Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Percakapan Xia dan Sean


__ADS_3

'Hm, apa yang aku lakukan itu sangat memalukan, bukan? Lantas, mengapa aku sedih jika dia menghindariku?' gumamnya dalam hati.


"Theresia, apa kamu baik-baik saja? Sejak tadi kamu diam, apa kamu sakit?" tanya Sachi begitu sampai di depan gedung apartemen Theresia.


"Tidak! Aku tidak apa-apa. Terima kasih karena kakak telah mengantarku pulang. Aku tinggal di gedung ini bersama dan kedua orang tuaku, apa Kakak bersedia untuk mampir? Kebetulan sampai jam segini ibuku ada di rumah," sahut Theresia.


Sachi menggelengkan kepala. "Terima kasih, tapi aku harus bekerja. Lain kali saja jika ada kesempatan, selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi, Theresia."


Wanita itu melambaikan tangan, kemudian masuk ke taksi yang sebelumnya ia kendarai bersama dengan Theresia. Setelah Sachi berlalu, baru kemudian Theresia masuk ke gedung apartemen tersebut.


***


Gemerlap kota Amerika tak membuat Xia bisa melupakan kegelisahan karena berpisah dengan Tama. Harapannya bisa bertemu dengan pria yang ia sukai sebelumnya tinggal lama di Amerika. Namun, tetap saja pria yang ia sukai itu tak hadir mengantarkan kepergiannya.


Xia dan Sean telah sampai di New York, tempat dimana dulu memang Xia sekolah dan tinggal di asrama sekolah. Di beberapa kota seperti Chaniago dan San Diego, Chen telah mendirikan banyak perusahaan elektronik miliknya. Bahkan juga ada perusahaan khusus makanan juga. Semua itu telah dicapai oleh Chen di usianya yang masih terbilang muda.


"Xia, kita makan disini dulu. Di pesawat tadi aku tidak nyaman makannya, jadi keluar semua," ucap Sean.


"Astaga, itu menjijikkan sekali. Mengapa kau ceritakan padaku, Kak Sean? Iyuh!" keluh Xia.


"Diamlah! Aku sedang malas mendengar ocehanmu!" ketus Sean.


Xia menaikkan satu alisnya. Remaja ini seketika heran dengan Sean yang seolah menyalahkan dirinya, padahal Sean lah yang cerita lebih dulu jika Sean memuntahkan makanannya di toilet pesawat.


"Kenapa kita masuk di restoran timur? Bukankah selama kita tinggal disini, selalunya kita makan di restoran orang sini?" tanya Xia, duduk mengamati restoran tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu sudah lupa? Aku bukan Sean yang dulu. Aku seorang muslim semenjak menikahi cintaku," jelas Sean. "Huft, begitu saja tidak tahu!" gumamnya kesal.


"Cih, bagaimana aku tahu, kau saja tidak cerita padaku kalau sudah menikah dengan adik kakakku," cetus Xia.


"Kau menikah dengan Kak Airyn, lalu menjadi seorang muslim, Kak Chen menikah dengan wanita muslim juga. Apakah selama itu kalian memberitahuku? Bahkan kalian tidak pernah menganggapku ada. Begitu mau dimengerti, menyebalkan!" Xia menggerutu.


Apapun yang dikatakan Xia memang ada benarnya. Xia tidak pernah diberitahu tentang kabar maupun keadaan kedua kakaknya itu—Chen dan Sean. Selama di Amerika, Xia mendapat kabar lain hanya dari Airyn, yang sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.


"Nasi kebuli, apaan ya? Nasi apa itu?" tanya Xia.


"Enak itu. Makanan orang timur, juga makanan orang India. Meski kadang namanya beda, tapi tetap saja sama, nasi sama daging," jelas Sean juga kurang wawasan.


"Oke lah, aku mau nasi kebuli, juga dessert lainnya. Minumnya terserah Kak Sean saja. Pilihkan minuman yang segar untukku!" seru Xia yakin.


Usai makan malam bersama, Sean membawa Xia pulang dulu ke rumah sebelum besok diantar ke asrama. Rumah yang hanya diisi oleh beberapa pelayan rumah dan penjaga itu terlihat sangat terawat.


