
Pria asing itu lalu duduk di atas lantai, menopangkan tangannya di atas kedua kakinya.
Tampak gurat-gurat kesedihan di wajah pria itu dan sesekali ia mengusap wajahnya yang lelah.
"Apa yang terjadi dengannya, kenapa dia bersedih, Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai.
"Entahlah, tapi sepertinya sedang kesulitan, lebih baik kita ikuti saja pria asing itu jika ia pergi dari gedung ini", sahut Bu Amarise.
"Mmm... Aku rasa yang anda ucapkan benar, dan kita menunggunya saat ia pergi dari sini", ucap Aneisha Mihai.
"Tapi sepertinya salju di luar turun sangat lebatnya, kemungkinan pria asing itu tidak pulang ke rumahnya", ucap Bu Amarise.
"Berarti dia akan menginap di gedung ini !?", ucap Aneisha Mihai.
"Mungkin dan kita lihat saja bagaimana perkembangannya", ucap Bu Amarise.
"Baiklah, bagaimana kalau kita menunggunya disini dan mengawasinya ?", ucap Aneisha Mihai memberi saran.
"Lebih baik aku saja, nak, karena aku sebagai malaikat tidak pernah tidur dua puluh empat jam nonstop, jadi beristirahatlah segera, nanti aku akan membangunkanmu !", ucap Bu Amarise.
"Tidak bu, lebih baik kita saling bergantian mengawasi pria asing itu daripada aku tidur, alangkah baiknya aku turut berjaga bersama dengan anda", ucap Aneisha Mihai.
"Terserah padamu, jika kamu sanggup melakukannya maka aku tidak akan melarangmu untuk mengawasi pria asing itu, baiklah aku akan membuatkan kita minuman hangat", ucap Bu Amarise.
"Minuman hangat untuk kita ? Bagaimana caranya, kita tidak memiliki perapian ataupun peralatan memasak di sini !? Bagaimana anda melakukannya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Bukankah aku penuh keajaiban ?", jawab Bu Amarise.
"Ah Iya !? Aku hampir melupakannya jika anda seorang malaikat dari langit !?", ucap Aneisha Mihai tergelak.
"Rupanya kamu sudah tidak merasa ketakutan lagi ataupun cemas, apakah hatimu sudah merasa tenang ?", tanya Bu Amarise.
"Mungkin, aku rasa hatiku sedikit merasa lega sekarang, meski aku masih mencemaskan keluargaku dan kita belum pulang, itu yang menjadi pikiranku saat ini", ucap Aneisha Mihai.
"Kita akan segera pulang dan kembali ke rumah secepatnya, nak !", ucap Bu Amarise.
Bu Amarise lalu menuangkan segelas susu cokelat dari tangannya yang bercahaya terang dan memberikan sepotong burger hangat kepada Aneisha Mihai.
"Minumlah ! Ini dapat membuat tubuh kita tetap hangat di ruangan gedung yang udaranya semakin lama semakin dingin karena salju yang turun diluar gedung'', ucap Bu Amarise.
"Terimakasih, bagaimana anda melakukannya ? Ini sungguh luar biasa bagiku bahkan aku ingin mencobanya seperti anda", ucap Aneisha Mihai.
"Tidak sulit, aku rasa, tapi aku tidak bisa menyarankan supaya kamu menjadi sepertiku yang seorang malaikat !?", ucap Bu Amarise.
"Aku rasa bukan lelucon biasa, tapi ini hanyalah pernyataan dariku yang seorang manusia biasa tetapi memiliki cita-cita tinggi agar seperti anda", jawab Aneisha Mihai.
"cita-cita tinggi, ya !?'', ucap Bu Amarise.
"Yach... Cita-cita yang tinggi setinggi langit dan bintang... Tapi tidak bisa aku capai...", ucap Aneisha Mihai lalu terlelap tidur.
"Hmm... Akhirnya kamu tertidur juga, nak, dan memang tidak mudah untuk tetap terjaga sampai pagi karena kamu tampak sangat kelelahan sehabis menari balet", ucap Bu Amarise.
Wanita tua itu lalu menyelimuti tubuh Aneisha Mihai yang menggigil kedinginan dengan selimut tebal yang ia ciptakan dari lembaran kain tirai jendela.
Dia tersenyum ketika memandangi gadis muda yang penuh semangat itu, dia mampu meluluhkan hati sang malaikat pelindung itu saat melihat semangat gadis muda itu yang begitu membara.
__ADS_1
Bu Amarise lalu menolehkan kepalanya ke arah pria asing yang tengah berbaring di atas lantai gedung kemudian ia mengarahkan tangannya ke arah pria asing itu yang tidur dengan memberinya selimut serta alas tidur.
Hari semakin larut malam dan udara juga semakin dingin meski di dalam ruangan Gedung Folies Bergere, tetapi dinginnya salju di luar membuat suasana di gedung menjadi sangat dingin, sebeku es.
