
"Apa katamu?"
"Aku tidak setuju!"
Feng langsung menolak ide gila dari Tama. Xia pun sampai menganga mendengarnya, remaja itu tidak paham apa yang keduanya bicarakan. Tama kembali meyakinkan Feng lagi dengan sejuta rayuannya. Tama hanya ingin mereka segera pulang dan menyudahi dunia yang belum pernah ia jamah sebelumnya.
"Hanya pura-pura saja, Feng. Setelah itu kita kabur bersama, bagaimana?" bujuk Tama. "Ayolah, kau tahu aku, bukan?" Tama masih mendesak.
"Kau sendiri yang mengatakan jika wanita itu gila. Sekarang kau tega mengorbankan sepupumu sendiri, ha? Memang kau ya!" Feng tidak terima usul sepupunya itu.
"Feng, dia menyukaimu. Siapa tahu dengan membuatnya senang, kita semua bisa dengan mudah kabur dari sini membawa Sean sekalian." lanjut Tama.
Feng masih enggan menanggapi ide konyol dari Tama. Bagaimanapun juga, tidak mudah baginya untuk melakukan hal seperti itu, meski dirinya seorang agnostik. Sean yang turut hadir di sana pun akhirnya mulai angkat bicara. Dia sampai memohon kepada Feng juga untuk mempertimbangkan lagi ide dari Tama.
"Hei, aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan dari kedua orang tuaku di waktu lalu. Jika aku kebablasan bagaimana? Bukankah nantinya malah aku akan terikat dengan wanita sialan itu? Tidak mau!" tolak Feng lagi.
Meski terus dibujuk, tetap saja Feng kekeh dengan pendiriannya.
"Kakak-kakak, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dalam ide gila ini juga. Bahkan aku juga tidak tahu ide macam apa ini. Tapi ada baiknya, jika Kakak Feng mengikuti ide dari Kak Tama," sahut Xia dengan senyuman.
"Bocah, jangan ikut campur!" tegur Tama dan Feng bersamaan.
Meong~
Xia langsung mengkerut. Kedua kakaknya malah berdebat hal yang tidak ia pahami. Akhirnya, Xia pun hanya bisa rebahan saja dan menikmati kegaduhan itu. Setelah bicara panjang lebar dan menjelaskan intinya, Tama kembali meyakinkan Feng untuk melakukan idenya.
"Feng, ayolah. Kau pikir saja sekarang, mau bagaimana lagi caranya supaya kita bisa membawa badan sendiri dan juga Sean yang tidak bisa berjalan ini keluar dari desa yang aneh ini?" papar Tama.
'Sial, sandiwaranya lebih baik dariku. Ini antara penghinaan dan penghayatan. Jadinya begini.' batin Sean mulai tertekan.
Setelah Tama mengatakan itu semua juga demi Airyn yang sedih di sana, membuat Feng pun langsung menyetujui ide gila dari Tama. Di mana, Feng harus mendekati Yu Liu dan mengajaknya kencan nanti malam. Sementara itu, Tama dan Xia akan mempersiapkan rencana kaburnya nanti malam.
"Huh, aku setuju karena ini demi Airyn. Wanita seperti apa Yu Liu ini. Mengapa kau sampai memiliki ide gila seperti ini, Tama!" meski setuju, Feng masih saja bergumam tidak jelas.
__ADS_1
'Haha, makan tuh nenek-nenek. Setelah lulus nanti, aku akan menjadi orang pertama yang akan tertawa di saat kau kencani nenek-nenek__'
Bahkan dari batin saja, Tama sudah tertawa sampai terpingkal-pingkal. Mengingat Xia masih belum mengetahui jika Sean hanya bersandiwara, Sean sendiri pun mengatakan, "Apakah kalian memang keluargaku?" tanyanya lirih, karena ada seseorang juga yang lewat di depan kamar mereka.
"Astaga, Kak Sean. Apa kau ini memang hilang ingatan, kah?" tanya Xia, beranjak dari ranjangnya.
"Entah mengapa aku tidak percaya jika kau sedang hilang ingatan. Apa kamu tidak mengingatku sama sekali?" Xia masih saja berceloteh.
Sean memberi isyarat kepada Feng jika ada seseorang berada di depan kamar mereka. Tama juga paham dengan apa yang Sean berikan meski melalui bahasa isyarat mata dan jari telunjuk saja.
"Xia, sudahlah. Bukankah pernah kukatakan, bukan? Dia mengalami kecelakaan besar. Jika tidak ingat apapun, kau jangan memaksanya. Untuk apa kau memaksa?" tutur Feng.
"Cih, aku hanya bertanya. Untuk apa kakak berkata seperti itu. Mengapa juga kamu sangat lembut padaku, Kak Feng?" ketus Xia.
"Xia ...."
