
Aneisha Mihai tersentak kaget ketika melihat kepala manekin itu, wajah dari manekin itu mengingatkan pada seorang wanita yang pernah dilihatnya.
Kepala tiruan berwajah sosok wanita benar-benar membuat gadis muda itu sangat ketakutan sekali.
"Itu..., itu... Bukankah itu wanita muda yang kita lihat pada frame besar pada saat di Gedung Opera Palais Garnier, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai agak gugup.
"Benar yang kamu katakan, nak", sahut Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah itu lalu memalingkan mukanya dari kepala manekin yang ada ditangannya ke arah Aneisha Mihai yang berdiri di belakangnya.
"Ini memang kepala manekin dari wanita yang merupakan ibu dari Beaufort Abellard", ucap Bu Amarise.
"Apa maksud ini semuanya, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai tidak mengerti dengan kejadian yang ia temui itu.
"Aku juga tidak tahu, petunjuk apakah yang sebenarnya ingin ditunjukkan kepada kita melalui kepala manekin ini, nak", kata Bu Amarise.
"Ini sangat sulit untuk ditelaah dan dimengerti, membutuhkan pemikiran yang dalam untuk mencari jawabannya", ucap Aneisha Mihai.
Bu Amarise menoleh ke arah kepala manekin yang berwajah wanita muda yang sangat cantik jelita sedang tersenyum.
Dia mengamati lama kepala manekin dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Ini petunjuk pertama yang kita temukan di dalam Gedung Folies Bergere setelah kita kembali datang ke tempat ini", ucap Bu Amarise.
"Petunjuk pertama !? Apa hubungannya dengan ibu dari Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai semakin tidak mengerti.
"Aku juga tidak paham dengan semua ini tetapi pasti kita akan menemukan banyak petunjuk lainnya di gedung ini, nak", sahut Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah itu kemudian berdiri dan memandangi seluruh ruangan Gedung Folies Bergere yang tampak lenggang.
Hanya terlihat guratan cahaya di sisi tembok dekat jendela yang membayang.
Pandangan mata Bu Amarise berhenti pada sosok badan manekin tanpa kepala yang berdiri terpajang di sudut ruangan gedung dengan posisi adage dalam tari ballet.
"Itu dia pasangan kepala manekin ini, aku akan memasangnya kembali pada badan manekin, mungkin kita akan memperoleh sebuah petunjuk baru", ucap Bu Amarise.
"Badan manekin apakah itu, Bu Amarise !?", tanya Aneisha Mihai kebingungan.
"Lihatlah di sudut ruangan gedung yang ada disana, nak !", jawab Bu Amarise seraya menunjuk kesebuah tempat yang tidak terlalu mencolok dari ruang di Gedung Folies Bergere ini.
"Mmm... Iya !? Apa ?", tanya Aneisha Mihai.
Gadis muda itu melirik ke tangan wanita tua bergaun merah itu kemudian melihat ke sebuah sudut ruangan gedung.
Betapa terkejutnya Aneisha Mihai ketika melihat sosok badan tanpa kepala yang tengah berdiri dalam posisi adage.
"Itu ! Apakah itu manusia ?", tanya Aneisha Mihai kaget.
"Bukan, itu manekin, tiruan, patung peraga adalah boneka manusia seluruh tubuh atau setengah badan yang dipakai sebagai model untuk memperagakan busana", sahut Bu Amarise.
"Agak sedikit menyeramkan sekali jika dilihat benar-benar, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai merinding.
"Tidak usah takut itu hanya sebuah boneka peraga tiruan manusia yang meniru ibu dari Beaufort Abellard, nak", ucap Bu Amarise seraya menyunggingkan senyumannya.
"Huft !?", hela nafas Aneisha Mihai. "Hampir copot jantungku ini melihat manekin itu karena boneka peraga itu sangat mirip sekali dengan aslinya seperti manusia yang sebenarnya", sambungnya kembali.
"Memang benar, boneka peraga itu benar-benar terlihat sangat hidup seperti aslinya, bahkan jika dilihat secara sekilas pasti orang akan mengira itu adalah manusia", ucap Bu Amarise sambil berjalan.
"Tunggu, Bu Amarise !", teriak Aneisha Mihai tertahan.
"Ya !? Ada Apa, nak ?", tanya Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah menghentikan langkah kakinya sembari menoleh ke arah gadis muda dengan gaun balet berwarna merah serta sepatu balet berwarna senada serta kaos kaki putih tipis berhias bola-bola lembut yang membalut sepasang kaki jenjang gadis muda bernama Aneisha Mihai.
Mengenakan mahkota kecil di atas kepalanya dengan rambut berwarna merah yang tersanggul rapi.
"Apakah anda akan menghampiri manekin itu, tidakkah itu terlalu berbahaya, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Aku rasa tidak, nak", sahut Bu Amarise.
