
"Kalian hanya boleh melihat makanan ini saja. Cepat ambil menggunakan sapu tangan dan masukkan ke dalam tas. Jangan sedikitpun ada yang kalian makan, paham?" Feng memberikan peringatan.
"Memangnya ada apa dengan makanan ini?" tanya Tama berbisik. Sebab ia bingung karena Feng sebelumnya menyuruhnya makan apa yang dihidangkan. Lalu berubah pikiran untuk tidak memakannya.
Xia mengambilnya dan mencium aroma makanan itu. Hanya menciumnya masih dari jarak jauh, Xia sudah menebak jika di dalam makanan yang wanita itu hidangkan, mengandung racun.
"Jika kau mau tidur dalam waktu yang lama, kau makan saja. Huft, menyusahkan!" ketus Xia, meletakkan makanannya kembali.
"Kamu—" Tama sampai tak bisa berkata apapun karena Xia terus mengajaknya berdebat.
"Apa!" tantang Xia.
Keduanya saling menatap sengit. Seolah sudah siap bertarung
"Kalian bisa diam, tidak? Mau sampai kapan kalian terus berdebat tidak berisi seperti ini? Seriuslah, kita sedang dalam masalah besar!" tegas Feng.
Tama dan Xia pun diam. Mereka juga masih mengeluh karena disana tidak mendapatkan jaringan. Ditambah lagi, hari juga sudah mulai siang, perkiraan bisa keluar desa siang itu, maka akan sampai kota malam hari.
Di sisi lain, wanita yang belum diketahui identitasnya itu sedang bicara bersama dengan Sean di ruangan yang lainnya. Wanita itu rupanya menginginkan Sean untuk tetap ada bersamanya. "Apa kau ingin pergi bersama mereka?" tanya wanita itu dengan ketus.
"Mereka keluargaku, ada bukti jika aku adalah kakak dari gadis itu. Untuk apa lagi kau menahanku di sini?" Sean berbalik tanya.
Wanita itu menghela nafas panjang, kemudian memasang senyum liciknya dengan berkacak pinggang. Seolah, sudah terjawab jika memang dirinya tidak ingin Sean pergi.
"Lepaskan aku. Aku masih memiliki keluarga. Apakah kamu tega membiarkan adikku menangis seperti itu? Bukankah, kau dulu juga memiliki seorang adik, katamu?" lanjut Sean, mencoba untuk melepaskan diri dengan lembut.
Wanita itu dulu memiliki adik laki-laki yang begitu ia sayangi. Sayangnya, adik lelakinya itu mengalami kecelakaan tragis dan meninggal di depan matanya ketika hendak menyebrang dari gapura desa mereka, sebelum menjadi gapura yang sangat buruk.
__ADS_1
"Tapi kau tidak mengingat mereka. Lantas, Untuk apa kamu kembali kepada orang tidak pernah ada dalam ingatanmu?" ujar wanita itu dengan tenang.
'Haih, tidak ingat matamu. Aku sangat merindukan istriku yang cantik. Bagaimana mungkin aku bisa betah di sini. Istriku yang paling cantik di dunia itu, pasti sudah menungguku dengan kekhawatirannya!' batin Sean.
"Kenapa kamu diam? Kamu bahkan tidak bisa mengingat apapun 'kan? Jadi untuk apa kamu kembali kepada keluargamu?" lanjut wanita itu.
Sean memang diam karena tidak ingin sampai wanita itu dan penduduk desa tahu jika dirinya pura-pura amnesia hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya dengan sandiwara hilang ingatan, apakah dirinya akan aman dari segala tindak orang di desa tersebut.
"Tapi dengan kembali bersama mereka, Aku pasti bisa mengingat sesuatu tentang diriku," jawab Sean sederhana.
"Tapi kau milikku. Aku berhak atas dirimu, karena akulah yang menyelamatkan nyawamu. Apa kau lupa bagaimana caraku menyelamatkan dirimu?" Wanita itu sampai berteriak.
"Yang menyelamatkanku adalah seorang tabib. Kau hanya membantu mendorong kursi roda, membantuku menyiapkan makanan, baju kembang untuk menyiapkan air ketika aku hendak mandi. Sama sekali kau tidak pernah membantu kesembuhanku, karena yang melakukan itu adalah seorang tabib," tutur Sean dengan wajah juteknya.
"Huft, itu memang tidak salah. Tapi bagaimanapun juga, aku yang merawatmu." wanita itu juga tidak mau kalah
Wanita itu memandang Sean. "Aku yang menjagamu selama ini. Apakah kamu yakin ingin kembali ke keluargamu, dan meninggalkan keluargamu disini yang selama ini menemukan dirimu?" Wanita itu masih kekeh mempertahankan Sean supaya tetap bersamanya.