Melihat tatapan Tama yang tajam sambil menyebut namanya, membuat Xia menjadi menunduk dan diam. Sebelumnya, memang Xia ini selalu berdebat dengan Tama dan Feng hanya karena masalah sepele. Tapi karena memang di tempat asing itu dirinya sudah berjanji akan patuh, akhirnya Xia hanya bisa diam saja.
"Sudahlah, aku mau kembali ke kamarku. Kalian istirahat dulu saja. Atau, kalian nanti bisa bermalam di sini. Aku akan meminta Nona Yu Liu untuk menyiapkan makan malam," lanjut Sean dengan sandiwaranya.
Setelah itu, seseorang yang sebelumnya menguping mereka juga pergi begitu saja. Tak lama kemudian, Sean juga kembali ke kamarnya. Feng dan Tama pun duduk kembali ke ranjangnya masing-masing dan masih terus berpikir, bagaimana cara keluar.
"Tama, apa Sean—" ucapan Feng terhenti kala Tama langsung mengangguk. Rupanya pria yang berprofesi sebagai dokter bedah ini mengerti keadaan yang sedang terjadi.
Tama pasti sudah mengetahui jika Sean hanya bersandiwara demi melindungi dirinya.
"Di sini tidak ada jaringan, bagaimana aku bisa menghubungi Airyn?" gumam Tama.
"Sebaiknya, kita jangan beritahu siapapun dulu jika kita telah menemukannya. Aku akan mengirim lokasi kita kepada orang ku. Mereka akan menunggu kita dari kejauhan gapura desa ini." Feng masih bisa menggunakan akalnya untuk mencari ide lain.
***
Sementara di kamarnya, Sean mengaktifkan ponselnya kembali. Menatap wajah sang istri yang terpasang di layar utamanya. Mata indah dan bibir mungilnya membuat Sean ingin sekali memandang sang istri secara langsung.
__ADS_1
'Aku merindukanmu, cintaku. Aku sangat merindukan dirimu,' batin Sean. "Apa kabar kamu, cantik. Maafkan aku yang belum bisa pulang untuk bertemu denganmu__'
Di malam terjadinya ledakan itu, tiga menit sebelum ada ledakan, Chen mendorong tubuh Sean menjauh dari ruangan tersebut. Ada barang juga yang telah Chen selipkan ke tangan Sean untuk diberikan kepada calon keponakannya nanti (anaknya Leticia).
Setelah memastikan Sean sudah mendekati pintu keluar lain, Chen kembali ke dalam dan menyelamatkan sang Ibu. Belum juga bisa menyelamatkan sang ibu, gedungnya tiba-tiba sudah meledak dan Sean pun terkena ledakan itu juga.
Kaki dan punggungnya mengalami luka bakar, wajahnya terluka karena perkelahian dan juga terkena serpihan kaca yang ada di ruangan tersebut. Setelah pingsan selama 20 menit, akhirnya Sean mampu bertahan dan berusaha menyelamatkan diri.
Berjalan mendekati pintu keluar lain, dimana dirinya menjatuhkan ponsel miliknya disana yang ditemukan oleh Feng. Kemudian, dia masih berjuang berjalan mencari pertolongan. Namun sayangnya, ia malah terjatuh ke sungai dan hanyut sampai ke sungai dekat desa yang saat itu dia tinggali bersama dengan wanita cantik yang kejam.
'Beruntung saja ketika aku hanyut, aku masih hidup. Allah memang sangat menyayangiku, aku di beri waktu untuk memperbaiki diri dan membuat Ai-ku tersenyum kembali,' batin Dishi.
'Haih, disini tidak ada jaringan. Aku begitu merindukan istriku. Sedang apa dia saat ini?'
Ponsel itu ia terima dari Feng.
***
Di tempat lain, seseorang yang sebelumnya menguping di kamar yang ditempati oleh Feng, Tama dan juga Xia, melaporkan informasinya kepada Yu Liu. Pembicaraan yang ia dengar hanyalah Feng ingin bicara dengannya masalah menginap.
"Apa? Pria tampan itu ingin menemuiku? Dia ingin menginap?" tanya Yu Liu.
"Benar, Nona,"
"Lalu, bagaimana dengan keadaan dua dari mereka bertiga? Apakah mereka sudah mati perlahan, atau lemas karena sekarat?" sambung Yu Liu.
"Menjawab Nona, yang saya lihat ... mereka masih terlihat baik-baik saja dan memiliki tubuh yang bugar,"
"Apa?" teriak Yu Liu.
"Apa kau sudah memastikan itu? Pria yang satunya dan gadis kecil itu, masih hidup?" suara Yu Liu mulai bergetar karena kesal.
"Benar, Nona.
__ADS_1
Yu Liu mengepalkan tangannya. Ia sendiri telah melihat makanan yang dihidangkan untuk tamunya sudah habis tersisa sedikit saja. Membuatnya bingung, mengapa tamunya bisa terhindar dari racun yang ia racik sendiri.