
Sebuah pengumuman terpasang berdiri di sebelah ruangan lobi Gedung Opera Palais Garnier, tampak beberapa pendaftar berdiri di depan papan pengumuman.
Mereka terlihat sangat serius saat memperhatikan papan pengumuman tersebut, Beaufort Abellard juga berdiri di sana sambil mencatat isi pengumuman di sebuah buku agenda kecil dengan pena.
Pria muda itu sangat serius sekali saat menyalin isi papan pengumuman yang ada di hadapannya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bu Amarise ?'', tanya Aneisha Mihai kepada wanita tua yang ada di sebelahnya.
"Aku belum tahu, Aneisha Mihai, bagaimana caranya kita membantu pria itu !? Karena kita tidak tahu darimana kita harus memulainya", sahut Bu Amarise.
"Bukankah ini audisi ? Jika benar ini adalah sebuah audisi film maka akan ada sebuah pertunjukkan yang harus di tampilkan oleh para peserta audisi tersebut", ucap Aneisha Mihai.
"Iya, itu benar sekali, Aneisha Mihai ! Pasti akan ada sebuah pertunjukkan yang semestinya akan diperagakan oleh setiap peserta pada audisi pemilihan pemain di film itu, nantinya", sahut Bu Amarise.
"Apa kira-kira yang akan di tampilkan oleh Beaufort Abellard pada audisi nanti, lalu bagaimana kita dapat membantunya pada audisi tersebut", ucap Aneisha Mihai.
"Kita akan segera mengetahuinya ketika kita melihat isi pengumuman yang ada di papan dekat lobi gedung ini", jawab Bu Amarise.
"Tapi aku rasa kita tidak dapat mendekati papan pengumuman tersebut, Bu Amarise, jika melihat banyaknya peserta audisi film sedangkan anda tidak diperkenankan menggunakan kekuatan ajaib anda di masa lalu", ucap Aneisha Mihai menatap lurus ke arah papan pengumuman yang di kerumuni oleh para peserta audisi film.
"Tidak juga, aku rasa tidak terlalu besar menggunakan kekuatan ajaib itu, dan tidak ada larangan dalam jumlah yang sedikit", ucap Bu Amarise.
"Oh iya ? Apakah anda bermaksud melakukannya untuk melihat pengumuman tersebut, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Hmmm, kenapa tidak ? Bukankah tidak ada masalah yang berarti jika aku berniat menolong orang ? Bahkan Tuhan tidak akan menghukumku, bukankah ini adalah memang tugas para malaikat ?'', ucap wanita tua bergaun merah sembari tersenyum.
"Yeah, asal tidak bermasalah untuk kita kembali ke masa depan, bolehlah, jika untuk menolong dan beramal baik", sahut Aneisha Mihai seraya mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Hmmm, bijak juga cara kamu berbicara sekarang, dan tidak terdengar lagi keluh kesah darimu, apakah pengalaman ini telah membuatmu berubah, nak ?'', tanya Bu Amarise.
"Sejak aku berjumpa pemilik sekolah baletku itu yaitu Beaufort Abellard, aku memiliki pandangan yang jauh berbeda sekarang, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.
"Benarkah ? Bolehkah aku mengetahuinya ?", tanya Bu Amarise terkejut.
"Pengalaman adalah guru yang terbaik untukku, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai seraya tersenyum pada wanita tua itu.
"Hmm... Guru terbaik, ya ?", ucap Bu Amarise.
"Iya, setiap pengalaman yang aku temui telah mengajarkan padaku untuk lebih bersikap dewasa dan lebih kuat untuk menerima hidupku ini, serta bertekad untuk meraih masa depanku dan mengubahnya dengan semangat yang tinggi", ucap Aneisha Mihai.
"Termasuk menyingkirkan Izebel dan orang-orang di belakangnya ?", ucap Bu Amarise.
"Salah satunya dari tujuan hidupku dan menjadi target utamaku sekarang, membalaskan dendam kepada Izebel yang telah membunuhku dan membuat hidupku sengsara, aku tidak akan menunggu karma datang, karena bukan itu yang aku inginkan, sebab akan terasa sangat mudah bagi mereka jika harus menunggu karma", sahut Aneisha Mihai.
''Bukankah karma akan lebih baik yang menyelesaikannya, nak, daripada kamu harus mengotori kedua tanganmu yang suci itu", ucap Bu Amarise.
"Tidak, itu akan terasa sangat mudah bagi penjahat seperti Izebel jika karma yang harus menyelesaikannya, akan lebih baik jika aku memberinya sebuah pelajaran berharga pada mereka yang telah tega menyakitiku dengan sangat kejam", ucap Aneisha Mihai.
"Kamu akan membunuhnya ?", tanya Bu Amarise.
__ADS_1
"Bukankah aku bangkit kembali dari kematian serta bereinkarnasi untuk satu tujuan, Bu Amarise !?", sahut Aneisha Mihai.
"Aku tahu itu, nak, apa tujuanmu tapi aku tidak tahu bagaimana membantumu membalasnya, yang aku tahu hanyalah menyuruhmu untuk mencegah perbuatan jahat Izebel agar tidak merusak kebahagiaan keluargamu dengan mematahkan setiap sihir jahat yang selalu Izebel lakukan", jawab Bu Amarise.
