
Saat pengumuman penerima gelar primadona sekolah balet diumumkan, tampak beberapa siswa mulai tidak terima dengan keputusan itu.
Ada yang naik ke atas panggung untuk acara festival tahun baru nanti sembari membawa alat pengeras suara.
Mereka lalu menyuarakan suara hati mereka dengan berdemo sedangkan gerombolan siswa lainnya bergerak ke gedung sekolah balet.
Para siswa sekolah lalu berkumpul di depan pintu masuk sekolah balet, mereka semua membawa beberapa tulisan di selembar kertas berukuran besar dan berdiri sambil berteriak lantang.
"Kami tidak terima gelar primadona jatuh pada Aneisha Mihai !", teriak para siswa sekolah balet dengan raut wajah penuh emosi.
"Kami ingin diadakan ulang pemilihan gelar primadona kembali !!!", teriak mereka kompak.
"Adakan lomba pemilihan gelar primadona ! Kami menolak Aneisha Mihai sebagai primadona sekolah ! Kami ingin pemilihan ulang !", teriak semua siswa.
"Iyaaa !", teriak para siswa berunjuk rasa.
"Kami menginginkan lomba untuk pemilihan primadona sekolah diadakan ! Kami menolak konspirasi dalam !", teriak mereka riuh.
"Tegakkan keadilan !", teriak para siswa lantang.
Disisi lain tampak beberapa siswa perempuan yang ada di atas panggung yang dikhususkan untuk acara festival mulai berorasi keras.
"Bukankah ini tidak adil teman-teman ?", tanya seorang siswa perempuan dari atas panggung sambil membawa alat pengeras suara.
Semua siswa sekolah balet menoleh ke arah seorang gadis dengan hiasan telinga kelinci di rambutnya.
"Kita harus berani menolak ketidakadilan ini ! Dan meminta hak-hak kita sebagai siswa untuk berhak mendapatakan kesempatan meraih gelar primadona", ucap gadis manis itu lantang.
"Benar ! Itu benar !", teriak semua siswa yang ada di halaman sekolah balet.
"Karena itu kita minta hak kita dengan diadakannya ulang pemilihan primadona melalui lomba !", teriak gadis berhias telinga kelinci.
"Jangan biarkan ketidakadilan merajalela di sekolah balet ini ! Kita adakan lomba !", teriak semua siswa yang berdemo.
"Karena itu kita sumbangkan suara kita di dalam selembar kain yang kita isi dengan tanda tangan kita sebagai penolakan atas keputusan sekolah mengenai gelar primadona sekolah yang jatuh ke tangan Aneisha Mihai !", teriak gadis berhias telinga kelinci.
"Iyaaa !", sahut semua siswa.
"Kita telah lama berdiam diri ketika keputusan pihak sekolah ini yang memberikan beasiswa kepada Aneisha Mihai tanpa adanya pemberitahuan kepada kita sebagai siswa untuk berkesempatan mendapatkan beasiswa itu !", teriak gadis manis itu.
"Benar ! Itu Benar ! Tidak adil !", sahut para siswa terus berteriak lantang.
"Kita tidak bodoh teman-teman !", teriak gadis dengan hiasan kepala kelinci.
"Iya ! Kita tidak bodoh !", teriak para siswa penuh semangat.
"Dan saatnya sekarang kita menolak keputusan atas gelar primadona yang jatuh ke tangan Aneisha Mihai !", teriak gadis manis itu dengan berani.
__ADS_1
"Tolak Aneisha Mihai ! Adakan lomba pemilihan gelar primadona sekolah !", teriak para siswa.
"Yang terhormat pihak sekolah balet ! Kami meminta lomba untuk pemilihan primadona sekolah balet diadakan untuk kami para siswa !", teriak salah seorang siswa dengan membawa spanduk.
"Tegakkan keadilan ! Kami minta hak-hak kami ditegakkan pemilik sekolah balet !", teriak siswa yang berdemo.
"Benar !", teriak siswa lainnya yang saling bersahut-sahutan dengan kerasnya serta penuh emosi.
Gemuruh suara siswa sekolah balet terdengar sangat keras dari depan gedung sekolah balet.
Tampak semua siswa beramai-ramai meneriakkan argumen mereka serta penolakan mereka terhadap Aneisha Mihai yang menjadi primadona sekolah untuk mewakili pemilihan primadona di tingkat level selanjutnya.
Mereka tidak terima gelar primadona sekolah balet jatuh ke tangan Aneisha Mihai. Dan mereka meminta diadakannya lomba untuk pemilihan pilrimadona sekolah balet.
Di dalam gedung sekolah balet...
Joshua Abellard terdiam memandangi kumpulan para siswa sekolah balet yang berkumpul di halaman sekolah balet.
Pria yang merupakan pemilik sekolah balet itu tampaknya telah memprediksi semuanya akan terjadi.
Dia melihat semua siswa sekolah balet yang berdemo dari balik kaca jendela ruangan pribadinya yang ada di lantai atas sekolah balet.
"Apa yang harus kita lakukan Joshua ?", tanya Aneisha Mihai.
"Aku sudah mengira jika ini akan terjadi karena pasti ada yang tidak menerima keputusanku", sahut Joshua Abellard.
