Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 47 Kabar Tentang Kedatangannya


__ADS_3

Aneisha Mihai menemui Bu Amarise yang tengah berada di ruangan kepala sekolah, dia melihat wanita yang selalu bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya tengah sibuk menulis di agenda ajaibnya.


Gadis cantik itu menyapanya dan menunggu wanita itu menyelesaikan pekerjaannya sedangkan dirinya masih berdiri menanti wanita bergaun merah itu mempersilahkan dirinya untuk duduk.


"Selamat pagi, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm...", gumam sang malaikat pelindung itu.


Bu Amarise lalu memandang ke arah Aneisha Mihai seraya tersenyum ramah.


"Selamat pagi, duduklah dulu Aneisha Mihai !", ucap Bu Amarise.


"Ada yang anda bicarakan denganku ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, aku sengaja menyuruhmu kemari karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise sambil melanjutkan tugas menulisnya.


"Hmmm, kalau boleh aku tahu, apakah itu berkaitan dengan tugas misi sepatu merah yaitu mendapatkan beasiswa", ucap Aneisha Mihai.


"Benar sekali, diantaranya hal penting itu tetapi ada yang lebih penting lagi dari itu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


Di ruangan kerja kepala sekolah tiba-tiba muncul sosok hantu Kesyea yang kini telah berubah penampilannya menjadi seorang wanita cantik bergaun putih.


"Astaga ! Dia lagi !?", ucap Aneisha Mihai terperanjat kaget.


Ketika dia melihat sosok hantu Kesyea yang berdiri sambil menatap ke arah Aneisha Mihai.


"Tidak bisakah kamu memberitahukan kepadaku jika kamu akan datang, Kesyea ?", ucap Aneisha Mihai.


"Maafkan saya, karena memang seperti inilah sejatinya sesosok hantu gentayangan", sahut hantu Kesyea.


"Kenapa dia datang kesini Bu Amarise ? Adakah hubungannya dengan beasiswa itu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Benar, hal penting itu berkaitan dengan beasiswa itu dan hantu Keysea ingin menyampaikan kabar berita kepada kita sekarang", sahut Bu Amarise.


Wanita bergaun merah itu lalu meletakkan pena tulisnya seraya menutup agenda ajaib miliknya yang berkilauan.


"Ambil daftar latihanmu yang telah disusun oleh Joshua Abellard", ucap Bu Amarise seraya menyerahkan selembar kertas tulisan kepada Aneisha Mihai.


"Bagaimana anda tahu soal Joshua Abellard ? Apakah anda juga sudah mengetahui bahwa aku telah mendapatkan beasiswa itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai lalu mengambil selembar kertas dari tangan Bu Amarise kemudian membacanya cermat.


"Iya, aku sudah mengetahuinya jika kamu telah mendapatkan beasiswa itu bahkan Joshua Abellard langsung mengumumkan dalam jurnal sekolah hari ini", sahut Bu Amarise.


"Rencana Joshua Abellard awalnya ingin mengadakan pementasan untuk mendapatkan calon siswa yang akan menerima beasiswa penuh di sekolah balet ini", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm, tepat sekali, yang kamu ucapkan benar memang tetapi Joshua Abellard mengubah rencana itu menjadi rencana festival menyambut tahun baru yang akan digelar sebuah lomba untuk pemilihan primadona sekolah balet", ucap Bu Amarise.


"Lantas apa hubungan hantu Kesyea yang datang ini dan kabar berita apa yang hendak dia sampaikan, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Katakanlah sekarang Kesyea kabar berita yang ingin kamu sampaikan itu !", perintah Bu Amarise.


"Valeska akan datang ke sekolah balet sebagai pesaing utama untuk persaingan di acara pemilihan di film nanti", ucap hantu Keysea.


"Valeska !?", ucap Aneisha Mihai.


"Iya Valeska..., dia kembali dari Paris untuk mengikuti pemilihan audisi film nanti tetapi dia telah datang sejak kemarin malam", sahut hantu Keysea.


Aneisha Mihai langsung terkesiap pucat dan hanya diam berdiri terdiam menatap nanar selembar kertas di tangannya.


Tubuhnya langsung bereaksi hebat ketika mendengar ucapan hantu Keysea, hatinya membeku drastis dan bayangan masa lima tahun yang pernah Aneisha Mihai alami saat Valeska masih menjadi saudari tirinya itu kembali datang membayangi benak Aneisha Mihai, bahkan dia nyaris jatuh terduduk karena tubuhnya yang gemetaran kencang.


"V--aleska...", ucap Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Aneisha Mihai ! Apakah kamu baik-baik saja ?", tanya Bu Amarise cemas.


"Aku... Aku baik-baik saja, Bu Amarise dan kamu bisa melanjutkan berita itu lagi, Kesyea...", sahut gadis cantik itu.


Aneisha Mihai terlihat tengah berpegangan pada lengan kursi yang ada dihadapannya dengan tangan yang terasa kaku.


