Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Belum Baik


__ADS_3

Meski malam berlalu dengan cepat, tapi malam itu membuat Xia tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus saja kepikiran dengan apa yang ia lakukan terhadap Tama, dimana dirinya meminta direnggut keperawanan hanya demi sebuah penyelamatan diri.


"Haih, sudah hampir pagi, tapi aku tidak bisa tidur dengan nyaman," keluh remaja cantik ini.


Ia bangun dan duduk di atas ranjangnya. Kembali teringat dengan kejadian sebelumnya di desa itu sampai membuatnya malu sendiri. Wajahnya memerah, dari telinganya seperti keluar asap karena mendidih pikirannya.


"Aghhrrrr! Kenapa aku kepikiran terus?!"


"Oh, pergilah dari pikiranku!"


"Tuhan, mengapa—astaga kak Tama ini. Benar-benar mampu membuatku tidak bisa hidup dengan tenang."


Remaja ini merogoh saku piyamanya, terasa ponsel yang dibelikan Tama menggunakan uang mendiang Chen masih ada di sana. Melihat waktu, terkejut karena sudah pagi saja.


"Aku tidak tidur—"


Meski hanya tersisa waktu sedikit untuk tidur, Xia tiba-tiba saja mengantuk dan tertidur begitu saja. Mudah bagi Xia untuk tidur karena kamar yang diberikan oleh Tama begitu nyaman.


***


Pagi hari tiba. Sebelum ke kantor, Tama menyiapkan sarapan juga untuk Sean. Tama begitu perhatian kepada surga adiknya itu karena hari itu juga Sean yang akan mulai mengurus usaha-usaha yang Chen tinggalkan. Sibuk di dapur, sampai Xia memanggil saja Tama tidak mendengarnya.


"Kak Tama!" teriak Xia sembari membenarkan seragam sekolahnya. "Kakak!"


"Kakak!"


"Kakak, Kak Tama!"


"Allahu Akbar!" Tama sampai senam jantung karena terkejut. "Apa kau bisa lebih sopan lagi? Tak bisakah sehari saja kau menjadi anak yang baik?" tegur Tama.


"Aku sudah memanggilmu berkali-kali sejak tadi. Tapi kau tidak mendengar panggilanku. Jadi, apakah salah jika aku memanggilmu dari dekat?" lirih Xia. "Aku minta maaf jika aku salah—" sambungnya begitu manis.


"Haih, alasan saja." desis Tama.


Sejak saat itu, Xia mulai mengganggu Tama. Xia rupanya juga bisa bangun tepat waktu meski waktu tidurnya hanya sebentar.


"Kak, aku boleh ikut sarapan, tidak?" tanya Xia dengan mengedipkan matanya berkali-kali.


"Hmm..." jawab Tama tanpa menatap Xia.


Baru saja Xia mau melanjutkan ucapannya lagi, sesuatu berbunyi.

__ADS_1


Ting Tong…


Suara bel berbunyi. Tama meminta Xia untuk membukakan pintunya. Tangannya masih kotor dengan melumuri ayam menggunakan bumbu marinasi. Di sisi lain, Tama ini juga sangat pandai memasak.


Tak selang lama, datanglah Sachi membawakan sarapan untuk semua orang. Sebelumnya, Sachi sudah ditelpon oleh Feng untuk menyiapkan makanan lebih satu porsi karena Sean sudah kembali.


"Siapa yang datang?" tanya Tama.


"Saya, Tuan." jawab Sachi dengan senyuman.


Segera Tama mencuci tangannya dan menyambut kedatangan Sachi dengan senyum hangatnya juga. Senyum Tama pada Sachi membuat Xia cemberut. "Oh, kamu. Silahkan masuk. Apa yang kamu bawa itu?" sambutnya.


"Tuan Feng larut malam kemarin menelponku untuk menyiapkan sarapan untuk kalian semua dengan tambah satu porsi. Jadi … ini saya bawakan apa yang Tuan Feng perintahkan." jawab Sachi menunjukkan kotak makan yang ia bawa.


Perlakuan Tama kepada Sachi dinilai berbeda pada Xia. Melihat itu, Xia menjadi tidak senang. Remaja ini memasang wajah yang ditekuk sangat menekuk. Kesal karena Tama selalu bersikap acuh padanya, namun tidak dengan Sachi.


'Kenapa Kak Tama beda perlakuannya antara aku dan Kak Sachi? Apa kak Tama menyukai kak Sachi?' gumam Xia dalam hati. Dia pergi menjauh dan masuk ke kamarnya.


Duduk di depan meja belajarnya dan segera mengemas perlengkapan sekolahnya. Ketika mengambil buku gambar, tak sengaja Xia menjatuhkan sebuah bingkai foto.


Dak!


Begitulah bunyinya.


"Andai saja, andai saja Ibu tidak melakukan kesalahan sebesar itu. Pasti kita masih berkumpul sampai sekarang. Aku jadi tidak sendirian lagi," ucapnya lirih.


"Kak Chen, aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar sendirian. Tidak ada yang mau menerimaku dengan tulus. Pria yang saat ini bersamaku, telah menemukan wanitanya. Jika mereka bersama, lalu aku harus bagaimana dan dengan siapa?"


Xia berpikir terlalu panjang. Ia sampai yakin sekali jika Tama dan Sachi akan bersama hanya karena perlakuan baik Tama pada wanita sahabat kakak iparnya itu.


"Katakan, aku harus apa?"


