Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 40 Pembicaraan Sederhana


__ADS_3

Terlihat seorang wanita bergaun merah dengan topi berwarna merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya tengah berdiri di sebuah halaman yang luas.


Halaman itu sangat asri dengan di hiasi bunga-benga mawar bermekaran serta kicauan burung disekitar halaman.


Wanita bergaun merah menengadahkan pandangannya ke arah atas sedang menyaksikan suasana langit yang mendung.


"Hmm... Langit mendung ketika kami tiba di rumah ini, adakah pertanda lain...", ucap Bu Amarise.


"Malaikat Amarise !", suara memanggil wanita bergaun merah itu.


Bu Amarise menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara yang memanggil dirinya, dia melihat sosok kepala terbang melayang ke arah dirinya.


Wanita itu hanya menatapnya datar, dan diam berdiri.


"Mallaikat Amarise, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini", sapa hantu kepala.


"Hmm, iya..., aku sengaja ke halaman belakang kastil ini karena tempat ini terpencil dari bagian rumah megah itu dan jarang orang yang datang kemari", ucap Bu Amarise.


BLAM...


Sebuah ranjang tidur tiba-tiba jatuh dari atas ke lantai ubin halaman kastil rumah Aneisha Mihai.


Seorang gadis cantik bergaun merah dengan sepatu balet merah terbaring di atas ranjang tidur yang berada di halaman.


Wanita bergaun merah berjalan menghampiri ranjang itu lalu menghentakkan payung berenda miliknya ke atas lantai ubin sebanyak tiga kali.


DASH... DASH... DASH...


Muncul bintang-bintang berkilauan bergerak ke atas ranjang serta menggulung tubuh gadis cantik itu dengan cepatnya.


Tubuh Aneisha Mihai yang terbaring di ranjang tidurnya terangkat lalu bergulingan di udara. Dan terbangun seraya menatap sendu ke arah sekitar halaman kastil, rumahnya.


Gadis berparas cantik dengan mata indahnya duduk termenung sembari mengusap kedua matanya pelan lalu dia berkata.


"Aku dimana !? Kenapa tempat tidurku berada di halaman belakang rumah !? Apa yang terjadi ???", ucapnya bertanya penasaran.


"Kamu sudah bangun, Aneisha Mihai", sapa seorang wanita.


"Emm... Oh, iya, aku sudah bangun... Siapa anda ?", tanya Aneisha Mihai dengan memicingkan matanya.


Dia tidak dapat melihat jelas pemandangan dihadapannya karena kilauan bintang-bintang yang berterbangan disekitarnya mengaburkan pandangan matanya.


Aneisha Mihai lalu turun dari atas ranjang tidurnya yang berada di halaman belakang rumahnya yang sangat luas.


Berjalan pelan menghampiri wanita bergaun merah yang berdiri di dekat ranjang tidur itu lalu bertanya pada wanita yang hanya terdiam itu.


"Siapa anda ?", tanya Aneisha Mihai lagi.


"Aku adalah malaikat pelindungmu, Bu Amarise", sahut wanita bergaun merah.


"Bu Amarise ? Benarkah itu !? Aku tidak melihat dirimu yang seperti biasanya, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Benarkah ? Bukankah memang ini sosok aku yang sebenarnya, nak !?", sahut Bu Amarise.


"Tidak, biasanya penampilan anda sangat tua seperti seorang nenek tetapi sekarang anda mengubah penampilan anda, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Karena aku adalah malaikat, sah-sah saja jika aku mengubah penampilanku menjadi berbeda supaya terlihat segar saja", sahut Bu Amarise.


"Yah, itu terserah anda, memang semua keputusan ada di tangan anda, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Apakah kamu menyukai penampilan baruku ini, nak ?", tanya Bu Amarise.


"Sangat suka, pada dasarnya apapun penampilan anda aku menyukai semuanya, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


"Benarkah !?", ucap Bu Amarise.


"Untuk apa aku membohongimu, baik penampilanmu yang dulu maupun yang baru ini, semua sangat cocok untukmu, berpenampilan segar jadi terasa enak di pandang serta menarik di lihat saja, aku rasa, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Menarik ya...", ucap Bu Amarise seraya melirik ke arah gadis cantik itu.


"Ya, sangat menarik sekali, tetapi agak sedikit aneh saja, aku rasa", ucap Aneisha Mihai.