Wajahnya memucat bahkan pandangannya menjadi dingin serta ketakutan mendera diri Aneisha Mihai saat itu.


Tubuhnya limbung sehingga dia jatuh terduduk di atas permukaan lantai ruangan kepala sekolah.


"Aneisha Mihai !", teriak Bu Amarise.


Wanita bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya itu langsung berlari ke arah gadis cantik itu.


"Tidak, aku tidak apa-apa", ucap Aneisha Mihai.


"Tetapi tubuhmu sangat pucat sekali, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Percayalah, aku baik-baik saja, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Keysea setelah ini kembalilah ke sisi wanita muda itu dan Valeska untuk mencari lagi informasi mengenai rencana mereka kepada kami, kamu paham, Keysea", perintah Bu Amarise.


"Baik, malaikat Amarise, aku akan segera pergi ke tempat kediaman Izebel serta Valeska sekarang", sahut hantu Keysea.


"Cepatlah ! Dan jangan menunda waktu lagi, sebelum acara festival tahun baru segeralah kamu datang mengahadapku dan berikan kabar terbaru dari mereka", ucap Bu Amarise.


"Siap, malaikat Amarise !", ucap hantu Keysea.


"Pergilah sekarang !", perintah Bu Amarise.


Hantu Keysea segera pergi menghilang dari ruangan kepala sekolah menuju kembali ke tempat kediaman Izebel.


Bu Amarise langsung duduk bersimpuh dihadapan Aneisha Mihai yang tertunduk lesu dengan tubuh gemetaran.


"Aneisha Mihai...", ucap Bu Amarise iba.


"Aneisha Mihai...", ucap wanita bergaun merah itu sendu.


"Dan saat nama Valeska disebut tadi oleh Keysea, rasanya nyawaku tercabut kembali dari raga ini bagaikan kematian yang memilukan itu... Dia, mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kematian itu kembali membayangiku...", ucap Aneisha Mihai.


"Aku mengerti Aneisha Mihai, percayalah padaku dan aku mengerti itu", sahut Bu Amarise.


"Tidak... Tidak... Bu Amarise anda tidak pernah mengerti akan itu semua yang aku alami selama lima tahun dalam hidupku...", ucap Aneisha Mihai. "Itu menyakitkan Bu Amarise ! Sangat menyakitkan sekali !", sambungnya pedih.


Gadis berparas cantik itu mendongakkan kepalanya ke arah wanita bergaun merah itu penuh pandangan yang hampa serta kosong.


Jelas sekali gambaran kesedihan yang teramat dalam di hati Aneisha Mihai ketika mengatakan semua kisah hidupnya selama lima tahun yang menyedihkan itu.


"Aneisha Mihai...", ucap Bu Amarise bersedih.


"Dia telah membunuhku, Bu Amarise !", ucap Aneisha Mihai gemetaran.


"Tenanglah Aneisha Mihai !", ucap Bu Amarise.


"Tidak ! Aku tidak dapat tenang jika aku harus mendengar berita ini karena dialah satu-satunya dalang utama kematianku selain Izebel sebagai pembantunya", ucap Aneisha Mihai.


"Tetapi itu sudah berlalu dan sekarang adalah kesempatanmu untuk membalasnya dengan mengalahkannya dalam lomba nanti bahkan kamu mampu merebut gelar primadona dari tangan Valeska yang selama ini dia emban", ucap Bu Amarise.


"Gelar primadona milik Valeska !?", ucap Aneisha Mihai.


"Benar sekali, kamu bisa merebut gelar primadona balet milik Valeska darinya sebagai tujuan balas dendammu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Bagaimana caranya aku untuk merebut gelar primadona itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Kalahkah dia lalu menangkan lomba untuk mendapatkan gelar primadona itu dan jatuhkan Valeska pada audisi film nanti !", sahut Bu Amarise seraya tersenyum.


"Mengalahkannya ?", tanya Aneisha Mihai.


"Benar, kalahkan dia ! Dengan bantuan Joshua Abellard maka kamu akan dapat mengalahkan Valeska dan menghancurkan karier Valeska", sahut Bu Amarise.


"Apakah aku mampu melakukannya ?", tanya Aneisha Mihai.


"Jangan ragu dan yakinkanlah dirimu untuk meraih kesempatan emas itu, Aneisha Mihai !", ucap Bu Amarise.


Wanita bergaun merah itu lalu mengusap wajah Aneisha Mihai dengan lembutnya serta penuh kesabaran dia membimbing gadis cantik itu untuk berdiri.


"Bangunlah ! Berdirilah tegak ! Dan tataplah masa depanmu yang gemilang penuh rasa percaya diri tinggi dan yakinlah kamu mampu meraihnya, Aneisha Mihai !", ucap Bu Amarise.


"Bu Amarise...", ucap gadis berparas cantik itu.


