
Tarian La Sylphide berakhir ketika musik yang mengiringi dari Gramofon berhenti berputar, dan keduanya diam bergeming.
Aneisha Mihai memandang lama ke arah pria yang ada dihadapannya, ia tidak tahu harus berbuat apalagi saat dirinya ketahuan berada di aula ini.
"Sylphide...", ucap pria asing itu.
"Iya...", sahut Aneisha Mihai.
"Bukankah kamu adalah roh ajaib yang berasal dari tarian itu !?", ucap pria asing itu.
"Benar, mengapa ?", jawab Aneisha Mihai.
"Bisakah kamu membantuku", ucap pria asing itu lalu duduk di atas lantai ruangan aula.
"Membantumu ? Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Hmmm...", hela nafas panjang pria asing itu.
"Iya ?", ucap Aneisha Mihai.
Pria asing itu lalu mengambil lembaran kertas yang tergeletak di dekat Gramofon dan memandanginya dengan sendu.
"Dapatkah kamu membuat keajaiban ?", tanya pria asing itu.
"Keajaiban !?", sahut Aneisha Mihai.
"Iya... Sebuah keajaiban yang besar... Dapatkah kamu membantuku ?", ucap pria asing itu lagi.
"Mmmm...", gumam Aneisha Mihai bingung.
"Tolonglah aku !", ucap pria asing itu memohon.
"Oh Tuhan !", ucap Aneisha Mihai semakin kebingungan.
Aneisha Mihai hanya melirik ke arah Bu Amarise yang sedang bersembunyi dari balik dinding luar aula dan tengah mengintip mereka yang ada di dalam ruangan aula besar.
Gadis muda itu lalu menatap pria yang duduk di atas lantai yang sedang melihat lembaran kertas di tangannya.
"Apa yang harus aku bantu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tolong aku untuk menyelamatkan sekolah milikku !", ucap pria asing itu lelah.
"Sekolah milikmu ?", tanya Aneisha Mihai melongo.
"Benar... Sekolah balet yang aku dirikan di luar negeri tempat aku tinggal", ucap pria asing itu.
"Bukankah engkau adalah orang perancis ? Kenapa engkau tidak mendirikan sekolah itu disini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Karena ibuku orang luar, dia tinggal disana dan seorang balerina", ucap pria asing itu.
"Apa yang terjadi dengan sekolah balet milikmu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ibuku membutuhkan uang untuk mempertahankan sekolah balet itu karena pihak bank hendak menyitanya karena kami tidak kuat untuk membayar hutang-hutang kami di bank", ucap pria asing itu.
"Lantas kenapa engkau berada disini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Aku bekerja sebagai penari di negara ini untuk menyokong sekolah itu agar tetap berdiri dan tetap buka", sahut pria asing itu.
"Tapi, aku hanya roh ajaib ?", ucap Aneisha Mihai.
"Oh...", ucap pria asing itu kecewa.
Dia memalingkan wajahnya ke arah lembaran kertas yang ada di tangannya dan tertunduk lesu.
Pria asing itu seakan-akan kehilangan semangat hidupnya.
"Apa yang ada di genggaman tanganmu ?", tanya Aneisha Mihai iba.
"Oh... Ini...!?", sahut pria asing itu.
Dia menyerahkan lembaran kertas itu pada Aneisha Mihai, kemudian gadis muda itu membacanya perlahan.
"Ini adalah surat hutang-piutang yang harus dibayarkan oleh sekolah balet itu... Dan sekolah balet itu adalah sekolah balet tempatku bersekolah sekarang...Tapi kenapa kondisinya berbeda jauh dengan yang sekarang !?", ucap Aneisha Mihai dalam hatinya heran.
__ADS_1
"Kami terpaksa berhutang hingga kini dan ibuku mencari modal tambahan dengan bermaksud menjual organ tubuhnya agar sekolah itu tidak tutup", ucap pria asing itu sedih.
"Apa ? Menjual organ tubuhnya ?", pekik Aneisha Mihai.
"Hanya itu caranya untuk mempertahankan sekolah balet itu tetap buka dan tidak disita oleh bank !?", ucap pria asing itu dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi ibu mu akan kehilangan nyawanya jika ia melakukannya ?", ucap Aneisha Mihai kelu.
"Karena kecintaannya pada balet, ibuku tidak memperdulikan keselamatan hidupnya demi sekolah balet itu tetap buka meski banyak masyarakat yang tidak menyukainya karena bukan berasal dari budaya mereka dan tidak sesuai keyakinan mereka", ucap pria asing itu mengusap kepalanya frustasi.
"Kenapa ibumu memaksa ingin mempertahankan sekolah balet itu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ibuku ingin membantu anak panti asuhan yang tidak memiliki orangtua serta uang untuk melanjutkan sekolah mereka, karena itulah ibuku memaksa untuk terus mempertahankan sekolah balet itu agar anak-anak panti memiliki keahlian khusus dengan membuka sekolah balet untuk mereka, ibuku menginginkan sekolah itu tetap berdiri bukan semata-mata karena uang", ucap pria asing itu dengan mata berkaca-kaca.
