Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Perdebatan Kecil


__ADS_3

'Gadis ini tidur, kah?' gumam Tama dalam hati.


Tama menatap wajah kecil Xia, berpikir apakah gadis itu benar-benar tidur atau hanya memeprmainkan saja. Seperti yang sudah-sudah, Xia selalu saja membuatnya tidak nyaman berada di dekatnya.


"Xia …"


"Xia, bangun,"


"Apa kamu pingsan?"


Tama terus mengguncang tubuh Xia dengan harapan gadis kecilnya baik-baik saja.


"Astaga, kenapa dia tidak mau bangun?" Tama bergumam panik. "Bagaimana ini? Ayo, berpikir, Tama, berpikirlah!"


Saking paniknya, Tama sampai ingin menelpon Feng dan meminta solusi. Namun, ketika Tama mengeluarkan ponselnya, Xia mencegahnya. Dengan suaranya yang lemas, Xia hanya minta Tama membelikan makanan. "Tolong, beri saja aku makan dan minum. Aku sangat lapar—"


"Kau … hash, tunggu di sini!"


"Kak," Xia memanggil Tama lagi.


"Apa lagi?" Ketus Tama.


"Um, tolonglah belikan makanan untukku yang banyak. Aku sangat lapas sekai. lihatlah, perut bagian bawahnya. "Kak, aku ingin yang hangat-hangat." imbuhnya.


Tatapan tajam Tama telah menjawab semua apa yang Xia katakan. Tapi Xia masih tetap percaya diri dengan tersenyum pada Tama meski dirinya sudah lemas sekali karena kelaparan.


Segera Tama keluar dari mobil dan mencari toko serba terdekat dari tempat dirinya parkir. Tidak tahu apa makanan yang disukai oleh Xia, Tama pun hanya membeli roti sebiji saja dan air mineral. Setelah membayar, Tama berlari cepat ke mobilnya dan memberikan belanjaannya kepada Xia.

__ADS_1


"Makanlah?" seru Tama.


"Hanya ini?" protes Xia. "Aku sudah mengatakan padamu jika aku ini sangat lapar sekali, kamu lihatlah aku ... aku sampai lemas tak berdaya seperti ini, kamu hanya membelikan aku sebuah saja?


"Makan cepat, jangan banyak bertanya. Bersyukur saja kamu masih bisa makan. Banyak diluaran sana orang yang tidak bisa makan setiap harinya," ketus Tama.


"Tapi aku sangat lapar. Hanya satu roti saja, tidak akan membuatku kenyang, Kak Tama," rengek Xia.


"Lalu, kamu mau makan apa?!" tanya Tama sedikit membentak Xia.


Xia menjadi ciut nyali. Tanpa menjawab, Xia membuka rotinya, lalu makan sedikit demi sedikit dan minum dengan baik. Melihat wajah Xia yang memelas seperti itu membuat Tama tidak tega. Ia pun kembali menanyakan makanan apa yang diinginkan gadis kecilnya.


"Aku ingin makan mie yang ada di perempatan itu," tunjuk Xia lirih, menunjuk ada yang menjual mie di pinggir jalan.


Mengagalah mulut Tama. "Kamu gila? Apakah tidak bisa ngelunjak lebih ngelunjak lagi?" ketus Tama.


"Memangnya apa salahku? Aku hanya ingin makan mie di restoran itu. Memangnya kenapa? Apakah mie itu terlalu mahal, sehingga membuat dompetmu kering?" Xia yang manis berubah menjadi galak.


"Xia, jika kamu minta makan ke restoran itu—maka aku juga tidak bisa makan. Apakah kamu tega makan sendirian di depanku?" tutur Tama dengan lembut.


Xia termenung. Dia baru saja mengingat jika Tama sangat hati-hati memilih makanan di Negara itu. "Lalu, aku harus makan mie dimana? Aku ingin sekali makan mie, Kak Tama." lanjut Xia dengan lemas, memakan roti di tangannya sedikit demi sedikit.