"Bagaimana kami dapat keluar dari sini ? Tuhan, berilah kami petunjuk-Mu sekarang, aku memohon bantuan dari-Mu !?'', ucap Bu Amarise seraya berdoa.
***
Sinar cahaya tidak tampak sama sekali karena salju masih terus turun di luar gedung sehingga cuaca di luar tetap gelap seperti malam karena matahari tidak terlihat di atas langit yang tertutup salju yang lebat.
Pria asing itu terbangun dari tidurnya yang sangat lelap dan saat ia bangun, sekotak burger dan segelas susu panas telah tersedia di sampingnya.
Dia termenung sesaat kemudian menghabiskan segelas susu panas itu tapi tidak untuk sekotak burger di sampingnya. Ia membawanya dengan memasukkan ke dalam saku mantelnya. Dan ia sama sekali tdak mengingat apapun saat itu, bagaimana ia semalam menari di atas panggung pertunjukan di dalam Gedung Folies Bergere.
"Sepertinya ia sudah bangun dari tidurnya, dan bersiap-siap untuk pergi !? Tapi pria itu rupanya sedikit kebingungan karena sentuhan ajaib yang aku berikan padanya'', ucap Bu Amarise sambil tersenyum lembut.
Bu Amarise segera membangunkan Aneisha Mihai yang masih tidur terlelap dan masih mengenakan selimut di tubuhnya.
"Aneisha Mihai, bangunlah, nak ! Waktunya pergi dari sini, bangun, nak !", ucap Bu Amarise sambil menepuk kedua pipi gadis muda itu.
"Ehm... Ada apa, bu ? Aku masih mengantuk sekali, tidak bisakah anda membangukanku nanti saja !?', ucap Aneisha Mihai menggeliat pelan sambil menguap.
"Apa kamu tidak ingin segera pulang ke rumah dan menetap di sini ? Kalau demikian aku tidak tahu bagaimana nasib keluargamu di tangan Izebel, nak !?'', ucap Bu Amarise.
Ucapan Bu Amarise yang menyebut nama Izebel, wanita jahat itu, membuat Aneisha Mihai langsung terbangun dari tidurnya yang lelap dan gadis muda itu benar-benar memuka kedua matanya lebar-lebar.
Dia mengusap matanya dan duduk sebentar, kemudian ia berdiri tegak penuh semangat yang membara.
"Ayo, bu ! Mari kita segera pergi dari tempat ini !", ucap Aneisha Mihai.
"Aduh ! Aku telah melewatkan sesuatu semalam, bukan ikut berjaga-jaga mengawasi pria asing itu, malah aku tidur dengan nyenyaknya !?", ucap Anisha Mihai.
Pria asing itu pergi dari ruangan gedung itu dan berjalan melewati jalan-jalan yang ada di area Gedung Folies Bergere.
Aneisha Mihai dan Bu Amarise lalu mengikuti pria asing itu dari arah belakang setelah keluar dari gedung tersebut, dan terus berjalan membuntuti pria asing itu yang terus berjalan melewati gedung-gedung yang ada di sepanjang jalan.
Tiba-tiba pria asing itu berhenti di ujung jalan dan berbelok cepat, hampir mereka berdua kehilangan jejak pria asing itu. Dan mereka terpaksa berlari cepat mengejar pria asing itu yang berjalan dengan langkah panjangnya.
"Astaga, dia sangat cepat sekali !?'', ucap Aneisha Mihai.
"Tenanglah, nak, dan tetaplah bersabar mengikutinya karena hanya dia satu-satunya petunjuk yang memang sengaja diberikan kepada kita saat berada di dalam Gedung Folies Bergere !? Jangan sampai kita kehilangan dia !", ucap Bu Amarise memberi masukan dan arahan kepada Aneisha Mihai.
"Aku mengerti, Bu Amarise, tetapi pria itu benar-benar sangat cepat sekali dan gerakannya gesit seperti saat ia menari balet", jawab Aneisha Mihai.
"Jangan putus asa, tetap semangat sampai kita mendapatkan cara untuk pulang ke masa depan, nak ! Waktu kita di sini terbatas karena semakin kita tinggal lama di tempat ini maka waktu di masa depan akan bergerak sangat cepat dan terus berubah !", ucap Bu Amarise.
"Apakah anda tidak bisa menghentikan waktunya, Bu Amarise !?", tanya Aneishha Mihai.
"Itu diluar kuasaku sebagai seorang malaikat karena aku tidak bisa menghentikan waktu pada masa lalu yang telah bergerak mundur lebih cepat, karena kita telah berada di masa lalu maka aku tidak dapat menghentikan waktu lagi", ucap wanita bergaun merah itu.