"Itukah alasannya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ibuku ingin melestarikan tarian balet dengan membuka sekolah balet untuk menghasilkan bibit-bibit unggul yang kelak meneruskan bakat tari baletnya dan bersaing di setiap perlombaan di kancah internasional, tapi mimpi itu akan terkubur !?", ucap pria asing itu putus asa.
"Kenapa harus anak-anak panti bukan dari kalangan umum ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ada beberapa dari kalangan masyarakat umum tetapi tidak banyak yang minat pada sekolah balet milik ibuku karena takut dengan orang-orang dari pihak yang menentang adanya balet sehingga hanya segelintir murid yang ingin belajar disana dan anak-anak panti yang sengaja direkrut oleh ibuku untuk dididik menari balet secara gratis", ucap pria asing itu sedih.
"Oh Tuhan... Bagaimana caranya kalian dapat bertahan hidup ?", ucap Aneisha Mihai.
"Ibuku menyambi bekerja di toko roti miliknya untuk menyambung hidup kami dan ia sengaja mengirimku ke luar negeri untuk sekolah balet di luar agar suatu saat nanti aku dapat membantu sekolah balet milik kami", ucap pria asing itu.
"Apa yang harus aku lakukan ?", tanya Aneisha Mihai.
Tiba-tiba selembar kertas jatuh melayang ke bawah dan membuat perhatian gadis muda itu teralihkan.
Buru-buru pria asing itu mengambil kertas tersebut lalu menyimpannya.
Aneisha Mihai sedikit merasa aneh dengan sikap pria asing itu, lalu ia meminta pria asing itu memperlihatkan kertas itu padanya.
"Apa yang engkau sembunyikan dariku ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak ada...", sahut pria asing itu.
"Bagaimana bisa aku membantumu ? Jika engkau menyembunyikan sesuatu dariku ?", tanya Aneisha Mihai.
"Bolehkah aku melihatnya, kertas yang engkau sembunyikan itu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Mmm...!?", gumam pria asing itu.
"Percayalah padaku... Bukankah aku adalah Sylphide, aku pasti akan membantumu tetapi bagaimana caranya aku menolong engkau jika aku tidak mengetahui tujuanmu", ucap Aneisha Mihai.
"Benarkah engkau akan membantuku ?", tanya pria asing itu seraya menatap gadis muda yang ada dihadapannya penuh pengharapan.
"Tentu !", sahut Aneisha Mihai seraya menganggukkan kepalanya.
Mereka saling memandang lama, Aneisha Mihai berusaha meyakinkan pria asing itu dengan tatapan seriusnya yang menunjukkan akan niatnya yang bersungguh-sungguh untuk membantu pria asing itu.
Pria asing itu lantas menyerahkan selembar kertas kepada Aneisha Mihai yang menyamar menjadi Sylphide, roh ajaib yang berasal dari tarian balet La Sylphide yang mereka tarikan tadi.
Aneisha Mihai menerima lembaran kertas yang ada di tangannya lalu membacanya dengan seksama.
"Ini adalah sebuah poster pengumuman !?", gumam Aneisha Mihai terkejut.
"Benar... Aku bermaksud memenangkan pemihan pemeran utama pada tokoh sebuah film yang berkisah tentang balet, tapi aku tidak memiliki bakat serta keahlian dalam film !? Bagaimana aku bisa memenangkannya ?", ucap pria asing itu bersedih.
"Untuk apa engkau mengikutinya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Aku ingin mengikuti pemilihan pemeran film agar aku mendapatkan modal besar dari film itu dan bisa membantu sekolah balet milik ibuku serta mencegahnya menjual organ tubuhnya untuk mendapatkan uang", ucap pria asing itu.
Aneisha Mihai terdiam dan menatap lembaran kertas yang ada di tangannya, ia sempat ragu dengan niatnya yang akan menolong pria asing itu untuk mempertahankan sekolah balet tersebut dan mencegah ibu pemilik sekolah balet untuk menjual organ tubuhnya.
Dia galau karena dia bukanlah roh ajaib yang sebenarnya, yang ia katakan pada pria asing itu, sebab sesungguhnya ia hanya manusia biasa yang sedang bersandiwara agar pria asing itu tidak menaruh curiga padanya.
"Lantas bagaimana caranya aku dapat membantu pria asing itu untuk mendapatkan peran utama dalam film tersebut jika aku tidak memiliki kekuatan ajaib itu !? Oh Tuhan, apa yang tengah aku perbuat ini !? Tapi jika aku tidak menolongnya maka aku tidak dapat mencegah ibu itu untuk tidak menjual organ tubuhnya dan aku gagal membantu sekolah balet itu !? Apa yang aku lakukan ini ?", ucap Aneisha Mihai dalam hatinya bingung.
Muncul Bu Amarise di samping gadis muda itu dengan payung berenda di tangannya, kemudian turut ikut membaca kertas yang ada di tangan Aneisha Mihai.
