
"Kenapa kakak jadi menyebalkan seperti itu? Ini gara-gara anak itu deh. Jadi kakak terus saja menyalahkan aku!" Leticia salah paham.
"Airyn juga. Dia juga kenapa memihak ke anak itu, sih? Jelas-jelas anak itu hanya anak angkat saja. Sedang aku kan, adik kandung mereka,"
Leticia terus mondar-mandir saja di kamarnya. Wanita berusia 25 tahun ini sama sekali belum bekerja dan belum lulus kuliah. Ia malah suka menjadi beban keluarga dibandingkan dengan berusaha sendiri. Sementara Airyn, wanita yang sudah mandiri sejak kecil. Meski terkadang bersikap lucu, tapi Airyn selalu saja menjadi sosok ibu bagi Leticia dibandingkan jadi seorang kakak saudari kembar.
"Aku harus ke kamar anak itu!"
Tidak luas dengan hanya mondar-mandir saja, Leticia ingin menghampiri Xia ke kamarnya. Kecuali kamar Sean, semua kamar yang ditempati oleh mereka memang di lantai dua. Jadi lebih muda bagi Leticia pergi ke kamar Xia tanpa harus naik dan turun tangga lagi.
Klek~
Pintu terbuka ketika Leticia hendak mengetuk. Xia sudah keluar mengenakan gaun indah yang dibelikan oleh Chen.
"Mau apa kau kemari?" tanya Xia dengan ketus.
"Owo, rupanya kami sudah siap mau ke pesta ya? Huh, kasihan sekali kamu, tidak dianggap oleh kakakku," ceria Leticia.
Xia mengepalkan tangannya. Remaja ini tidak ingin merusak mood orang lain hanya menanggapi celotehan Leticia. "Bukan urusanmu!" Xia melewati Leticia.
"Hei!" Leticia menepuk pundak Xia.
Remaja 15 tahun ini sontak menepis tangan Leticia dengan kasar. Keduanya terlibat perkelahian fisik yang membuat suara gaduh, sampai membuat orang yang masih di bawah kaget. Masih berkelahi, keduanya sempat mengeluarkan belatinya masing-masing. Ketika diarahkan ke satu sama lain, muncullah Chen berdiri di antara belati keduanya.
Dua belati dari dua arah Xia dan Leticia terarah ke tubuh Chen. Keduanya terkejut dan langsung menjatuhkan belatinya masing-masing.
Bug
Bug
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Chen lirih.
Tidak ada menjawab. Kembali Chen bertanya dengan nada membentak. "Apa yang kalian ributkan!" sentaknya.
"Aku ha—" ucapan Leticia terpotong oleh ungkapan Xia. "Aku yang salah. Maaf." Xia memungut belatinya, kemudian pergi turun dari lantai dua karena dirinya sudah siap pergi ke pesta pernikahan.
__ADS_1
Baru kali itu Chen mendengar pengakuan salah dari Xia. Selama Xia berbuat keonaran, selalunya ia mengelak tak mau mengakui perbuatannya. Tapi kali itu, Xia malah mengatakan jika dirinya salah. Pertanda jika Xia benar-benar tidak mencari keributan dahulu.
"Cia, kamu ini sudah dewasa. Kenapa kamu sampai berantem dengan anak remaja seusia Xia?" tegur Chen.
"Semua juga karena kakak. Kak Chen dan Airyn malah lebih fokus dengan Xia dibandingkan aku. Padahal sudah jelas jika aku ini adalah adik kandung kalian!" seru Leticia masih merasa cemburu.
"Kamu cemburu dengan Xia? Apa gunanya Leticia? Tidak perlu kamu cemburu dengannya karena perlakuan kami pun sangat jelas nyata berbeda untuk kalian berdua," desis Chen.
Leticia terus merajuk. Chen pun membujuknya supaya mood Leticia kembali baik karena nantinya dia akan menyambut tamu penting untuk keluarga. Kemudian, Leticia pun mengajukan pertanyaan.
"Baiklah kalau begitu aku akan bertanya sekarang. Di antara aku dengan Xia, kakak lebih sayang kepadaku atau dengannya? Lalu, Kakak kan jauh lebih baik kepadaku atau padanya?" Leticia sengaja bertanya kepada Chen karena melihat Xia masih ada di balik tangga ke bawah.
