
Aneisha Mihai tersenyum menyeringai kepada hantu wanita bernama Kesyea, tidak banyak yang ingin dia tanyakan pada hantu bergentayangan itu.
Dia hanya mendengar Bu Amarise tengah berkata pada hantu wanita yang memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang berada di depannya.
"Kesyea... Kesyea... Nama yang sungguh indah sekali sayangnya tidak seindah hidupmu...", ucap Bu Amarise.
"Grrrmmm... Grrrmmm... Grrrmmm..."
Hantu wanita itu hanya menggeliat pelan sembari menggeram di dalam kurungan emas yang mengeluarkan cahaya api berkilat-kilat.
Bu Amarise telah mengurung hantu wanita bernama Kesyea setelah wanita bergaun merah itu mengarahkan payung berendanya beberapa saat yang lalu.
"Kesyea, kamu datang pada orang yang salah karena aku tahu tujuanmu untuk membantu puterimu yang telah mengendalikan rohmu yang bergentayangan itu untuk menghabisi kami", ucap Bu Amarise.
"Grrrmmm... Grrrmmm... Grrrmmm... !?"
Terdengar suara geraman dari arah kurungan emas yang terdapat hantu Kesyea di dalamnya tengah kebingungan karena dirinya tidak dapat keluar ataupun menembus kurungan emas itu.
Bu Amarise telah mempersiapkan semuanya jauh-jauh sebelumnya tanpa Aneisha Mihai ketahui.
"Bagaimana menurutmu, Aneisha Mihai ?", tanya Bu Amarise lalu berhenti di dekat kurungan emas dan memandang Aneisha Mihai yang berdiri terpaku di depan ranjang tidurnya.
"Haruskah aku menjelaskannya ? Aku rasa tidak perlu, Bu Amarise karena aku telah menyerahkan keputusan kepadamu", sahut Aneisha Mihai.
"Bijak...", ucap Bu Amarise.
"Cukup bijak tapi terlalu baik menurutku", ucap Aneisha Mihai.
"Apakah kita langsung memusnahkan jiwa roh ini ?", tanya Bu Amarise.
"Aku pikir lagi tadi... Bagaimana kalau kita kirim dia ke neraka jahanam supaya dia menjalani pertobatannya di sana ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kau sungguh kejam, Aneisha Mihai", sahut wanita bergaun merah.
Bu Amarise tertawa keras saat mendengar ucapan dari gadis berparas cantik itu, dia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang sangat sama dengannya dan lebih buruk dari dirinya di dunia ini.
Aneisha Mihai hanya terdiam lalu berjalan mendekat ke arah kurungan emas itu kemudian menengok ke dalam kurungan di depannya.
"Sebaiknya bagaimana !? Tidak tepat untuk mempermainkan seorang nenek tua, bukan begitu, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.
"Kamu menganggapnya nenek, sepertinya kata-kata itu tidak tepat untuknya, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise terkekeh.
"Bagaimanapun juga dia masih bagian dari keluargaku walaupun kami telah berpisah setelah aku kembali bereinkarnasi dan hidup lagi ke lima tahun yang lalu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Bukankah kamu sangat membenci puterinya lalu kenapa kamu masih menganggapnya bagian keluargamu dan menyebutnya nenek", ucap Bu Amarise.
"Aku hanya merasa iba padanya, itu saja !", sahut Aneisha Mihai.
"Iba !?", ucap Bu Amarise.
"Iya, kenapa ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tetapi bukankah puterinya merupakan musuh besarmu ?", ucap Bu Amarise seraya bertanya keheranan.
"Memang puterinya adalah musuhku tetapi karena didikan ibunya yang telah membuatnya sekejam itu, itulah yang membuatku iba padanya", sahut Aneisha Mihai tersenyum tipis.
"Jika kamu iba padanya kenapa kamu mengirimnya ke neraka jahanam dan tidak membiarkan roh jiwanya lenyap agar tidak merasakan siksaan !?", tanya Bu Amarise.
