Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 31 Kisah Dua Bocah Kembar Yang Terpisahkan


__ADS_3

Aneisha Mihai lalu menoleh ke arah Bu Amarise begitu pula dengan wanita tua bergaun merah itu yang juga menatap ke arahnya.


Tidak banyak kata-kata yang terucap dari mereka berdua saat melihat tontonan yang barusan hadir tepat dihadapan mereka.


Keduanya menyimak adegan demi adegan tadi yang di tampilkan oleh sepasang pria dan wanita yang tengah berdiri di ruangan Gedung Folies Bergere yang telah berubah menjadi ruangan utama dari sebuah rumah sederhana.


Wanita muda berparas jelita itu menjerit keras ketika pria muda yang membawa dua buah hatinya itu melangkah pergi meninggalkan ruangan rumah itu.


Dia terlihat terseret saat memegangi salah satu kaki dari pria muda yang berjalan keluar dan terjatuh tertinggal di lantai.


"Mère mère... !!!", teriak kedua bocah kecil kembar itu seraya menangis dan mengulurkan tangan mungil mereka ke arah wanita muda yang tergeletak di lantai rumah mereka.


"Mes enfants ! Ne quitte pas mère, fils, mère t'aime beaucoup !", teriak wanita muda itu sambil menangis keras.


"Je veux être avec maman, laisse-moi partir, papa !", berontak salah satu bocah kembar sambil memukul tangan pria muda itu.


"Tais-toi Beaufort Abellard ! Ta mère ne t'aime pas ! Il ne pense qu'à lui ! Écoute papa, on s'en va, fiston !", kata pria muda itu dengan nada keras.


"Tolong Abellard, jangan libatkan anak-anak dalam pertengkaran ini, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan membagi waktuku dengan adil !", ucap wanita itu berurai air mata.


Pria muda itu tidak mendengarkan lagi perkataan dari wanita berparas jelita yang merajuk kepadanya.


Dia mengibaskan kakinya yang dipegang oleh wanita muda itu keras-keras dan terus berjalan dengan langkah cepat ke mobil berwarna hitam yang terparkir di depan rumah mereka.


Wanita muda yang tersungkur jatuh ke atas lantai lalu mencoba berdiri mengejar pria muda yang membawa kedua buah hatinya yang kembar dan masih kecil itu dengan berlari cepat.


Berteriak keras memanggil nama pria muda itu yang tidak memperdulikan dirinya lagi dan terus berjalan menuju mobil yang telah menantinya di depan pagar rumah.


"Abellard ! Berhentilah Abellard ! Dengarkan dulu ucapanku ini, jangan bersikap egois seperti itu Abellard !", kata wanita muda itu setengah berteriak dan menangis sedih.


"Non !", sahut pria muda bernama Abellard singkat.


Pria muda itu lalu membuka pintu mobil dan membawa masuk kedua anak kembar laki-laki ke dalam mobil hitam itu tetapi saat ia hendak masuk lewat pintu samping, salah satu anak laki-laki kembar itu menendang pintu mobil dan membanting keras pintu itu. Dan bocah kecil tersebut berlari menghambur ke pelukan wanita muda itu seraya menangis dengan amat kencangnya.


"Beaufort Abellard !", teriak pria itu dalam mobilnya yang telah bergerak pelan maju meninggalkan rumah sederhana itu.


"Mère mère !!!", ucap bocah mungil itu sambil terisak-isak menangis dan mendekap erat tubuh wanita muda yang tengah menangis itu.


"Oh, anakku, Beaufort Abellard ! Sayangku, cintaku, putera kecilku yang malang, maafkan ibu, nak", ucap wanita muda itu sedih.


"Mère mère...", ucap anak kecil itu seraya memeluk tubuh ibunya dan menangis.


"Tenanglah, sayangku, kita akan baik-baik saja meski tanpa papa dan Benjamin Abellard bersama kita lagi disini, nak", ucap wanita muda itu dengan berurai air mata.


"Mère mère...", hanya kata-kata itu yang keluar dari bocah laki-laki kecil itu yang masih berusia lima tahun.


Wanita berparas jelita itu lalu memeluk bocah laki-laki kecil itu dan menciuminya penuh kasih sayang. Dan ia hanya bisa menatap dari jauh mobil yang telah pergi serta membawa salah satu putera kembarnya meninggalkan dirinya dan Beaufort Abellard di rumah sederhana itu.


"Benjamin Abellard...", gumam wanita muda.


Wanita muda itu hanya diam pasrah ketika mobil yang membawa pergi pria muda serta anak laki-lakinya itu menjauh dan menghilang dari pandangan kedua matanya yang basah oleh air mata.