Rumah mewah itu dibeli oleh ayah Wang ketika Chen masuk sekolah menengah pertama. Chen dan Sean memang sekolah di Amerika dan menghabiskan masa remajanya disana. Chen mengetahui bahwa ibunya Xia ini bukanlah ibu kandungnya sejak dirinya berusia 9 tahun. Itu sebabnya Chen lebih memilih menghabiskan masa remajanya di luar negeri.


Seketika Xia teringat akan kakak tercintanya yang di mana dulu selalu menghindari dirinya hanya karena ia adalah anak dari seorang perempuan yang telah menculik Chen dari ibu kandungnya ketika di rumah sakit waktu lahir dulu.


"Aku jadi merindukan kakak. Apakah dia sudah bahagia di sana berkumpul dengan adik dan juga ibu kandungnya?" tanya Xia ketika duduk di sofa depan.


"Huft, kenapa Tuhan tidak selalu adil padaku. Kakak diberi cinta oleh ayah padahal dia bukanlah putra kandungnya, kemudian dipertemukan oleh keluarga kandungnya sebelum meninggal. Belum lagi menikahi seorang perempuan yang sangat baik seperti yang dikatakan oleh Kak Sachi,"


"Sangat adil, bukan?"

__ADS_1


"Bagaimana denganku, Kak Sean? Aku dibenci oleh ibu dan ayah kandungku sendiri, kemudian dibenci oleh ayah Wang, belum lagi dibenci oleh kakak. Mungkin hanya kamu saja yang selalu baik padaku. Terima kasih, Kak Sean."


Ungkapan Xia membuat Sean sedih. Jika dipikir kembali beberapa waktu yang lalu, perjuangan Chen tidak semudah yang dipikirkan oleh remaja cantik itu. Banyak luka yang harus Chen terima supaya bisa mewujudkan kebahagiaan yang ia inginkan.


"Sebenarnya kamu sedikit salah paham dengan Tuan Chen. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan, Xia," ujar Sean.


"Maksudnya?" tanya Xia, memperbaiki duduknya.


"Sebenarnya yang jauh lebih terluka itu adalah dia, bukan aku ataupun kamu. Dia dituntut harus bisa ini dan itu. Bekerja keras siang dan malam supaya bisa mensejahterakan kamu dan juga adik-adik kandungnya," ungkap Sean.


"Aku telah menemaninya selama ini. Aku ada saksi hidup bagaimana perjuangan seorang Tuan Chen Tuan Wang untuk kita semua," lanjut Sean.


"Usianya masih sangat muda, bahkan dia belum sempat bahagia, tapi dengan rela hati dia mempertaruhkan nyawa untukku dan kita semua termasuk kamu,"


"Kau tahu, Xia. Dia rela mati demi kita supaya bisa terbebas dari dunia hitam ini. Gangster yang sudah terbentuk oleh leluhur kita di masa lalu, sudah berhasil dibubarkan oleh Tuan Chen,"


"Harta yang ia tinggalkan untuk kita, semua ini bukan dari keluarga Wang. Semua yang kita nikmati ini adalah hasil kerja kerasnya. Ada surat yang harus kamu baca dan juga harus kamu cermati, Xia,"


Sean memberikan surat yang sedari tadi sudah ada ditangannya. Ia keluarkan dan diberikan pada Xia untuk dibaca. "Aku mengeluarkan surat ini tadi sebelum masuk ke rumah. Ini adalah surat pertama dan terakhir yang Tuan Chen tulis untuk kamu," katanya.


"Setelah bersih-bersih dan bersantai, kamu bisa membacanya. Tolong dicermati supaya tidak ada kesalahpahaman. Aku akan menjelaskan dan aku akan menjawab setiap pertanyaan yang kamu tanyakan nanti setelah membaca surat itu," ujar pria yang penuh dengan kesetiaan itu.


"Aku akan masuk kamar, tubuhku sudah sangat lelah. Sampai bertemu besok pagi, Xia, selamat malam dan selamat beristirahat." tukas Sean, tanpa menatap Xia ketika pergi.


Sepasang mata sipitnya Xia terus menatap pada satu amplop berwarna merah muda yang berada di tangannya. Terasa sangat tipis dan yakin jika surat tersebut hanya ada satu lembar saja.

__ADS_1


__ADS_2