__ADS_1
"Anda yakin, seyakin-yakinnya, tidak akan ada masalah yang akan timbul dari manekin itu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai ragu.
"Yakin, jangan takut, percayalah, jika kita tidak mencobanya maka kita tidak akan menemukan sesuatu yang lain dan kasus tidak akan berkembang sehingga kita tidak menemukan apapun dan tidak dapat pulang tepat waktu, nak", ucap Bu Amarise.
"Mmm... Baiklah...", ucap Aneisha Mihai setengah bergumam.
"Aku akan memasang kepala manekin ini di badan boneka peraga itu, untuk memastikan saja, apakah benar ini kepala dari manekin itu", ucap Bu Amarise.
Wanita tua itu memandang lurus ke arah manekin yang berdiri dengan posisi adage di sudut ruang gedung yang tampak sepi serta sedikit remang.
Hanya ada sedikit cahaya menerangi sudut ruang dimana badan manekin itu berada.
"Apa ? Memastikan !?", tanya Aneisha Mihai.
"Benar, aku hanya ingin memastikan kemungkinan yang akan terjadi setelah kepala manekin ini terpasang di badan manekin itu", jawab Bu Amarise sambil melanjutkan langkah kakinya yang terhenti.
"Apa yang terjadi ? Anda mengambil resiko yang sangat besar, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai terkejut.
"Yah, hanya itu satu-satunya cara untuk mengetahui misteri di balik kisah Beaufort Abellard agar kita bisa kembali pulang ke masa depan secepatnya, nak", sahut Bu Amarise.
"Aku mengerti... Tapi apakah ini tidak terlalu beresiko...", ucap Aneisha Mihai.
"Tapi jika kita tidak mencobanya maka kita tidak mendapatkan petunjuk apapun dan bagaimana caranya kita memecahkan misteri ini, nak !?", ucap Bu Amarise.
"Yah... Aku dapat memahaminya, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.
***
Tampak wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya telah berdiri tepat di depan manekin tersebut.
Wanita itu memandangi badan manekin tanpa kepala sembari memegang kepala manekin berwajah wanita muda nan jelita, berpikir sejenak kemudian mengangkat kedua tangannya yang tengah memegang kepala manekin.
Sebelum wanita tua itu memasangkan kepala manekin di atas badan manekin, tiba-tiba Aneisha Mihai memegangi tangan wanita tersebut.
"Apakah anda sangat yakin, Bu Amarise ? Tidakkah ini sangat beresiko tinggi !?", tanya Aneisha Mihai dengan tatapan tajam.
"Hmmm...", desah gadis muda itu.
"Serahkan semuanya dengan hati penuh keyakinan dan percayalah kita akan segera menyelesaikan misteri ini agar kita dapat pulang ke rumah, nak", ucap Bu Amarise seraya tersenyum.
"Baiklah, aku percaya padamu, Bu Amarise" ucap Aneisha Mihai.
Gadis muda dengan rambut merahnya lalu melepaskan tangannya dan membiarkan wanita tua itu memasang kepala manekin di atas badan boneka peraga.
"Kepala manekin ini telah terpasang dan nampaknya tidak terjadi apa-apa, bukan !?", ucap Bu Amarise.
Pada saat wanita tua bergaun merah serta topi merah berenda itu telah meletakkan kepala manekin di badan manekin yang berbusana gaun balet merah serta melepaskan kedua tangannya.
Muncul kilat-kilat lampu yang sangat menyilaukan mata kedua perempuan berbeda usia itu.
"Apa ini ? Cahaya apakah ini, sangat menyilaukan !?", pekik Aneisha Mihai sambil menutupi kedua matanya dengan kedua tangan.
"Tenanglah, nak ! Dan berpeganganlah kepadaku dengan erat-erat !", ucap Bu Amarise.
"Iya, bu, aku telah berpegangan pada anda", sahut Aneisha Mihai.
"Jangan kamu lepaskan pegangan tanganmu dariku, nak !", ucap Bu Amarise mengingatkan.
"Baik, bu", ucap Aneisha Mihai.
Kilat cahaya itu sangat menyilaukan mata bahkan terasa sangat panas sehingga Aneisha Mihai tidak mampu menahan linangan air matanya.
Keduanya terlihat panik saat kilatan-kilatan lampu itu terus menyala ke arah mereka. Dan mereka berusaha menghalangi kilatan itu agar tidak langsung mengenai kedua mata mereka.
"Kenapa kilatan-kilatan lampu ini tidak berhenti-henti ? Dan ini sangat panas sekali, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Aku akan mencari tombol untuk menghentikan kilatan itu, nak", ucap Bu Amarise.
"Tombol ? Tombol apa, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
__ADS_1
Saat Bu Amarise hendak mencari tombol untuk menghentikan kilatan-kilatan lampu yang keluar dari badan manekin balerina yang mirip ibu dari Beaufort Abellard.
