
Aneisha Mihai memandang jauh ke arah Beaufort Abellard yang tengah berdiri di dekat papan pengumuman audisi film.
Dia bertanya dalam hatinya tentang kisah keluarga Beaufort Abellard yang baru saja tergambar muncul dalam frame besar tadi.
Gadis muda itu berjalan mendekat ke arah kerumunan para peserta audisi film yang saling berdesak-desakan.
"Beaufort Abellard... Apakah kamu mendengarku...", panggil Aneisha Mihai.
Pria muda itu menolehkan kepalanya ke arah Aneisha Mihai yang merangsek paksa ke dalam kerumunan pendaftar audisi film dan mencoba mendekat ke arah Beaufort Abellard.
"Beaufort Abellard ! Beaufort Abellard !", panggil Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai berusaha masuk menuju ke arah kerumunan tersebut, terlihat ia kesulitan untuk mencapai ke depan.
"Beaufort Abellard ! Apakah kamu mendengarku ?", panggil Aneisha Mihai.
Pria muda bernama Beaufort Abellard hanya mengalihkan pandangannya ke arah Aneisha Mihai yang terus mendesak maju.
Aneisha Mihai terlihat sangat kesulitan untuk bergerak ke depan, langkah kakinya terhalang oleh kerumunan pendaftar audisi film yang mulai berdatangan. Dan membuat Gedung Opera Palais Garnier penuh sesak oleh para peserta audisi film.
"Beaufort Abellard !", panggil Aneisha Mihai sekali lagi.
Tampaknya Beaufort Abellard tidak mendengar panggilan gadis muda itu, pria muda itu hanya menoleh sekilas ke arah belakang tetapi ia tidak melihat keberadaan Aneisha Mihai di sana yang terus memanggil dirinya.
Aneisha Mihai masih berusaha melangkah ke arah depan meski itu tidak mungkin karena para pendaftar audisi film terus berjubel memenuhi ruangan itu.
Gadis muda itu mengangkat kedua tangannya untuk memberi tanda pada Beaufort Abellard, jika dirinya berada di belakangnya.
Namun, sayangnya pria muda itu tidak memperhatikan Aneisha Mihai.
"Rupanya dia tidak melihat diriku di sini, akan lebih baik aku terus maju ke depan supaya ia dapat melihatku", ucap Aneisha Mihai.
"Aneisha Mihai !", panggil suara wanita dari arah belakang.
Aneisha Mihai lantas menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya. Dia melihat wanita tua itu berada di belakangnya dan bergerak maju ke arahnya.
"Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai pelan.
"Kenapa kamu maju kemari, nak ?", tanya Bu Amarise setengah berbisik.
"Aku hendak mendekati Beaufort Abellard untuk mengajaknya keluar dari sini, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.
"Benarkah ? Tapi untuk apa, bukankah lebih baik kita menunggunya di sana saja karena tidak mungkin pria itu melihatmu, nak", ucap Bu Amarise.
"Aku tahu, Bu Amarise, tapi aku ingin mengetahui kabarnya setelah Beaufort Abellard membaca pengumuman audisi film itu", jawab Bo Li.
"Iya, ya, aku mengerti, nak, tapi percuma saja jika kita berada di kerumunan penuh sesak ini, dia tidak mungkin mendengarkan suaramu karena tertutup para peserta audisi film", sahut Bu Amarise.
Bu Amarise menyeret tangan gadis muda itu untuk menjauh dari kerumunan para peserta audisi film yang berjubel memenuhi ruangan lobi Gedung Opera Palais Garnier.
Wanita tua bergaun merah itu memaksa Aneisha Mihai segera keluar dari ruangan tersebut dan menunggu di luar lobi gedung.
"Kita tunggu pria itu di sini saja, nak, sampai ia menyelesaikan sendiri urusannya setelah itu kita pergi bersama-sama, jangan sampai kamu menjauh dariku, kamu paham !", ucap Bu Amarise.
"T--tapi... Bu Amarise...", sahut Aneisha Mihai.
"Jangan membantah, tetap bersamaku, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila kamu jauh dariku, kamu mengerti !?", ucap Bu Amarise.
"T--api, tapi Bu Amarise, bukankah lebih baik kita mengajaknya segera pergi dari sini...", jawab Aneisha Mihai.
"Tidak. Biarkan dia menyelesaikan sendiri urusannya, setelah itu kita bertiga kembali ke gedung usang itu lalu melanjutkan misi kita disini", ucap Bu Amarise.
"Mmmm..., tapi..., tapi...", ucap Aneisha Mihai.
"Ssst ! Dia datang kemari, rupanya ia telah menyelesaikan urusannya dan berhentilah bicara lagi, kamu akan mengacaukannya, nak !", ucap Bu Amarise.
__ADS_1
"Emm !?", gumam Aneisha Mihai.
***
Beaufort Abellard melangkah ke arah mereka, ia melihat kedua perempuan itu dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Kedua perempuan berbeda usia itu buru-buru menjaga sikap mereka saat pria muda tersebut berjalan mendekat dan mereka berdiri menghadap Beaufort Abellard sembari tersenyum.
