Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Khayalan Indah Theresia


__ADS_3

Tik ... tok ... tik ... tok ....


Suara detik jam sampai terdengar jelas karena saking sunyinya suasana. Semuanya berkumpul di apartemen milik Tama, yang ditinggali bersama Xia. Tatapan Feng pada Tama juga sangat menusuk, sehingga membuat kedua sepupu yang lainnya ikut bingung.


"Ada apa? Apakah kedatangan kita ini salah?" bisik Faaz bertanya.


"Sstt, diam!" tegur Ayden juga berbisik.


"Lah, keadaan tegang seperti ini. Lalu, siapa juga dua perempuan ini? Huft, ini sangat membingungkan!" bisik Faaz lagi.


"Diam, Faaz!" perintah Ayden.


Suasana masih hening, Theresia juga turut duduk di samping Sachi. Mereka berdua ikut berada di dalam situasi yang tidak enak.


"Kakak, ada apa ini?" tanyanya lirih. Remaja itu bingung dibuatnya. "Kenapa semuanya diam saja? Lalu, siapa mereka?" imbuhnya lirih.


"Kamu tenang dulu, ya. Kita menyimak saja. Jika Mereka menginginkan kita pergi, maka kita harus pergi. Jika Mereka menginginkan kita ada di sini, sebaiknya kita diam dan menyimak saja, jangan ikut campur urusan mereka, okay?" tutur Sachi.


Theresia mengangguk pelan. Meski tidak tahu apa yang terjadi, remaja ini tetap duduk diam menatap satu persatu dadi keluarga Xia itu. Rupa keempat pria itu memang membuat Theresia jadi mulai menghayal.


Remaja lucu ini menghayal jika dirinya sedang diperebutkan oleh keempat pria itu seperti seorang putri raja. Kisah dongeng yang sedang Theresia hayalkan ini, dirinya sedang duduk di bangku taman istananya bersama dengan datang-datang. Kemudian datanglah Feng, Tama, Ayden dan Faaz dengan mengenakan pakaian pangeran.


"Oh putri Theresia, suasana sore hari ini membuatku sangat ingin melamar dirimu sebagai permaisuriku. Lalu, apakah kau bersedia?" tanya Feng, dengan berlutut.


"Oh, pangeran Feng—" Theresia tersentuh.


"Tidak! Jangan terima lamaran pangeran Feng!" teriak Tama dari belakang. "Terima saja lamaranku. Aku adalah penguasa yang sangat hebat. Jika putri Theresia menerima lamaranku, maka kita akan membangun negara ini dengan sangat-sangat hebat juga," imbuhnya.

__ADS_1


"Pangeran Tama?" Theresia semakin tersentuh.


Datanglah Ayden dan Faaz secara bersamaan.


"Untuk apa kamu menerima pinangan dari dua pangeran yang tidak berguna ini wahai Putri Theresia. Lebih baik kamu menerima lamaranku saja, aku akan membawamu keliling Korea jika kamu mau menjadi permaisuriku," ujar Ayden.


"Jangan mau, Putri Theresia. Akulah yang lebih pantas untuk menjadi pangeranmu. Tolong pertimbangkan aku, supaya kita bisa menjadi pasangan yang sangat ideal," timpal Faaz.


Seketika Theresia meleleh. "Oh pangeran Ayden dan pangeran Faaz. Meski aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan, tapi aku yakin bahwa setiap kata-kata yang kalian keluarkan adalah kata-kata yang sangat indah. Jujur, aku sangat terharu." katanya.


Khayalan itu semakin menjadi-jadi ketika Theresia ditarik kesana-kemari oleh keempat pangeran tersebut. Sayangnya, khayalan itu pecah oleh datangnya Sachi. Dimana Sachi terlihat seperti dayang di khayalan remaja lucu ini.


"Hei, Theresia!" teriak Sachi.


"A-ah, iya. Kak Sachi, a-ada apa?" Theresia jadi gugup.


Melihat ke sekitar karena keempat pangeran khayalan Theresia ini sedang menatapnya.


"Memang tidak benar gadis ini. Dari tadi dia bengong saja membuatku sangat takut," baik Faaz pada Ayden.


"Jaga mulutmu!" tegur Ayden. "Apa kau tega jika dia sampai mendengar perkataanmu itu? Sepertinya dia bisa berbahasa Inggris." bisiknya.


Tidak ingin Theresia ikut campur ataupun tahu masalah keluarganya Xia yang baru, Tama pun meminta Theresia untuk pulang terlebih dahulu. Tidak lupa Tama juga meminta Sachi supaya mengantar gadis itu sampai ke rumahnya.


