
"Xia, kita semua masih berusaha untuk mencari keberadaan Sean. Kamu harus sabar dan berdoa saja demi keselamatannya," ucap Tama lirih.
Xia menghela nafas panjang, kemudian melihat tali merah yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Teringat siapa yang yang menyimpulkan tali tersebut padanya. 10 bulan lalu, Sean berusaha untuk mendapatkan tali itu dengan usahanya sendiri. Berkat yang Sean berikan padanya, membuat Xia kembali sedih.
"Kudengar Kak Sean sudah menikah dengan Kak Ai. Bagaimana dengan keadaannya? Suaminya hilang, pasti membuatnya sangat sedih," lanjut Xia bertanya.
Tama menjawab, "Ai dalam keadaan mental yang tidak baik-baik saja. Chen, Lin Aurora, Ibu kandungnya, bahkan Leticia juga pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kemudian, suaminya, Sean … malah hilang."
"Apa maksudmu? Leticia ... juga meninggal?"
Leticia dikabarkan meninggal 2 jam setelah berita kematian Chen, ibu kandungnya dan istrinya. Leticia melahirkan putrinya yang prematur dan kemudian pergi bersama kakak dan ibunya. Putrinya yang masih dalam inkubator belum sempat dilihat oleh Leticia. Wanita yang selalu ribut dengan Xia ini pergi meninggalkan duka mendalam bagi suaminya juga. Baru menikah 10 bulan, sudah meninggal karena melahirkan.
Sakit yang dirasakan oleh Xia rupanya tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh Airyn. Memang tidak ada yang perlu dibandingkan tentang kehilangan seseorang dalam hidup. Di dunia ini, memang seperti itu adanya. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Itu sudah menjadi hukum alam.
Sachi menenangkan Xia yang terlihat semakin syok, sampai seseorang dari pihak lelang datang menambah suasana hati Xia terluka.
"Kakak, siapa mereka?" tanya Xia kepada Sachi.
"Mereka dari balai pelelangan. Pria yang disana, tadi mengatakan bahwa semua barang yang ada disini, akan dilelang. Tidak semuanya, hanya barang yang sekiranya memang tidak perlu di simpan." jelas Sachi.
Xia merasa tidak terima jika barang-barang peninggalan keluarganya akan di lelang. Apalagi rumah itu ternyata juga sudah akan terjual. Xia pun protes kepada Tama. "Kakak, ini semua bukan barang milikmu. Kenapa kamu ingin melelangnya?" protesnya.
Tama yang saat itu masih mengarahkan orang yang datang dari balai lelang pun menghela nafas panjang. Sangat yakin jika dirinya akan repot karena masalah keluarga Wang. "Ini semua akan di lelang. Kamu duduklah dengan tenang disana dulu, okay?" katanya.
"Barang-barang disini milik keluarga Wang. Mengapa Kakak dengan seenaknya ingin melelang semua barang-barang yang bukan hak milik kakak!" ketus Xia.
"Siapa namamu tadi?" tanya Tama. "Ah, Xia,"
"Xia ..."
"Biarkan kakak menjelaskan sesuatu. Rumah ini memang sudah hampir terjual. Ya, mungkin tidak lama lagi memang akan terjual. Um, kira-kira malam nanti ada orang yang mentransfer uang dan ini sudah tidak menjadi milik keluarga Wang lagi," jelas Tama.
__ADS_1
"Kakak!" teriak Xia.
Plak!!
Reflek Xia menampar Tama dengan keras. Tama tidak melawan sama sekali. Masih perlu bersabar karena sudah menjadi tugasnya mengurus semua peninggalan Chen dari keluarga Wang untuk Xia, tanpa diketahui oleh Xia.
"Barang-barang yang lain sudah ada yang dikirim ke Jogjakarta, kota dimana kakakmu dilahirkan. Lalu sebagiannya lagi, karena memang penting dan perlu di simpan, maka tidak di jual. Semua yang ada disini saat ini, akan di lelang malam nanti, kamu paham?" lanjut Tama dengan nada yang ramah.
"Kakaaaak!" Xia berteriak lagi.
Mendengar teriakan Xia, Sachi pun langsung berlari ke arahnya. Menanyakan apa yang terjadi kepada Tama dan Xia. "Ada apa?" tanyanya. Tapi, sayang sekali pertanyaan Sachi tidak dijawab oleh Tama maupun Xia.
Antara Tama dan Xia masih saling bertatap.
"Ini barang milik keluarga Wang. Kakak siapa bisa seenaknya melelang harta kami?" ketus Xia.
"Um, sayangnya ... memang ini sudah menjadi keputusan tiga keluarga. Keluarga Wang, termasuk Ayah kandungmu, keluarga kandung Kakakmu Chen, dan juga keluarga Lim. Kamu ingat, keluarga Lim adalah keluarga Ibunya kakakmu Chen," lanjut Tama dengan senyum sinisnya.
