Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Teman Baru Xia


__ADS_3

"Ada apa? Siapa gadis ini?" tanya Sean terkejut dengan kehadiran Theresia.


'Tampan sekali, kenapa Xia begitu beruntung dikelilingi dengan kakak-kakak yang tampan? Ahh, aku harus protes ke Xia nanti!' batin Theresia mulai meronta lagi.


Tama mengatakan apa yang terjadi kepada Xia. Setelah mendengar kabar tersebut, Sean baru sadar jika perasaan gelisah dan cemas nya adalah karena terjadi sesuatu terhadap Xia. Bagaimanapun juga, Sean juga menyaksikan Xia tumbuh besar. Rasa sayang pasti ada selayaknya sayang terhadap adiknya sendiri.


"Kita ke rumah sakit saat ini. Kau sudah menghubungi Feng?" tanya Sean, khawatir. 


"Belum, kamu saja yang menghubunginya, biarkan aku yang menyetir. Kebetulan sekali Xia di masuk di rumah sakit tempat Feng bekerja." jawab Tama.


Segera mereka berangkat ke rumah sakit. Perasaan cemas dalam hati Sean dan Tama terus menghantui. Keduanya memang sudah seharusnya mengkhawatirkan Xia karena memang Xia adalah amanah terakhir Chen. 


Sesampainya di rumah sakit, Xia masih dalam perawatan. Tak lama kemudian, datanglah Feng yang baru selesai menangani pasiennya.


"Apa Xia sudah ada kabar?" tanya Feng dengan napas terengah-engah.


Tama dan Sean menggeleng kepala bersamaan.


'Wah! Siapa lagi kakak tampan ini? Oh, Xia! Aku tidak menyangka jika kamu memiliki pria tampan seperti mereka. Sebenarnya kau ini siapa?' Theresia mulai bergumam lagi.


"Dia siapa?" tanya Feng menunjuk Theresia.


"Ah, aku? Perkenalkan, namaku Theresia—temannya Xia. Kebetulan aku ikut bersama mereka datang kemari." jawab Theresia semangat.


Feng hanya mengangguk-angguk saja. Mereka dalam  mode serius karena khawatir dengan keadaan Xia di dalam sana. Meski ketiganya  tidak pernah menunjukkan rasa kasihnya, tetap saja Xia adalah gadis yang memang butuh perlindungan ketiganya. Xia juga masih kecil dan tidak ada tempat pelarian setelah keluarganya meninggal dunia.


'Apakah selain mereka bertiga, masih ada kakak-kakak tampan lagi? Tapi mereka ini siapanya Xia, ya?' tanya Theresia dalam hati.

__ADS_1


Klek!


Suara pintu UGD terbuka. Feng, Tama dan Sean segera menyambut dokter yang memeriksa Xia keluar dan menanyakan kondisi remaja itu. "Dokter, bagaimana keadaan adik kami?" tanya Sean.


"Dokter Hao, anda juga di sini?" tanya dokter perempuan itu heran melihat Feng ada di depan UGD.


"Pasien yang kecelakaan itu adalah adikku. Kita bertiga adalah kakaknya, keluarganya tentunya. Bagaimana keadaannya?" tanya Feng kembali.


"Tapi wali yang tadi ditelpon adalah bernama Tama, lalu … diantara kalian berdua siapa yang namanya Tama?"


Dokter perlu diskusi akan kondisi Xia saat itu dengan Tama yang ditunjuk sebagai wali Xia. Sementara Sean akan menanyai supir yang menabrak Xia. Namun karena Tama belum lancar dalam berbahasa Mandarin,  akhirnya Feng pun meminta Tama untuk menunggu Xia dan dirinya lah yang akan bicara dengan dokter. Tugas itu sudah terbagi rata, ketiganya melakukan tugasnya masing-masing.


"Tunggu! Lalu aku bagaimana?" tanya Theresia bingung.


"Kau ikut bersama kakak tertua Xia," jawab Feng menunjuk Sean. "Sean,  kau bawa dia. Bukankah ada saksi yang mengatakan jika Xia bertengkar dengan teman sekolahnya? Pasti gadis ini akan tahu siapa teman sekolahnya itu."  sambung Feng dengan tegas.


Sean setuju dan segera membawa Theresia ikut bersamanya. Sopir yang menabrak Xia kini ada di kantor polisi dalam tahap penyelidikan. Kemudian, cctv jalanan juga sudah dikantongi polisi saat itu juga.


