
Langkahnya semakin cepat menuju ruang kelas. Tapi tak sengaja tubuh mungilnya menabrak seorang pria yang keluar dari toilet guru yang ada di sebelah ruang guru.
Bug!
"Aduh!"
Xia tersungkur, jatuh di lantai karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Beruntung saja Xia tidak jatuh bagian tulang ekornya dulu. Ia jatuh sedikit miring dan merasakan sakit pada pinggulnya.
"Shh, sakit sekali ...." keluhnya.
"Apa kamu terluka?" seorang pria mengulurkan tangannya. "Kemarilah, saya akan membantumu berdiri," ucapnya.
Xia menyadari jika suara dari pria itu terdengar tidak asing di telinganya. Remaja ini pun mendongakkan wajahnya. Betapa terkejutnya ketika melihat seseorang yang ia kenal berdiri di depannya.
"Kak Tama?" sebutnya menggunakan bibir mungilnya.
Sama-sama terkejut, tapi Tama masih bisa tersenyum manis dan membalas sapaan dari Xia. "Hai, mau aku bantu?" Tama mengulurkan tangannya lebih dekat lagi.
Langsung saja Xia menggapai tangan Tama, meyakinkan diri jika apa yang dilihatnya benar-benar yang selama ini ia pikirkan. "Kak, ini kamu?" tanyanya masih ragu.
"Memangnya aku terlihat seperti siapa?" jawab Tama dengan senyumannya. "Aku adalah Tama, apakah masih kurang jelas?" imbuhnya.
Keduanya saling berpandangan, tatapan yang begitu dalam dari mata Xia sangat mudah ditebak bahwa remaja cantik ini menyukai pria yang usianya jauh lebih tua darinya itu.
"Kenapa kamu ada disini, Kak Tama?" tanya Xia masih memandang wajah tampannya Tama.
"Kita mengobrol di jam istirahat saja. Bukankah ini masih jam pelajaran? Aku akan menunggumu di ruang guru, okay?" Taka masih saja menebar pesona senyumnya yang manis.
Senyum manisnya itu sampai membuat Xia semakin meleleh.
"Tidak! Aku tidak ingin kembali ke kelas!" Xia menolak.
__ADS_1
"Kenapa?' Tanya Tama, heran.
Xia pun menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Celetukannya yang indah dengar itu sangat Tama rindukan, ia hanya diam menikmati celoteh demi celotehan yang keluar dari mulut Xia.
"Cukup, sudah!" Tama memungkas celotehan Xia.
Pria ini merayu Xia supaya masuk ke kelasnya. Sambil menyentuh bahunya, dengan amat lembut Tama membujuk gadis kecilnya itu. Terpana dengan pesona seorang Tama, akhirnya sang gadis kecil pun mau patuh. Dia segera masuk ke kelasnya dengan semangat.
***
Sarapan.
Di Korea, ketika mau sarapan, Airyn dibuat takjub oleh suaminya yang dimana suaminya ini telah menyiapkan sarapan untuknya. Menu masakan kesukaannya yang sudah lama tidak pernah dihidangkan oleh tangan suaminya sendiri, membuat Airyn tertegun.
"Apa kamu yang memasak ini, Tuan Sean?" tanya Airyn, matanya masih tertuju dengan semua hidangan di atas meja. Begitu menakjubkan sampai perut Airyn berbunyi.
"Kamu pikir masakan siapa lagi? Hanya ada kita berdua di rumah ini," sahut Sean sedikit ketus. "Lihatlah, bertapa baiknya aku telah repot memasak untukmu. Setidaknya panggil aku Sean saja!"immbuhnya.
Tatapan Airyn langsung berubah drastis kala mendengar perkataan dari suaminya yang baru saja kembali itu. Dia pun menatap suaminya itu dengan tatapan datar, seolah jika dirinya kesal padanya.
"Kenapa jawabannya ketus seperti itu? Kamu pikir, kamu adalah kak Chen, kah? Kenapa kamu berlagak seperti kakakku, Sean!" Airyn juga tak mau kalah.
"Oh~" Sean menatap Airyn sinis.
Tentu saja apa yang mereka lakukan saat itu hanyalah candaan belakan. Tidak mungkin keduanya sampai bertengkar lagi karena keduanya juga saling merindu.