Memang Tama tidak memiliki restoran favorit atau langganannya sendiri. Tama paling suka makan masak sendiri. Akhirnya, Tama pun menawarkan diri untuk membuatkan makanan apa yang diinginkan oleh gadis kecilnya.


"Aku bisa memasak untukmu. Katakan saja mie seperti apa yang kamu inginkan itu, maka aku akan memasak untukmu, bagaimana?" usul Tama.


"Tapi aku juga ingin sekali bicara denganmu berdua saja," sahut Xia masih dengan wajahnya yang ditekuk.

__ADS_1


"Bukankah di rumah juga kita ini berdua saja? Lantas, untuk apa kita mencari tempat untuk bicara empat mata, hah?"


Xia memainkan kedua telunjuknya.


"Xia!" bentak Tama mulai kesal lagi.


"Iya, aku ingin minta maaf tentang malam itu ketika kita kabur. Tidak seharusnya aku meminta hal itu kepadamu. Aku tahu aku salah, tapi setidaknya jangan kau diamkan aku seperti ini. Satu minggu ini kau terus menghindariku, apakah kesalahanku sefatal itu? Aku juga tidak akan mau jika waktu itu nyawaku tidak terancam, apakah aku seburuk itu, sehingga semua orang menjauhiku?" tangis Xia mulai pecah.


"Aku juga ingin disayang, aku ingin dicintai semua orang. Sejak kecil semua orang membenciku, tidak menginginkan aku. Aku juga tidak ingin dilahirkan, aku juga tidak ingin di besarkan seperti ini. Hanya kamu harapanku satu-satunya dalam hidupku, tapi kenapa kamu juga malah memperlakukan aku—seakan aku ini tidak ada di dunia. Sakit tahu!"


Xia pun keluar dari mobil dan menutup pintu mobil sedikit keras.


BLAM!


Suara bantingan pintu itu menyadarkan Tama akan sesuatu. Dirinya juga saat ini tidak sesuai dengan jalan keinginannya. Demi saudara dan kelancaran semuanya, dirinya rela membagi semua pekerjaannya untuk menstabilkan perusahaan yang sebelumnya bukan bidangnya.


Tama sengaja tidak mengejar Xia, karena pada dasarnya, dirinya sendiri juga masih rapuh. Bingung karena semuanya berubah drastis setelah kepergian Leticia, Bibinya dan juga Chen.


"Kau pikir aku bahagia dengan hidupku yang sekarang? Tidak seperti itu, Xia. Aku adalah seorang introvert sebelumnya. Tapi karena demi kebahagiaan adikku, aku rela meninggalkan kenyamanan duniaku dan menjadi orang lain," gumam Tama menyentuh dadanya yang mulai sesak.


"Perjuangan Airyn belum selesai. Dia belum menjadi dokter, maka kisah ini belum berakhir. Chen dan Leticia telah menemukan apa yang mereka inginkan. Berkumpul dengan keluarga, meninggalkan banyak harta untuk Paman, Airyn, serta bayi yang baru lahir. Mereka pergi karena tugas mereka telah terlampaui,"


"Tapi Airyn-ku … dia belum mendapatkan kebahagiaan yang cukup. Tugasnya masih banyak dan panjang. Itu sebabnya aku di sini menggantikan posisinya supaya dia bisa fokus dengan cita-citanya,"


"Xia, kamu pikir aku tidak pusing menjalani semua ini? Ditambah hadirnya dirimu, awalnya aku ingin menyerah dan melepasmu. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu." tukas Tama.


Sebelumnya, dengan persetujuan Feng, Tama memberikan kartu yang diberikan oleh Chen padanya untuk Xia. Tama mengirim pesan, berisikan kode pin dari kartu tersebut. Ada sejumlah uang juga untuk Xia gunakan membeli makanan yang dia mau.

__ADS_1


- pesan dari Tama.


Pesan tersebut memang belum dibuka oleh Xia. Dia masih pergi dengan langkah kakinya yang cepat dan duduk di bangku taman olahraga. Sementara Tama, pulang lebih dulu. Tega? No, mereka hanya membutuhkan waktu untuk saling berpikir.


__ADS_2