Aneisha Mihai menatap sejenak ke arah Bu Amarise yang merupakan malaikat pelindungnya dengan tatapan serius.


"Kalahkanlah Valeska dengan segala kemampuanmu yang ada, dan asahlah terus kemampuan khususmu itu dengan semakin baik lagi", nasehat Bu Amarise.


"Aku akan mencobanya dan berusaha keras untuk itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai dengan mata berkaca-kaca.


Namun, dia tetap tidak mampu untuk menutupi hatinya yang hancur dan remuk saat mengingat masa lalunya yang hancur berkeping-keping karena ulah ibu tirinya beserta saudara tirinya yang kejam yang telah membunuh dirinya saat di waktu lima tahun pada kehidupan keduanya.


"Percayalah padaku karena aku akan selalu membantumu Aneisha Mihai dan janganlah menyerah !", ucap Bu Amarise.


"Terimakasih, Bu Amarise", sahut gadis muda itu lirih.


Wanita bergaun merah dengan topi merah itu lalu memeluk Aneisha Mihai dengan penuh kasih sayang dan terus menyemangati gadis berparas jelita itu.


"Kamu masih ingat dengan perkataanku tempo dulu bahwa aku akan membantumu apabila kamu berhasil mendapatkan beasiswa itu serta menarik perhatian pemilik sekolah balet ini !?", tanya Bu Amarise.


Aneisha Mihai lalu menganggukkan kepalanya cepat dan tersenyum pada wanita bergaun merah itu.


"Iya, aku masih mengingatnya dan anda mengatakan padaku bahwa anda akan membantuku untuk mematahkan mantera jahat Izebel", sahut Aneisha Mihai.


"Hmmm, benar sekali, tapi sekarang masalahnya berbeda karena pemilik balet yang saat ini bukanlah pemilik balet yang disukai Izebel", ucap Bu Amarise serius.


"Maksud anda, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai terkejut.


"Sebenarnya yang menjadi pemilik balet yang disukai Izebel adalah orang lain yang merupakan orang yang membeli sekolah balet dari ibunya, Beaufort Abellard", ucap Bu Amarise.


"Jadi pemilik sekolah balet ini telah berubah, maksudnya telah berganti tangan kepemilikannya menjadi milik Beaufort Abellard !?", tanya Aneisha Mihai.


"Sepertinya begitu, tapi aku juga masih tidak mengerti tentang masalah ini sebenarnya, bagaimana bisa pemilik sekolah balet ini berubah !?", ucap Bu Amarise.


"Artinya waktu kita sebelum bertemu Beaufort Abellard pada tahun 1962 di Paris waktu itu sekolah ini telah menjadi milik orang lain dan artinya sekolah balet ini telah dibeli dari ibunya Beaufort Abellard", pekik Aneisha Mihai.


"Saat sebelum kita kembali ke masa tahun 1962 di masa lalu dan itu saat sekolah balet ini masih menjadi milik ibu dari Beaufort Abellard", ucap Bu Amarise.


"Tunggu ! Tunggu dulu ! Bagaimana ini, aku masih belum mengerti dan paham betul dengan yang anda katakan mengenai masalah pemilik sekolah balet yang berubah !?", ucap Aneisha Mihai.


Gadis muda itu lalu menggelengkan kepalanya cepat seraya mengarahkan kedua tangannya ke depan.


"Ini sangatlah mengejutkan kedengarannya memang dan bagaimana bisa pemilik sekolah balet ini berganti", ucap Bu Amarise.


"Tetapi anda mengatakan pemilik sekolah ini adalah ibu dari Beaufort Abellard dan orang yang terlibat cinta buta dengan Izebel dan mengkhianati ayahku bukannya pemilik sekolah balet ini !?", tanya Aneisha Mihai bingung.


"Benar, tetapi aku menerima kabar dari langit melalui payung berenda milikku yang meyampaikan berita bahwa sebenarnya pemilik sekolah balet ini bukan dari keturunan Beaufort Abellard melainkan orang lain yang telah membeli sekolah balet ini", ucap Bu Amarise.


"Bukannya sekolah balet ini dirintis awal oleh ibu dari Beaufort Abellard tapi kenapa bisa berubah !?", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm... Aku mulai berpikir sesuatu yang ganjil, mungkinkah maksud dari kita pergi ke tahun 1962 itu adalah mencegah pemilik balet yang terlibat cinta dengan Izebel membeli sekolah balet ini dari tangan ibunya Beaufort Abellard...", ucap Bu Amarise.

__ADS_1


"Dan artinya ketika kita berhasil menolong Beaufort Abellard maka kita telah berhasil menyelamatkan sekolah balet ini yang hendak dijual waktu itu kepada pemilik balet yang terlibat cinta dengan wanita jahat itu", ucap Aneisha Mihai.


Keduanya langsung terdiam dan mulai berpikir tentang kisah sekolah balet dan pemilik aslinya yang penuh teka-teki misteri.


__ADS_2