Tama juga mengatakan bahwa setelah rumah itu terjual, ayah kandung Xia juga akan meminta jatahnya. Ayah Xia yang telah lama terkurung dalam penjara kediaman Wang juga telah dibebaskan. Namun tidak mau mengakui Xia sebagai putrinya. Xia yang selama ini tahunya jika ayah kandungannya sudah tiada, malam itu semuanya dijelaskan oleh Tama.
Sebelum meninggal, Chen sudah memasrahkan semuanya pada Tama supaya bisa membantu Sean merawat dan menjaga Xia dengan baik. Semua hartanya diminta dijadikan uang supaya tidak ada lagi perdebatan harta dalam keluarga besar Wang, dan Tama mulai melakukan tugasnya.
Tak hanya itu saja. Tama juga mengatakan jika harta milik Chen sendiri sementara di pegang oleh Airyn. Setelah kondisi Airyn lebih baik nanti, barulah semua wasiat yang Chen tulis, akan diumumkan.
Setelah Tama selesai menjelaskan, tiba-tiba saja Xia menangis. Gadis 15 tahun ini memang terlihat seperti gadis umur 19 tahun karena tubuhnya yang bongsor. Meski tinggi dan besar, tetap saja wajah Xia tidak menolak jika dirinya masih berusia 15 tahun.
"Huaa ... kakak jahat! Jika semuanya di lelang, lalu aku harus tinggal dimana?" rengek Xia.
"Kamu bisa tinggal bersama kakak, kita akan menjadi teman baik, bagaimana?" Sachi berusaha menenangkan Xia.
"Kamu bisa kembali ke luar negeri atau bisa pulang ke ayah kandungmu. Soal pendidikan, kamu tidak perlu khawatir karena Chen sudah menyiapkannya segalanya untukmu sampai lulus nanti," sahut Tama, masih saja menggoda dengan menyebut akan mengembalikan Xia ke ayah kandungnya.
__ADS_1
"Huaaaa ...." tangisan Xia semakin menjadi-jadi.
Sachi pun menegur Tama untuk bersikap lebih lembut dengan anak yang baru beranjak remaja itu.
"Hey, kenyataan hidup dan juga takdir itu memang tidak selalu manis. Jadi aku mengatakan ini karena—"
"Huaaa ...,"
Ucapan Tama terhenti di saat Xia menangis dengan kencang. Datanglah Feng yang kembali karena tidak jadi pergi ke club'. Mendengar ada yang menangis dari dalam kediaman Wang, membuat Feng yang baru saja sampai langsung berlari dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa?" tanya Feng.
Xia semakin menangis kala melihat Feng datang. Feng tahu berurusan dengan siapa, dia pun pamitan kembali dengan beralasan ada panggilan darurat dari rumah sakit.
"Feng!" panggil Tama sedikit lega.
"Oh, baiklah. Aku akan segera datang. Mengapa kalian ribut sekali ...." Feng bersandiwara menerima telepon.
"Tama! Kau urus saja sebaiknya bagaimana. Aku harus ke rumah sakit, ada panggilan darurat!" teriak Feng sembari berlari.
"Mampus, aku dewe sik repot. Hoaasss ... astaghfirullah hal'adzim—" Tama mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Feng memang berprofesi sebagai dokter bedah. Usianya juga sama dengan Chen dan Tama, 27 tahun lebih. Mereka lahir di tahun dengan tanggal dan bulan yang berbeda. Feng dan Chen sewaktu kecil menjadi musuh karena memang keluarga besar Wang dan Gu (marga Feng) bermusuhan. Namun setelah mereka mengetahui perihal siapa aslinya Chen, keduanya mulai berteman dengan baik.
Setelah Feng pergi, Xia masih saja menangis sampai tersedu-sedu. Tangisannya membuat Tama pusing dan meminta Xia untuk segera diam. "Tolonglah, kau diam sebentar saja bisa tidak? Biarkan semua orang bekerja dengan tenang, barulah kita bicara lagi nanti, okay?"
"Um, maaf jika saya merepotkan. Bisakah anda mengajaknya ngobrol dulu? Saya harus ... Anda lihat sendiri, bukan? Pekerjaan saya ini sangat banyak sekali," Tama sampai memohon kepada Sachi untuk membantunya bebas dari Xia.
Sachi mengangguk paham dan dia pun membawa Xia ke kamarnya. "Xia, tunjukkan kamarmu ada dimana. Apakah kamu ingin mendengar kisah lucu dari Tuan muda Chen?" dengan menyebut nama Chen, ternyata mampu membuat Xia jauh lebih baik.
Langkah Xia sedikit lambat meninggalkan Tama. Matanya sangat tajam menatap Tama, seolah ingin keluar dari tempatnya. Tatapan itu membuat Tama langsung memalingkan wajahnya dan mulai bekerja kembali.
__ADS_1