"Itu lebih dari menyiksanya pelan-pelan, Bu Amarise, bahkan hukuman itu lebih berat daripada sebuah karma bagi penjahat seperti Izebel", ucap Aneisha Mihai.
"Aku datang ke sisimu hanya untuk menemanimu dalam kehidupan kedua setelah reinkarnasi agar kamu tidak menyia-nyiakan reinkarnasimu ini, nak", ucap Bu Amarise seraya mengangkat payungnya ke arah depan.
"Aku tidak punya tujuan hidup, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai menundukkan kepalanya ke arah bawah.
"Bukankah tujuanmu hidup untuk mengubah masa depan agar peristiwa mencekam itu tidak terulang lagi dalam hidupmu", ucap Bu Amarise.
"Aku tidak akan membunuhnya tapi aku akan menyiksanya perlahan-lahan dengan mematahkan setiap sihir yang di gunakan oleh Izebel sehingga ia akan merasa frustasi dan marah karena setiap rencananya selalu gagal, aku akan terus memburunya sampai ia mendapatkan karma itu datang kepadanya, Bu Amarise", jawab gadis cantik itu.
"Aku rasa itu sama dengan mematahkan sayap gagak yang terbang di langit dan menjatuhkannya langsung tepat ke dasar tanah yang keras, sangat mematikan dan penuh siksaan", sahut Bu Amarise seraya menyunggingkan senyumannya.
"Sebuah kematian yang sangat menyakitkan hati, karena tidak mendapatkan keinginan besar yang ingin di raihnya", ucap Aneisha Mihai tertawa pelan.
"Baiklah kalau begitu mari kita wujudkan rencana kita itu dan membuat nenek sihir itu nestapa sampai ujung hidupnya", sahut Bu Amarise sambil tertawa terkekeh.
"Tunggu, Bu Amarise ! Apa yang sedang anda lakukan ?", tanya Aneisha Mihai.
Dia melihat wanita tua bergaun merah itu tengah mengangkat payungnya ke arah atas dan memutarnya cepat.
"Aku hendak menggunakan sedikit kekuatan ajaibku ini untuk melihat isi pengumuman audisi film itu", sahut Bu Amarise.
"Apakah tidak akan ada yang melihat kehadiran kita di tempat ini, Bu Amarise ? Bukankah penampilan kita ini sangat aneh dan mencolok sekali ?", tanya Aneisha Mihai.
"Bagaimana dengan Beaufort Abellard ? Jika anda membuat setiap orang tidak melihat kita, Bu Amarise ?'', tanya Aneisha Mihai.
"Hah, kecuali dia, pria naif itu masih dapat melihat kita bahkan muka kita masih dapat di lihatnya dengan sangat jelas sekali, nak, tenanglah kita akan membantunya tanpa sepengetahuan siapapun dan menyelesaikan semuanya dengan rapi", sahut Bu Amarise.
"Oh baiklah kalau begitu, aku rasa itu ide yang bijaksana sekali, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
''Maka tenanglah, nak ! Aku akan memberi sedikit sentuhan magis di Gedung Opera Palais Garnier ini... Ssst... Diamlah dan tetap di tempatmu !'', sahut Bu Amarise lalu mengayunkan payung berenda miliknya ke arah papan pengumuman yang ada di depannya.
Bu Amarise memejamkan kedua matanya lalu komat-kamit membaca mantera sambil mengarahkan payung berendanya lurus ke depan.
"BLOOOOM !!!'', terdengar suara getaran memenuhi seluruh ruangan Gedung Opera Palais Garnier.
Suasana menjadi gelap ketika Bu Amarise mengayunkan payung berendanya ke arah papan pengumuman tersebut dan sebuah layar besar muncul dari papan pengumuman yang tengah di kerumuni para peserta audisi film.
Layar yang berisi tulisan tentang tema audisi bagi para peserta pemilihan pemeran utama film serta mengenai waktu dan tempat diadakannya audisi film itu terlihat sangat bercahaya terang benderang seperti sedang di sorot cahaya lampu.
Kedua perempuan berbeda usia itu memperhatikan setiap tulisan yang ada di dalam papan pengumuman tersebut dengan sangat serius dan membaca setiap tulisan secara seksama.
"Ini berisi tentang tema audisi film, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Benar, ini mengenai tema yang akan di perlombakan dalam pemilihan pemeran utama film yang berjudul "Les Bourgeois", jadi itu tema filmnya adalah menarikan tarian Les Bourgeois sesuai judul film yang akan di putar nanti", ucap Bu Amarise.
__ADS_1
"Pantas saja kita berada di masa lalu pada tahun 1962, ini ternyata berhubungan sekali dengan sebuah film layar lebar yang akan di pentaskan, dan ada hubungannya dengan pemilik sekolah balet tempatku sekolah, rupanya misi kita ke masa lalu adalah membantu pemilik sekolah yaitu Beaufort Abellard untuk memenangkan pemilihan audisi film itu", ucap Aneisha Mihai.
