Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Perasaan Yang Masih Samar


__ADS_3

Tiba dimana Xia sudah keluar dari rumah sakit. Remaja ini sudah sembuh dan hanya perlu perawatan luka ringan saja. Hari itu Tama dan Sean menjemputnya dengan ditemani Sachi juga tentunya. Antara Tama dan Xia, kini hanya bisa saling diam dan terasa sekali jarak diantara keduanya. Keduanya sepakat untuk tidak membahas tentang perasaan.


Xia sendiri sudah merasa mati rasa karena telah terluka berkali-kali. Tapi bukan Xia jika masih saja berharap Tama berubah pikiran dan membuatnya tetap tinggal bersamanya. Hanya saja, perlakuan Tama hari itu membuat Xia semakin sedih saja.


Sebelum selesai mengurus administrasi, Sachi membantu Xia mengemasi semua barangnya. Xia bermaksud bertanya pada Sachi tengah perasannya yang ia tujukan pada Tama.


"Apa katamu? Kamu mencintai Tuan Tama?" tanya Sachi terkejut. "Xia, yang benar saja!" serunya.


Helaan kasar itu terhempas dari bibir Xia. "Aku sendiri juga belum yakin. Tapi aku merasa, aku sangat membutuhkan Kak Tama. Aku merasa nyaman jika berada di dekatnya, Kak!" jelasnya.


Sachi tidak tahu harus berkata apa lagi, sebab dia juga belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta meski pernah berkencan sekali. Sachi pun menasehati Xia untuk fokus dengan pendidikan terlebih dahulu daripada perasaan cintanya yang belum tentu yakin.


"Akan ada baiknya jika untuk saat ini kamu fokus dengan. Bukankah pria seperti Tuan Tama ini menyukai wanita yang berpendidikan luas? Bisa saja suatu saat nanti jika kamu menjadi gadis atau wanita yang berhasil dengan wawasan yang luas Tuan Tama akan membuka hati untukmu, hm?" tutur Sachi.


Kata-kata yang diucapkan oleh Sachi memang ada benarnya. Pria dewasa yang berpikiran seperti Tama memang akan suka dengan wanita yang berpendidikan serta berpikiran luas. Apalagi jika wanita itu juga Sholehah, paham agama.


***


Akan ada saudara yang datang, Tama harus menjemput saudaranya itu (Faaz dan Ayden) di Bandara. Jadi Tama harus segera pergi dari rumah sakit dan tidak bisa menjemput Xia bersama Sean. Begitu juga dengan Sachi yang harus segera ke kantor karena ada pekerjaan mendadak.


Setelah hanya tinggal berdua, Xia akhirnya berani mengutarakan niatnya.


"Aku mau ke kembali ke Amerika. Tapi tolong secepatnya. Rasanya muak aku lama-lama di sini," ucap Xia lirih.


"Kau yakin?" tanya Sean begitu mendengar ucapan Xia dengan embel-embel kata muak. "Apa yang membuatmu menjadi yakin ingin kembali ke Amerika? Apakah karena Tama menolakmu?" sambungnya.


"Bukan urusanmu!" cetus Xia memalingkan wajahnya.


Sean tersenyum sinis, "Itu keputusan yang paling bagus. Jangan pernah merubah keputusan lagi. Malam ini juga kita ambil penerbangan ke Amerika."

__ADS_1


Langit cerah kota itu membuat Xia semakin kesal. Xia seakan merasa jika Tuhan bahagia jika dirinya menderita. Sampai dimana, mobil yang dia tumpangi berhenti.


"Kita sudah sampai. Segera turun, istirahat sebentar, lalu setelah itu packing semua barang-barang yang ingin kamu bawa," ucap Sean membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!"


Suara Xia menghentikan tangan Sean. Tangan yang masih memiliki banyak bekas luka itu berhenti dan diletakkan di atas pahanya. "Ada apa lagi?" tanya Sean dengan lembut.


"Pengen peluk—" Xia merentangkan tangannya dengan raut wajah sedih.


Sean memberikan pelukan hangat untuk Xia. Bagaimanapun juga Sean tetap tidak tega mengirim Xia kembali ke Amerika. Xia selalu saja mengalami pembullyan dan bersikap baik meski terkadang menyebalkan. Xia akan menjadi patuh ketika orang yang berada di sisinya memberikan perhatian lebih kepadanya.


"Bagaimana jika kamu ikut bersamaku ke Korea saja? Tentang sekolahmu, aku bisa carikan sekolah yang aman. Kupastikan juga tidak akan ada yang membully-mu. Di sana juga ada anak dari kakaknya istriku, kamu akan mendapatkan teman bermain juga, bagaimana?" usul Sean memberikan pilihan.


Sean terharu dengan Xia yang konsisten dengan janji yang dibuat dengan Chen dulu. Dimana dirinya tidak akan pernah terlibat dalam masalah apapun di sekolah dan di masyarakat yang akan mencoreng nama baik keluarga. Hanya demi itu, dulu Xia yakin jika dirinya akan mendapatkan kasih sayang dari Chen—kakaknya.


Xia tak menjawab, dia malah menundukkan kepalanya. Meski sampai nanti usianya 18 tahun walinya adalah Tama, Xia tidak ingin sampai merepotkan pria yang disukainya itu. Tak ingin mengganggu kebersamaan Sean bersama istrinya juga disana. Pada akhirnya, Xia tetap ikhlas kembali ke Amerika dengan sekolah yang baru.


