
Aneisha Mihai hanya berdiri tergugu menatap wanita bergaun merah dengan topi merah berenda menjuntai yang menutupi sebagian wajahnya.
Gadis cantik itu tidak dapat mempercayai yang dilakukan oleh wanita itu memberinya sebutir buah apel merah dari neraka jahanam.
Entah, apa yang ada dibenak wanita bergaun merah itu sehingga dengan teganya memberinya buah apel yang dibeli dari neraka, tidakkah pasar buah di kota menjual buah apel merah yang layak dikonsumsi ataukah tempat itu telah tutup dan membuat wanita bergaun merah harus membelinya dari neraka jahanam itu.
Aneisha Mihai benar-benar tidak mengerti jalan pikir Bu Amarise dan ketika dia melihat ranjang tidur miliknya berada di halaman belakang rumahnya, dia juga tidak memahami maksudnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan padaku sekarang ?", ucap Bu Amarise.
"Aku rasa tanpa bertanya anda juga sudah paham, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Iya, aku juga ingin mengatakan padamu mengenai Izebel", ucap Bu Amarise.
"Izebel...", sahut Aneisha Mihai.
Gadis cantik itu lalu duduk di atas ranjang tidur miliknya bersebelahan dengan wanita bergaun merah yang memegangi payung berendanya.
"Iya, wanita muda yang pernah menjadi ibu tirimu di kehidupan masa lalu, lima tahun yang lalu", ucap Bu Amarise.
"Apakah ini semua berhubungan dengannya tetapi untuk apa anda membawa serta ranjang tidurku ke halaman ini ?", tanya Aneisha Mihai keheranan.
"Karena kamu tadi jatuh pingsan saat di sekolah ballet, jadi aku terpaksa membawamu pulang tetapi kamu tidak sadar juga maka aku membawa serta ranjang tidurmu ke halaman belakang ini agar mudah", sahut Bu Amarise.
"Kenapa anda tidak langsung membangunkanku tanpa harus membawa tempat tidurku, bukankah ini sangat merepotkan anda, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Supaya kamu jika jatuh pingsan lagi tidak merepotkanku", sahut Bu Amarise.
"Lalu untuk apa kita ke halaman rumahku ini, Bu Amarise !? Kenapa tidak langsung saja di dalam rumah dan harus repot-repot kemari ?", tanya Aneisha Mihai.
"Hmm... Aku masih khawatir kamu jatuh pingsan lagi maka aku memberimu buah apel merah dari neraka jahanam agar kamu memiliki kekuatan hati yang lebih kuat...", sahut wanita bergaun merah itu.
"Iya, tapi kenapa ke halaman belakang rumah dan tidak di dalam rumah atau di kamarku ?", tanya Aneisha Mihai penasaran.
Bu Amarise hanya terdiam sesaat seraya menatap lepas ke arah hamparan bunga mawar merah yang ada di halaman belakang rumah yang mirip kastil istana itu.
Wanita bergaun merah lalu menoleh ke Aneisha Mihai yang duduk disebelahnya dengan tatapan serius.
Mencoba memahami gadis berparas cantik itu dan berhati-hati mengambil sikap untuk menyampaikan sesuatu yang ingin dia katakan pada Aneisha Mihai.
"Aku akan memanggilnya dan aku harap setelah memakan buah apel merah itu maka kamu akan menerimanya dan tidak jatuh pingsan lagi...", ucap Bu Amarise.
"Memanggil siapa !?", tanya Aneisha Mihai.
"Berjanjilah kamu tidak pingsan lagi, karena tidak mungkin aku akan mengatakannya jika kamu jatuh pingsan terus menerus", sahut Bu Amarise.
"Baiklah, aku akan berjanji padamu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
Bu Amarise lalu beranjak berdiri dan berjalan maju beberapa langkah ke depan. Berbalik menghadap gadis cantik itu, dan tersenyum menyeringai.
Aneisha Mihai tampak ketakutan sekali melihat ekspresi wajah wanita bergaun merah itu saat menatapnya.
"Keluarlah ! Dia sudah kuat sekarang dan aku jamin dia tidak akan takut melihatmu, keluarlah !", ucap Bu Amarise memberi perintah.
"Dia berbicara dengan siapa !?", tanya Aneisha Mihai.
Muncul sosok kepala melayang di udara disamping wanita bergaun merah yang berdiri agak jauh darinya.
Sosok kepala tanpa tubuh itu tersenyum kepada Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Hantu k-kepala itu lagi !?", ucap Aneisha Mihai gemetaran.
"Apa kabar ?", sapa hantu kepala pada gadis cantik itu.
Aneisha Mihai langsung jatuh terduduk di atas ranjang tidurnya ketika melihat hantu kepala yang melayang itu.
"H--hantu kepala siapa itu dan kenapa muncul lagi, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.
