Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 46 BERKUNJUNG


__ADS_3

Aneisha Mihai melirik jam yang ada di kamarnya tepat jam 10 pagi, hari ini dia berjanji untuk tidak keluar rumah kepada Joshua Abellard.


Pria tampan pemilik sekolah balet tempat Aneisha Mihai berencana akan berkunjung ke rumahnya, dia juga telah menyiapkan kue manis untuk dia hidangkan kepada Joshua Abellard, teman dekatnya sekarang.


Bibi Dolores membantu Aneisha Mihai membuat kue manis kesukaan Joshua Abellard yaitu Brioche dengan alasan bahwa ibu dari kakeknya menyukai Brioche semasa hidupnya. Suami dari ibu kakeknya sering membuatkan Brioche sebagai hadiah selama mereka berpacaran hingga menikah.


Sejak itulah Brioche menjadi makanan kegemaran dari keluarga Abellard turun temurun meski kakeknya Joshua Abellard yang bernama Beaufort Abellard tidak menyukai nama belakangnya.


"Nona Aneisha Mihai ada tamu yang ingin bertemu denganmu, dia menunggumu di ruang tamu", ucap Bibi Dolores dari balik pintu kamar.


"Dia sudah datang rupanya...", ucap Aneisha Mihai. "Iya !, sambungnya teriak.


Aneisha Mihai langsung bergegas keluar kamarnya, sekilas dia melihat ke arah Bibi Dolores yang telah berdiri disamping kamarnya dan berlari cepat menuruni tangga rumahnya.


DAK... DAK... DAK...


Terdengar langkah kaki menuruni anak-anak tangga di rumah megah bagaikan kastil istana itu.


Aneisha Mihai terlihat berlari menuju ruangan tengah rumahnya yang luas yang nerupakan ruangan untuk menerima tamu. Dia melihat Joshua Abellard telah berada di ruangan itu sembari memandangi lukisan kuda yang terpajang di dinding ruangan tamu.


"Hai Joshua Abellard ! Apa kabar ?", sapa Aneisha Mihai.


Pria yang tengah berdiri di ruangan tamu itu lalu membalikkan badannya ke arah Aneisha Mihai seraya tersenyum ramah.


"Hai Aneisha Mihai ! Apa kabar !?", sapa Joshua Abellard yang ketampanannya mirip sekali dengan kakeknya yaitu Beaufort Abellard.


"Sudah lama menunggu, ya, maaf, aku tidak menunggumu di luar rumah sehingga kamu harus menungguku", ucap Aneisha Mihai.


"Tidak apa-apa, ternyata rumahmu besar juga ya, dan mirip sekali kastil istana", ucap Joshua Abellard.


"Tidak, biasa saja, seperti rumah lainnya di pedesaan", sahut Aneisha Mihai.


"Tidak, rumahmu sangat indah sekali, dan aku sangat menyukainya, cantik seperti pemiliknya", ucap Joshua Abellard.


"Terimakasih...", sahut Aneisha Mihai seraya melebarkan rok gaunnya.


Joshua Abellard hanya tersenyum melihat tingkah laku Aneisha Mihai.


"Duduklah ! Aku akan mengambilkanmu sesuatu dan kamu pasti sangat suka", ucap Aneisha Mihai.


"Tidak usah, kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup untukku, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


"Oh iya !?", sahut Aneisha Mihai.


Joshua Abellard hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan raut wajah serius sambil memegang tangan Aneisha Mihai.


"Hmmm, baiklah..., kalau begitu duduklah", ucap Aneisha Mihai.


"Kamu juga, duduklah", ucap Joshua Abellard.


"Aku kesini ingin mengundangmu untuk mengikuti sebuah festival yang akan diadakan oleh sekolah balet untuk menyambut tahun baru dan aku berniat mengadakan lomba pada festival nanti", ucap Joshua Abellard.


"Festival tahun baru ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, aku mengundangmu berpasangan menari denganku pada acara festival tahun baru dan setelah festival itu berlangsung akan ada perebutan primadona sekolah yang nantinya akan mendapatkan peluang menjadi model di berbagai media", sahut Joshua Abellard.


"Duet menari denganmu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, kenapa ? Kamu keberatan duet bersamaku", sahut Joshua Abellard.


"Bukan, bukan seperti itu maksudku, aku justru merasa bangga menari balet bersamamu tetapi kemampuan menariku masihlah kurang dan jauh darimu atau yang lainnya", ucap Aneisha Mihai.


"Oh, itu masalahnya, tidak masalah karena kita dapat berlatih mulai dari sekarang dan aku akan menjadwalkanmu secara khusus untuk latihan duet bersamaku", ucap Joshua Abellard.


"Latihan khusus ? Apakah kamu akan melatihku secara khusus untuk festival nanti ?", tanya Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Bukan aku yang akan menjadi guru latihannya melainkan kepala sekolah yang akan melatih kita secara khusus", ucap Joshua Abellard.