"Fokus sekolah saja? Aku bukan robot yang harus pintar dalam segala hal. Aku juga punya perasaan__"


Xia yang jarang sekali menangis, kembali berlinang air mata untuk kesekian kali setelah kepergian keluarga besarnya.


"Xia, ayo kita sarapan. Sean dan Feng juga sudah datang, kamu mau ikut sarapan atau tidak!" suara Tama membuat air mata yang tadinya menetes sedikit langsung masuk kembali.


"Um, iya, kak! Tunggu sebentar!" sahut Xia.


Segera Xia menghapus air matanya. "Haih, kenapa juga aku pagi-pagi menangis? Bagaimana aku menutupi kantung mataku?" sedikit riasan, Xia menutupi kantung matanya menggunakan bedak padat miliknya.

__ADS_1


Xia keluar dengan wajahnya yang murung. Di sana sudah ada Feng dan Sean juga yang sudah siap sarapan. Meski mengalami down hebat semalam, Sean masih bisa menjaga penampilannya. Hanya saja, saat itu dia tidak banyak bicara dan masih duduk di kursi roda.


"Pagi, Xia. Hari ini aku akan mengantarmu ke sekolah," ucap Sachi ramah. "Kenapa kamu tadi langsung masuk ke kamar?"


"Em," jawab Xia.


"Jawaban apa itu, Xia? Kenapa kamu tidak sopan dengan orang yang lebih tua darimu? Dimana sopan santunmu?" tegur Feng.


"Iya, terima kasih mau mengantarku ke sekolah." ucap Xia setelah ditegur oleh Feng.


Meski begitu, Tama terlihat cuek saja di sampingnya. Mengingat kejadian kemarin, membuat Xia kesal sendiri karena Tama tidak mau memberikan apa yang ia mau ketika dirinya sedang ketakutan akan dibunuh.


'Sebenarnya pria ini memiliki hati atau tidak? Cuek sekali padaku.' gumam Xia dalam hati.


Xia pun menatap Sean. "Kak Sean, kau duduk di kursi roda lagi? Bukankah kau kemarin bahkan sudah sampai menyetir?" tanya Xia heran.


Sean meletakkan sendoknya, menghela napas dan kemudian menatap Xia. "Tolong diantara kalian jangan ada yang mengabari istriku tentang bagaimana keadaanku yang sebenarnya, bisa?" pintanya.


"Maksudnya apa?" tanya Feng, Tama dan juga Xia bersamaan.


"Aku masih belum bisa pulang ke Korea. Masih ada berkas yang hendak aku laporkan ke pihak berwajib dan meminta mereka menghentikan pencarianku. Lalu, semalam aku melihat beberapa laporan mingguan dari perusahaan glory world dan perusahaan lain mengalami kemerosotan hasil. Setelah semuanya sudah beres, aku akan kembali ke Korea dengan seorang Sean yang hilang ingatan dan kaki yang cacat seperti ini," jelas Sean.


"Apa maksudmu ini? Apa kau ingin mempermainkan adikku? Dia sudah mengalami mental down hebat dan kau—" ucapan Feng tersela.


"Aku belum selesai bicara, Tuan Hao," potong Sean dengan tegas. "Kalian bisa mengabari istriku hari ini, jika aku sudah kembali dan mengalami hilang ingatan. Dengan seperti itu, aku bisa fokus memperbaiki statistik perusahaan dan istriku bisa merawatku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya sebentar, tanpa aku melakukan apapun." Sean pun tersenyum menatap potret sang istri di ponselnya.


Tidak ada maksud lain dari ucapan Sean. Dia hanya ingin memberikan kesempatan Airyn untuk merawatnya saja. Pagi itu juga, Feng memberikan kabar kepada Airyn jika Sean sudah kembali dan mengatakan bahwa ingatannya yang tersisa hanya dirinya sebagai Asisten pribadi Chen saja.


"Aku tidak bisa menelponnya. Mungkin di tidur atau sibuk, aku tidak tahu selisih waktu di sini dan di sana. Tapi aku sudah memberikan kabar sesuai dengan yang kau mau. Kau puas?" ketus Feng. "Awas jika kau permainkan hati adikku, Sean!"


"Terima kasih." ucap Sean, tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.


Mengulang semuanya dari awal, memang bisa melupakan sedikit kesedihan kepergian Chen, Leticia dan keluarga lainnya. Selang 7 menit, Tama selesai makan dan pamit hendak ke kantornya.


"Aku selesai. Sean, aku akan tunggu kau di kantor secepatnya. Maaf hari ini aku tidak bisa mengantarmu melapor," ucap Tama.


"Kau bekerjalah, terima kasih sudah membantu sampai sejauh ini. Tuan Chen pasti bangga memiliki sepupu sepertimu, Tama," sahut Sean.


Tama tersenyum. "Nona Sachi, aku sudah transfer bonusnya untukmu. Antar dia sampai ke sekolah dengan baik," sambung Tama kepada Sachi.


"Baik, Tuan Tama,"

__ADS_1


"Feng, aku pergi dulu." tukas Tama menyentuh bahu Tama dan pergi.


Feng dan Sean tidak mau ikut campur urusan pribadi Tama. Apalagi, insiden kabur kemarin memang membuat suasana menjadi canggung. Siapa yang tidak gugup, Tama sampai melihat belahan dada gadis berusia 15 tahun yang memiliki bentuk tidak sesuai dengan usainya. Lalu dengan senang hati menawarkan diri untuk melakukan hubungan yang tidak mungkin dilakukan sebelum ada sebuah ikatan pernikahan. Tama membutuhkan waktu berdamai setelah kejadian itu.


__ADS_2