
Gedung Opera Palais Garnier tampak ramai dipadati oleh kerumunan orang-orang yang akan mengikuti audisi film.
Aneisha Mihai melihat dari arah kejauhan ramainya peserta yang minat akan acara audisi film itu, ia datang bersama Bu Amarise seperti biasanya tetapi tidak terlihat Beaufort Abellard di area gedung itu.
Gadis muda yang cantik itu mulai memperhatikan sekitar tempat audisi film yang sebentar lagi akan dimulai.
Dia menolehkan kepalanya ke arah sekeliling gedung tetapi ia tetap tidak melihat tanda-tanda kemunculan pria muda itu.
"Bu Amarise, kenapa aku tidak melihat Beaufort Abellard di sini ?", tanya Aneisha Mihai yang tidak fokus.
"Mungkin sebentar lagi ia akan datang kemari, tunggu saja, pasti ia akan datang", sahut Bu Amarise.
"Seandainya ia tidak datang, apa yang harus kita lakukan sedangkan acara ini sangat penting buatnya untuk mempertahankan sekolah balet miliknya", ucap Aneisha Mihai mulai cemas.
"Dia pasti datang, aku yakin akan itu karena dia telah berjuang sejauh ini dan tidak mungkin ia pergi begitu saja sebab acara audisi ini adalah acara yang paling ia tunggu-tunggu", ucap Bu Amarise.
"Semoga seperti itu", ucap gadis muda itu.
Sekitar dua puluh menit mereka menunggu dengan sabar kedatangan Beaufort Abellard di gedung tempat diadakannya audisi film bertema Les Bourgeois.
Aneisha Mihai yang berdiri sedari tadi mulai tidak sabaran lagi dan ia bergegas berjalan ke arah berlawanan dari gedung tersebut.
"Kamu akan kemana Aneisha Mihai ? Acara audisi film akan dimulai", tanya Bu Amarise.
"Aku akan pergi menjemput Beaufort Abellard untuk mengikuti acara ini, aku sudah tidak sabar menunggu dia datang karena aku akan membawanya ke tempat ini secepatnya kalau bisa aku akan menyeretnya kemari", ucap Aneisha Mihai lalu berbalik badan.
"Yah, terserah kamu saja, jika itu cara terbaik, silahkan sebab audisi film sebentar lagi dimulai, tetapi pria muda itu masih belum terlihat di gedung ini, baiklah. Mari kita jemput paksa dia !?", ucap wanita tua bergaun merah itu seraya mengangkat kedua bahunya keatas.
"Iya, Bu Amarise. Ayo segera kita jemput dia dan membawanya kemari !", sahut Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai menganggukkan kepalanya mantap dengan penuh semangat, ia melangkahkan kedua kakinya meninggalkan gedung tersebut.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya mengikuti gadis muda itu dari arah belakang lalu berjalan beriringan dengannya setelah berhasil menyusulnya.
Aneisha Mihai sudah tidak sabar untuk membawa Beaufort Abellard ke tempat itu untuk mengikuti audisi film.
Tampak dari kejauhan pria asing itu tengah berjalan pelan menuju ke Gedung Opera Palais Garnier dengan membawa tas yang ia selempangkan di pundaknya.
Dia berjalan dengan wajah tertunduk serta kedua tangan ia masukkan ke dalam kedua saku jaket jeansnya yang bertuliskan angka 1872, tidak terlihat semangat dari Beaufort Abellard saat ia berjalan ke arah gedung tempat audisi film itu diadakan.
Aneisha Mihai yang melihatnya langsung berlari kecil ke arah pria muda bertubuh tinggi itu dan langsung memberondongnya dengan segala pertanyaan.
"Beaufort Abellard ! Dari mana saja kamu ? Aku sudah lama menantimu, apakah ada sesuatu yang terjadi denganmu ataukah kamu lupa jika hari ini adalah acara audisi film ini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Mmm !? Aku kira kalian sudah pergi kembali ke dunia asal kalian ke dunia roh, kenapa masih berada disini ?", tanya balik pria itu
"Ehk !?", ucap Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai yang mendengar ucapan pria itu hanya berdiri tertegun seraya menatap punggung Beaufort Abellard yang pergi berlalu melewatinya tanpa melihat lagi ke arah gadis itu.
"Kenapa dengannya !? Bagaimana ia bisa bersikap seperti itu kepadaku !? Apakah ia tidak ingin aku menolongnya lagi !?", ucap Aneisha Mihai.
Bu Amarise hanya terdiam berdiri dengan kedua tangan berpegangan pada gagang payung berendanya yang tertutup dan memandangi pria muda yang tengah berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, apa kabarmu Magde !?", sapa Beaufort Abellard kepada wanita tua itu.
"Selamat pagi, kabarku baik, kenapa kamu terlambat datang, nak ? Acara audisi akan dimulai sebentar lagi, apakah ada yang mengganggu dirimu ?", tanya Bu Amarise.
"Hmmm... Yah... Kabarku baik-baik saja, hanya saja aku ragu untuk memenangkan audisi film ini, Magde", sahut Beaufort Abellard.