"Kakak mengusirku?" tanya Theresia tidak terima.


"Tidak, saya tidak mengusir. Tapi alangkah baiknya kamu pulang dulu. Kami akan membicarakan hal yang penting dan ini hanya keluarga yang perlu tahu. Jadi, maaf—" ucapan Tama belum selesai, tapi Theresia sudah merajuk lebih dulu.

__ADS_1


"Huft! Jika kak Tama tidak menyukai kehadiranku, katakan saja!" ketusnya. "apa yang dikatakan Xia memang benar. Kak Tama ini tidak memiliki perasaan, tidak peka!"


Setelah mengatakan kata-kata itu, Theresia berlalu pergi begitu saja. Bahkan sampai meninggalkan Sachi yang belum sempat berpamitan dengan mereka berempat.


"Sebenarnya mereka ini siapa? Lalu, apa hubungannya dengan kalian? Ahh, kalian rupanya menyimpan rahasia seperti ini dibelakang kami?" tanya Faaz, rasa ingin tahunya begitu tinggi.


"Ini bukan waktunya untuk membahas hal lain selain pekerjaan yang hendak kita lakukan. Saat ini Sean sedang berada di Amerika, Tama juga akan pulang ke Indonesia, aku sendiri juga akan sibuk di rumah sakit, maka urusan kantor dan perusahaan lainnya akan aku serahkan kepada kalian berdua," tegas Feng.


"Silakan kalian baca berkas-berkas ini dulu. Untuk Ayden, pasti kau sudah tahu dunia bisnis. Tapi untuk, Faaz, Aku akan memberimu satu assist dan supaya bisa membantumu dalam bekerja," sambung dokter muda itu.


"Kau juga Tama, meski kau akan kembali ke negaramu, usahakan ponselmu selalu aktif supaya saudaramu di sini bisa menghubungimu ketika membutuhkanmu. Ingat, perusahaan yang ditinggalkan oleh Chen ini tidak main-main." tukas Feng dengan serius.


Kini mereka berempat dalam mode serius membahas tentang pekerjaan. Memang benar jika di antara mereka ini harusnya tidak ada seorang perempuan. Jika ada satu saja perempuan modelan Xia atau Theresia, pasti keadaannya akan menjadi kacau.


Sementara itu Theresia masih saja mengumpat karena telah diusir oleh Tama. Tidak peduli ada Sachi di sampingnya, Theresia terus saja mengomel.


"Uh, awas saja dia. Aku akan mengadukan si Kakak Tama ini kepada Xia. Bahkan aku juga tidak bisa bertemu dengan Xia untuk perpisahan? Huh, memang sialan!" kesal remaja lucu ini.


"Theresia, mengapa kamu pusing? Apa yang dikatakan oleh Tuan Tama memang ada benarnya. Saat ini mereka ingin membahas bisnis keluarga, Jadi untuk apa kita menemani mereka di sana? Bukankah yang ada kita malah mengganggu konsentrasi mereka?" tutur Sachi.


Theresia langsung membalikkan tubuhnya. "Astaga, ayolah, Kak Sachi! Sepertinya kakak kan usianya juga belum terlalu tua. Mengapa pemikirannya harus sesuai ini? Kita juga hanya duduk di sana, tidak mungkin kita mengganggu mereka!" dengus Theresia.


"Haih, kenapa kamu ngotot seperti itu? Xia yang saudara saja bisa mereka kirim ke Amerika, apalagi kita yang bukan siapa-siapa?" Sachi menyentuh pundak Theresia.


"Sudahlah, ayo, biarkan aku mengantarmu pulang."


Sachi mengantar Theresia pulang hari itu. Keempat saudara sepupu juga sedang sibuk membahas pekerjaan, sementara Xia tengah sedih hatinya. Ia terus menatap ke arah jendela, sesekali mengingat betapa indahnya ketika dirinya bersama dengan Tama.

__ADS_1


'Kak Tama, aku sepertinya benar-benar menyukaimu. Jantung ini terus berdebar kencang. Bagaimana cara mengendalikannya?' batinnya.


Kemudian, tiba-tiba saja Xia teringat dengan kejadian ketika dirinya dan Tama berada dalam satu waktu di desa yang terkutuk sebelumnya. Membuat remaja ini tersenyum karena kekonyolan dirinya yang meminta untuk disentuh oleh Tama.


__ADS_2