
Satu minggu berlalu. Xia sudah mulai nyaman dengan sekolah lamanya di sana, tapi sebenarnya Xia juga enggan sekolah di sekolahan tersebut. Alasannya masih belum jelas, tapi karena sekolah itu memang pilihan dari mendiang kakaknya, maka Xia menjalaninya dengan senang hati.
Selama satu minggu itu, Tama dan Xia saling diam dan tidak kontak lagi seperti sebelumnya yang selalu terlihat akrab. Biasanya Xia akan selalu mengekor kemanapun Tama pergi, tapi kali itu, tidak.
Apalagi Tama juga selalu menghindari Xia ketika berada di dalam satu ruangan yang sama. Tak ingin semakin kesalahpahaman semakin berangsur-angsur, sepulang sekolah, Xia pun meminta Tama menjemputnya dan ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
'Satu jam lagi sudah waktunya pulang. Apa aku harus meminta Kak Tama untuk menjemputku?' batinnya.
Awalnya Xia ragu, tapi karena memang dirinya juga tidak tahan lagi terus diam, akhirnya dia pun mengirim pesan pada Tama untuk menjemputnya. Pesan sudah terkirim dan Tama juga sudah terlihat membacanya.
"Kenapa dia belum datang? Padahal aku sudah memintanya untuk menjemputku. Aku ingin bicara dengannya hari ini. Jika di rumah, aku mana bisa bicara dengannya," gumam Xia masih setia menunggu.
"Huft, lama sekali."
Hampir 2 jam menunggu, Tama belum juga datang menjemputnya. Tapi remaja cantik ini tetap sabar menunggu, sampai Xia juga rela menahan lapar demi menunggu Tama. Perutnya terus berbunyi dan membuat tenaganya hampir habis.
Sementara itu, Tama yang baru saja selesai rapat bersama dengan Sean juga. Kemudian, hendak mengantar Sean ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan tubuhnya. Mengingat karena pernah mengalami insiden yang tidak menyenangkan, tidak tahu apakah ada luka dalam yang tidak diketahui atau tidaknya.
"Kamu yakin bisa mengantarku? Sejak tadi aku mendengar ponselmu terus berdering," tanya Sean pada Tama. "Apa tidak sebaiknya kamu jawab dulu teleponnya. Siapa tahu ada kabar penting," imbuhnya.
"Ini tidak penting, aku akan mengantarmu saja. Ayo, kita segera berangkat." jawab Tama, mengabaikan ponsel yang ada dalam genggamannya.
Ketika baru saja selangkah mau ke luar kantor, kembali ponsel Tama berdering disertai dengan getar. Sean sudah gemas karena Tama terus mengabaikan telepon tersebut. Terpaksa, Sean pun merebutnya dari genggaman tangan Tama.
"Sean!" teriak Tama.
"Apa? Ada telepon ini, harusnya kamu jawab, Tama!" tegas Sean. "Apa ini … Xia?" dengusnya. "Kau tidak mau menjawab panggilan Xia? Why? Is there something diantara kalian berdua, kah?" sambungnya.
Tama hanya diam saja. Menunduk, kemudian merebut ponselnya dari tangan Sean. "Hash, iya, iya. Aku akan jawab panggilan darinya. Bersisik banget dah!" ketusnya.
__ADS_1
Panggilan telah berakhir. Melihat ada sesuatu di wajah Tama, Sean pun menyarankan untuk menyelesaikan masalahnya lebih dulu bersama dengan Xia. Sean meninggalkan Tama di ruangan kantornya. Disusul oleh Tama dan ingin menjelaskan bahwa dia tidak pernah merasa ada sesuatu yang terjadi di antara dirinya dengan Xia.
"Sean, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku dan Xia itu tidak ada hubungan apa-apa. Kami baik-baik saja kok. Tidak ada masalah yang terjadi di antara kami," jelas Tama.
"Aku akan pergi ke rumah sakit sendiri. Sebaiknya kamu menjepit Xia saja. Aku takut jika dia ada hal yang ingin disampaikan padamu secara empat mata," sahut Sean menepuk lengan Tama.
Kebetulan taksi lewat dan Sean pun memanggil taksi.
"Taksi!" teriak pria berusia 27 tahun itu. "Aku pamit dulu, kamu bisa selesaikan masalahmu sekarang. Sampai bertemu di rumah," pamitnya.
"Sean, aku bisa mengantarmu!" celetuk Tama, dia tetap ingin menghindari Xia.
Kembali Sean menepuk lengan Tama. "Tama, Xia masih kecil. Saat ini memang sedang mencari perhatian siapapun yang menurutnya bisa dijadikan sandaran ternyaman. Kamu bisa memberikan nasehat-nasehat yang baik kepadanya supaya bisa berubah menjadi gadis baik, hm? Aku percayakan Xia padamu, assalamualaikum," tutur Sean.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Hati-hati di jalan, Sean." jawab Tama, menundukkan kepalanya.
