama, masih berbicara dengan aman.


"Aku, Xia, adik bungsunya Kak Chen. Mulai saat ini, kakak lah yang harus menjadi waliku. Jika tidak —"


"Jika tidak apa? Kamu akan mengancam dengan kata mati lagi? Jika kamu ingin mati, aku akan mengantarmu ke gedung dan melemparmu dari sana. Apa susahnya? Menjauh lah dariku." Tama sudah habis kesabaran menangani Xia yang manja, keras kepala dan banyak bicara.


Saat Tama berbalik, Xia memeluknya dari belakang. Xia sampai memohon untuk jangan meninggalkan dirinya. Gadis berponi itu mengatakan jika Feng tidak pernah menyukainya. Permusuhan antara Chen dengan Feng dulu, membuat Xia takut pada pria yang berprofesi sebagai dokter bedah itu. Dia yakin Feng pun tidak akan mau menjadi tempat bernaungnya.


"Kakak, jangan tinggalkan aku. Selain sekolah, aku akan menjadi pembantu di rumahmu. Aku bisa memasak, aku bisa mencuci dan aku bisa membersihkan rumah. Tapi kumohon jangan tinggalkan aku, aku harus kemana, hua ...," tangisan Xia membuat Sachi tidak tega.

__ADS_1


Sachi berusaha menyakinkan Tama untuk membawa Xia sementara waktu sampai Xia bisa mandiri. Tama hanya tidak mau mengambil keputusan yang salah demi masa depannya. Dengan menerima Xia di sisinya, itu hanya akan membuat masalah di kemudian hari.


Apakah Tama mau menerima Xia, meski memang itu sudah menjadi tugasnya?


__ADS_2