Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Usulan Yang Membagongkan


__ADS_3

Hari demi hari berganti, luka yang dialami Xia tidak begitu patah karena hanya mengalami patah tulang di bagian tangan dan darah tersebut diakibatkan luka tangannya yang terkena benda tajam yang menempel di tiang.


Setelah menjalani dua hari perawatan, akhirnya Xia sudah mulai membaik. Namun, sejak malam dimana Xia dirawat, Tama belum juga datang membesuk Xia. Hal itu membuat remaja ini tidak semangat untuk sembuh. Xia memastikan sendiri bahwa dirinya memang menyukai Tama.


"Aku malas makan," tolaknya.


"Ck, jangan banyak alasan. Lebih baik cepat makan karena aku masih memiliki janji dengan pasienku!" ketus Feng kala menyiapkan makanan untuk Xia.


"Tidak mau!" jawab Xia keras kepala.


Feng kesal karena memang saat itu dirinya masih harus mengurusi pasiennya yang datang dari jauh. Ia pun meninggalkan makanan di meja, lalu pergi begitu saja dengan kekesalannya. "Kau kelaparan saja! Aku tidak peduli!" seru Feng.


"Hiks, hiks, huaaa … Tidak ada yang menyayangiku. Kenapa aku tidak mati saja ketika kecelakaan itu terjadi—" rengek Xia.


"Hash, berisik sekali! Kenapa kamu terus saja mengeluh seperti itu. Apa kau tidak tahu, yang lain merasa tidak nyaman merawatmu. Apa maumu, Xia?" Tama akhirnya pun datang.


Melihat Tama datang, Xia langsung bersikap manis. Memintanya untuk menyuapinya dengan kedipan mata yang menggoda. Hanya Tama yang dinanti kedatangannya.


"Hih, apa ini? Menggelikan sekali saat kamu mengedipkan mata," kata Tama.


"Suapi aku, kumohon …." pinta Xia kembali mengedipkan matanya berkali-kali.


"Berhenti seperti orang penyakitan seperti itu. Mengerikan!" Tama mengambil nampan jatah makanan Xia. "Cepat duduk sebelum aku berubah pikiran." sambungnya dengan ketus.


Sekali dua kali suapan, Xia merasa bahagia. Bagi gadis berusia 15 tahun itu, sehari tak berjumpa dengan Tama saja, dirinya merasa hampa. Apa yang ditakutkan oleh Feng dan Sean kejadian juga. Xia jatuh cinta dengan Tama. Pria berusia 27 tahun itu ternyata mampu memikat hati remaja cantik ini.


"Lauknya kenapa kecil sekali. Potongannya yang besar biar aku puas," ujar Xia.


"Hm—" sahut Tama.


"Lagi, lagi, lagi, yang besar!" Xia tidak sabaran.


"Hei, bocah! Ini sudah besar, kamu mau yang sebesar apa lagi, ha?" Tama mulai emosi.


"Sebesar rasa sayangku kepadamu, Kak Tama." jawab Xia dengan cengengesan. "Kak, lihat aku. Cintaku ini sungguh besar padamu." imbuhnya sangat yakin.

__ADS_1


Tama menghentikan tangannya, kemudian menatap Xia dengan tatapan datar. Lalu meletakkan nampan makanan tersebut dan keluar begitu saja. Xia bingung mengapa Tama bersikap seperti itu.


"Kak!"


"Lah, kok pergi?"


"Kak!"


"Kak Tama!"


"Woiii, aku belum makan! Kak Tama!"


Tidak peduli Xia memanggilnya berkali-kali, tetap saja Tama tidak menghentikan langkahnya. Jangan kan berhenti, menoleh saja tidak. Ketika berada di luar, Tama pun bertemu dengan Sean dan Feng. Helaan nafas panjang Tama, dua pria di depannya itu langsung paham.


"Dia jatuh cinta padamu, Tama. Lalu kita harus apa sekarang?" tanya Feng.


"Tidak ada solusi lain kecuali aku harus kembalikan dia ke Amerika. Bagaimana dengan unsulku ini? Apa kalian berdua setuju?" Sean meyakinkan diri untuk mengirim Xia kembali.


Tama hanya diam saja. Meski apa yang diusulkan oleh Sean adalah keputusan yang benar. Namun atau perasaan yang tidak tega untuk melepaskan gadis berusia 15 tahun tersebut.


"Matamu!" jawab Tama, pergi begitu saja.


"Dasar bocah tengik!" kesal Feng mengangkat tangannya.


Sean mengamati gerak-gerik Tama. Memang terlihat tidak ada perasaan cinta di mata Tama kepada Xia. Tapi, Sean sendiri juga khawatir perasaan tidak tega itu menjadi rasa suka yang akan membuat taman sendiri merasa tidak nyaman.