"Aku ingin dia menjalani penyucian roh jiwa agar dia dapat bereinkarnasi lagi untuk memberinya kesempatan hidup kedua kalinya setelah menjalani hukumannya di neraka jahanam", ucap Aneisha Mihai.
"Tetapi hukuman neraka jahanam adalah jalan terakhir", ucap Bu Amarise.
"Benarkah ?", ucap Aneisha Mihai.
"Tidak akan ada manusia yang dapat lari dari tempat hukuman itu bahkan mendapatkan kesempatan kedua setelah kematian jika dia telah dikirim ke neraka jahanam, itu tidak mungkin terjadi", ucap Bu Amarise.
"Sayang sekali kalau begitu, tapi keputusanku telah bulat untuk mengirimnya ke sana, jadi aku tidak akan mengubah keputusanku lagi", ucap Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Berat...", ucap Bu Amarise.
"Tidak, menurutku itu tidak terlalu berat, kenapa tidak !?", ucap Aneisha Mihai.
"Hanya sang penjaga neraka jahanam yang memiliki wewenang meringankan hukuman Kesyea", ucap Bu Amarise.
"Tidak, itu tidak benar", sahut Aneisha Mihai.
"Maksudmu ?", tanya Bu Amarise.
"Malaikat tidak memiliki wewenang dalam membantu hukuman seorang penjahat seperti Keysea menjadi ringan", sahut Aneisha Mihai.
Bu Amarise terdiam mendengar ucapan Aneisha Mihai dan menatap ke arah kurungan emas berapi di depannya tanpa emosi.
"Lalu apa keputusanmu terhadap dirinya saat ini ?", tanya Bu Amarise.
"Aku sendiri tidak tahu", sahut Aneisha Mihai sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Dadu telah dilemparkan dan permainan telah dimulai, tidak seorangpun yang dapat lari dari permainan ini", ucap Bu Amarise.
Wanita bergaun merah itu hanya menarik napas dalam-dalam seraya memandang lepas ke langit biru membentang yang jauh di atas sana.
"Itulah arti dari permainan ini, kita tidak dapat mengakhirinya karena wanita jahat itu telah menabuh genderang perang diantara kita", ucap Aneisha Mihai.
"Baiklah aku akan mengikuti petunjukmu sekarang lalu apa langkah kita selanjutnya ?", tanya Bu Amarise.
"Haruskah kita mengirimnya kembali kepada puterinya", ucap Aneisha Mihai.
"Kau ingin membunuh dua umpan sekaligus, dan bermaksud memata-matai puteri dari Kesyea", ucap Bu Amarise.
"Yah, karena aku pikir itu adalah cara yang sangat efektif untuk mengetahui rencana yang akan dia lakukan pada kita selanjutnya", ucap gadis berparas cantik itu.
"Kejam...", sahut Bu Amarise.
Wanita bergaun merah itu lalu tertawa tiada henti-hentinya seraya berdiri berpegangan pada payung berendanya.
Senyum Aneisha Mihai hilang ketika mendengar suara tawa dari Bu Amarise yang memekakkan kedua telinganya. Raut wajah gadis cantik itu berubah masam dan kesal setiap mendengar tawa mengerikan dari Bu Amarise, sang malaikat pelindungnya. Karena dia merasa jika wanita bergaun merah itu bukanlah merupakan malaikat pelindungnya tetapi malaikat mengerikan.
Terlihat Aneisha Mihai duduk di dekat kurungan emas berapi kilat-kilat yang mengurung hantu Kesyea di dalamnya.
"Ternyata anda sudah tahu tujuan hantu Kesyea yang ingin membunuh kita tetapi anda tidak langsung menahannya seperti sekarang", ucap gadis berparas cantik itu.
"Aku hanya penasaran dengan kisahnya saja", sahut Bu Amarise.