"Oh, iya ? Karena kamu belum terbiasa saja saat melihat penampilanku yang baru ini, tapi jika kamu tidak menyukainya maka aku akan mengubahnya kembali", ucap Bu Amarise.


"Jangan ! Jangan ! Seperti ini juga bagus dan anda terlihat sangat cantik sekali dengan penampilan baru anda yang menjadi muda kembali, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Hmmm...", gumam wanita bergaun merah itu.


"Lalu apa alasan anda mengubah penampilan anda seperti ini, Bu Amarise !?", tanya Aneisha Mihai masih mengusap kedua matanya.


"Hmm..., ada yang aku ingin perlihatkan padamu tetapi kamu tidak boleh takut karena ini ada hubungannya dengan wanita muda ahli sihir itu, nak", ucap Bu Amarise.


"Maksud anda... Izebel !?", sahut Aneisha Mihai kaget.


"Tepat sekali, ini sangat erat hubungannya dengan wanita muda jahat itu, nak", ucap Bu Amarise.


"Kenapa bisa begitu, lalu apakah itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Makanlah ini terlebih dahulu, Aneisha Mihai !", perintah wanita bergaun merah itu.


Aneisha Mihai melihat wanita itu memberinya sebutir buah apel merah yang tampak menggiurkan.


Dia hanya bertanya-tanya pada dirinya untuk apa wanita bergaun merah dengan topi merah berenda yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya itu memberinya sebutir buah apel merah kepadanya. Dan adakah hubungan antara Izebel dengan ini semuanya.


"Makanlah ! Jangan hanya dilihat saja, Aneisha Mihai !", perintah wanita bergaun merah itu.


"Buat apa aku memakan buah apel merah ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai kebingungan.


"Makanlah dahulu dan jangan banyak bertanya lagi, karena kamu akan melihatnya sendiri nanti", sahut Bu Amarise.


"Iya, aku akan memakan buah apel merah ini, Bu Amarise", ucap gadis cantik itu.


"Ya, makanlah !", ucap Bu Amarise.


Aneisha Mihai lalu menggigit apel merah itu sedikit demi sedikit dan menguyahnya perlahan sedangkan Bu Amarise duduk di atas ranjang tidur yang terhampar di halaman sembari menunggu gadis itu menghabiskan buah apel merah pemberian darinya.


Halaman belakang rumah yang mirip kastil istana itu tampak langgeng, hanya ada suara kicauan burung kenari yang hinggap di atas pancuran sebuah kolam yang berbentuk persegi panjang.


Air kolam sedikit keruh karena ditumbuhi lumut yang menutupi sisi-sisi kolam di halaman belakang.


Tidak ada ikan ataupun hewan lainnya yang berada di dalam kolam tersebut. Hanya ada suara gemericik air yang mengalir dari arah pancuran berupa patung wanita yang membawa sebuah guci berisi air.


Halaman luas bagian dari area rumah megah yang mirip kastil istana itu memiliki pemandangan yang sangat indah sekali, membuat setiap orang yang duduk disana, menikmati suasana halaman yang penuh dihiasi berbagai bunga akan merasa betah berlama-lama di halaman itu.


Bu Amarise memandang lepas ke arah area halaman belakang rumah milik Aneisha Mihai yang ditumbuhi aneka macam jenis bunga, terutama mawar merah yang sangat khas serta mencolok menghias di sebagian area halaman belakang rumah tersebut.


Dia duduk menatap teduh tetapi ekspresi wajahnya terlihat serius, tidak ada senyum yang menghias wajah wanita bergaun merah yang mengubah penampilannya menjadi muda itu.


"Buah apel merah ini sangat segar dan lezat sekali, darimana anda mendapatkan buah apel merah ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai yang berdiri sedari tadi sambil mengunyah buah apel merah di tangannya.

__ADS_1


"Aku membelinya dari neraka jahanam, kau suka apel merah itu, nak", sahut Bu Amarise.


"Uhuk ! Uhuk ! Uhuk ! Ehm...", Aneisha Mihai langsung tersedak oleh buah apel merah yang dia makan dengan lahapnya.


Gadis berparas cantik itu lalu memukul-mukul dadanya pelan agar dia dapat bernafas dengan lancar serta buah apel merah yang masih tersisa di tenggorokkannya tidak tersangkut.