"Heh, oh, doang?" Airyn mulai kesal dibuatnya. "Sangat menyebalkan! Kamu selalu berkata bahwa aku ini menyebalkan, padahal jelas tidak sadar diri jika dirinyalah yang jauh lebih menyebalkan daripada aku!" Airyn mengerutu.
"Makan! Jika kamu tidak mau makan ... biarkan aku saja menghabiskan semuanya. Nona Airyn!" Sean suka sekali menggoda istrinya.
"Apa?" Airyn kesal.
__ADS_1
"Kamu pria menyebalkan! Hanya kakakku—Chen yang baik!" sahut Airyn. "Apa yang dikatakan Xia memang ada benarnya. Kakakku adalah yang terbaik!" imbuhnya dengan melipat tangannya.
"Oh, hallo, Nona!" Sean tak terima. "Apakah kakakmu itu dewa yang tak pernah memiliki kesalahan? Yang kau sebut kakak itu, tentu kakakku juga!" sambungnya.
Mereka hanya berdebat tidak jelas satu sama lain. Membuat keduanya terlihat tidak memiliki jarak sandiwara itu. Pada dasarnya, mereka ini memang pasangan yang sefrekuensi, hanya saja malu jika menunjukkan sifat aslinya ke muka umum.
Setelah selesai sarapan, Sean juga sudah mandi dan bersiap mengantarkan Airyn ke rumah sakit. Awalnya Airyn tidak mau karena Sean masih harus banyak istirahat. Akan tetapi, Sean sendirilah yang memaksa dan akhirnya sang istri menjadi terbujuk.
"Apa kamu yakin, Tuan Sean?" Airyn sampai menyeritkan alisnya. "Apa katamu tadi? Kamu ingin mengantarku?" lanjutnya ketika sudah di dalam mobil.
Airyn memang sering kesal jika digoda, tapi dia sendiri juga sangat suka sekali menggoda suaminya.
"Aku memang tidak mengingat akan indahnya kisah cinta kita, Airyn. Tapi aku tidak bodoh sampai tidak tahu bagaimana caranya menyetir, apalagi membaca plang penunjuk arah yang ada di pinggir jalan!" tegas Sean, yang merasa tidak terima istrinya menganggap bahwa dirinya bodoh.
"Dih, gitu amat! Aku hanya mengkhawatirkan dirimu saja. Apakah tindakanku ini salah?" Airyn pandai sekali mencari alasan. "Hmm, kamu memang sungguh sangat menyebalkan!" umpat Airyn lirih.
"Apa kau sedang menggerutu tentangku? Apakah aku sepenting itu bagimu, sampai kamu terus saja menggerutu tentangku?" ujar Sean, sampai sudah mendekati wajah Airyn kala itu.
Saat itu, kebetulan sekali Airyn memang sedang menoleh. Kini pun mereka saling menatap satu sama lain. Hanya ada jarak sekitar lima jari saja diantara wajah keduanya. Jantung mereka pun berdebar seperti momen di saat pertama kali bertemu. Alunan nada cinta dari suara piano seperti terdengar begitu indah.
'Eh, apa ini? Aku jatuh cinta lagi terhadap istriku sendiri. Cinta ini sangat manis, sehingga aku sulit untuk menjauh dari cintaku ini,' gumam Sean dalam hati. 'Rasanya, Aku ingin sekali menggigit bibir kecilnya yang menggoda sejak pertemuan pertama.'
Sementara itu, dari pandangan Airyn pun hampir sama. seperti ada suara biola yang begitu indah sebagai soundtrack dari perjalanan cinta mereka.
'Apa dia sungguh tidak mengingat apapun tentangku? Apakah hanya masa lalunya saja yang sangat penting baginya, sehingga aku tidak ada dalam ingatan kecil yang tersisa di otak konyolnya itu?' Airyn pun tak ingin kalah bergumam dalam hati.
"Hei, kenapa kamu menatapku seperti itu?" pertanyaan Sean membuat memecah lamunan Airyn.
"Kamu berisik sekali!" Ketus Airyn.
Usai sarapan, Sean sungguh ingin mengantar istrinya ke rumah sakit. Awalnya sang istri masih ragu dengan daya ingat suaminya. Namun, karena tidak ingin berpisah lebih awal juga bersama suaminya, Airyn pun menerima tawaran Sean untuk mengantarnya ke rumah sakit.
__ADS_1