"Anda berarti baru mendengar kisahnya dari hantu Kesyea atau anda sudah mengetahuinya sebelumnya", ucap Aneisha Mihai.
"Baru saja setelah hantu Kesyea menceritakannya, aku baru mengerti perjalanan hidupnya yang penuh liku-liku ketika dia selesai bercerita tadi", ucap Bu Amarise.
Wanita bergaun merah itu lalu membuka payung berendanya dan duduk di atas payung miliknya.
Aneisha Mihai menoleh ke arah kurungan emas berapi dan dia melihat hantu Kesyea duduk seraya menggeram pelan. Hantu wanita itu tidak berani menyentuh jeruji emas yang mengeluarkan bara api panas, apabila hantu Kesyea menyentuhnya sedikit saja maka tubuhnya akan hangus menjadi abu.
Dia sendiri juga tidak berani menyentuh kurungan emas itu karena api yang mengelilingi kurungan emas mudah membakar hingga habis setiap orang yang menyentuhnya.
"Lalu apa rencana anda selanjutnya setelah ini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Mengurus dia... Kenapa ?", sahut Bu Amarise.
"Anda akan mengirimnya ke neraka, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Bukannya tadi kamu menginginkan hantu Kesyea untuk memata-matai wanita itu, dan aku berencana untuk mengirimnya ke sana", ucap Bu Amarise.
"Anda akan mengirim hantu Kesyea sekarang juga, lalu apa tugas hantu gentayangan ini ?", tanya Aneisha Mihai seraya melirik ke arah kurungan emas disampingnya.
"Pertama, aku akan menyuruh hantu Kesyea mencari informasi yang berkaitan dengan aktivitas wanita jahat itu kemudian memberitahukan langsung hari itu juga kegiatan puterinya itu", sahut Bu Amarise.
"Lalu rencana kedua setelah itu ?", tanya Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Kedua, aku akan menugaskan dia mencari tahu siapa pembuat mantera pelindung hantu yang dipasang di sekitar rumahmu", sahut wanita bergaun merah itu.
"Pembuat mantera pelindung !?", ucap Aneisha Mihai lalu berpikir keras.
Setahu dia, orang yang ahli dalam membuat mantera pelindung hanyalah orang suci dan mana mungkin wanita sejahat itu berhubungan dengan orang suci.
Mungkinkah puteri hantu Kesyea telah memanfaatkan orang suci untuk membuat mantera pelindung di rumahnya.
Lantas apa yang mendasari wanita jahat itu membuat dinding pelindung jika tujuan dia untuk mecelakai orang di rumah yang mirip kastil istana itu, bukankah sama halnya dia jatuh di kandang macan, menaruh perangkap sendiri untuk dirinya.
Aneisha Mihai semakin tidak mengerti dengan kasus yang dia hadapi kali ini, dia tidak mampu berpikir secara jernih saat ini karena kisah cerita yang dia dengar dari hantu Kesyea sedikit membingungkan.
Meskipun Aneisha Mihai tahu siapakah sebenarnya hantu Kesyea itu, hanya saja yang membuatnya bingung adalah untuk apa puterinya dari hantu Kesyea mengirim hantu wanita itu menemuinya sedangkan dia tahu jika rumah Aneisha Mihai terlindungi oleh mantera pelindung dari roh hantu.
Aneisha Mihai langsung tersentak kaget, tidak percaya setelah dia menyadari sesuatu yang tersembunyi dari kisah roh hantu Kesyea.
Gadis cantik itu lalu menoleh kembali kepada kurungan emas berapi yang terdapat hantu Kesyea di dalamanya. Lalu berbicara kepada Bu Amarise.
"Bisakah anda mengeluarkannya dari kurungan emas ini, Bu Amarise ?", pinta Aneisha Mihai.
Sontak permintaan dari Aneisha Mihai mengejutkan wanita bergaun merah itu dan memandangi gadis berparas cantik itu dengan serius.
