Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 49 Pergi Terbang Tinggi


__ADS_3

Aneisha Mihai masih mengingat kejadian dimana dirinya didorong dari kursi rodanya hingga dia mengalami kematian.


Dia mengingat semua kejadian buruk itu dalam pikirannya, detik-detik saat menjelang ajal, dia melihat senyuman jahat di wajah Valeska serta ibu tirinya, Izebel kala itu.


Tanpa dia duga bahwa semua penderitaan yang dia alami adalah rencana yang telah disusun sangat rapi oleh mereka.


Itu baru dia sadari ketika Aneisha Mihai mendapati tubuh ayahnya yang bersimbah darah dan penuh luka di sekujur tubuhnya pada malam sebelum kematian ayahnya serta dirinya.


Dia juga tidak akan pernah tahu semua rencana busuk Izebel jika saja Aneisha Mihai tidak kembali ke masa lima tahun yang lalu dan mengulang kejadian sebelum Izebel menjadi ibu tirinya.


"Aneisha Mihai", panggil seseorang dari arah belakang.


"Bu Amarise...", sahut gadis muda nan energik itu.


Aneisha Mihai menolehkan kepalanya ke arah wanita bergaun merah serta topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?", tanya sang malaikat penjaga. "Aku lihat sedari tadi kamu melamun saja, Aneisha Mihai", sambungnya.


"Oh, em, tidak, aku tidak melamun Bu Amarise melainkan hanya mengingat kejadian waktu aku masih berada di kursi roda", sahut Aneisha Mihai.


"Hmm, kenapa ?", ucap Bu Amarise sambil berjalan ke arahnya.


"Aku bertemu dengan Valeska di koridor sekolah", sahut gadis cantik itu.


"Bertemu Valeska...", ucap Bu Amarise.


"Iya, aku berpapasan dengan Valeska saat dia bersama temannya berkunjung ke sekolah, Bu Amarise", jawab Aneisha Mihai.


"Sepertinya sudah waktunya kamu menghadapi Izebel serta Valeska dan mencari tahu akan kebenaran peristiwa di malam itu", ucap Bu Amarise.


"Mungkinkah pemilihan primadona sekolah ada kaitannya dengan kedatangan Valeska dan apakah persaingan diantara kami sebentar lagi dimulai", ucap Aneisha Mihai.


"Benar Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise. "Dan ini tiba waktunya kamu berhadapan dengan Valeska yang merupakan saingan terberatmu", sambung sang malaikat pelindung.


"Lalu Rithya...", ucap Aneisha Mihai.


"Alasan utama Izebel mengeluarkanmu dari sekolah balet adalah untuk menghalangimu mendapatkan posisi primadona yang merupakan jalan menuju ketenaran", sahut Bu Amarise.


"Kenapa Rithya ada di kisah ini, saat aku kembali ke lima tahun yang lalu sebelum semuanya terjadi !?", tanya Aneisha Mihai.


"Karena Rithya adalah saudari Valeska yang membantu Valeska mencapai posisi primadonanya", sahut Bu Amarise.


"Apakah dia berperan menyingkirkan semua saingan terberat Valeska sehingga posisi Rithya begitu pentingnya ?", ucap Aneisha Mihai.


"Tidak, Rithya bukan sebagai alatnya melainkan dia adalah poin terpenting yang memberitahukan semua informasi di sekolah balet kepada Izebel", ucap Bu Amarise.


"Itu artinya dia merupakan informan ataukah dia bagian dari rencana menyingkirkan kandidat utama yang akan menjadi primadona lalu informasi apa yang Rithya berikan kepada Izebel", ucap Aneisha Mihai.


"Semua... Semua informasi mengenai kondisi sekolah balet serta keadaan para murid disini", sahut Bu Amarise.


"Lalu Izebel !?", ucap Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Izebel berperan sebagai penyingkirnya, dia menggunakan ilmu sihirnya yang diwariskan ibunya untuk melenyapkan kandidat utama primadona yang akan menjadi saingan terberat Valeska", sahut Bu Amarise.


"Bagaimana bisa dia melakukannya ? Bukankah hal itu sangat mencolok karena tiba-tiba semua kandidat utama primadona lenyap dan tinggal Valeska !?", ucap Bu Amarise.


"Tidak seperti yang kamu pikirkan karena Izebel menyisakan kandidat utama primadona yang tidak kompeten", sahut Bu Amarise.


Aneisha Mihai langsung tersentak kaget mendengar ucapan Bu Amarise.


"Menyisakan kandidat primadona yang lemah sedangkan kandidat yang kuat seperti Belinda akan disingkirkan", ucap Bu Amarise.


"Ya Tuhan... Aku baru paham sekarang mengapa Belinda yang dekat dengan pemilik sekolah yang lama dilenyapkan karena dia merupakan seteru terkuat bagi Valeska", ucap Aneisha Mihai.


"Yah...", ucap Aneisha Mihai.


"Bagaimana dengan Rithya !? Bukankah dia juga kandidat primadona yang hebat", tanya Aneisha Mihai.