Tiba-tiba kilatan lampu itu padam dan terdengar suara alunan musik dari piano yang dimainkan seseorang di dalam ruang Gedung Folies Bergere.
"Musik ? Dari mana datangnya suara musik itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai terkejut.
"Aku tidak tahu darimana datangnya suara musik itu, nak", sahut Bu Amarise.
"Musik apakah ini ? Dan apa yang sedang terjadi di tempat ini, semuanya tampak gelap, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ini musik klasik yang biasa mengiringi tarian balet yang diciptakan pada tahun 1791, The Enchanted Flute dengan iringan musik dari Wolfgang Amadeus Mozart", sahut Bu Amarise seraya menoleh ke arah sekeliling ruangan Gedung Folies Bergere.
"The Echanted Flute ? Aku baru mendengarnya...", ucap Aneisha Mihai.
"Kamu baru mendengarnya karena kamu baru menjalani reinkarnasi dalam kehidupan keduamu sehingga ingatan yang melekat di kepalamu sebagian hilang", ucap Bu Amarise.
"Apakah itu sangat mempengaruhi, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tentu saja, karena setiap tubuh akan kembali beradaptasi setelah mengalami kehidupan kedua sebab semua yang ada dalam hidupnya secara total semua berubah, kembali ke nol, nak", ucap Bu Amarise.
"Karena itulah aku tidak terlalu mengingat kenangan di masa laluku dan yang aku ingat hanyalah ingatan tentang akhir kematianku", ucap Aneisha Mihai.
"Benar sekali, hanya ingatan terakhir yang akan tersisa pada saat kamu kembali hidup setelah reinkarnasi itu tetapi ingatanmu akan kembali secara perlahan-lahan, nak", sahut Bu Amarise.
"Benarkah itu !?", gumam Aneisha Mihai.
"Percayalah, nak", ucap Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah itu menepuk halus pundak Aneisha Mihai yang sedang berdiri tertegun.
Aneisha Mihai hanya tersenyum menanggapi perhatian Bu Amarise, tetapi saat ia melihat ke arah manekin itu, wajah gadis muda itu langsung berubah dengan mata terbelalak, ia langsung menjerit keras.
"AAAAAAAAAHHHH...!!!"
"Aneisha Mihai ? Ada apa, nak ?", tanya Bu Amarise panik serta kebingungan dengan sikap gadis muda itu.
"M--manekin..., manekinnya..., hilang !!!!", sahut Aneisha Mihai.
"Manekin..., hilang !?", ucap Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya lalu menolehkan kepalanya ke arah manekin tetapi ia tidak menemukan manekin wanita itu.
Boneka peraga yang tadi terletak di sudut ruangan Gedung Folies Bergere sudah tidak ada di tempat asalnya, manekin itu menghilang dari sana.
"Ya Tuhan... Apa yang sedang terjadi ini ?", tanya Bu Amarise pada dirinya sendiri.
"Lihatlah, manekin..., manekin itu lenyap !?", ucap Aneisha Mihai gugup.
"Benar, nak, lalu kemana perginya manekin itu dan kenapa aku tidak melihatnya dari pandangan malaikatku ?", kata Bu Amarise.
Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang gedung itu dengan diiringi musik orkestra karya komposer Wolfgang Amadeus Mozart yang mengalun indah, mengisi seluruh ruangan Gedung Folies Bergere.
Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk..., suara langkah kaki memasuki ruangan tersebut, wanita itu menarikan tarian balet dengan kedua kakinya memainkan peranannya silih bergantian di satu titik pada saat membuka tarian baletnya.
"Itu..., itu..., itu s--siapa... ???", tanya Aneisha Mihai gemetaran hebat.
"Siapa ?", sahut Bu Amarise balik bertanya.
Bu Amarise menolehkan kepalanya kearah datangnya suara langkah kaki yang sedang menari dengan iringan musik klasik berupa orkestra.
Dia melihat seorang wanita muda berparas jelita tengah menari sembari memasuki ruang gedung yang dihiasi oleh lampu sorot yang biasa dipakai pada panggung pertunjukkan balet.
"Bukankah itu manekin yang tadi ada di sudut ruang gedung ini ?", tanya Bu Amarise tercengang.
"Ha..., iya..., iya, itu benar sekali..., itu manekin tadi yang mirip dengan ibu Beaufort Abellard...", sahut Aneisha Mihai terbata-bata.
"Manekin itu hidup ? Bagaimana bisa ? Apa yang sebenarnya terjadi pada kisah Beaufort Abellard ini ? Misteri apakah yang harus terpecahkan ?", tanya Bu Amarise.
"Tuhan..., ini..., i--ni..., benar-benar tampak nyata sekali !?", ucap Aneisha Mihai dengan mimik ketakutan serta tubuh berkeringat dingin saat melihat manekin dari wanita muda berparas jelita itu tengah bergerak menari balet di ruangan Gedung Folies Bergere dan hidup seperti manusia.
__ADS_1