Menunggu Feng dan Sean kembali, Tama duduk menunggu Xia yang terbaring lemas di ranjang rawat inap VIP di rumah sakit tersebut. Tama terus memandangi Xia dengan perasaan bersalah. Dia menyalahkan dirinya karena tidak mengejar Xia kala Xia kabur darinya.


"Aku harus apa?" lirih Tama.


"Kamu hanya anak kecil bagiku, tapi entah kenapa aku tidak bisa menghadapimu," lanjut Tama.


"Semua keponakanku bisa aku hadapi satu persatu. Bahkan Leticia yang juga hampir memiliki sikap sama sepertimu saja bisa aku hadapi. Lantas, mengapa kamu begitu sulit dikendalikan?"


"Sisa waktuku hanya seminggu lagi di sini. Setelah ini, kamu akan tinggal dengan siapa, Xia? Antara Ayden atau Faaz lah yang akan giliran bertugas di sini. Aku harus apa? Kecuali menghindarimu, aku tidak ada cara lain,"

__ADS_1


"Aku tidak ingin kisah Kakek dan Neneknya Feng terulang lagi. Jatuh cinta atau sampai menikah dengan adik angkat? Aku tidak menginginkan itu,"


"Aku harus apa, Ya Allah?"


Ketakutan Tama memang di dasari atas kisah nenek dan kakeknya Feng yang dimana mereka menikah di dalam hubungan saudara angkat. Helaan napas panjang, membuat Tama sedikit lega karena mampu mengatakan apa yang dirasakan beberapa hari terakhir. Pria berusia 27 tahun ini sangat yakin jika cinta akan tumbuh jika dua orang tersebut selalu bersama. Hal itu juga dialami oleh Airyn dan Sean. Banyak contoh yang sudah Tama lihat. Itu sebabnya pria asli berdarah Jawa ini selalu waspada terhadap lawan jenis.


Tama lebih suka bekerja dan mencari ilmu di usianya yang masih terbilang sangat muda. Sebagai anak tunggal, membuat Tama tidak ingin menikah lebih awal sebelum membuat kedua orang tuanya bangga dengan semua usaha suksesnya.


***


Sementara itu, di perjalanan menuju kantor polisi, Theresia tak henti-hentinya menatap Sean. Theresia memang gila akan pria tampan dan mapan. Gadis berusia 16 tahun itu memiliki cita-cita menikah muda dengan billionaire, CEO, mempunya sugar daddy.


"Kenapa kamu terus menatapku? Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku?" tanya Sean, sadar jika gadis kecil di sampingnya tengah menatapnya sejak masuk ke mobil.


"Ah, tidak. Wajah kakak terlihat seperti aktor tampan Yi Tian. Apakah kakak sudah memiliki pacar?" tanya Theresia kembali.


Sean tersenyum. "Aku sudah memiliki istri. Dia calon dokter hebat dan saat ini sedang belajar di Korea. Apa kau ingin melihat bagaimana wajah istriku?" jawab Sean.


Bagai tertusuk pedang yang tajam sampai menembus jantung. Hati Theresia hancur seketika mendengar Sean sudah memiliki istri dan sedang belajar kedokteran di Korea. Tapi, bukan Theresia jika tidak menyangkal, hal itu yang diajarkan kepada Xia untuk menghadapi Tama dalam kesehariannya.


"Tapi, kenapa aku tidak melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manismu, Kak? Apakah kau dan istrimu sedang bertengkar?" lanjut Theresia bertanya. 


"Apakah orang yang sudah menikah harus selalu memakai cincin pernikahan? Aku memiliki tanda ikatan pernikahanku sendiri. Lagi pula, istriku selalu ada di hatiku. Jadi tidak masalah jika aku tidak mengenakan cincin pernikahan," jawab Sean dengan senyuman.


"Hah, kenapa aku lahir terlambat. Andai saja aku lahir tujuh tahun lebih awal. Pasti kita akan bertemu," dengus Theresia.


Sean semakin tertawa mendengar celotehan dari anak yang baru gede itu. Kemudian, pria berusia 27 tahun itu menunjukkan foto istrinya yang cantik, anggun berbalut busana muslim modern. "Ini adalah istriku, bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Ahh, pantas saja kau memilihnya. Istrimu ini sangat cantik dan terlihat cerdas. Kalian pasangan yang cocok. Haih, belum juga berjuang sudah terluka. Sepertinya aku akan meleleh di sini,  kakak tampan." tukas Theresia.


Bagaimanapun juga, Airyn adalah cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhir bagi Sean. Saat ini mereka memang terpisah, tapi  Sean tidak pernah melupakan istrinya walau hanya sedetik saja.


__ADS_2