"Bukankah aku telah berhasil menarikan tarian balet dengan baik ? Mengapa tidak bisa mengubahnya seperti saat aku mematahkan mantera Izebel ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak sesuai dengan harapan, nak, karena tujuan kita bukan itu tapi kita ke masa lalu pada tahun 1962 ini karena kamu harus bisa menguasai tarian balet les bourgeois agar kamu bisa mematahkan mantera sihir Izebel nanti dan lulus ujian balet dari guru baletmu, tapi kita belum tahu benar perkembangan selanjutnya", ucap Bu Amarise.
"Tidak ada hasilnya ?'', jawab Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Bukan demikian, nak !?", ucap Bu Amarise.
"Lantas apa ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ini semacam lampu darurat, alarm yang menjadi peringatan untuk kita berhati-hati, nak !", ucap Bu Amarise mengingatkan.
"Alarm ? Maksud anda ?", tanya Aneisha Mihai bingung.
"Kita tidak tahu apakah pria asing itu dapat melihat kita disini ataukah ia berpura-pura tidak melihat kita !? Aku sendiri tidak tahu, nak maka aku mengatakan bahwa ini adalah semacam sebuah alarm penting buat kita untuk berhati-hati !", ucap Bu Amarise.
"Baiklah, aku mengerti, kalau begitu kita harus berhati-hati, Bu Amarise !", ucap Aneisha Mihai.
"Baik, mari kita segera pergi dari tempat ini ! Dan ikuti pria itu dengan hati-hati !", ucap Bu Amarise.
"Aku tahu itu, mari kita segera menyusul pria asing itu dan jangan sampai kehilangan jejak orang itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Iya, ayo kita menyusulnya cepat !", ucap Bu Amarise.
Mereka lalu mengikuti pria itu dari arah belakang dengan langkah yang sangat hati-hati sekali.
Tiba-tiba pria asing itu menghentikan langkah kakinya, dan berdiri tepat di depan sebuah bangunan tua seperti bangunan sekolah lama.
Pria asing itu lalu masuk ke dalam bangunan tua tersebut dengan diikuti Aneisha Mihai dan Bu Amarise.
Keduanya masuk ke dalam bangunan tua yang tidak terurus itu, lalu berjalan menuju sebuah ruangan aula yang besar.
"Bu Amarise, kenapa anda tidak menggunakan kekuatan anda untuk menyamar ? Akan sangat mudah bagi kita untuk melakukan sebuah penyelidikan tersebut tanpa diketahui olehnya", ucap Aneisha Mihai.
"Tidak ! Kita tidak bisa melakukannya karena sangat berbahaya sekali ! Kita tidak bisa menggunakan kekuatan ajaib dalam jumlah yang besar di masa lalu karena dapat semakin mengacaukan dimensi waktu", ucap Bu Amarise.
"Oh begitu ? Ternyata seperti itu, aku mengira jika menggunakan keajaiban maka semuanya dapat cepat selesai dan kita bisa segera pulang", ucap Aneisha Mihai.
"Tidak, karena ini masa lalu dan kasusnya berbeda, kita mencari petunjuk bukan menghadapi lawan", ucap Bu Amarise.
"Apakah tidak sama saja ? Bukankah nanti hasilnya akan sama yaitu memecahkan masalah dan menemukan jawabannya kemudian memperoleh hasilnya ?", ucap Aneisha Mihai.
"Apakah kamu belum mengerti ? Jika kita sedang mencari cara untuk pulang lewat petunjuk yang ada pada pria asing itu !", ucap Bu Amarise.
"Baiklah, baiklah, aku mengerti dan mencoba memahaminya tapi apakah tidak sama saja...", ucapan Aneisha Mihai terpotong ketika Bu Amarise mengarahkan tangannya ke arah Aneisha Mihai untuk berhenti bicara.
"Dengarkan baik-baik, nak, dan jangan berbicara lagi ! Fokuslah dan jangan sampai lengah!", ucap Bu Amarise.
"Iya bu", ucap Aneisha Mihai.
"Ikuti pria itu dan ia kini sudah masuk ke sebuah ruangan aula tapi kita tidak bisa mendekatinya, kita hanya bisa melihatnya dari kejauhan", ucap Bu Amarise.
"Apa yang sedang pria asing itu lakukan di aula ini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Entahlah, tapi sepertinya ia hendak menari tapi aku tidak tahu tarian balet yang akan ia tarikan !?", ucap Bu Amarise.
"Benar, yang anda ucapkan Bu Amarise, pria asing itu sedang bersiap-siap untuk menari jika di lihat dari cara dia bersikap, pria asing itu mau memulai sebuah tarian", ucap Aneisha Mihai.
"Tapi apa yang ada di tangannya itu ?", tanya Bu Amarise.
Pria asing itu berdiri dengan gagahnya dan bersiap untuk posisi menari balet, tetapi pria itu menatap ke arah selembar kertas di tangannya penuh emosi.
__ADS_1
Tak seorangpun dari Aneisha Mihai dan Bu Amarise dapat melihat lembaran kertas tersebut, dan mereka berusaha untuk mencari tahu dengan mendekat ke arah pria asing itu.