
Setelah Xia tidur, Airyn yang baru saja menemaninya tidur pun keluar dari kamar Xia. Ketika Airyn keluar, ia masih melihat Chen ada di depan kamar Xia.
"Kamu sudah mendengar, kak? Dia butuh kasih sayangmu, bukan uangmu. Sepertinya perilakumu memang harus diubah. Apapun kesalahan orang tuanya, dia tidak ada kaitannya dengan kejahatan yang orang tuanya lakukan," bisik Airyn.
"Ingat, pewaris keluarga Wang yang sebenarnya adalah dia. Bukan kamu ataupun Sean. Kurangi gengsimu dan mulailah memikirkan apa yang seharusnya dilakukan sebelum kamu menyesali semuanya, kak,"
"Dia memilih kembali ke Amerika tapi sebenarnya dia tidak ingin. Pikirkan lagi tentang Xia, atau aku akan marah padamu!" kesal Airyn, sampai mendorong kecil Chen.
Tentu saja Chen sudah mendengar ungkapan hati Xia. Tapi gengsi dalam hatinya terlalu besar, makanya ia tetap akan mengirim Xia ke Amerika. Malam itu terlewati dengan semua orang yang ada di kediaman Wang duduk di ranjang sendirian dengan memikirkan keputusannya Xia. Xia sendiri malah sudah tidur lebih awal dan menikmati tidurnya akibat kekenyangan setelah makan banyak.
Pagi-pagi sekali, Xia diantar oleh Sean ke Bandara. Sengaja Xia tidak berpamitan pada Chen karena memang tidak ingin hatinya goyah dan menerima usulan dari Airyn untuk dititipkan padanya.
"Nona, apa kamu yakin tidak berpamitan dulu dengan Tuan Chen?" tanya Sean begitu sampai di Bandara.
"Huft, kau tanya begitu sampai disini? Sengaja apa bagaimana?" jawab Xia dengan ketus. "Jika sudah tahu aku tidak mau berpamitan dengan kakak, sebaiknya kak Sean jangan banyak bertanya!"
Sean memutar bola matanya, menganggap sifat Xia ini memang tidak jauh berbeda dengan sifat Chen. Hari itu, Xia harus meninggalkan Tiongkok karena tak ingin berharap lagi pada kakaknya.
"Nona Xia, apa kamu yakin pergi sendiri ke Amerika?" tanya Sean memastikan.
Xia menghela nafas kasarnya. "Huft, memangnya kemarin aku pulangnya bagaimana? Pulang sendiri, bukan? Tenang saja, aku pasti akan tiba disana dengan selamat. Bukankah aku juga memiliki beberapa pelayan juga disana?" ketusnya.
Sean baru bisa melepas Xia setelah memberi gelang yang didapatkan dari pergi ke kuil kemarin malam. Mempercayakan dengan gadis manis yang ia saksikan pertumbuhannya sejak Xia lahir.
"Apa ini?" tanya Xia.
__ADS_1
"Ini berkah yang bisa menjagamu sampai ke Amerika. Aku mendapatkan dari kuil kemarin malam. Lihatlah, kakiku sampai terluka karena melepas alas kaki demi mendapatkan restu dari dewa," jawab Sean, fokus mengikatkan tali berwarna merah tersebut ke pergelangan tangan kecilnya Xia.
Malah yang ada, saat itu Xia membayangkan bahwa kakaknya Chen yang sedang mengikatkan tali berkat biksu tersebut. Bayangan Xia, saat itu Chen selesai mengikatnya dengan benang merah, kemudian tersenyum manis padanya. Senyum yang selalu Xia dambakan karena tidak pernah mendapatkannya. Tak terasa, butiran air matanya menetes karena mata tak lagi bisa membendungnya.
"Xia,"
"Xia ..."
"Xia ...."
Suara panggilan Sean memecah lamunan Xia. Segera remaja ini mengelap air matanya, mencoba langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Sean karena ketulusannya. Setelah itu, Xia pamit sambil melambaikan tangannya pada Sean.
'Aku sangat berharap kakak yang mengikatkan tali ini. Tapi Sean adalah kakak yang baik juga. Aku akan selalu mengingat kebaikan Sean sampai kapanpun. Selamat tinggal semuanya ....' batin Xia, melangkah jauh.