Beaufort Abellard tidak membalas senyuman mereka, ia hanya berdiri sebentar di hadapan Aneisha Mihai dan Bu Amarise dengan raut wajah muram kemudian ia pergi berlalu dari hadapan keduanya.
Pria itu meninggalkan lobi gedung seraya menundukkan kepalanya tanpa banyak bicara.
"Apa yang sedang terjadi dengannya ? Kenapa dia diam saja ?", tanya Aneisha Mihai tertegun.
"Entahlah, nak !? Aku sendiri tidak mengerti, apa yang terjadi pada pria itu !?", jawab Bu Amarise.
"Mungkinkah dia tidak melihat kita disini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak mungkin jika ia tidak melihat kita berdua disini, karena aku rasa ia hanya terlihat kebingungan saja", jawab nenek tua itu.
"Bagaimana kalau kita menghampirinya saja dan bertanya padanya, Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai menanggapi jawaban wanita tua bergaun merah yang ada disebelahnya.
"Baiklah, mari kita menghampiri dirinya lalu menanyakan gerangan apa yang menyebabkan pria itu tidak bersemangat dari sebelumnya", ucap Bu Amarise menyahut.
"Ayo, Bu Amarise, mari kita pergi dari sini dan menyusulnya !", ucap Aneisha Mihai seraya menggandeng tangan wanita tua itu.
Aneisha Mihai mengajak Bu Amarise segera pergi meninggalkan lobi Gedung Opera Palais Garnier.
Keduanya bergegas mengikuti Beaufort Abellard yang tengah berjalan dengan langkah panjang.
Pria itu seakan-akan tidak memperdulikan lagi hal yang ada disekitarnya dan ia terus melangkahkan kedua kakinya dengan cepat.
"Bu Amarise, perlukah kita menghampiri dia dan bertanya padanya", ucap Aneisha Mihai.
"Terlalu lama, Bu Amarise, karena aku tidak sabar untuk segera menanyakannya", ucap Aneisha Mihai.
"Sabarlah sebentar, jangan sampai ia merasa curiga kepada kita, jika kita tahu sesuatu darinya, nak", ucap Bu Amarise.
"Ini benar-benar membuatku penasaran sekali, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Tenanglah, jangan buru-buru dulu, kalau kita salah melangkah akan semakin beresiko tinggi untuk kita, bukan alih-alih mendapatkan jawaban yang kita cari tetapi kegagalan", jawab wanita tua itu.
"Baiklah, baiklah, mari kita ikuti saja dia dari jauh supaya ia tidak merasa jika kita mengganggu dirinya", ucap Aneisha Mihai.
Bu Amarise menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan gadis muda bernama Aneisha Mihai.
Mereka berdua berjalan di belakang Beaufort Abellard dan mengikuti langkah pria itu dengan tergesa-gesa.
Terlihat wajah muram dari Beaufort Abellard sejak ia pergi dari Gedung Opera Palais Garnier dan sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.
Mereka bertiga kenbali berjalan kaki menelusuri jalan-jalan di area gedung Kota Paris menuju ke gedung usang, tempat Beaufort Abellard tinggal.
Melewati gang-gang kecil yang menghubungkan jalan pintas ke gedung usang tersebut.
Cukup melelahkan bagi mereka karena harus menempuh perjalanan kembali selama dua jam lebih dari Gedung Opera Palais Garnier menuju ke gedung usang yang merupakan gedung sekolah yang sudah tidak terpakai lagi.
Jalan yang harus mereka lalui tidaklah mudah karena mereka harus melewati tangga-tangga yang tinggi serta jalan yang landai dan berbelok-belok untuk sampai di gedung usang itu jika berjalan di jalan pintas.
Beberapa menit kemudian ketiganya telah sampai di sebuah tikungan jalan menuju gedung tersebut.
Tiba-tiba Beaufort Abellard menghentikan langkahnya seraya mendongakkan kepalanya ke atas.
"Apakah kalian tidak lelah terus membuntutiku ?", ucap pria itu.
"Eh... Apakah kamu sedang bertanya kepada kami berdua ?", sahut Aneisha Mihai kaget.
__ADS_1
"Jika aku tidak bertanya pada kalian lantas aku harus mengajukan pertanyaan kepada siapa !?", jawab Beaufort Abellard.
"Oh, tentu saja kami bertanya padamu karena sedari tadi aku melihat kamu tidak bersemangat sejak keluar dari gedung itu", ucap Aneisha Mihai.
"Aku tidak apa-apa... Apakah kalian tidak ingin makan sesuatu ? Karena sebentar lagi aku harus bekerja di sebuah rumah makan dan tidak bisa menemani kalian", ucap Beaufort Abellard.
"Tidak usah repot-repot, kami adalah makhluk dari tarian balet Sylphide yang berasal dari dunia roh, kami tidak terlalu memikirkan makanan karena aku bisa membuatnya sendiri, nanti", ucap Bu Amarise.
"M..., baiklah, aku akan langsung pergi ke tempat kerjaku, kalian bisa pergi kembali ke dunia roh dan tidak perlu mengikutiku lagi", ucap Beaufort Abellard.