Chen tidak langsung menjawab, suara nafas kasar pun terdengar darinya. "Aku akan pilih kamu." jawab Chen dengan jelas dan lugas.
Seketika, air mata Xia mengalir membasahi pipinya. Tapi dia tidak ingin sampai kakaknya tahu bahwa dirinya mendengar kenyataan pahit itu. Segera Xia menghapus air matanya, lalu segera turun karena tidak kuat lagi melihat kenyataan itu.
"Untuk saat ini," imbuh Chen. "Jujur, aku tidak pernah membenci kehadirannya. Kalian sama-sama adik bagiku, sebenarnya tidak ada perbedaan kecuali kau adalah kandunganku dan dia hanyalah adik angkatku, Cia."
Sayangnya, Xia tidak mendengar ungkapan jujur dari Chen saat itu. Andai saja Xia mendengar, pasti dia tidak akan pernah menyalahkan dirinya sendiri karena belum bisa menjadi adik yang membanggakan bagi kakaknya.
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Leticia dengan ketus.
"Kak, ada mobil dia. Kita tidak berangkat bersama berenam?" tanya Xia kepada Chen, mengabaikan Leticia.
Tentu saja pengabaian dari Xia membuat Leticia kesal.
"Satu mobil bertiga," jawab Chen. "Putuskan dengan siapa kalian mau berangkat, aku atau Sean?" imbuhnya dengan raut wajahnya yang tetap dingin.
Tidak ada yang menjawab kecuali Leticia yang memilih satu mobil dengan Chen. Setelah itu barulah Xia mengatakan jika dirinya akan ikut Sean dan Tama.
"Aku ikut mobil kedua, bersama Kak Sean dan Kak Tama." ucapnya sudah masuk mobil terlebih dahulu.
Keputusan Xia membuat Airyn menjadi tidak enak hati. Inginnya Xia satu mobil bersama dengan Chen dan Leticia supaya permasalahan mereka bisa kelar sebelum sampai tujuan. Tapi dia juga tidak bisa mengubah keputusan itu karena Xia sudah masuk ke mobil lebih dulu.
"Sudahlah, ayo semua berangkat. Kita sudah hampir terlambat." Chen segera memasuki mobil yang di sopir oleh sopir pribadinya. Sementara Sean, akan menyetir sendiri.
__ADS_1
Selama di perjalanan, Xia menjadi diam saja. Sean dan Tama yang tahu kejadian di lantai dua rumah membuat mereka juga ikut diam. Keduanya juga tidak tega melihat Xia yang selalu diabaikan oleh kakaknya, dimana Xia terlihat benar-benar tulus pada kakaknya.
"Nona Xia, besok kita akan berangkat ke Indonesia dan tinggal disana selama dua mingguan. Apakah Nona sudah menyiapkan semuanya?" tanya Sean memecah keheningan.
"Jadi kakak mengizinkan cuti untuk dua minggu, untuk ikut bersamanya bertemu dan keluarga kandungnya di sana?" tanya Xia kembali. Sean mengangguk pelan.
"Aku tidak tahu," imbuh Xia, masih mengalihkan pandangannya.
Sean paling sulit membujuk Xia karena memang tidak pernah memaksa remaja itu. Kebetulan ada Tama di sana, Sean pun memberi kode padanya untuk membantunya membujuk Xia.
"Hoi, bantu aku!" bisik Sean.
Tama mengangkat bahunya.
"Tolonglah ...." sekali lagi Sean berbisik.
Tama hanya menggelengkan kepala.
"Hum, aku berjanji padamu untuk mengalah satu kali ketika kita bermain game," Sean negosiasi.
Tama tetap menggeleng.
"Dua kali?" lanjut Sean.
Tama lagi-lagi menggeleng kepala. Kemudian memberikan tiga jarinya kepada Sean.
"Astaga, jangan tamak. Kenapa kau—" ucapan Sean terhenti ketika mata Tama melirik ke belakang, ke arah Xia.
Akhirnya Sean menyetujui permintaan Tama. Mereka kembali berbisik, Tama bertanya bagaimana caranya membujuk karena dirinya juga tidak pernah membujuk seseorang. Berisiknya mereka membuat Xia kesal saja. Xia pun menarik telinga keduanya sampai Sean menghentikan mobilnya.
"Kalian membicarakan aku, hah? Itu tidak sopan!" teriak Xia.
Ciiiitttttt .....
Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal.
__ADS_1