"Woy, mengapa aku teringat dengan kakak itu?" gumamnya.
"Dia memang tampan, tapi ... Ash, tidak!"
"Tapi dia memang tampan, apa aku bisa bertemu lagi dengannya suatu hari nanti?"
Xia terus berdebat dengan hatinya tentang Tama. Senyum dan wajah teduhnya Tama membuat remaja 15 tahun merasa lebih tenang. Matanya mulai terpejam dan berharap mimpi indah menyertai perjalanannya.
Sementara di rumah, Chen menatap ke langit di balkon depan kamarnya. Berusaha untuk melihat apakah ia bisa melihat pesawat yang ditumpangi oleh Xia atau tidaknya. Tanpa mengatakan apapun, Chen hanya menatap ke atas saja.
Datanglah Airyn menegurnya. "Bagaimana? Apa sudah merasa lega? Seharusnya kamu menahannya, bukan malah membiarkannya pergi, Kak."
__ADS_1
Chen tidak langsung menjawab, pandangannya turun dan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Chen meninggalkan Airyn begitu saja. Airyn juga tahu dengan jelas jika kakaknya berat melepas dan mengirim Xia yang baru saja kembali Ke Amerika, padahal baru beberapa hari di rumah.
Tapi Airyn tidak tahu, ketika Chen membelakanginya, air matanya menetes meski hanya sekali tetesan saja. Di posisinya juga tidak mudah karena memang Chen tidak mau sampai kasih sayangnya membuat Xia lemah.
***
10 bulan berlalu, Xia yang saat kembali baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 15 tahun, kini sebentar lagi ia akan berusia 16 tahun. Fokus dengan sekolahnya, Xia sampai tidak menghadiri pernikahan kakaknya dengan wanita yang tidak ia kenal.
Xia akan pulang dalam waktu satu minggu lagi. Betapa bahagianya Xia karena akan banyak piagam dan piala yang ia bawa untuk kakaknya. Pembuktian bahwa dirinya sudah mulai mandiri akan Xia tunjukkan juga pada kedua kakaknya.
"Satu minggu lagi aku akan kembali. Liburan kali ini, aku akan memperlihatkan semua ini pada Kak Chen dan Kak Sean. Jadi penasaran bagaimana wajah mereka ketika melihatku sudah mandiri," ucap Xia bahagia.
"Kak Airyn, dia juga telah menikah dengan Kak Sean. Mengapa tidak memberiku kabar, ya? Bagaimana bisa Kak Sean menikah dengan Kak Airyn?" gumam Xia.
Yah, 10 bulan bukanlah waktu yang sebentar. Tangan Tuhan maha membolak-balikkan hati seseorang. Sean dan Airyn saling jatuh cinta dan mereka kini bersatu dalam sebuah pernikahan. Leticia pun juga telah menikah dan sebentar lagi akan melahirkan. Meski sedikit kesal dengan Leticia, tetap saja Xia menganggapnya sebagai kakak keempatnya setelah Airyn.
"Si menyebalkan Cia juga sudah menikah. Aku tidak menyangka ketika dia pulang bersama dengan kedua orang tuanya, malah menikah dengan pria yang ia temui di Bandara. Huh, dia juga sudah mengandung bayinya memasuki waktu 8 bulan,"
"Kak Airyn juga selalu mengirim surat padaku. Itu sebabnya aku mengerti apa yang terjadi di sana,"
Xia begitu bersyukur memiliki kakak perempuan seperti kakak ketiganya, Airyn. Meski jarak memisahkan keduanya, tetap saja Airyn tidak pernah berkurang memberikan kasih sayangnya. Setiap dua minggu sekali pasti akan mengirim surat padanya. Itu membuat Xia merasa dekat dengan semuanya.
Sayangnya ketika baru saja selesai packing, Xia mendapat kabar bahwa adanya tragedi yang menimpa keluarganya di Tiongkok. Hal itu membuat Xia tercengang, tak dapat lagi berpikir dan segera pulang mengambil penerbangan paling cepat dengan dibantu oleh asisten pribadi Chen dulu yang ada di Amerika.
"Apa ini? Kabar apa? Kenapa kamu memberikan kabar buruk seperti itu padaku. Tidak mungkin keluargaku ...."
__ADS_1