Beaufort Abellard lalu melangkah pergi meninggalkan Aneisha Mihai dan Bu Amarise yang tengah berdiri kebingungan dengan perubahan sikap pria itu.
"Ada apa dengannya ? Sekarang dia pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun kepada kita ?", ucap Aneisha Mihai bertanya-tanya.
"Kita lebih baik mengikuti dia ke tempat kerjanya, apakah dia memang bekerja di rumah makan dengan begitu kita akan tahu bagaimana kehidupannya selama ini", ucap Bu Amarise.
"Aneh !? Dia benar-benar aneh dan sangat misterius sekali !?", ucap Aneisha Mihai terheran-heran.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi, nak", sahut Bu Amarise.
"Aku hanya merasa aneh saja karena tadi sebelum pergi ke tempat audisi film, sikap dia baik-baik saja bahkan meminta bantuanku untuk membantunya mendapatkan peran utama di film itu supaya sekolah baletnya terselamatkan tetapi kenapa dia berubah sekarang ?", ucap Aneisha Mihai.
"Nanti kita pasti akan menemukan jawabannya atas perubahan sikapnya itu, dan ia akan mengatakannya sendiri, nak", jawab Bu Amarise.
Wanita tua itu berusaha meyakinkan gadis muda bernama Aneisha Mihai supaya ia tetap tenang dengan perubahan-perubahan yang terjadi di waktu masa lalu yang kini mereka datangi.
Bu Amarise menjaga emosi Aneisha Mihai untuk tidak terpancing dengan kondisi di dunia masa lalu itu, takutnya akan mempengaruhi rencana mereka menemukan petunjuk untuk kembali pulang ke masa depan.
***
Wanita bergaun merah itu mengajak Aneisha Mihai dengan berjalan mengikuti Beaufort Abellard yang sudah melangkah jauh dari mereka berdua.
Keduanya mengurungkan niatnya untuk kembali ke gedung usang itu dan memutuskan berjalan membuntuti Beaufort Abellard.
"Dia berjalan menyeberang ke arah kanan jalan ke sebuah rumah makan di ujung jalan itu, Bu Amarise, tidakkah anda melihatnya", ucap Aneisha Mihai.
"Iya, aku melihatnya, ternyata dia benar-benar bekerja di rumah makan", sahut Bu Amarise.
"Ayo, Bu Amarise ! Mari kita segera menyeberang jalan dan melihatnya !", ucap Aneisha Mihai.
"Tunggu, nak, tunggu sebentar, bagaimana kalau kita tidak usah kesana karena tidak ada yang terlalu penting disana, lebih baik kita kembali ke gedung usang itu saja", ucap Bu Amarise.
"Kenapa ? Mengapa kita kembali, bukankah kita sedang mencari petunjuk lagi, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Bukan seperti itu maksudku, akan membuang tenaga kita jika menyusulnya ke rumah makan itu, karena aku rasa tidak ada petunjuk di tempat itu, mungkin dengan kembali ke Gedung Folies Bergere tempat pertama kali kita datang, kita akan mendapatkan petunjuk disana", jawab Bu Amarise.
Wanita bergaun merah itu mencoba menahan Aneisha Mihai dengan memegangi lengan gadis itu supaya ia tidak pergi ke rumah makan yang ada di seberang jalan.
Menarik gadis itu untuk pergi dari area jalan menuju ke rumah makan. Dan memaksanya mengikuti wanita tua itu.
Aneisha Mihai terlihat kebingungan dengan sikap Bu Amarise yang mengurungkan niatnya menyelidiki Beaufort Abellard di tempat kerjanya.
Dia sendiri tidak menanyakan alasan Bu Amarise mengajaknya pergi dari sana, dan hanya mengikuti langkah kaki wanita tua bergaun merah tersebut.
"Kita akan mencari petunjuk lainnya di Gedung Folies Bergere, karena aku merasa ada sesuatu petunjuk disana", ucap Bu Amarise.
"Petunjuk yang lain !? Apakah itu tentang Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kita akan segera mengetahuinya setelah kita sampai di gedung itu, nak, dan jangan buang-buang waktu kita lagi karena waktu kita tidak banyak", ucap Bu Amarise.
"Bukankah tadi anda menyarankan untuk mengikuti Beaufort Abellard di tempat kerjanya tapi kenapa anda berubah pikiran ?", tanya Aneisha Mihai yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Bu Amarise yang berjalan sangat cepatnya.
"Aku memiliki firasat lain setelah melihat ke dalam pikiran Beaufort Abellard tadi. Dan ketika kita melihat gambaran tentang ibu dari pria itu pada frame ajaib, saat kita berada di gedung tempat audisi film yang akan diadakan nanti", sahut Bu Amarise.
Keduanya tampak berjalan dengan langkah terburu-buru menuju ke sebuah area yang cukup jauh letaknya dari tempat mereka sekarang, yaitu kawasan 32 Rue Richer di Arondisemen ke - 9 Paris, Perancis.
__ADS_1