Aneisha Mihai menolehkan kepalanya cepat ke arah wanita bergaun merah yang telah mengubah penampilannya itu menjadi baru dan muda.


Dia hanya terdiam tanpa mampu berkata apa-apa seraya mengangkat kedua alisnya ke atas dan terkejut kaget sekaligus bingung.


"Kenapa... Kamu kaget atau ketakutan dengan yang aku ucapkan..., tenanglah, buah apel merah itu tidak beracun dan aman untuk dikonsumsi meski berasal dari neraka...", ucapan Bu Amarise terdengar sangat santainya, wanita bergaun merah mengatakannya tanpa ada keraguan sedikitpun.


Aneisha Mihai hanya dapat menelan ludahnya pelan-pelan dan terlanjur melahap habis semua buah apel merah itu, bahkan dia tidak dapat berbicara sepatah katapun.


Saat dia melihat sisa tangkai apel merah yang dia genggam, gadis itu langsung membuangnya jauh-jauh dari dirinya seraya bergidik ngeri membayangkan asal buah apel merah yang dia habiskan.


Dia bermaksud memuntahkan buah apel merah itu tetapi dia tidak bisa melakukannya dan dia hanya bisa pasrah menerimanya, saat mengetahui asal buah apel merah yang segar tadi, yaitu berasal dari neraka jahanam.


"Jangan takut, nak !", ucap Bu Amarise.


"A--apa !? Apa maksudnya, anda memberikan buah apel merah dari n--neraka... Bu Amarise...", ucap Aneisha Mihai terperanjat kaget.


"Yeah... Tidak apa-apa, bukan, meski aku memberikan apapun padamu selama itu aman-aman saja, aku rasa baik untukmu. Yah..., aku rasa demikian", ucap Bu Amarise santai.


"T--tapi, tidak juga berasal dari neraka jahanam, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai sembari menelan ludah.


"Asal itu ada manfaatnya dan memiliki kegunaan yang besar bagimu, aku rasa bukanlah masalah", wanita bergaun merah menyahut.


"Manfaat !?", tanya Aneisha Mihai semakin tidak mengerti.


"Yah...", sahut Bu Amarise singkat.


"Hah !? Apa !?", ucap Aneisha Mihai melongo.


"Tidak usah sepanik itu, dan terima saja semuanya dengan lapang dada, nak", sahut Bu Amarise.


"A--apa maksudnya ini !? A--aku tidak mengerti sama sekali yang anda katakan itu, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.


"Tenanglah, dan yakinlah jika tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu, nak", ucap wanita bergaun merah.


"Ti...tidak...terjadi apa-apa !? B--bagaimana bisa anda berkata demikian, terus terang hamba membuatku ketakutan, Bu Amarise", ucap gadis cantik itu tergagap.


"Percayalah padaku, dan yakinlah terlebih dahulu sebelum aku menerangkan semuanya lebih jelas kepadamu, nak !", ucap Bu Amarise.


"Menerangkan lebih jelas... Kenapa tidak langsung saja anda katakan sekarang, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai seraya mengangkat kedua bahunya ke atas.


"Yah, tunggu kamu selesai memakan buah apel merah itu maka kamu akan mengetahuinya sebentar lagi, nak", ucap Bu Amarise.


"Tuhan... Apa yang sedang dia katakan sebenarnya...!?", ucap Aneisha Mihai pasrah.


Gadis cantik itu semakin tidak mengerti dengan ucapan wanita bergaun merah yang duduk di atas rajang tidurnya yang berada di halaman rumah gadis cantik itu.


Wanita itu hanya memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran tanpa menoleh ke arah dirinya saat wanita bergaun merah itu berbicara dengannya.


Aneisha Mihai semakin tidak mengerti ketika melihat wanita bergaun merah itu tertawa pelan saat memperhatikan burung-burung kenari berterbangan ke arah dirinya.


Gadis cantik itu bertambah putus asa karena Bu Amarise tidak memberikan penjelasan apapun yang dapat dia mengerti.


Wanita bergaun merah terlihat asyik bersenda gurau dengan burung-burung kenari yang ada disekitarnya serta berterbangan bebas serta berkicauan merdu, seolah-olah mengajaknya bermain.

__ADS_1


__ADS_2