"Siapa ?", tanya Aneisha Mihai terkejut kaget.


"Kepala sekolah baru, namanya Bu Amarise, dia yang akan melatih kita secara khusus untuk perayaan festival tahun baru nanti", sahut Joshua Abellard.


Aneisha Mihai langsung berdiri kaku menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar nama Bu Amarise, sang malaikat pelindungnya disebut oleh Joshua Abellard.


"Bagaimana wanita bergaun merah itu melatih secara khusus tari balet duet antara aku dengan Joshua Abellard !? Apa rencana Bu Amarise kali ini ? Adakah hubungannya dengan nenek sihir itu ?"


"Kenapa kamu terkejut seperti itu ?", tanya Joshua Abellard.


"Oh tidak, aku tidak terkejut lantaran berita yang kamu sampaikan itu kepadaku, namun, aku hanya ingin ke dapur untuk mengambil Brioche kesukaanmu yang aku buat khusus untukmu", ucap Aneisha Mihai.


"Benarkah kamu membuat Brioche untukku ? Wow ! Aku suka sekali Brioche, bagaimana kamu tidak melupakan kue manis kesukaanku itu ?", tanya Joshua Abellard.


"Tentu saja aku selalu mengingat semua yang kamu ceritakan padaku termasuk mengingat kesukaanmu yaitu Brioche, kue manis favoritmu", sahut Aneisha Mihai.


"Baiklah, baiklah... Bagaimana kalau kita ke dapur sekarang dan mengambilnya ? Aku sudah tidak sabaran untuk memakannya", ucap Joshua Abellard.


"Tunggu saja disini dan biarkan aku saja yang mengambilnya untukmu, kamu duduklah sebentar, aku akan membawakanmu Brioche", sahut Aneisha Mihai.


"Tidak, tidak, aku akan langsung memakannya disana dan pergi bersama denganmu ke dapur, meski aku seorang pria, aku tidak merasa malu untuk turun ke dapur", ucap Joshua Abellard.


"Yah, baiklah, terserah padamu", ucap Aneisha Mihai.


"Hmm.. Ayo ! Ayo ! Kita segera pergi ke dapur !", ucap Joshua Abellard berseru.


Aneisha Mihai dan Joshua Abellard lalu berjalan menuju ke arah dapur sambil terus berbincang-bincang sepanjang jalan ke dapur rumah.


Terdapat berbagai lukisan kuda serta pemandangan perkebunan sepanjang jalan menuju dapur rumah, bahkan ada sebuah piano besar yang dipajang di sudut ruangan dekat jendela besar.


"Banyak sekali lukisan di rumahmu, apakah keluargamu sangat menggemari lukisan sehingga mengoleksinya ?", tanya Joshua Abellard.


"Tidak, orangtuaku membelinya ketika perjalanan bisnis mereka ke berbagai kota hingga berbagai belahan dunia", ucap Aneisha Mihai.


"Oh iya, aku baru tahu hal itu, apa kamu menyukai lukisan itu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Suka, aku sangat menyukainya", sahut Joshua Abellard.


"Kalau begitu aku akan meminta pada ibuku untuk memberikannya padamu, kamu tinggal pilih saja, lukisan mana yang kamu suka", ucap Aneisha Mihai.


"Terimakasih, tidak, aku tidak memerlukan lukisan ini karena aku hanya butuh bertemu denganmu", ucap Joshua Abellard.


Mereka berdua sampai ke dapur rumah bersama-sama lalu mencari Bibi Dolores untuk mengambil Brioche kegemaran Joshua Abellard.


"Nona Aneisha Mihai, aku sudah menyiapkan Brioche di meja... Ehk...", ucap Bibi Dolores. "Siapa pria tampan ini, Nona Aneisha Mihai ?", sambungnya.


"Ssst... Jangan berisik dan menggodanya !", bisik Aneisha Mihai kepada pelayannya.


"Ups, maaf, aku tidak tahu jika dia kekasih nona", bisik Bibi Dolores.


"Jangan bercanda Bibi Dolores, dan jangan membuatnya malu", ucap Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai menarik tangan Bibi Dolores menjauh dari Joshua Abellard dan mendorong tubuh pelayan setianya itu keluar dari dapur rumahnya.


"Biarkan kami menikmati Brioche ini, jadi jangan berusaha mengganggu kami !", ucap Aneisha Mihai.


Bibi Dolores hanya tertawa mendengar ucapan Aneisha Mihai dan pergi dari dapur ke tempat lainnya.


"Maafkan ucapan Bibi Dolores, dia memang suka menggoda orang lain di rumah ini tapi dia adalah orang yang sangat baik", ucap Aneisha Mihai.


"Tidak apa-apa, aku suka dengan ucapannya", ucap Joshua Abellard.


"Bagaimana kalau kita menikmati Briochenya ?", tanya Aneisha Mihai sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mmm, baiklah, mari kita nikmati Brioche buatanmu", sahut Joshua Abellard.