__ADS_1


***


Cerita dari kisah tadi berakhir seperti itu dan terlihat kembali manekin balerina wanita itu tengah menari berputar di ruangan Gedung Folies Bergere tanpa ditemani danseur yang tadi menari bersamanya.


"Aku ingin sekali memukul pria tadi, tidak bisakah ia bersikap lebih sabar menghadapi itu semuanya !", ucap Aneisha Mihai geram.


"Tenang Aneisha Mihai, jangan terbawa emosi, itu kisah yang telah berlalu dan tidak dapat diubah olehmu, nak", ucap Bu Amarise mencoba menahan tangan Aneisha Mihai.


"Tapi aku sangat kesal sekali melihat cerita itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Jika kamu kesal lalu mengapa kamu menangis seperti itu, nak !?", ucap Bu Amarise.


"Oh tidak, aku tidak sedang menangis karena melihat kisah itu, mataku hanya kemasukan debu saja, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


Gadis cantik itu lalu mengusap kedua air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya yang merona merah.


Aneisha Mihai lalu mendongakkan kepalanya dan berusaha menahan air matanya tidak jatuh tumpah lagi tetapi saat ia melihat ke arah sang malaikat pelindungnya, ia melihat wanita tua itu turut menangis.


"Ya Tuhanku, sepertinya tidak hanya aku saja yang sedang menangis tetapi anda juga, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Mmm... Aku... !? Oh, aku tidak menangis tetapi tiba-tiba saja air mataku meleleh begitu saja tanpa aku bisa mengendalikannya...", sahut Bu Amarise seraya mengusap kedua matanya dengan selembar saputangan bersulam yang sangat cantik sekali.


"Hmmm...", gumam Aneisha Mihai lalu tersenyum tipis.


Bu Amarise terlihat gugup ketika Aneisha Mihai mendapati dirinya tengah berurai air mata setelah menonton kisah yang mirip film tadi.


Wanita bergaun merah itu tidak dapat menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan ikut menangis.


"Hmmm, yahhh..., itu kisah tersedih yang aku lihat seumur hidupku, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Lebih menyedihkan mana dengan kisah hidupmu, Aneisha Mihai !?", sahut Bu Amarise.


"Emmm..., aku rasa sama dengan yang aku alami, hanya berbeda nasib serta takdirnya, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


Bu Amarise hanya tersenyum tipis tanpa memperhatikan gadis muda itu dan hanya melipat saputangannya menjadi lipatan kecil lalu menggenggamnya.


"Untuk itulah kita berada disini dan nembantu kedua bocah itu bersatu kembali dengan menolongnya mendapatkan peran dalam film itu, nak", ucap Bu Amarise.


"Bagaimana anda tahu jika mereka terpisah, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai dengan lugunya.


"Yeah..., dari kisah tadi yang diputar dan kita lihat barusan, nak, sehingga aku dapat mengambil kesimpulan dari kisah itu", sahut Bu Amarise seraya mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Oh..., karena kisah yang mirip film layar lebar itu..., tapi bagaimana anda dapat menyimpulkannya sedangkan kita hanya melihat bagian dari kisah meteka tadi yang sangat singkat, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Dari kisah tadi aku menarik kesimpulan dari akhir kisah itu bahwa pria muda bernama Abellard membawa pergi salah satu bocah kembar itu dari ibunya dan saudara kembar laki-lakinya jauh entah kemana, aku sendiri tidak tahu, nak", sahut Bu Amarise.


"Apakah pria itu pergi meninggalkan wanita muda itu, itu artinya pria muda tersebut adalah ayah dari Beaufort Abellard !?", ucap Aneisha Mihai.


"Dan Benjamin Abellard, ayah dari dua bocah kembar itu, nak", sahut Bu Amarise.


"Lalu apa tujuan kita membantu pria asing itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai tidak mengerti.

__ADS_1


"Tugas kita adalah menolong Beaufort Abellard mendapatkan peran utama dalam audisi film itu supaya ia dapat membantu ibunya mempertahankan sekolah balet mereka", sahut Bu Amarise.


"Apakah itu semacam pembuktian diri !?", tanya Aneisha Mihai.


"Hampir mirip seperti itu, sebenarnya tujuan dari wanita muda itu mempertahankan mati-matian sekolah balet itu karena ingin mempersatukan kembali kedua putera kembarnya yang terpisahkan dan ia berusaha keras untuk mewujudkannya dengan membuktikan bahwa pilihannya menjadi seorang balerina yang memiliki gelar tertinggi Assoluta dalam balet bukanlah pilihan yang salah, nak", ucap Bu Amarise panjang lebar.


"Karena itulah ia rela mengorbankan organ dalamnya meski ia akan berisiko kehilangan nyawanya", ucap Aneisha Mihai terharu.


