Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 48 Di Koridor Sekolah Balet


__ADS_3

Aneisha Mihai melangkahkan kakinya diantara koridor sekolah balet dengan langkah cepat.


Dia bermaksud menuju ke papan pengumuman yang letaknya di sekitar dinding koridor sekolah balet.


Ketika dia melewati sepanjang jalan koridor sekolah balet, Aneisha Mihai melihat sosok orang yang sangat dia kenal dan dia ingat. Dan langkah kaki Aneisha Mihai terhenti kala dia melihat dua orang perempuan berjalan ke arah dirinya.


Kedua perempuan itu tengah bercakap-cakap serius sambil bersenda gurau ketika berjalan bersama-sama.


Mereka berjalan melewati Aneisha Mihai tanpa melihat ke arah dirinya.


Degh...


Tubuh Aneisha Mihai langsung membeku saat dia melihat perempuan yang sangat akrab di ingatannya itu.


Valeska, orang yang telah menyebabkan kematiannya saat dia jatuh dari atas ketinggian tangga rumahnya kala Aneisha Mihai masih berada di kursi roda dan menderita lumpuh.


Mata Aneisha Mihai berubah memerah dan terdiam ketika mengenang peristiwa yang menyakitkan itu dan yang selalu diingatnya dalam pikirannya.


Aneisha Mihai tahu bahwa Valeska tidak akan mengenalinya seperti waktu lima tahun yang lalu saat mereka masih menjadi saudara tiri.


Valeska...


Aneisha Mihai mengucapkan nama itu dalam hatinya yang paling dalam.


Dia langsung membalikkan badannya ke arah Valeska yang berjalan melewati dirinya seraya menatap punggung gadis itu sangat lama.


"Akhirnya kita kembali bertemu Valeska", ucap Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai menatap terus ke arah Valeska hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.


Desir angin menandakan sendu hati Aneisha Mihai saat kenangan-kenangan pahit serta suram itu pergi meninggalkan dirinya yang penuh kesedihan yang mendalam.


Alasan kuat Aneisha Mihai untuk menemukan kebenaran dari kisah di waktu lima tahun itu ketika kematian ayahnya serta dirinya dan berusaha untuk membalaskan dendamnya kepada Valeska serta Izebel yang telah menghancurkan hidupnya.


Dia bertekad untuk mencegah Izebel dan ayah kandungnya kembali bersatu dalam pernikahan karena itulah Aneisha Mihai berusaha mati-matian mempelajari balet kembali agar dirinya dapat mematahkan mantera-mantera jahat milik Izebel.


"Selamat pagi Aneisha Mihai, lama tidak bertemu", sapa seseorang dari arah belakang.


Aneisha Mihai dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara itu. Dan tersentak kaget saat melihat Joshua Abellard telah berdiri disampingnya dengan tersenyum.


"Joshua Abellard", pekik Aneisha Mihai.


"Wah, kamu begitu terkejutnya saat melihatku, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


"Bukan begitu Joshua Abellard, aku hanya merasa sangat senang ketika melihatmu lagi", ucap Aneisha Mihai.


"Sedang apa kamu berada di koridor sekolah ini di pagi hari ?", ucap Joshua Abellard bertanya.


"Oh, aku hendak menuju ke papan pengumuman untuk membaca kabar terbaru dari sekolah balet ini, Joshua Abellard", sahut Aneisha Mihai.


"Emm, tentang beasiswa itu ya", ucap Joshua Abellard sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Iya, aku mendapat kabar dari kepala sekolah mengenai pengumuman beasiswa yang dipajang pada jurnal sekolah hari ini", ucap Aneisha Mihai.


"Aku memang sengaja mengumumkan berita itu sejak kemarin agar para siswa di sekolah balet ini mengetahui siapa yang telah memenangkan hati sang pemilik sekolah balet ini", ucap Joshua Abellard tersipu malu.


"Dan itu adalah aku, bukan, pemenang hati pemilik sekolah balet ini", ucap Aneisha Mihai.