Tampak guratan lelah tergambar di wajah pria asing itu, ia tidak bersemangat saat menghadiri acara itu. Berdiri seraya mengusapkan salah satu tangannya ke arah kepalanya dengan acak.
Bu Amarise tersenyum melihat penampilan Beaufort Abellard yang kusut masai itu lalu diam-diam ia menghentakkan pelan payung berenda di tangannya ke arah ubin.
Cahaya berkilauan keluar dari payungnya dan terbang mengarah ke pria muda itu. Membentuk lingkaran seperti pusaran angin di sekeliling tubuh Beaufort Abellard.
Penampilan pria muda itu perlahan-lahan berubah tanpa disadari olehnya, ia kini berpakaian layak dan lebih baik dari sebelumnya. Berpakaian kemeja baru dilengkapi suspender serta dasi kupu-kupu dengan bawahan celana keki baru dan rambut klimis yang menambah sempurnanya penampilan pria muda itu untuk siap tampil mengikuti acara tersebut.
"Wow !?", pekik Aneisha Mihai dari kejauhan lalu melompat riang ketika melihat penampilan maskulin dan necis dari Beaufort Abellard. Dia sangat berbeda dari penampilannya yang tadi.
"Pegilah, nak ! Ikuti audisi film itu dan jangan ragu lagi, percayalah pada kemampuanmu serta yakinlah kamu akan menang, nak !", ucap Bu Amarise seraya tersenyum.
"Yah..., aku akan mengikuti audisi itu, Magde dan berdiri mengantri di antara peserta acara tersebut", sahut Beaufort Abellard.
"Hmmm... Baiklah, aku rasa itu idea yang sangat bagus, nak ! Ayo, pergilah cepat, dan jangan sampai terlambat ! Ayo, ayo ! Pergilah, nak !", ucap Bu Amarise lalu mendorong pelan tubuh pria muda itu ke arah gedung, tempat diadakannya acara audisi berlangsung.
Pria muda bernama Beaufort Abellard itu masih tidak menyadari akan perubahan penampilannya lalu ia bergegas berjalan ke arah kerumunan para peserta audisi film itu seraya menolehkan kepalanya ke arah Bu Amarise dan Aneisha Mihai.
Ketika ia hendak masuk ke dalam gedung, ia menudukkan pandangannya guna mengambil sesuatu dari tasnya yang ia selempangkan itu.
Betapa terkejutnya Beaufort Abellard saat melihat perubahan penampilannya yang drastis itu, ia tidak pernah menyangka akan memakai pakaian yang sesuai dengan tema audisi film itu, Les Bourgeois yang terkenal sangat fenomenal dengan penampilan-penampilan yang menggambarkan kehidupan borjuisnya.
Beaufort Abellard sangat senang sekali melihat penampilannya yang menurutnya sangat keren itu, ia kembali menoleh ke arah Bu Amarise serta gadis muda yang berdiri di samping wanita tua itu lalu tersenyum riang kepada mereka sambil mengangkat kedua jari jempolnya.
Beaufort Abellard menganggukkan kepalanya dengan wajah selalu tersenyum serta kedua mata berkaca-kaca terharu.
Akhirnya pria muda itu masuk ke dalam Gedung Palais Garnier untuk mengikuti audisi film tersebut dengan langkah yakin dan semangat.
"Ah..., akhirnya..., ia ikut juga acara ini...", ucap Aneisha Mihai lega.
"Benar, kita terlalu mencemaskannya tadi dan mengira ia akan mengurungkan niatnya untuk mengikuti acara tersebut", ucap Bu Amarise.
"Aku sempat takut, ia tidak akan ikut audisi film ini, tapi untunglah ia datang meski tadi di awal terlihat malas", ucap gadis muda itu.
"Hmmm... Aku yakin rasa enggan yang dia miliki tadi untuk mengikuti acara ini adalah keraguannya akan kemampuannya sendiri yang sangat berbakat itu ditambah lagi tidak ada seorangpun yang mendukung dirinya untuk mengikuti acara ini", ucap Bu Amarise.
"Mungkin yang anda katakan ada benarnya, latar belakang keluarga yang berantakan karena keegoisan orangtua menyebabkan rasa percaya diri pada Beaufort Abellard berkurang sehingga ia sering merasa ragu dan malas akan talentanya yang hebat itu", ucap Aneisha Mihai.
"Yah, tapi sekarang itu bukanlah batu sandungan yang besar buat dia, dan sekarang saatnya kita masuk ke gedung itu untuk membantunya memenangkan audisi film ini, nak", sahut Bu Amarise.
"Benar, Bu Amarise. Mari kita segera pergi dari sini menuju ke dalam gedung untuk menyaksikan perlombaan itu dari dekat !", ucap Aneisha Mihai dengan senyumannya yang khas dan kini selalu mengembang di wajahnya.
"Mari, kita masuk ke gedung megah itu, Aneisha Mihai", ucap wanita tua itu seraya berkedip ke arahnya.