"Masa depan... Ini ada kaitannya dengan masa depan sekolah balet itu dan nasib ibu pemilik sekolah dan tugas kita adalah mencegah wanita itu untuk menjual organ tubuhnya untuk menyelamatkan sekolah balet, tempatmu menuntut ilmu, nak", ucap Bu Amarise.
"Apa hubungannya dengan ibu pemilik sekolah balet itu, Bu Amarise ?'', tanya Aneisha Mihai.
'Aku sendiri tidak tahu, nak, tapi mari kita coba melihatnya, apa cerita di balik ini semua dan kenapa kita datang ke tempat ini pada tahun 1962, tepatnya lagu itu dirilis dengan tarian tersebut ? Aku juga tidak tahu, tapi kita akan segera mengetahuinya alasan kita datang ke masa lalu, nak", ucap Bu Amarise.
Lagi-lagi terdengar suara keras dari arah payung berenda milik wanita tua bergaun merah yang merupakan malaikat pelindung Aneisha Mihai.
"BLOOOOM !!!'', suara keras itu menggema di salah satu ruangan Gedung Opera Palais Garnier.
Sebuah frame besar tiba-tiba muncul di dinding dekat papan pengumuman tersebut, dan terlihat seorang wanita tengah berada di sebuah ruangan rumah sakit sedang terbaring lemah.
"Siapakah wanita cantik itu, Bu Amarise ?'', tanya Aneisha Mihai penasaran.
"Rupanya ibu dari pria muda itu, nak", sahut Bu Amarise.
"Hmmm... Ternyata dia orangnya yang selalu di pikirkan oleh Beaufort Abellard, sangat cantik sekali dan anggun orangnya lalu kenapa wanita itu terbaring di sana ?'', ucap Aneisha Mihai.
"Lihatlah, dia sedang memandangi sebuah foto seorang pria, mungkinkah itu suaminya ?'', ucap Bu Amarise sembari memicingkan kedua matanya.
"Mirip sekali dengan Beaufort Abellard, dan dua anak kecil laki-laki di dalam foto itu, Bu Amarise !?'', seru Aneisha Mihai.
"Keduanya sangat mirip, apakah kedua anak laki-laki itu kembar ?'', tanya Bu Amarise.
"Itu... Itu..., pria muda yang aku temui di dalam ruangan kantor pemilik sekolah balet itu, laki-laki yang menyebutku dengan sebutan "Bonsai'', pekik Aneisha Mihai.
"Kedua anak kecil itu adalah salah satu kakek dari pria yang kamu temui di ruangan kantor pemilik sekolah balet itu, nak, tapi apa hubungannya dengan kisah ini ?'', ucap Bu Amarise bingung.
"Kakek dari pria pemilik sekolah balet itu ?'', tanya Aneisha Mihai.
"Salah satu di antara kedua anak laki-laki kembar itu, nak, rupanya Beaufort Abellard memiliki seorang saudara laki-laki yang mirip sekali dengannya, tapi kenapa ada dua pemilik sekolah balet ?", tanya Bu Amarise.
"Benar sekali, mengapa ada dua pria dalam foto itu ? Apakah itu foto Beaufort Abellard dengan saudara kandungnya !?'', tanya Aneisha Mihai.
"Tepat sekali, nak, ternyata pria muda itu memiliki seorang saudara laki-laki kembar, tapi kenapa Beaufort Abellard tidak pernah menceritakan perihal saudara laki-lakinya itu kepada kita ? Apa yang sedang dia sembunyikan sebenarnya ?'', tanya Bu Amarise penasaran.
"Aku rasa Beaufort Abellard bukan sengaja menyembunyikan tentang saudara laki-lakinya itu melainkan ia memang tidak ingin menceritakannya pada kita, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.
Saat mereka berdua melihat frame besar yang bergerak hidup seperti monitor televisi yang ada di dinding dekat papan pengumuman audisi film.
Keduanya tampak penasaran dengan isi kisah di dalam frame tersebut, hanya ada sebuah gambaran mengenai seorang wanita muda yang sangat cantik jelita dengan sebuah foto di tangannya.
Setelah itu gambaran pada frame besar lalu menghilang lenyap dari pandangan keduanya ketika menceritakan kisah wanita muda tersebut.
"Hilang ? Kenapa hanya seperti itu cerita yang di tampilkan pada kita lalu apa misi kita sebenarnya ini ? Menolong Beaufort Abellard tetapi kenapa cucu dari saudara laki-lakinya yang menjadi pemilik sekolah balet dan bukannya keturunan langsung dari Beaufort Abellard !? Aku benar-benar tidak mengerti ?", ucap Aneisha Mihai.
"Kita akan mengetahui jawabannya dari kisah ini, apa misteri di balik ini dengan hubungannya kita kembali pada tahun 1962, siapakah sebenarnya yang harus kita tolong !?'', ucap Bu Amarise.
__ADS_1
Keduanya saling berpandangan satu dengan lainnya, dan tatapan penuh bertanya-tanya diantara mereka yang penasaran dengan kisah Beaufort Abellard.