"Rithya bukanlah halangan karena dia adalah kandidat penerus yang nantinya akan menggantikan Valeska setelah dia berhasil menjadi artis", sahut Bu Amarise.


Wanita bergaun merah dengan topi berwarna merah serta menutupi sebagian wajahnya berjalan sembari menggandeng Aneisha Mihai.


Bu Amarise lalu membuka payung berendanya dan menatap ke arah Aneisha Mihai.


"Kita akan pergi kemana, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku akan membawamu melihat Valeska", ucap Bu Amarise.


Keduanya saling berpandangan serius satu sama lainnya tanpa bersuara, dan payung berenda milik Bu Amarise langsung berputar kencangnya.


"Oh iya... Apakah akan menarik, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Akan sangat menarik sekali pertunjukan yang akan kita lihat nanti, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.


Wanita bergaun merah itu lantas tertawa keras seraya memegang tangan Aneisha Mihai dan terbang melayang di atas udara.


Payung berenda miliknya yang terbuka lebar membawa Aneisha Mihai beserta Bu Amarise pergi jauh ke suatu tempat.


"Dimana ini Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Ini tempat tinggal Izebel beserta Valeska...", jawab Bu Amarise.


"Tempat tinggal mereka ada di pegunungan Moncayo ini", ucap gadis cantik itu.


Pemandangan pegunungan yang sejuk dengan hamparan rumput yang menghijau di sekitar area pegunungan terbentang luas.


Aneisha Mihai berdiri menatap lepas pemandangan pegunungan yang asing di matanya.


"Di sekitar pegunungan itu, ada sebuah bangunan tua yang masih kokoh berdiri disana dan itulah tempat tinggal Izebel beserta anak-anaknya", sahut Bu Amarise.


"Apakah mereka tidak tinggal satu kota denganku ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak...", sahut Bu Amarise.

__ADS_1


"Tetapi bagaimana bisa Izebel berada satu kota bersama dengan kami", ucap Aneisha Mihai.


"Kemampuan sihir hitam Izebel masih berada di kediamannya di pegunungan Moncayo dan dia sebenarnya tidak pernah bisa pergi meninggalkan tempat ini", ucap Bu Amarise.


"Benarkah !?", ucap Aneisha Mihai.


"Izebel dengan kekuatan ilmu sihir hitamnya dapat berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya sesuai keinginannya dengan mudah", sahut Bu Amarise.


"Luar biasa sekali kehebatan sihir hitam Izebel", ucap Aneisha Mihai.


"Iya, dan sangat mengerikan", ucap Bu Amarise.


"Mengerikan !? Maksudnya, Bu Amarise ?", tanya gadis cantik itu.


"Karena kekuatan milik Izebel mampu membangkitkan arwah seperti Kesyea", ucap Bu Amarise.


"Benar sekali, dan itu sungguh-sungguh menyeramkan, tidak terbayangkan sebelumnya jika kemampuan sihir Izebel mampu membangkitkan arwah seram seperti Kesyea", ucap Aneisha Mihai.


Bu Amarise memandang lepas ke arah pegunungan Moncayo yang terbentang luas dihadapannya.


"Selain kemampuannya yang mengerikan itu, sihir-sihir milik Izebel sangatlah kuat dan memiliki pengaruh yang besar bahkan tak terkalahkan", ucap Bu Amarise risau.


"Apakah alasan itu aku harus lebih meningkatkan kemampuanku menari balet ?", ucap Aneisha Mihai bertanya serius.


"Iya, hanya dengan kamu menarikan balet secara sempurna maka sihir-sihir Izebel akan sangat mudah untuk dipatahkan, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.


"Aku akan mempersiapkan kemampuan baletku dengan lebih baik lagi, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Aku harap demikian, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise. "Bagaimana menurutmu dengan Joshua Abellard ?"


Aneisha Mihai kaget ketika mendengar ucapan Bu Amarise, lalu menatap wanita dihadapannya cukup lama.


"Apa maksud anda dengan ucapan tentang Joshua Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak, aku hanya menanyakan hubungan yang tengah terjalin diantara kalian berdua", sahut Bu Amarise.


"Aku tidak memiliki hubungan spesial dengannya, dan hanya sebatas teman menari balet", ucap Aneisha Mihai.


"Hmm, iya, aku mengerti, dan mungkin hubungan kalian akan berkembang lagi", ucap Bu Amarise.


"Kenapa anda berkata demikian Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Karena aku melihat sebuah masa depan yang cerah tengah menanti mu, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.


Aneisha Mihai hanya memandangi wanita bergaun merah di depannya dengan tatapan mata penuh tanda tanya yang besar.


"Masa depan...", ucap Aneisha Mihai lirih.


Dia menghela nafasnya berulangkali tanpa mengucap sepatah katapun dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah pegunungan Moncayo yang sangat luas.


Pegunungan Moncayo yang menyimpan segudang misteri bagi Aneisha Mihai, dan ada tanda tanya besar mengapa Izebel begitu antusias memburu keluarganya hingga menghancurkan kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2