"Dia tidak menyukai Xia. Hanya saja—" ucapan Sean terhenti.


"Hanya saja apa? Kamu juga kalau ngomong yang jelas, bereskan dulu, Sean!" Feng benar-benar mudah sekali tersulut emosi.


"Hanya saja, takutnya rasa iba-nya itu akan membuatnya terjebak dalam perasaan suka terhadap Xia," jawab Sean.


"Haih, aku tidak paham dan tidak mau tahu apa yang kamu maksud itu, Sean. Sebaiknya kamu segera memikirkan bagaimana cara menstabilkan perusahaan dan setelah kembali kepada adikku. Apakah kamu tega membohonginya terus-menerus seperti ini?" Feng tetap saja peduli, bagaimanapun juga mereka juga keluarga baginya.


"Jangan sampai Airyn tahu yang sebenarnya dan kamu belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Jangan sampai juga kamu menyesal, Sean." sambung Feng, kemudian pergi.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Feng memang ada benarnya. Aisyah memang sedikit curiga ketika foto dirinya bersama dengan Theresia saat berada di kantor polisi. Hal itu membuat Sean semakin bingung hendak bertindak seperti apa. Keluarga besar pihak ibu Feng masih belum bisa melepaskan perusahan Wang begitu saja.


Sebagai penanam saham terbesar di perusahaan salah satu yang didirikan oleh keluarga Wang, pasti akan berpengaruh besar untuk masa depan perusahaan. Satu persatu masalah harus Sean selesaikan dengan pelan. Dia masuk ke ruang rawat Xia dan melihat Xia sedang makan.


"Jika kamu bisa makan sendiri, untuk apa kamu merepotkan Feng dan juga Tama? Kapan kamu akan dewasa, Xia?" celetuk Sean, kala mendekati Xia.


"Tidak ada hubungannya denganmu, jadi jangan ikut campur!" desis Xia. "Pergi sana!" usirnya.


Sean duduk di sisi Xia. Menatap remaja manja itu dengan tatapan seperti tidak tega juga. Namun, keputusan itu sudah bulat untuk mengirim kembali Xia ke Amerika.


"Dokter mengatakan jika besok kamu sudah diperbolehkan pulang. Aku juga memutuskan untuk masa depanmu setelah ini, yaitu ... ka-kamu bersiaplah untuk kembali ke Amerika," ungkap Dishi.


"Apa?" Xia pun terkejut.


Sebelum mendengar Xia protes, Sean langsung mengatakan, "Aku tidak akan menerima bentuk protes apapun dari mulutmu itu. Segera berkemas besok dan mungkin paginya aku akan mengantarmu langsung ke Amerika, paham?"


"Cepat selesaikan makanmu, dan kembali lagi istirahat. Aku akan pulang lebih dulu, mungkin sebentar lagi nona Sachi akan datang menemanimu malam ini."


Setelah mengatakan hal yang membuat hati Xia terluka, Sean langsung pergi meninggalkan gadis kecil Tama itu sendiri. Air mata tiba-tiba menetes dari mata sipitnya yang cantik. Makanan yang belum habis, tidak jadi ia makan karena sudah tak berselera.


'Kenapa semua orang tidak menginginkan aku? Mereka kenapa selalu ingin membuangku? Bahkan tak ada yang menyayangiku dengan tulus. Jika begini adanya ... Kenapa mereka tidak membunuhku saja?' batin Xia mulai tertekan.


"Aku adalah anak yang baik, aku juga patuh dengan siapapun. Tapi mengapa ujung-ujungnya aku dibuang?"


"Apa salahku?"


Dadanya sesak kala mengatakan kata tersebut. Xia belum mengerti seperti apa masa depan itu. Yang ada dipikiran Xia, hanya bagaimana caranya mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ada di dekatnya saat itu juga.


"Kenapa aku tidak mati saja saat kecelakaan kemarin? Kenapa aku malah baik-baik saja. Kenapa Tuhan tidak adil padaku?"


Tangis Xia membuat Sachi yang baru saja datang menjadi khawatir. Sachi langsung memeluk tubuh mungil Xia dengan erat dan mengusap kepalanya secara perlahan.


"Xia, tenanglah!"


Tangis Xia pecah dan semakin keras kala mendengar suara Sachi yang saat itu memeluknya. Sachi membuatkan Xia menangis sekerasnya. Sebab, menangis dapat membuat hati menjadi lebih lega dan tenang. Yang hanya bisa dilakukan Sachi saat itu hanya bisa memeluk dan mengusap kepala gadis kecil Tama itu.

__ADS_1


__ADS_2