Setelah taksi yang di kendarai Sean berlaku, Tama baru membuka pesan dari Xia yang mengatakan bahwa dirinya sudah menunggu sejak keluar dari sekolah.
Tama kembali ke parkiran di kantor dan segara menyalakan mobilnya menuju sekolahan Xia. Dengan kecepatan penuh, sekitar 15 menitan, Tama sampai di depan gedung sekolah nan megah di tengah Kota tersebut.
Ternyata benar, Xia masih menunggu kedatangannya dengan duduk termenung sendirian di samping pagar besi gedung sekolah yang sudah tertutup.
'Kenapa dia masih menungguku? Sedangkan untuk bicara saja bisa dikatakan di rumah atau bisa menyusul juga ke kantor,' gumam Tama dalam hati.
'Haduh, sangat merepotkan sekali. Andai saja aku tidak mengiyakan amanah Chen sebelum dia pergi.'
Langkah kaki Tama demi perlahan sampai juga di depan Xia. Sengaja Tama melambatkan langkahnya karena tidak ingin cepat-cepat bertemu dengan remaja aktif itu. Xia yang saat itu sedang berjongkok, menunduk dan menahan lapar, melihat kaki Tama yang bersepatu di depannya langsung melongok ke atas. Memastikan jika pria yang berdiri di hadapannya benar-benar orang yang diharapkan.
"Kak Tama? Kau sudah datang? Apakah aku mengganggu rapatnya? Aku su ... Ah! Kakiku!" Xia berteriak kesakitan karena kakinya mengalami kebas dan kesemutan.
__ADS_1
"Apa kau kebas? Sudah berapa lama kau berjongkok seperti ini?" melihat wajah Tama yang seketika terlihat khawatir di mata Xia, membuat gadis berusia 15 tahun itu semakin tersentuh.
"Aku tidak bisa berdiri, bagaimana ini?" Xia merintih lirih.
Tanpa berpikir lagi, Tama langsung menggendong tubuh bongsor Xia. Berjalan dengan tegap menuju ke mobil, membimbing Xia duduk dengan pelan.
'Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdegup sangat kencang seperti ini?' gumam Xia dalam hati, menatap wajah manis nan terus Tama kala berdekatan dengan wajahnya.
Xia merasakan seluruh pembuluh darah di tubuhnya terasa berdesir, membuat getaran hebat yang semakin mengguncang perasaannya. Xia jatuh cinta pada pria yang jarak usianya sangat jauh darinya, meski Xia belum tahu bahwa dirinya jatuh cinta kepada pria setengah matang itu sungguhan atau tidak.
"Terima kasih." ucap Xia lirih.
Tidak menjawab, Tama hanya menatap Xia sekejap dengan tatapan dinginnya itu. Kemudian menutup pintu mobilnya dan masuk ke sisi lain di bagian stir. Kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera berangkat pulang ke rumah.
"Apakah aku benar mengganggumu? Aku minta maaf atas itu, dan terima kasih sudah mau datang menjemputku meski terlambat sedikit," ucap Xia merasa bersalah dan menyesal.
"Apa kamu marah kepadaku, kak Tama?" lanjut Xia.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Tama. Pengusaha muda itu hanya fokus menyetir, sampai dirinya saja tidak menoleh sedikitpun ke arah Xia. Meski begitu, tak bisa membuat nyali Xia menciut. Dia terus akan berusaha sampai kecanggungan diantara mereka musnah.
'Aduh, aku sangat lapar sekali. Kepalaku juga kenapa pusing, ya? Bahkan serasa bagian perut atas sangat panas.' Xia begitu menderita karena kelaparan.
Keheningan itu sampai membuat suara perut Xia terdengar jelas. Lapar, dahaga, dan juga pusing sudah menyerang tubuhnya sejak 1 jam yang lalu. Membuat Xia sedikit lemas dan akhirnya tertidur.
"Jika kau lapar, kita bisa mam—" ucapan Tama terhenti, kala melihat Xia terpejam. ’Apa dia tidur? Bukankah dia lapar?’ gumamnya.
Tama mencari tempat untuk memberhentikan mobilnya.
'Sehaiknya aku pinggirkan dulu mobilnya.' batinnya.
__ADS_1
Tepat di depan taman kota, tepatnya di parkiran yang ada, Tama pun berhenti. Mencoba membangunkan Xia karena takut gadis kecilnya itu pingsan akibat kelaparan. Namun, berulang kali Tama mengguncang tubuh Xia, Xia tak kunjung terbangun juga.
Lalu, apakah Xia benar-benar pingsan?