Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Perpisahan Xia dan Tama


__ADS_3

Di dalam keramaian bandara, Xia merasa hatinya begitu sepi. Ingatan wajah Tama selalu menghiasi pikirannya. Mata indah Tama juga ada dalam bayangan matanya. Xia benar-benar telah menyukai pria yang jauh lebih tua darinya itu.


'Kak Tama, apakah suatu saat nanti kita akan bertemu kembali dalam perasaan yang sama? Apakah nantinya rasaku ini akan semakin subur, ataukah malah layu?' batin Xia.


'Harapanku, kamu masih sendiri ketika aku kembali. Akan aku buktikan bahwa diriku bisa menjadi orang yang jauh lebih baik dari versiku yang sekarang.'


"Xia, pesawat kita ...." kata-kata Sean memecah lamunan Xia.


Xia berpamitan pada Sachi dan Feng. Begitu juga dengan Sean yang menyerahkan beberapa urusan kantor pada Feng untuk sementara waktu sampai Ayden dan Faaz datang. Feng yang sebenarnya sibuk di rumah sakit, tetap mengiyakan karena memang sudah selayaknya keluarga harus bahu membahu.


"Pergilah, jangan khawatirkan tentang pekerjaan yang ada di disini. Tama pasti bisa menghandle semuanya juga, aku akan membantunya," ucap Feng.


"Thank you very much, Feng. I don't know what else to do without you," ucap Sean, menepuk bahu Feng.


Antara keduanya sudah tidak ada lagi sebutan kata 'Tuan' bagaimanapun juga mereka sudah menjadi keluarga, bukan lagi musuh bebuyutan antar kelompok gangster.


Mata Xia masih terus mencari-cari, tentu saja Tama yang ia cari. Berharap tiba-tiba Tama datang dan memintanya untuk tetap tinggal bersamanya. Tapi itu hal yang mustahil bagi Tama lakukan karena Xia bukan siapapun baginya, meski Tama menjadi walinya sampai Xia berusia 18 tahun.


"Xia, ayo!" ajak Sean.


"Sampai jumpa dan selamat bertemu lagi dikemudian hari, Kak Sachi. Terima kasih karena sudah mau menjagaku selama aku tinggal di sini," ucap Xia.


"Terima kasih juga aku ucapkan kepada Kak Feng karena sudah mau jadi kakakku dan memberiku perhatian lebih ketika aku berada di sini. Selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu kembali dalam keadaan baik-baik saja seperti ini," sambungnya.


Ketika Xia hendak membalikkan tubuhnya, Feng menahan tangannya. Kemudian memberikan pelukan hangat seperti seorang kakak padanya. Feng kemudian membisikkan sesuatu. "Semangat belajar dan segera menjadi gadis yang cocok disandingkan dengan Tama. Kamu berhak bahagia, Xia. Ingat selalu pesan yang kakakmu—Chen katakan semasa dia masih hidup."


Mendengar itu membuat remaja cantik ini semakin bersemangat untuk menjalani hidupnya yang baru. Menjadi seseorang yang sangat diinginkan oleh Chen, dibanggakan oleh keluarga dan juga dicintai oleh pria yang dicintainya.


Perpisahan itu terjadi. Xia benar-benar meninggalkan Tiongkok untuk pergi ke Amerika meski hatinya tidak ingin. Sementara Tama, dia hanya berdiri melihat dari kejauhan ketika Xia pergi. Tama tetap saja tidak bisa melepaskan Xia begitu saja. Dia juga mau melihat seorang Xia pergi membentuk masa depannya di Amerika.


"Andai saja visa-ku keluar dengan cepat dan mudah, yang mengantarmu saat ini adalah aku, Xia," gumamnya.

__ADS_1


Pria berusia 27 tahun ini terus menatap kepergian remaja cantik yang telah mengusiknya beberapa waktu selama ia tinggal di Tiongkok. "Xia, maafkan aku karena tanpa sengaja aku telah melukai perasaanmu."


"Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Yang aku rasakan saat ini, bukanlah cinta kepada kekasih, melainkan cinta sebagai seorang wali pada tanggung jawabnya,"


"Semoga kalau kamu mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. 2 tahun lagi kita akan benar-benar terlepas dari sebuah ikatan. Tapi aku berjanji, ketika aku sudah mendapatkan visa-ku untuk terbang ke Amerika, aku akan menemui, aku janji, Xia."


Tama hanya bisa bergumam saja. Dia tidak tahan jika harus berdiam diri di rumah tanpa melihat Xia pergi. Sementara Xia pergi masih dengan kesalahpahamannya terhadap Tama. Dimana ia mengira jika Tama benar-benar tidak mempedulikannya.