"Baiklah ! Ayo kita segera meluncur masuk kesana, Bu Amarie ! Terbang ! Ayo kita terbang !", ucap Aneisha Mihai berseru lantang dan penuh semangat.
Bu Amarise hanya tertawa pelan melihat tingkah laku dari gadis muda yang selalu ceria itu, wanita tua bergaun merah itu lalu mengangkat payung berendanya ke arah depan, memutarnya cepat lalu menghentakkannya keras.
__ADS_1
Keluarlah kilauan cahaya menerangi tubuh mereka berdua dan membuat keduanya mulai melayang ke atas kemudian menghilang dari tempat itu.
Gedung Opera Palais Garnier tampak sangat ramai dengan padatnya peserta audisi film yang mengikuti acara itu, gedung dipenuhi suara riuh rendah para peserta yang sudah tidak sabar menunggu giliran mereka untuk tampil.
Aneisha Mihai duduk di kursi penonton yang ada paling atas di dalam ruangan gedung itu.
Beberapa juri duduk di deretan terdepan yang ada di bawah dan terletak mengarah ke depan panggung pertunjukkan acara audisi film itu.
Dia melihat Beaufort Abellard tengah berdiri diantara barisan peserta audisi film dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Kapan giliran dia untuk tampil, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai penasaran.
"Entahlah, tapi jika dilihat dari urutannya, sebentar lagi setelah dua orang peserta yang ada di depannya tampil", sahut Bu Amarise.
"Hmmm, aku sudah tidak sabar untuk menunggunya tampil dan menunjukkan kebolehannya menari ballet yang berbakat besar itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Sama, nak. Aku juga sudah tidak sabar untuk melihat penampilan dari pria muda itu, menarikan tarian ballet Les Bourgeois", ucap Bu Amarise.
"Iya, itu benar sekali, aku sendiri ingin segera melihat hasil dari audisi film ini", ucap gadis muda itu.
Keduanya memperhatikan kembali pertunjukkan audisi dengan penuh serius, sempat rasa greget muncul saat melihat para peserta tampil di atas panggung yang ada di gedung itu saat menunjukkan kemampuannya satu persatu.
Tiba giliran Beaufort Abellard untuk tampil ke depan panggung pertunjukkan menarikan tarian ballet bertemakan Les Bourgeois.
"Itu dia, giliran dia tampil !", ucap Aneisha Mihai berseru keras.
"Ssst ! Pelankan suaramu, nanti mengganggu konsentrasi menari dia, nak", ucap Bu Amarise.
"Ups ! Maaf, aku terlalu bersemangat sekali sehingga tidak memperhatikan sekitarku, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Sekarang cobalah untuk bersikap tenang, dan kita lihat pertunjukkan yang akan ditampilkan oleh Beaufort Abellard", ucap Bu Amarise.
Beaufort Abellard terlihat berdiri di sudut panggung sembari memasang kedua sepatu balletnya di kakinya yang jenjang.
Dia berdiri tegap dengan tatapan serius ke arah panggung pertunjukkan yang ada di dalam Gedung Opera Palais Garnier.
Pria muda itu keluar untuk memperkenalkan dirinya kepada para juri yang tengah duduk menunggu penampilannya setelah ia selesai mengenalkan dirinya kepada para juri audisi film itu, ia lalu kembali berjalan ke sudut panggung dan bersiap-siap untuk tampil di atas panggung.
Musik berupa orkestra dari Lagu Les Bourgeois karya Jacques Bourgeois terdengar melantun mengiringi gerakan tarian balet Beaufort Abellard yang ia bawakan dengan apiknya.
Terdengar suara langkah kaki dari pria muda itu yang menarik perhatian para juri serta para peserta audisi film di dalam gedung itu. Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk..., kedua kakinya memainkan peranannya secara bergantian di satu titik sebagai pembuka atraksi tarian baletnya.
"Nah, itu dia sang danseur yang berbakat hebat sepanjang sejarah dunia balet !", seru Aneisha Mihai bersemangat.
"Tenanglah, tenanglah, jangan berisik, Aneisha Mihai, biarkan ia menari dengan leluasa, nak !", ucap Bu Amarise mengingatkan kepada gadis itu.
Organ-organ tubuhnya bertumpu pada kedua kaki yang menjadi penentu setiap geraknya.
Kedua kaki Beaufort Abellard mulai berputar dengan cara bertumpu pada satu kaki, sementara kakinya yang lain dilipat dengan telapak kaki berada di dekat lutut.
Dia lalu melompat seperti melayang di udara dengan indahnya, dan membuat seluruh peserta audisi film tampak terkagum-kagum saat melihat penampilan tarian ballet yang dibawakan oleh Beaufort Abellard dengan sangat memukau itu.
Menghipnotis setiap orang peserta dan penonton hingga juri yang hadir di acara audisi film yang melihat tarian bertema Les Bourgeois yang di tarikannya tersebut.
__ADS_1
Aneisha Mihai tampak sangat kagum dengan keindahan tarian ballet Les Bourgeois yang sangat maskulin itu.