Terlihat keduanya mulai menikmati hidangan Brioche buatan Aneisha Mihai, Joshua Abellard ternyata sangat menyukainya dan hampir menghabiskan separuh Brioche.


"Hmmm..., ternyata Brioche buatanmu sangat nikmat sekali dan kamu pintar memasaknya", ucap Joshua Abellard.


"Terimakasih, lainkali aku akan membuatkannya lagi Brioche untukmu", ucap Aneisha Mihai.


"Benarkah ? Aku akan sangat senang mendengarnya, dan aku akan menunggu janjimu itu", ucap Joshua Abellard.


Aneisha Mihai hanya tersenyum lalu melanjutkan menikmati Brioche miliknya, dia sesekali melihat ke arah Joshua Abellard yang begitu lahapnya menyantap hidangan Brioche.


Tidak banyak yang mereka bicarakan, keduanya tampak menikmati hidangan Brioche mereka masing-masing.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan di area halaman rumah megah Aneisha Mihai yang bagaikan kastil istana.


Keduanya sedang berbincang-bincang begitu akrabnya dan sesekali tertawa ceria bersama-sama, Aneisha Mihai mengajak Joshua Abellard mengelilingi area rumahnya hingga ke halaman belakang yang penuh berbagai aneka tanaman bunga.


"Lalu bagaimana rencana festival lomba nanti ? Kapan kita akan latihan ?", tanya Aneisha Mihai.


"Setelah aku membuat daftar untuk latihan nanti, maka kita segera memulai latihan kita selanjutnya", ucap Joshua Abellard.


"Baiklah aku akan menunggu kabar darimu", ucap Aneisha Mihai.


"Temanya adalah sepatu merah untuk babak finalnya dan dalam tema ini akan ada audisi film untuk film sepatu merah", ucap Joshua Abellard.


"Film ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, karena berlatar belakang tentang masa lalu kakekku yang seorang bintang film dan mengispirasi untuknya membuat audisi film setiap enam bulan sekali di sekolah milik ibunya yang dia besarkan bersama saudara kembarnya", sahut Joshua Abellard.


Aneisha Mihai langsung terdiam mendengar perkataan Joshua Abellard, dia teringat akan kisah Beaufort Abellard. Dia sempat berpikir bahwa pertemuannya dengan Joshua Abellard ada kaitannya dengan pengalamannya yang kembali ke masa lalu di tahun 1962.


Mungkinkah kisah Beaufort Abellard berhubungan dengan masa depannya yang akan berubah ataukah akan mengalami sebuah peristiwa yang berbeda dari masa disaat sebelum dia kembali ke lima tahun yang lalu.


"Ada apa ?", tanya Joshua Abellard.


"Tidak ada, aku hanya berpikir betapa beruntungnya kamu memiliki keluarga yang sempurna dan aku sangat suka sekali mendengarnya", sahut Aneisha Mihai.


"Apakah kamu tidak merasa bahagia Aneisha Mihai ?", tanya Joshua Abellard.


"Hmmm...", gumam Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai hanya termenung dan mulai berpikir tentang reinkarnasinya yang kembali pada lima tahun yang lalu, dan dia melihat semuanya telah berubah, tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya.


"Katakanlah padaku yang kamu rasakan, mungkin aku dapat membantumu", ucap Joshua Abellard.


"Apakah kamu percaya takdir ?", tanya Aneisha Mihai.


"Kenapa ?", sahut Joshua Abellard.


"Percayakah kamu takdir dapat berubah sesuai keinginan kita ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tentu, aku percaya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini", sahut Joshua Abellard.


"Tapi apakah kamu percaya takdir dapat mengubah hidup orang sesuai keinginan kita ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, jika Tuhan menghendakinya, apapun bisa terjadi di dunia ini", sahut Joshua Abellard.


"Aku juga percaya itu", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm...", gumam Joshua Abellard.


"Apakah kamu percaya ?", tanya Aneisha Mihai.


"Iya, aku percaya padamu, Aneisha Mihai", sahut Joshua Abellard tersenyum lembut kepada gadis cantik itu.

__ADS_1


Joshua Abellard menatap gadis berparas cantik itu dengan tatapan teduhnya tetapi sangat serius. Dia tahu Aneisha Mihai sangatlah berbeda dengan yang lainnya, dia merasakan bahwa gadis cantik itu memiliki karakter yang sangat kuat.


Tidak mudah dikalahkan maupun dihancurkan meski cobaan menderanya dia tetaplah sangat kuat. Namun, terkadang setiap Joshua Abellard perhatikan dalam setiap tarian baletnya, dia merasakan Aneisha Mihai menyimpan sejuta misteri. Dan dia tahu bahwa gadis cantik itu menyukai dirinya karena mirip dengan kakeknya yang bernama Beaufort Abellard.


__ADS_2