Tama bertemu dengan Ayden dan Faaz ketika di Bandara. Benar-benar jadwal penerbangan mereka tidak tepat sesuai dengan estimasi yang sudah mereka katakan pada Tama dan saudara yang lainnya.


"Tama? Ini kamu? Ngapain kamu datang kemari? Bukankah kami tidak memberitahumu jika pesawat kami akan tiba hari ini?" Ayden menyadari jika pria yang mengenakan topi serta Hoodie di depannya itu adalah Tama.


"Ayden? Faaz? Kalian ..." ucapan Tama terhenti dengan salam Faaz. "Assalamu'alaikum," salam pria manis itu.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Kali—"


Lagi-lagi ucapan Tama harus terhenti karena ada seorang gadis yang menabraknya. Siapa lagi jika bukan Theresia, sahabat baru Xia yang terlambat mengantarkan sahabatnya terbang ke Amerika.


"Aaa sorry, sorry, saya ti—kak Tama?" ucap gadis itu.


"Dia mengenalmu?" tunjuk Ayden. "Wah, Tama, kau hebat sekali. Belum lama tinggal di sini sudah dapat cewek saja!" seru pria berdarah Korea ini.


Yah, Ayden berdarah Jawa-Korea, sedangkan Faaz Jawa tulen seperti Tama, Feng berdarah Jawa-Chinese. Orang tua mereka kakak beradik sepupu, mereka masih satu buyut. Begitu juga dengan Chen. Chen, Leticia dan Airyn triplets dari anak tertua di keluarga besarnya. (Story awal mereka bisa dibaca di triplets last Mission)


"Kak Tama, mereka siapa?" tanya Theresia.


"Mereka kakaknya Xia juga. Perkenalkan, pria ini namanya Ayden, yang satunya namanya Faaz. Sudah, kan? Saya permisi dulu," Tama terlihat tidak semangat.


"Aa, tunggu!"

__ADS_1


"Kak Tama tunggu!"


"Maksudnya siapa? Apa mereka kakaknya Xia juga?"


"Kak Tama, jelaskan padaku!"


Theresia berlari mengejar Tama. Ayden dan Faaz saling bertatap karena tidak tahu apa yang dikatakan oleh gadis itu. Yah, Tama memang sudah sedikit pandai berbahasa Mandarin, makanya ketika bicara dengan Theresia, ia berbahasa Mandarin.


"Apa yang gadis itu katakan?" tanya Faaz.


"Entah, tapi pasti Tama tersiksa sekali jika berurusan dengan gadis bawel seperti dia. Lalu, siapa Xia? Apa itu kata benda, atau nama orang?" Ayden pun juga ikut bingung.


"Entahlah, aku datang kemari hanya diminta membantu pekerjaan Tama saja. Yang lainnya aku tidak mau tahu, ayo cepat ikuti dia!" sahut Faaz.


Ketika Ayden dan Faaz mengejar Tama, mereka malah bertabrakan dengan Feng dan Sachi.


Bug!


Sachi dan Faaz jatuh bersamaan. Sementara Feng hanya sedikit oleng, lalu Ayden malah masih berdiri tegak tanpa tersenggol sedikit pun.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Faaz pada Sachi.


"Saya baik-baik saja," jawab Sachi lirih.


"Ayden? Kau—Faaz? Kalian ... kalian kapan tiba?" Feng terkejut mengenali dua orang yang menabraknya.


"Ck, kau lihat kita ini sedang dimana? Bandara! Berarti kita baru sampailah! Kenapa masih bertanya?" kesal Ayden. Pria ini memang sering sekali kesal dengan Feng karena belum terlalu akrab.


Mengenai sikap yang dimiliki Ayden juga selalu serius, dia jarang sekali bisa bercanda ria dengan Feng yang orangnya juga dingin, acuh, tak peduli dengan hal lainnya yang menurutnya tidak penting.


"Astaga, menyesal aku bertanya. Dasar pria lajang yang membosankan!" umpat Feng.

__ADS_1


Pertemuan mereka di Bandara begitu mendadak. Situasi sedang tidak baik dan malah menjadi semakin kacau saja. Theresia yang terus menguntit Tama membuat pria berusia 27 tahun itu tidak nyaman. Lalu Ayden selalu berdebat dengan Feng, sementara Faaz malah bingung sendiri berada di situasi yang masih asing baginya. Sebagai pengacara, tentu saja dunia bisnis seperti itu membuatnya bingung.


__ADS_2