Keduanya hanya tertawa dengan ceria ketika mereka berada di sepanjang jalan koridor sekolah.


"Bagaimana kalau kita melihat pengumuman itu bersama-sama ?", ucap Joshua Abellard.


"Hmmm, baiklah, aku rasa itu idea yang bagus dan kedengarannya cukup menarik", sahut Aneisha Mihai.


"Iya, ya, ya...", ucap Joshua Abellard seraya tertawa.


Aneisha Mihai dan Joshua Abellard lalu bersama-sama pergi menuju ke papan pengumuman yang terletak di koridor sekolah kemudian membacanya.


Wajah Aneisha Mihai terlihat sangat bahagia ketika mengetahui namanya tercantum pada lembar pengumuman yang berisi beasiswa penuh yang diperolehnya dari sekolah balet tempatnya belajar balet.


"Apakah kamu menemui Bu Amarise di kantornya ?", tanya Joshua Abellard.


"Iya, aku menemui kepala sekolah karena dia memanggilku ke ruangan kantornya dan dia juga memberikan kepadaku daftar waktu untuk kita berlatih tarian balet secara bersama-sama, Joshua Abellard", sahut Aneisha Mihai.


"Hmm, benarkah itu ?", ucap Joshua Abellard.


Pria tampan yang sangat karismatik itu memperhatikan Aneisha Mihai yang berdiri dihadapannya sedang mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya.


"Ini daftar waktu kita untuk latihan balet secara duet", ucap Aneisha Mihai.


"Hmm, aku rasa ini sangat bagus sekali dan cocok dengan jadwal sehari-hariku serta tidak satupun hari yang bertentangan ataupun bertabrakan dengan jadwalku yang lainnya", ucap Joshua Abellard.


"Tentu saja, karena Bu Amarise pasti telah menyesuaikan semuanya sesuai jadwal sehari-harimu tanpa terlewatkan satupun", sahut Aneisha Mihai.


"Iya, itu benar sekali, hanya saja yang aku herankan, bagaimana Bu Amarise dapat mengetahui semua jadwal keseharianku padahal yang aku tahu, dia tidak terlalu mengenalku", ucap Joshua Abellard.


"Ehm, aku rasa dia hanya memiliki insting yang kuat saja sehingga semua jadwal latihan kita tidak bertabrakan dengan jadwalmu yang sangat padat itu, Joshua Abellard", sahut Aneisha Mihai buru-buru mengalihkan pikiran Joshua Abellard.


"Hmmm, aku rasa demikian, dan mungkin ini hanya pemikiranku saja", ucap Joshua Abellard.


"Iya...", sahut singkat Aneisha Mihai.


"Bagaimana kalau kita pergi ke ruangan latihan yang ada di lantai atas ruanganku, bukankah sudah dijadwalkan untuk kita memulai latihan bersama", ucap Joshua Abellard.


"Baiklah, aku rasa itu bukan idea yang buruk untuk kita. Ayo, kita segera latihan balet sekarang !", ajak Aneisha Mihai.


Joshua Abellard hanya tertawa pelan ketika melihat Aneisha Mihai yang penuh semangat itu. Dia menjadi terpancing untuk lebih bersemangat dari Aneisha Mihai yang mengajaknya berlatih tarian balet.


Mereka berjalan bersama-sama menuju ke ruangan latihan khusus mereka yang terletak di lantai atas gedung ruangan kerja Joshua Abellard di sekolah balet.


"Lalu kita latihan tarian balet apalagi sekarang, Joshua Abellard ?", tanya Aneisha Mihai sambil berjalan bersama-sama.


"Tarian sepatu merah", ucap Joshua Abellard.

__ADS_1


"Bukankah tarian sepatu merah itu mengandung kisah yang menyedihkan sekali lalu kenapa kamu menginginkan tarian balet sepatu merah itu secara duet, dan setahuku itu ditarikan secara solo", ucap Aneisha Mihai.