Gadis muda itu terkejut kaget melihat kedatangan wanita tua bergaun merah itu di dekatnya.
__ADS_1
"Anda ?", gumam Aneisha Mihai.
"Pemeran film, ya !?", bisik Bu Amarise.
"Bagaimana anda berada disini ? Jika pria asing itu melihat anda, apa yang akan kita lakukan, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai setengah berbisik.
"Tidak akan, karena aku adalah malaikat pelindung yang dapat tidak terlihat oleh orang lain sesuai keinginanku, nak. Tenanglah !", sahut Bu Amarise.
"Sungguh ? Benarkah yang anda ucapkan itu ?", tanya Aneisha Mihai berbisik pelan.
"Apa kamu ingin aku membuktikan jika aku tidak dapat di lihat oleh pria asing itu ?", tanya Bu Amarise berbisik pelan di telinga Aneisha Mihai.
Gadis muda berparas cantik itu hanya menganggukkan kepalanya cepat seraya melirik ke arah pria asing itu dengan hati-hati.
"Baiklah, aku akan membuktikanya dan memperlihatkannya kepadamu !", ucap Bu Amarise.
"Tunggu, Bu Amarise ?", tahan Aneisha Mihai.
"Ada apa ?", tanya Bu Amarise.
"Bagaimana jika pria asing itu dapat melihat anda ? Apa yang akan anda katakan padanya ?", tanya Aneisha Mihai sambil memegangi lengan wanita tua itu.
"Percayalah padaku, nak ! Dia tidak akan dapat melihatku, percayalah dengan yang aku katakan ini !", ucap Bu Amarise.
"Baiklah..., baiklah..., aku percaya pada anda !?", sahut Aneisha Mihai lalu melepaskan pegangan tanganya pada lengan wanita tua itu.
Bu Amarise lantas melangkahkan kedua kakinya ke arah depan pria asing itu untuk sekedar membuktikan perkataannya kepada gadis muda itu, jika pria asing itu tidak melihatnya.
Wanita tua bergaun merah serta memakai topi merah berenda yang menutupi wajahnya itu kemudian berjalan ke arah pria asing itu.
Bu Amarise berjalan dengan percaya dirinya ke depan pria asing yang tengah duduk di atas lantai aula.
"Siapa kamu ?", tanya pria asing itu kepada Bu Amarise.
"Ehk !?", gumam Bu Amarise gugup.
"Siapa kamu ?", tanya pria asing itu lagi.
"Emmm...", gumam wanita tua bergaun merah itu kaget.
"Siapa kamu ?", pria asing itu mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Aku ? Apakah kamu melihatku ?", tanya Bu Amarise kebingungan.
"Benar ? Apa aku bertanya dengan patung ?", sahut pria asing itu seraya mengerutkan alisnya.
"Bagaimana pria asing itu dapat melihatku ?", tanya Bu Amarise dalam hatinya bingung.
Aneisha Mihai yang mendengar pembicaraan keduanya mendadak berubah pucat pasi dan tubuhnya gemetaran menahan rasa takut yang mulai hinggap dalam pikirannya.
Gadis muda itu panik ketika pria asing itu dapat melihat Bu Amarise yang merupakan malaikat pelindungnya.
Dia hampir jatuh pingsan saat pria asing itu tiba-tiba bertanya pada Bu Amarise dan menoleh ke arah dirinya.
"Apakah kalian saling mengenal ?", tanya pria asing itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Siapa ?", tanya Aneisha Mihai panik.
"Siapa ? Apa kamu tidak melihatnya ?", tanya pria asing itu.
"Melihat ? Melihat apa ?", tanya Aneisha Mihai berpura-pura bodoh.
"Astaga !? Bukankah dia tadi berada di sampingmu, Sylphide ?", tanya pria asing itu menaruh curiga.
"Siapa yang engkau bicarakan, James ?", sahut Aneisha Mihai.
"Wanita tua itu yang berjalan di depanku dengan memegang sebuah payung berenda kuno itu, Sylphide !?", sahut pria asing yang di panggil oleh Aneisha Mihai dengan panggilan James, karakter pria di dalam kisah Sylphide.
"Wanita tua !?", sahut Aneisha Mihai sambil melirik ke arah Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah serta mengenakan topi merah berenda yang menutupi wajahnya dengan memegang payung berenda yang terbuka itu berdiri mematung di depan pria asing itu.
Bu Amarise hanya menatap Aneisha Mihai sambil membelalakkan kedua matanya lebar-lebar dan berdiri tidak bergerak sedikitpun karena panik, dan itu di sebabkan pria asing itu ternyata dapat melihat dirinya.
__ADS_1
"Oh Tidak... Semuanya menjadi sangat kacau sekarang !? Bagaimana ini !? Dan apa yang harus aku jawab... Apa yang harus aku katakan kepada pria tersebut !?", ucap Aneisha Mihai dalam hatinya cemas dan mendadak tubuhnya menjadi dingin sedingin salju yang membeku.