
"Apa kalian sedang bergosip tentangku, hah!"
"Menyebalkan sekali kalian berdua. Begitu teganya membicarakan orang yang jelas-jelas berada di belakang kalian. Katakan padaku, kalian mau mati dengan cara apa!"
Xia menarik telinga kedua pria di depannya dengan kencang. Sean hanya bisa memohon ampun karena memang sulit menangani remaja ini ketika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sementara Tama, ia mengatakan jika Xia tidak boleh menyentuhnya dan segera melepaskan tangannya dari telinganya.
"Kenapa? Bagimu apa aku ini orang yang menjijikkan, sehingga kakak tidak mau aku sentuh?" ketus Xia, dengan tangan masih menarik telinga Tama.
"Bukan masalah itu. Tapi memang kita tidak boleh kontak secara langsung. Kita bukan mahram," jelas Tama.
Perlahan, Xia pun melepaskan telinga Tama. Namun tidak dengan telinga Sean. "Apa itu mahram?" tanya Xia.
"Lepaskan aku dulu, Nona. Ini sakit sekali," pinta Sean.
Tama meminta Xia untuk melepaskan telinga Sean terlebih dahulu. Kemudian baru ia akan menjelaskan apa arti dari kata mahram sambil melanjutkan perjalanan. Tama memilah kata-kata yang baik supaya penyampaiannya tidak salah pada Xia. Menjelaskan arti mahram, membuat Xia penasaran dengan agama yang Tama peluk.
"Huft, kepercayaanmu terlalu ribet. Aku hanya suka kebebasan, sepertinya tidak cocok untukku!" seru Xia setelah menerima penjelasan dari Tama.
"Xia, kepercayaan itu bukan masalah cocok atau tidaknya. Kamu harus bisa menghargai apa yang menjadi kepercayaan orang lain," tegur Sean.
Xia hanya mengangguk-angguk saja.
Tidak lama setelah itu, sampailah mereka di gedung baru tempat pesta di gelar. Hal baru yang pernah Xia lihat adalah, banyaknya orang muslim yang ada di dalam gedung itu. Semua bukan warga Tiongkok, namun tidak sedikit juga warga sana yang turut hadir.
"Ada orang China menggenakan tudung?" tanya Xia kepada Sean.
"Itu dinamakan jilbab. Sebagai seorang wanita muslim, hukumnya wajib," jelas Sean lirih.
"Apakah ketika musim panas, mereka juga memakainya?" tanya Xia lagi.
Sean kali itu menjawab dengan anggukan. Sebelum masuk, Xia sudah diperingatkan oleh Chen untuk menjaga sikapnya. Remaja manis itu mengangguk setuju, apapun yang dikatakan oleh kakaknya pasti akan setuju saja karena bagaimanapun orang yang paling Xia sayangi adalah Chen.
"Chen, ini kamu?" tanya seorang wanita yang masih muda dengan mata yang berwarna biru.
"Iya, ini aku, Bu. Ibu apa kabar?" senyum Chen yang tidak pernah Xia lihat, malam itu terlihat cerah menghiasi wajah tampannya.
"Ayah, Ibu, perkenalkan. Dia adalah adik keduaku, namanya Sean. Sean, ayo ..."
__ADS_1
Sean merasa terharu ketika Chen memperkenalkan dirinya sebagai adik kepada kedua orang tua kandungnya. Meski Sean sudah mengetahui siapa kedua orang tua Chen, tapi belum secara resmi diperkenalkan.
"Di sampingnya, ada adik ketigaku juga. Namanya Xia, dia berusia 15 tahun, tahun ini,"
Mendengar namanya disebut, Xia menjadi semakin tercengang. Memang ia tidak tahu apa yang dikatakan kakaknya kepada orang tua kandungnya. Tapi Xia yakin, jika saat itu kakaknya sudah mengakui dirinya sebagai seorang adik.
"Cantik sekali, apa dia bisa berbahasa Inggris?" tanya Rebecca, ibu dari Chen.
"Berapa tahun terakhir dia sekolah di Amerika. Pastinya dia tahu bahasa Inggris," jawab Chen dengan senyuman.
Rebecca menyentuh pipi lembut Xia dengan pelan. Sentuhan itu rupanya membuat hati Xia berdebar, seketika membeku dengan perasaan yang sulit digambarkan. Sentuhan lembut yang belum pernah Xia dapatkan dari Ibunya, kini ia bisa rasakan dari sentuhan Rebecca.