"Kamu bermaksud melepaskannya agar dia memakan kita !? Apa yang kamu pikirkan di dalam kepalamu ?", tanya Bu Amarise kebingungan.
"Setelah aku merunut kisah dari hantu Kesyea ada yang mengganjal dipikiranku sekarang, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Teka-teki lagi ataukah sebuah rahasia tersembunyi !?", ucap Bu Amarise.
"Seandainya puteri dari hantu Kesyea menginginkan membunuh kita tetapi wanita jahat itu menaruh pelindung roh hantu pada rumah ini..., itu artinya, puterinya dari hantu Kesyea menginginkan hantu wanita itu yang merupakan ibunya mati terkena mantera pelindung itu...", ucap Aneisha Mihai.
"Setelah hantu Kesyea menyelesaikan tugasnya membunuh kita maka tanpa sengaja hantu Kesyea yang tidak menyadari mantera pelindung di rumahku akhirnya dia ikut mati jika dia tidak mengetahui mantera pelindung itu", ucap Aneisha Mihai.
"Tetapi sayangnya dia mengetahui jika ada mantera pelindung roh jahat yang mengelilingi rumah ini", ucap Bu Amarise.
"Benar... Itu dia !", seru Aneisha Mihai.
"Hmmm...", gumam pelan wanita bergaun merah dari tempatnya duduk di atas payung berenda. "Menarik"
"Sulit membayangkannya, karena aku tidak pernah mengira, bagaimana seorang anak dengan tega menginginkan ibunya sendiri lenyap meski ibunya sudah menjadi roh hantu gentayangan", ucap Aneisha Mihai.
"Tujuannya sangat jelas, dia sengaja menginginkan bukti akurat pada dirinya hilang tanpa jejak", ucap Bu Amarise.
"Lalu kenapa Kesyea bisa mati dan menjadi roh hantu gentayangan ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kalau hal itu lebih baik kita tanyakan saja pada roh hantu Keysea sendiri", ucap Bu Amarise.
"Bertanya padanya !? Mana mungkin ? Dia sendiri tidak bisa berbicara lalu cara kita bertanya padanya, bagaimana !?", tanya Aneisha Mihai.
"Dia akan mengatakannya dengan sendirinya", ucap Bu Amarise dari atas payung berendanya.
"Apakah anda akan melepaskannya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak, itu terlalu mudah untuknya, karena akan membuatnya tidak merasa jera", sahut wanita bergaun merah itu.
"Lalu !?", tanya gadis berparas cantik itu.
"Kita akan bertanya padanya saat dia berada di dalam kurungan emas itu maka dia tidak akan mampu berkata bohong", sahut Bu Amarise.
"Baiklah..., aku akan mencoba bertanya padanya, mungkin saja dia akan mengatakan tujuannya datang ke kita...", ucap Aneisha Mihai.
"Yah, baiklah, aku akan melihatnya dan mendengarnya dari sini saja", sahut wanita bergaun merah itu yang tengah duduk di atas payung berenda miliknya yang berputar-putar itu.
"Hmmm..., mudah-mudahan hantu Kesyea dapat diajak kompromi", ucap Aneisha Mihai.
"Jangan menaruh harapan pada hantu karena dia tidak dapat dipercaya, kamu mengerti", ucap Bu Amarise memberi nasehat.
Aneisha Mihai beranjak berdiri dan menatap dingin ke arah hantu Kesyea yang terkurung di dalam kurungan emas berapi menyala itu.
__ADS_1
Tatapan hantu Kesyea tampak kosong sekali meski dia terus menerus menggeram-geram memberontak untuk keluar dari kurungan emas itu. Namun, dia hanya mampu menggerakkan kepalanya saja ke kanan dan ke kiri dengan tangan berkuku panjang yang dia lambaikan.
Sepintas penampilan hantu Kesyea sangat menyeramkan karena gigi taringnya yang selalu dia tunjukkan dan hantu wanita itu tersenyum dengan meyeringai yang menambah penampilannya semakin menakutkan.