Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 44 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Aneisha Mihai berlari cepat di koridor sekolah balletnya dengan langkah terburu-buru karena di terlambat lima menit untuk masuk ke kelas tari baletnya.


Tepat di belokan menuju kelas tari baletnya tanpa sengaja gadis berparas cantik itu menubruk seseorang yang ada didepannya sangat kerasnya sehingga menyebabkan keduanya terjatuh ke lantai bersama-sama.


BRUK !


Keduanya terbaring di atas lantai dan Aneisha Mihai tepat berada di atas tubuh seseorang yang ditubruknya keras.


"Aduh !", ucap Aneisha Mihai mengeluh.


"Hai bonsai ! Turun dari tubuhku, kamu pikir ini kasur !", teriak seseorang.


"Aduh !? Iya, ya ?", sahut Aneisha Mihai.


Gadis cantik itu lalu beranjak duduk sembari memegangi kepalanya yang terbentur dagu orang itu.


"Bonsai !?", batin Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai baru menyadari orang yang ditubruknya itu ketika dia mengingat seseorang yang pernah memanggil dirinya seperti itu.


Dia dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah suara itu. Dan benar dugaannya, jika orang itu adalah pria yang pernah dia temui di ruangan pemilik sekolah balet.


"Apakah dia cucu Beaufort Abellard ataukah cucu Benjamin Abellard !?", ucap Aneisha Mihai tertegun.


Pria berwajah sangat tampan itu beranjak duduk sembari sekilas melirik gadis berparas cantik di depannya.


Dia lalu berdiri cepat seraya merapikan pakaiannya yang kusut.


"Lihatlah yang kamu lakukan ini ! Pakaianku menjadi kusut seperti ini !", ucap pria yang tidak diketahui namanya itu.


"Beaufort Abellard...!?", ucap Aneisha Mihai termangu.


"Ehk !? Apakah kamu mengenal kakekku ?", tanya pria itu terkejut.


Dia menoleh ke arah Aneisha Mihai sambil mengerutkan dahinya dengan tatapan penasaran.


Aneisha Mihai buru-buru beranjak dari lantai tetapi tiba-tiba pria itu membantunya berdiri dan menunjukkan perhatiannya kepada gadis cantik itu.


"Maaf, aku tidak sengaja menubrukmu. Apakah kamu baik-baik saja ?", tanya pria itu.


"Iya, aku tidak apa-apa", sahut Aneisha Mihai. "Terimakasih", sambungnya lagi.


"Aku tadi mendengar kamu menyebut nama kakekku... Apakah kamu mengenalnya ?", tanya pria itu.


"Maksudmu ?", tanya balik Aneisha Mihai berpura-pura pikun.


"Tadi... Kamu memanggil nama Beaufort Abellard dengan sangat jelas, itu nama kakekku, kamu kenal kakekku ?", sahut pria itu sedikit ramah.


"Beaufort Abellard, mmm... !?", sahut Aneisha Mihai.


"Apa yang harus aku katakan padanya jika aku benar-benar mengenal Beaufort Abellard sang danseur hebat itu !? Bagaimana ini aku menjawabnya !?"


Aneisha Mihai kebingungan sendiri dan berpikir cepat saat tanpa dia sadari telah menyebut nama pria asing itu yaitu Beaufort Abellard tanpa sengaja.


Gadis muda itu mundur pelan berusaha untuk menghindar dan bersiap-siap lari dari pria tampan itu karena dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan pria yang baru dia temui itu.


Aneisha Mihai hanya tersenyum panik seraya pelan-pelan melangkahkan kakinya ke belakang.


"Tunggu ! Tunggu ! Jangan takut padaku, aku tidak akan memarahimu !", ucap pria tampan itu berusaha menahan gadis cantik itu dengan memegangi tangannya.


"Aku... Aku hanya mendengarnya dari teman nenekku...", sahut Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh pria tampan dihadapannya dan dia menemukan idea bahwa dia mendengar nama Beaufort Abellard dari teman neneknya setelah dia teringat dengan Bu Amarise.


"Oh begitu, jadi kamu mendengarnya dari nenekmu, maksudku teman nenekmu. Apakah mereka berteman atau saling kenal ?", tanya pria tampan.


Aneisha Mihai terdiam ketika mendengar ucapan pria itu dan dia tidak tahu harus berbohong atau mengatakan dengan jujur.