"Kamu cantik sekali. Bibirnya mungil tipis, matanya yang bulat, bahkan ketika kamu tersenyum, matanya merem seperti bulan sabit ikut tersenyum," sanjung Rebecca.
"Bibi memujiku terlalu berlebihan. Bibi juga sangat cantik, itu sebabnya Bibi bisa melahirkan anak setampan kakak dan juga secantik kakak Ai," ucap Xia.
Semua orang pun tertawa.
"Lihatlah, bicara sangat manis sekali. Kemarilah, biar aku memeluk putri bungsuku terlebih dahulu," Rebecca merenggangkan kedua tangannya, memeluk Xia dan membuat remaja ini bingung.
Xia menatap Chen saat itu, seolah dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa yang dikatakan oleh Rebecca perihal anak bungsu. Chen mengisyaratkan dengan mata juga jika memang ibunya menganggapnya sebagai anak terakhir, adik dari Leticia.
"I-ibu?" Xia bertanya.
"Benar. Chen dan Sean memanggilku dengan sebutan itu, mengapa kamu tidak? Apa kamu tidak bersedia menjadi putriku juga?"
Ucapan Rebecca semakin membuat Xia tidak tahu harus berkata apa. Saat itu, ia hanya bisa mengangguk saja. Xia tidak menyangka jika keluarga kandung kakaknya menerimanya dengan baik.
Acara sudah berjalan 1 jam. Xia mulai mengantuk dan bosan, dia pun meminta izin kepada Sean untuk keluar sebentar. Sean mengizinkan dan Xia pun berjalan sendiri di luar gedung.
"Mau minum?" ketika termenung sendiri, tiba-tiba ada yang menawarkan sebotol alkohol kepada Xia.
"Aku masih dibawah umur. Kakak tidak mengizinkan aku minum," jawab Xia.
"Hei, bagaimana mungkin kamu anak di bawah umur. Lalu, untuk apa kau berkeliaran malam-malam di sini?" wanita yang sudah setengah mabuk itu membuat Xia tidak nyaman.
Sudah berkali-kali Xia menolak tawaran minum bersama, tetap saja wanita itu memaksa. Karena sudah berjanji pada kakaknya untuk tidak membuat keributan, Xia hanya bisa menepis dan menjauh dari wanita itu. Sayangnya, wanita mabuk itu malah hampir saja mau mencekoki Xia dengan minuman.
__ADS_1
"Kakak, jangan seperti ini. Aku tidak mau minum!" teriak Xia.
Teriakan Xia terdengar oleh Tama yang saat itu sedang menerima telepon.
"Kakak, jangan membuatku kesal, atau kau akan tahu akibatnya nanti," Xia masih berusaha menolak.
"Adik manis, adik cantik. Ayo, minum dan temani kakak sebentar saja. Nanti kakak akan memberimu sejumlah uang," wanita itu benar-benar sudah mabuk.
"Aku tidak kekurangan uang!" Xia berusaha menahan diri.
"Ayolah, minum ...." kembali wanita itu mencoba mencekoki Xia.
Sebagian minuman di dalam botol itu masuk di tenggorokan Xia hingga membuatnya terbatuk-batuk.
"Kakak, ja—"
Tarr.... !!!
Botolnya terjatuh karena ditepis oleh Tama.
"Kakak ..." sebut Xia lirih.
Melihat ada yang membantu Xia, wanita itu pergi begitu saja.
"Xia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Tama.
Xia mengangguk, wajahnya memerah dan pandangan matanya sudah tidak fokus.
"Xia, apa kamu bisa mendengarku?" tanya Tama lagi untuk memastikan.
"Wanita itu memasukkan minuman ke mulutku. Sepertinya aku mabuk, bisakah ... kakak, bisakah aku ...." ucapan Xia terhenti ketika melihat bibir seksi milik Tama.
Melihat bibir Tama, membuat Xia menelan ludahnya. Tatapannya turun ke leher, kemudian kembali ke atas menatap mata Tama yang indah baginya. "Kakak ...."
"Xia, ala kamu baik-baik saja? Saya akan membawa kamu ke dalam dulu."
"Kakak ... apa kamu selalu terlihat tampan seperti ini?" Xia sudah mabuk, makanya bicaranya mulai sembarangan.
__ADS_1
Tama segara membawa Xia ke dalam dengan cara digendong. Terburu-buru sekali sampai hampir saja mereka jatuh. Namun, malam itu Xia menatap Tama dengan tatapan lain.