"Apa katamu? Manis? Apakah aku tak cukup manis bagimu? Mengapa kamu menginginkan sekali adikmu itu dibandingkan aku?" Kesal wanita itu seperti anak kecil.
"Bagiku yang paling manis, cantik, menggemaskan hanyalah istriku. Kau bahkan tidak sebanding dengan istriku!" Sean tidak pernah melupakan istrinya meski hanya sedetik saja. Menyebut namanya dalam hati, adalah hal yang ia bisa lakukan saat itu.
"Istri, istri, istri. Apakah kau mengingat siapa istrimu, hah! Bagaimana caramu mengingatnya, kau saja dengan dirimu sendiri lupa, cih!" Wanita itu bahkan sampai meludah.
Perasaan wanita itu kesal karena Sean tidak pernah bersikap manis kepadanya. Sejak awal Sean siuman dari pingsannya, Sean tidak pernah tersenyum sama sekali kepada siapapun di desa itu. Dia menjadi diam dan tidak banyak bicara karena culture shock yang ada. Jangankan bicara, menjawab pertanyaan dari orang-orang di sana saja hanya pertanyaan terpilih yang diberikan jawaban olehnya.
"Maaf kami ha—" mata wanita itu terbelalak ketika melihat semua hidangan yang ada di atas meja hanya tersisa beberapa makanan saja.
__ADS_1
'Apa mereka sungguhan memakan makanan yang kuhidangkan? Bagaimana mungkin—tunggu! Bagaimana bisa mereka masih baik-baik saja?' pertanyaan itu ia ungkapkan dalam hati.
"Kakak, makanan yang kakak berikan kepada kami ini sangat lezat. Aku jadi kenyang, terima kasih, ya …." celetuk Xia.
Sisa makanan yang ada di bibir Xia, membuat wanita itu percaya jika memang mereka telah makan semua makanan tersebut. 'Persetanan dengan kalian. Aku tidak peduli kalian ini keluarga dari dia atau tidak. Aku hanya ingin dia ada di sini bersamaku. Matilah kalian bertiga!'
Ide Tama untuk meninggalkan bekas makanan di pinggir pipi Xia memang tidak sia-sia. Berkat drama kolosal yang ia tonton, Tama menjadi sedikit berguna bagi Feng di sana.
Beberapa menit lalu, sebelum Sean dan wanita itu keluar, Tama memberikan usul konyolnya itu kepada Feng. Awalnya, Feng tidak menyetujuinya karena itu pasti akan langsung ketahuan. Namun, karena ketiganya sudah sepakat untuk menggunakan akal daripada otot, jadi memang harus di coba.
"Kalian mengobrol saja dulu, aku akan membantu beberapa pelayan menyiapkan tempat istirahat untuk kalian," wanita itu kembali lagi ke dalam.
Setelah wanita itu berlalu, kembali Tama meyakinkannya Sean untuk mengingat dirinya. Tapi sungguh malang, pria ini masih belum mau mengakhiri sandiwaranya karena tidak ingin membahayakan nyawa yang lain.
"Haih, dia sudah tidak ingat dengan kita. Bagaimana ini? Padahal jika dia tahu bagaimana kondisi kak Airyn, pasti akan merasa sedih," celetuk Xia.
BRUAK!
Feng menendang kaki Xia. "Sakit, Kak!" ketusnya.
Tangan Sean mencengkram kala mendengar nama istrinya. Selama ia hilang, ia selalu kepikiran dengan keselamatan jiwa dan raga istrinya. Setiap malam, dirinya selalu memimpikan wajah cantik istrinya dan tidak ingin bangun lagi.
"Kamu jangan ngomong sembarangan. Bagaimana jika ada yang mendengarnya? Kita sudah sepakat untuk kau menjadi adik, aku dan Tama menjadi saudara sepupu baginya, bukan? Jangan mengacaukan rencana kita, Xia!" tegas Feng.
"Aku hanya ingin dia ingat kita saja. Meski aku tidak dekat dengan Kak Airyn. Tapi kak Chen adalah kakaknya, aku juga tidak tega melihat kakak Airyn bersedih," lanjut Xia.
"Hish, mulutmu itu lumpia!" saking gemesnya, Tama mencomot bibir Xia. Feng dan Tama memang belum ingin menceritakan apapun kepada Sean sebelum ia bertemu dengan Airyn.
__ADS_1
Kepergian Chen, ibu kandungnya, Leticia, Lin Aurora, dan keluarga Wang yang lain, tidak harus diketahui Dishi secepat itu. Mengingat mereka juga sedang dalam perjuangan kembali ke kota.
Feng dan Tama juga tidak ingin seperti Leticia dan Chen yang melakukan tindakan dengan kekerasan saja. Mereka lebih suka berpikir halus, dan bicara manis supaya lawan terlena. Kemudian, barulah mereka akan kabur membawa Sean bersamanya.