"Ini yang aku maksudkan, dan berhubungan dengan Izebel", ucap Bu Amarise.
"Dia memiliki hubungan dengan wanita penyihir jahat itu ? Bagaimana bisa ?", tanya Aneisha Mihai.
"Biarkan hantu kepala ini saja yang mengatakannya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya hingga menjadi seperti itu", sahut Bu Amarise.
"B--baiklah... Ak--aaku akan mendengarkan cerita hantu kepala itu..., di--disini...", ucap Aneisha Mihai tergagap.
Tubuh gadis cantik itu terasa lemas serta lunglai ketika melihat hantu kepala yang terbang hendak menghampirinya.
Aneisha Mihai dengan cepat melarang hantu kepala yang melayang ke arahnya untuk mendekati dirinya.
"B--berhenti disana ! Jangan bergerak mendekat lagi kepadaku, ceritakan saja dari sana kisahmu padaku dan aku akan mendengarkannya !", ucap Aneisha Mihai menghentikan laju hantu kepala yang ingin menghampirinya.
Hantu kepala menoleh ke arah wanita bergaun merah disampingnya, menunggu reaksi dari wanita itu.
"Silahkan kamu ceritakan kisahmu dari sini sesuai permintaan nona muda itu karena aku hanya akan mematuhi perintahnya saja, kamu mengerti !?", ucap Bu Amarise.
"Emm... Baiklah, aku akan memulai menceritakan kisahku... Dan aku mohon bantuan kalian setelah mendengarkan ceritaku ini...", ucap hantu kepala itu.
"Aku akan berjanji menolongmu dan aku harap kamu tidak berkata bohong padaku, aku akan mendengarkan kisahmu sebaik-baiknya", sahut Aneisha Mihai.
Hantu kepala yang melayang itu hanya terdiam seraya menangis.
"Uhuuu...huuu...huuuu...huuuuuu...", tangisnya pilu.
"Sssstt... Tenanglah dan tunggulah sebentar, dia sedang mengawali ceritanya...", bisik Bu Amarise.
Dua puluh tahun yang lalu...
Suatu ketika di sebuah kota tua dekat pegunungan Moncayo di wilayah Aragon, Provinsi Zaragoza.
Tinggallah seorang wanita dengan anak perempuannya yang cantik jelita, bernama Izebel.
Wanita itu terkenal sebagai seorang tabib yang memiliki kekuatan menyembuhkan yang sangat hebat, banyak orang sakit di daerahnya dapat dia sembuhkan dengan mudahnya.
Kemampuan tabib wanita itu adalah membuat ramuan ajaib yang sangat mujarab dan terkenal kehebatannya sampai ke telinga raja.
Raja serta anak buahnya datang ke pegunungan Moncayo di wilayah Aragon, Provinsi Zaragoza untuk mendatangi wanita itu dengan maksud untuk membantunya menyembuhkan permaisurinya yang sakit.
Ketika Raja datang ke rumah wanita itu, raja langsung jatuh hati pada kecantikan wanita tabib itu, niat raja yang semula ingin mencari ramuan penyembuh buat permaisurinya berubah menjadi sebuah niat untuk mempersunting wanita tabib itu.
Sayangnya lamaran raja di tolak karena wanita tabib berparas jelita itu telah bersumpah sehidup semati dengan suaminya yang telah tiada.
Raja terus menerus mendesak wanita tabib itu sehingga hati wanita itu luluh dan keduanya terlibat cinta terlarang.
"Ikutlah bersamaku... Jadilah wanitaku seumur hidupku melayaniku di istanaku, aku bersumpah akan menikahimu sesampai kita di istana", ucap raja.
"Lalu bagaimana dengan permaisurimu !? Jika dia tahu kita saling mencintai, apa yang akan terjadi pada kita !?", tanya wanita tabib itu.
"Percayalah ! Aku akan bertanggungjawab padamu dan ikutlah bersamaku ke istana...", ucap raja.
__ADS_1
"Baiklah... Aku akan pergi ke istana bersamamu asal kamu mengizinkanku membawa Izebel ke istana", sahut wanita tabib itu.
Raja lalu menyetujui permintaan dari wanita tabib yang amat dia cintai itu untuk membawa anak perempuannya ke istana.
Desas-desus kedekatan raja dengan wanita dari pegunungan Moncayo di wilayah Aragon, Provinsi Zaragoza terdengar sampai ke permaisuri raja yang kala itu sakit parah.
Berbekal informasi dari orang kepercayaannya dengan mengendarai sebuah kendaraan pribadi kerajaan pergi menuju ke daerah tersebut.
Walaupun dia dalam keadaan sakit parah, permaisuri nekat pergi ke pegunungan Moncayo ditemani sopir pribadinya.
Pegunungan Moncayo...