"Tepat sekali, meski nyawa taruhannya, ibu dari Beaufort Abellard tetap bersikeras mempertahankan sekolah balet itu dan ia percaya suatu hari nanti keluarga kecilnya dapat berkumpul lagi", ucap Bu Amarise haru.


"Ya Tuhanku, aku tidak percaya ini, dan aku sangat bangga dengan perjuangan mereka dalam meraih cita-cita mereka meski harus mengorbankan hidup mereka sendiri bahkan mengesampingkan kebahagian pribadi mereka", ucap Aneisha Mihai dengan mata berkaca-kaca.


"Benar... Benar sekali, nak, yang kamu katakan itu...", sahut Bu Amarise sembari mengusap kedua matanya dengan saputangan miliknya yang juga berwarna merah.


"Alasan itukah yang mendasari Beaufort Abellard melanjutkan sekolah tari baletnya di Paris ini dan berusaha mencari saudara laki-laki kembarnya itu di negara Perancis ini, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.


"Aku rasa demikian, itulah alasan kuat Beaufort Abellard mengikuti audisi film yang berceritakan tentang ballet, karena tujuan satu-satunya adalah menemukan kembali saudara kembarnya yang telah lama berpisah dengannya, nak", ucap Bu Amarise.


"Kisah ini sungguh mengharukan sekali, dan betapa hebatnya perjuangan Beaufort Abellard untuk belajar ballet dan bertahan hidup di kota asing ini sendirian, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Benar, kisah pria muda asing itu tidaklah mudah kelihatannya dan penuh lika-liku yang terjal, seandainya kita tidak menolongnya mungkin Beaufort Abellard akan kehilangan ibunya serta sekolah balletnya", ucap Bu Amarise.


***


Kembali terdengar suara musik klasik berupa orkestra mengalun dari arah depan ruangan Gedung Folies Bergere.


Tampak manekin balerina wanita berparas jelita yang sangat mirip dengan ibu dari Beaufort Abellard tengah menari ballet membawakan tarian The Echanted Flute dengan sangat apiknya.


Bergerak lemah gemulai dan lincahnya di ruang gedung dimana Aneisha Mihai dan Bu Amarise tengah berdiri agak jauh dari manekin balerina yang menari indah itu serta melihatnya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


Tarian ballet itu terus berulang-ulang ditarikan oleh manekin balerina tanpa hentinya sampai sebuah pemandangan seperti film muncul lagi di ruangan gedung tersebut.


"Lihat, Bu Amarise ! Muncul lagi seperti adegan cerita tadi tetapi berbeda latar belakang !", ucap Aneisha Mihai berseru kaget seraya menunjuk ke arah frame besar yang tiba-tiba hadir di depan mereka berdua.


"Hmmm..., iya, apakah itu sengaja di tampilkan kepada kita agar kita mengetahui keberadaan saudara kembar laki-laki dari Beaufort Abellard !?", sahut Bu Amarise.


"Mungkin saja yang anda katakan benar, dan mungkin juga manekin balerina itu ingin menunjukkan keberadaan saudara kembar Beaufort Abellard kepada kita, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai mulai bersemangat.


"Oh Tuhanku, syukurlah kalau begitu dan akhirnya Tuhan menunjukkan kepada kita jalan keluarnya, nak", ucap Bu Amarise terharu.


"Lalu di manakah tempat yang ditunjukkan dalam kisah film itu, Bu Amarise !?", tanya Aneisha Mihai seraya mengerutkan dahinya.


"Hmmm, aku juga tidak tahu, tapi tunggu sebentar aku akan mengarahkan payung berendaku ini ke arah frame besar yang terpampang di depan kita, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Apakah tidak terlalu beresiko tinggi bagi kita, Bu Amarise, jika anda menggunakan kekuatan ajaib anda, tidakkah anda lebih baik menyimpan kekuatan ajaib anda untuk menolong Beaufort Abellard mendapatkan peran utama untuk film itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak, aku rasa tidak terlalu beresiko bagi kita, selama aku hanya mengeluarkan sedikit tenaga dan kemampuanku, itu bukan masalah bagiku sementara orang lain sangat membutuhkan bantuan kita, kenapa kita ragu melakukannya, nak !?", sahut Bu Amarise lalu tersenyum.


"Baiklah, jika itu adalah pilihan terbaik untuk anda dan jika anda merasa itu benar menurut pemikiran anda, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai. "Silahkan anda lakukan !"


Bu Amarise hanya menjawab ucapan Aneisha Mihai dengan menganggukkan kepalanya kemudian wanita tua bergaun merah itu lalu mengarahkan payung berenda miliknya ke arah depan, tepat ke frame besar yang ada di ruangan Gedung Folies Bergere, berceritakan tentang kisah saudara kembar laki-laki dari Beaufort Abellard, yaitu Benjamin Abellard.

__ADS_1


__ADS_2