"Aku akan menolak mereka dan tetap memilihmu sebagai penerima beasiswa sekaligus primadona sekolah balet ini, Aneisha Mihai", sahut Joshua Abellard.
"Itu akan membuat mereka marah besar, dan bagaimana jika mereka memutuskan keluar dari sekolah ini, Joshua ?", kata Aneisha Mihai panik.
"Mereka tidak akan berani keluar dari sekolah balet ini karena sekolah ini menjamin masa depan mereka sebagai diva", sahut Joshua Abellard.
"Tapi setidaknya beri mereka kesempatan untuk lomba agar hak mereka sebagai siswa terpenuhi dan tidak ada lagi kemarahan dari mereka", kata Aneisha Mihai.
"Hmmm...", hela nafas Joshua Abellard sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
Tampak raut wajah lelah terpancar dari muka Joshua Abellard.
"Aku akan mengadakan lomba untuk para siswa sebagai pesaing untuk mengalahkan mu sebagai primadona tetapi gelar primadona tetap untuk mu", sahut Joshua Abellard.
"Maksudmu kamu akan mengadakan lomba untuk memilih calon lawanku untuk mengalahkanku", ucap Aneisha Mihai.
"Benar, agar mereka tidak merasa kecewa maka aku memberikan mereka kesempatan untuk mengalahkanmu di lomba pada festival tahun baru ini", kata Joshua Abellard.
"Aku pikir itu idea yang baik untuk kita semua dan aku rasa sangat adil sehingga mereka tidak merasa kecewa dan marah", sahut Aneisha Mihai.
Joshua Abellard menolehkan kepalanya ke arah Aneisha Mihai.
__ADS_1
Dia menatap lama gadis berwajah cantik itu dengan penasaran.
"Kenapa kamu membela mereka, Aneisha Mihai ? Bukankah mereka saingan beratmu ?", tanya Joshua Abellard.
"Karena mereka sama denganku", sahut Aneisha Mihai.
"Sama ?", ucap Joshua Abellard.
"Iya, kami sebenarnya sama memiliki nasib sebagai siswa yang terombang-ambing masa depannya, tidak mempunyai kejelasan masa depan dan hanya bergantung nasibnya pada balet", sahut Aneisha Mihai.
Joshua Abellard terdiam dan menatap Aneisha Mihai dengan pandangan teduhnya.
"Kami sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya masa depan kami sebagai balerina... Apakah kami masih bisa bertahan di dunia ini atau tidak...", kata Aneisha Mihai.
"Karena itulah pentas dan lomba harus sering diadakan agar semua siswa memiliki kesempatan meraih masa depan", sahut Joshua Abellard.
"Dan jalan menuju meraih gelar primadona balerina sehingga kita sebagai penari balet dapat berkesempatan menjadi artis ternama", kata Aneisha Mihai.
"Bahkan menjadi seorang model serta balerina Assoluta", sahut Joshua Abellard.
"Gelar Assoluta adalah jalan menuju pintu sukses menjadi seorang balerina ternama dan kita perlu mengadakan berbagai acara pagelaran seni balet ke depannya", kata Aneisha Mihai.
"Tentu, Aneisha Mihai", sahut Joshua Abellard seraya tersenyum.
"Dan aku ucapkan terimakasih sebagai perwakilan para siswa sekolah balet karena memberikan kami kesempatan emas sebagai primadona balerina, Joshua", ucap Aneisha Mihai.
"Itu semua berkat kebaikanmu juga sehingga semua siswa berkesempatan meraih masa depan mereka dengan gemilang", sahut Joshua Abellard.
"Dan juga atas kemurahan hatimu sebagai pemilik sekolah ini, Joshua", sahut Aneisha Mihai seraya tersenyum.
Joshua Abellard hanya tertawa kecil serta memandang gadis cantik itu dengan perasaan senang dan bahagia.
Beberapa jam kemudian...
Akhirnya unjuk rasa yang digelar oleh para siswa sekolah balet dapat dibubarkan dengan tertib dan aman.
Semua siswa menyetujui adanya lomba untuk memilih calon balerina terbaik yang akan ditandingkan dengan Aneisha Mihai yang merupakan penyandang gelar primadona sekolah balet.
Siapa yang bisa mengalahkan Aneisha Mihai sebagai primadona sekolah balet maka dia akan memiliki kesempatan menggantikan Aneisha Mihai sebagai primadona sekolah balet. Dan akan mewakili sekolah diajang pemilihan puteri primadona balerina yang akan dihadiri semua perwakilan di seluruh dunia.
Keputusan Joshua Abellard sebagai pemilik kepala sekolah tidak dapat diganggu gugat lagi. Dan semua siswa harus setuju dengan keputusan pihak sekolah balet.
Bagi siswa yang tidak setuju dan menolak keputusan pemilik sekolah balet akan dikeluarkan dan diberi sanksi hukum oleh sekolah balet.
Di blacklist namanya dari seluruh sekolah balet yang tersebar di penjuru dunia.
Tidak ada seorangpun yang berani menolak keputusan pemilik sekolah balet dan mereka mematuhi peraturan yang telah ditetapkan sebagai syarat dan ketentuan yang wajib para siswa patuhi.
__ADS_1