"Hanya untuk memilih primadona sekolah balet selanjutnya dan alasanku memilih tema sepatu merah karena disinilah kemampuan menari balet seorang balerina diuji serta dipertaruhkan", sahut Joshua Abellard.


"Apakah aku mampu membawakan tarian balet sepatu merah itu sedangkan kemampuan menariku sangatlah minim sekali !?", ucap Aneisha Mihai.


"Yakinlah bahwa kamu mampu menarikannya dengan sempurna dan yakinlah pada kemampuanmu itu, Aneisha Mihai", sahut Joshua Abellard.


Pria berwajah tampan rupawan itu menatap ke arah Aneisha Mihai seraya tersenyum. Dan perhatian dari Joshua Abellard sangat berarti bagi Aneisha Mihai sebagai bentuk dukungan untuk gadis muda bertalenta itu agar lebih penuh semangat lagi dalam menari balet.


"Mmm, terimakasih atas dukunganmu dan aku harap kamu akan terus bersamaku serta tidak pernah bosan-bosannya untuk menyemangatiku, Joshua Abellard", ucap Aneisha Mihai.


"Tentu, dan aku akan terus bersama denganmu hingga kamu lulus dari sekolah balet ini dan menjadi seorang balerina terkenal, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


"Terimakasih, Joshua Abellard", sahut Aneisha Mihai.


"Sama-sama, dan kehadiranmu disisiku juga merupakan salah satu penyemangat dalam hidupku, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


"Oh iya !?", sahut Aneisha Mihai tersipu malu.


"Mulai sekarang hingga seterusnya, sudilah kiranya kamu menjadi pasangan tari baletku, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


"Iya, aku dengan senang hati menerima ajakanmu menjadi pasangan duet menari balet, Joshua Abellard", ucap Aneisha Mihai.


"Terimakasih, Aneisha Mihai", ucap Joshua Abellard.


Aneisha Mihai hanya menganggukkan kepalanya cepat menandakan bahwa dirinya menerima menjadi pasangan duet tari balet Joshua Abellard.


Keduanya saling berpandangan penuh semangat serta ceria, dan saling memberikan dukungan kuat antara satu dengan lainnya.


Aneisha Mihai tampak tersenyum senang dengan perhatian yang diberikan oleh Joshua Abellard.


"Bagaimana Aneisha Mihai ?", tanya Joshua Abellard.


"Iya, Joshua Abellard", sahut Aneisha Mihai.


"Apakah kamu telah siap menari duet bersama denganku mulai sekarang dan seterusnya, Aneisha Mihai ?", tanya Joshua Abellard.


"Iya, aku siap menari tari balet secara duet bersama denganmu, Joshua Abellard", jawab Aneisha Mihai.


Joshua Abellard mengulurkan kedua tangannya kepada Aneisha Mihai sebagai ajakan untuk menari tari balet secara bersama-sama. Dan disambut ceria oleh gadis muda berparas cantik itu dengan riang gembira.


Sesampainya di ruangan latihan khusus balet yang letaknya di lantai atas, keduanya berdiri cukup lama dan saling berpandangan satu sama lainnya sembari melempar senyuman. Dan keduanya masuk secara bersama-sama ke dalam ruangan latihan tari balet untuk kembali berlatih menari balet.


"Ayo ! Kita menari balet bersama-sama lagi, Aneisha Mihai !", ucap Joshua Abellard berseru lantang dengan senyum cerianya.


"Iya !", sahut Aneisha Mihai ikut tertawa senang.


Terdengar alunan musik berupa opera yang mengisi sudut-sudut ruangan latihan khusus balet saat Aneisha Mihai dan Joshua Abellard berlarian masuk ke dalam ruangan yang luas itu.


Tampak keduanya mulai bersiap-siap menari tarian balet secara duet.

__ADS_1


Mempersiapkan kemampuan mereka dalam menari duet tari balet untuk menghadapi pemilihan primadona sekolah balet yang bertujuan memenangkan jalan utama menuju ke audisi film yang akan digelar pada festival tahun baru nanti.


__ADS_2