Kendaraan yang dinaiki permaisuri raja dan sopir pribadinya melaju pelan menelusuri jalan-jalan kota tua yang basah oleh air hujan yang turun pada malam itu.
Mereka sampai di sebuah rumah yang tersusun dari batu bata merah dengan arsitektur rumah khas pegunungan Moncayo.
Permaisuri raja turun dari kendaraannya menuju rumah yang diinformasikan oleh orang kepercayaannya bahwa rumah itu milik tabib wanita terkenal itu.
Dia mengetuk pintu rumah wanita tabib dan berpura-pura menyamar sebagai pasien yang hendak berobat karena penyakitnya.
Pada saat di dalam rumah wanita yang terkenal sebagai tabib itu, permaisuri raja yang kala itu mengenakan tudung kepala melihat raja duduk di antara kursi dekat ruang utama.
Permaisuri raja yang melihat kemesraan mereka berdua meradang marah dan dia berlari mendekati raja bermaksud memisahkan keduanya.
Raja yang menyadari keberadaan permaisuri di rumah itu mendadak kaget dan berusaha menahan permaisuri agar tidak mengamuk.
Pertengkaran pecah diantara mereka dan malam yang menyeramkan di rumah itu terjadi tanpa seorangpun yang mengharapkannya.
Permaisuri yang bermaksud ingin memisahkan raja dan membawa raja harus terlibat adu kekuatan dengan wanita tabib itu.
Pada malam pertengkaran yang terjadi di rumah itu melibatkan Izebel yang tidak terima permaisuri raja membawa raja bersama dengannya.
Tepat di halaman rumah wanita tabib itu, permaisuri raja yang berusaha keras menarik raja didorong jatuh ke sebuah kincir angin dekat halaman sehingga permaisuri mati seketika dengan kepala terpisah dari tubuhnya sedangkan raja sendiri mati karena terpeleset jatuh disebabkan jalan di halaman rumah basah oleh air hujan.
Peristiwa malam berdarah yang menyeramkan itu menyisakan luka mendalam pada wanita tabib itu karena dia harus mengubur mimpinya hidup bersama dengan raja di istana musnah karena kematian raja.
Tidak seorangpun yang mengetahui kabar kematian sang raja saat itu karena wanita tabib menyembunyikan peristiwa itu dari semua orang.
Demi menghidupkan raja yang menjadi tambatan hatinya itu rela mengorbankan dirinya menjadi penyihir hitam.
Setiap malam wanita yang telah berubah menjadi penyihir hitam itu turun ke jalan dengan mengenakan tudung hitam serta selalu membawa kuali di tangannya.
Hampir berbulan-bulan lamanya wanita itu bertingkah laku aneh seperti itu di kota tua.
Menyebarkan wabah penyakit hingga menciptakan kengerian dengan menghilangnya kepala-kepala dari jasad orang yang mati yang ditemukan di jalan-jalan menuju kota tua.
Sembilan bulan lamanya peristiwa menyeramkan itu berlangsung, teror penyihir wanita berparas cantik jelita itu terus menerus tersebar sangat mengerikan.
Meresahkan semua orang di kota tua sehingga penduduk kota tua di pegunungan Moncayo di wilayah Aragon, Provinsi Zaragoza membakar rumahnya beserta dirinya dan Izebel.
Usaha penduduk untuk melenyapkan wanita penyihir tersebut tidak berhasil karena dia dapat melarikan diri sayangnya Izebel yang mengalami luka bakar harus menderita parah.
Bertahun-tahun lamanya wanita yang berubah menjadi penyihir itu melewati kehidupan barunya di sebuah kota yang jaraknya cukup jauh dari asal tempatnya tinggal dari kota tua, wanita itu memutuskan untuk menetap di kota baru.
Penyesalan tidak pernah wanita penyihir itu rasakan bahkan demi mengobati luka Izebel dia rela mengorbankan anak haramnya untuk menyembuhkan Izebel dengan menjadikan anak haramnya hasil hubungan gelapnya dengan raja yang telah tiada itu di sebuah kota baru yang masih dekat dengan pegunungan Moncayo di wilayah Aragon, Provinsi Zaragoza menjadi tumbal persembahan sekte sesat yang dianutnya.
"Lalu siapa sebenarnya yang menjadi hantu kepala itu ? Apakah permaisuri raja ataukah saudari tiri Izebel ?"
Kisah berhenti sampai disitu...
__ADS_1
Meninggalkan akhir cerita yang menggantung dan membuat tanda tanya diantara Aneisha Mihai dan Bu Amarise setelah mendengar kisah cerita roh hantu kepala.
Aneisha Mihai menolehkan kepalanya ke arah wanita bergaun merah yang berdiri agak jauh darinya, dan keduanya saling berpandangan satu dengan lainnya dan terlihat sama-sama kebingungan serta penasaran setelah mendengar kisah yang sangat misteri itu.