"Kak Sean, terima kasih. Terima kasih sekali karena kak Sean sudah mau menganggapku sebagai adikmu. Kamu sangat baik sekali, sangat setia kepada keluarga kakakku. Meski aku bukan anak sah dari Ayah Wang, tapi kamu tetap mau merawatku dengan baik sampai saat ini," ungkap Xia. "Terima kasih, Kak Sean,"


"Aku sudah siap pergi. Akan aku buktikan, jika aku bisa menjadi di orang yang membanggakan bagi semua orang. Termasuk kamu, kakak keduaku." sambung Xia dengan keyakinan penuh.


Sean menggenggam erat tangan gadis kecilnya Tama itu. Dengan sejuta harapan, Sean ingin Xia menjadi orang yang berjaya di masa depan. Jauh dari dunia hitam, dan hidup dengan normal layaknya orang biasa lainnya.


Di sana, Xia juga memberikan sebuah janji jika dirinya akan patuh kepada Sean, Feng dan juga Tama karena sudah menyempatkan waktu mereka memberikan sedikit kasih sayang mereka kepadanya. Perasaan yang dirasakan oleh Xia untuk Tama, akan dihilangkan dengan perlahan. Berharap, Xia juga bisa fokus belajar tanpa kepikiran siapa walinya. Pada dasarnya, Xia menempuh pendidikan juga uang warisan dari Chen yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh Chen Yuan Wang.


***


Malam telah datang, Sean, Feng dan juga Sachi bersiap untuk mengantar Xia ke Bandara. Namun, Sean juga akan ikut ke Amerika karena saat itu Tama tidak bisa datang ke sekolah Xia yang di Amerika karena masalah visa.

__ADS_1


Sebelum berangkat, Feng dan Tama bertengkar dulu karena masalah Tama yang tidak mau ikut serta mengantar Xia ke Bandara. Feng hanya ingin Xia belajar dengan fokus, tanpa ada masalah hanya gara-gara Tama yang tidak berlaku adil kepadanya.


"Emang masalahnya apa jika aku tidak ikut pergi? Kamu, Sean dan Nona Sachi sudah ada untuk mengantarnya nanti. Jadi untuk apa aku ikut serta?" kata Tama dengan ketus.


"Cih, kenapa kau sangat menyebalkan hari ini. Jika kau memang tidak rela Xia pergi ke Amerika, cegah!" tegas Feng. "Cegah dia pergi, bawa ke Jogja. Bisa kau rawat dan kau pantau jauh lebih mudah di sana," lanjutnya.


"Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu, Feng!" tepis Tama.


"PERNAH! Kau pernah memikirkan ini sejak Sean mengatakan ingin mengantar Xia kembali. Kenapa kau tidak jujur pada dirimu sendiri, hah!" Feng mulai emosi.


"Kisah Kakek nenekku, memang tidak seharusnya ada kisah yang ke-2. Tapi kau ini wali dari Xia, bukan kakak angkatnya!" tegas Feng.


Tama hanya diam. Dia memalingkan muka dan membelakangi Feng. Kemudian, mengatakan jika dirinya tak ingin terbebani dengan merawat gadis lain yang bukan keluarga sendiri.


"Kau bisa mengatakan itu karena kau suka padanya, bukan? Kau hanya takut jika kau mencintainya, benar, 'kan? Kenapa kau seperti ini, Tama!" Feng mulai bergejolak.


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Feng. Kenapa kau terus berteriak seperti ini? Aku tidak ingin mengantarnya, bukan karena aku tidak rela melepaskan dia pergi," jawab Tama.


"Lalu apa? Apa artinya ini? Kau mengusirnya dari pikiranmu, kau menyakiti hatinya dengan mengusirnya ke Amerika. Padahal dia berharap dibawa pulang olehmu ke Jogja. Dia menemukan pelanginya setelah badai yang terus-menerus menerjangnya selama beberapa tahun terakhir ini," ungkap Feng.


"Kau adalah pelangi baginya. Apakah kamu tega membuat terus murung seperti itu?"


"Tama, dia hanya membutuhkan dukunganmu. Aku menyayanginya juga seperti adikku sendiri, tapi dia lebih percaya padamu. Jika kamu tidak bisa membawanya pulang ke Jogja, setidaknya kamu mengantarnya ke Bandara agar perjalanannya tidak terganggu karena memikirkanmu,"


"Hei, aku percaya kau adalah pria yang baik. Kau selalu memuliakan ibu, selalu menyayangi saudara perempuan di keluarga kita. Semoga penilainku kepadamu ini tidak salah. Bicaralah sebentar dengannya, peluk dia dan beri dia semangat untuk belajar, Tama." Feng menepuk-nepuk bahu Tama sebelum dia pergi meninggalkannya sendiri.


Keegoisan hati Tama bukan hanya beralasan sederhana. Dirinya hanya takut kisah nenek dan juga kakeknya Feng terulang kembali. Menjadi anak tinggal, dirinya juga tidak ingin memikirkan hal lain kecuali membahagiakan kedua orang tuanya. Jika membawa pulang Xia nanti akan menjadi pengaruh besar kepada keluarganya, maka dari itu Tama tidak akan pernah membawa Xia bertemu dengan kedua orang tuanya.


Tama bimbang, dia duduk termenung di sudut kasur menatap ke bawah. Beristighfar dan terus menyebut nama ibunya setelah istighfar ketujuh. Sekitar beberapa menit, ia sudah tidak mendengar ada keributan lagi di luar kamarnya.

__ADS_1


Semuanya sudah berangkat ke Bandara untuk mengantar Xia kembali. Tama pun menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya keranjang yang empuk itu. Teringat dengan senyum gadis kecilnya yang begitu manis, membuat perasaannya tidak nyaman.


__ADS_2