Pria itu lalu menjulurkan tangannya ke arah Aneisha Mihai hendak menyalami gadis cantik itu.


"Perkenalkan namaku Joshua Abellard, pemilik sekolah baru ini", ucap pria itu mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Aneisha Mihai tercengang mendengar nama belakang pria tampan itu lalu dengan terburu-buru dia membalas menyalami pria yang bernama Joshua Abellard.


Dia berkata sembari mengenalkan namanya kepada pria itu.


"Namaku Aneisha Mihai, senang berkenalan denganmu", sahut Aneisha Mihai.


"Apa kamu hendak mengikuti kelas tari balet ?", tanya Joshua Abellard.


Pria tampan itu melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya sambil memperhatikan Aneisha Mihai.


"Tapi ini sudah telat dua puluh menit...", ucap Joshua Abellard.


"Iya, aku hendak ke kelasku sepertinya aku terlambat dan tidak mungkin untuk diijinkan masuk ke kelas", sahut Aneisha Mihai.


"Hmm... Bagaimana kalau kita pergi ke ruangan tari ?", tanya Joshua Abellard.


"Ruangan tari !?", sahut Aneisha Mihai.


"Yeah, untuk latihan tari balet tentunya", ucap Joshua Abellard.


"Emm !?", gumam Aneisha Mihai tampak ragu.


"Ayo ! Jangan menunda waktu untuk latihanmu, Aneisha Mihai !", ucap Joshua Abellard berseru lantang.


"Ehk !? Bagaimana !? Oh, iya, iya, aku akan pergi bersamamu", sahut Aneisha Mihai cepat.


Terlihat keduanya berlarian kecil menuju ke suatu tempat di gedung sekolah ballet yang terletak di lantai atas.


Mereka menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai atas dengan langkah lincah mereka, untuk menuju lantai atas mereka harus melewati tujuh belas trap tangga melingkar dari beton.


Keduanya sampai di lantai atas kemudian berlarian menuju ruangan latihan, mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat luas dan bersih.


Ruangan latihan tari balet memiliki dinding yang sekelilingnya dilapisi kaca yang sangat bening dengan lantai kayu yang tertata harmonis.


Aneisha Mihai melangkahkan kedua kakinya saat memasuki ruangan tari yang luas serta terasa sejuk itu, dia melihat di ruangan luas itu terdapat sebuah piano berukuran besar dengan warna putih terpajang di sudut ruangan.


Sebuah alat musik gramofon juga terlihat berada di atas sebuah meja kayu mahoni putih disamping piano berwarna putih.


Gramofon yang pernah dia lihat sebelumnya ketika dia mengunjungi Paris pada tahun 1962 bersama Bu Amarise pada saat mereka berdua bertemu pertama kalinya dengan Beaufort Abellard, sang danseur terkenal itu.


"Tempat ini indah sekali, Joshua Abellard", ucap Aneisha Mihai.


Gadis yang berparas sangat jelita seperti ibunya itu berjalan mendekati jendela kaca berukuran sangat lebar yang berada membentang disamping dinding ruangan tari balet.


Panorama pemandangan gunung yang sangat jauh dari mata terlihat indah sekali apabila dilihat dari arah jendela ruangan tari yang lebar dan besar itu, ditambah lagi dari arah bawah lantai atas terlihat pemandangan cantik berupa halaman luas serta dihiasi pepohonan rindang.


Aneisha Mihai berdiri termenung menghayati keelokan pemandangan ciptaan Tuhan yang terbentang luas dari pelupuk matanya.


"Apakah kamu menyukai tempat ini, Aneisha Mihai ?"


Tiba-tiba suara Joshua Abellard yang terdengar dari arah belakang gadis cantik itu membuyarkan lamunan Aneisha Mihai.


Dia lalu menolehkan kepalanya ke arah Joshua Abellard serta tersenyum.


"Siapa yang tidak akan mengagumi keindahan pemandangan di ruangan ini, bahkan bisa membuat yang melihatnya lupa segalanya", sahut Aneisha Mihai.


"Yah, aku tahu itu karena alasan klise itulah yang menyebabkan aku melarang ruangan tari ini untuk dipakai para siswa sekolah balet", sahut Joshua Abellard.


"Kenapa kamu melarang kami menggunakan ruangan ini !? Bukankah tempat ini sangat indah sekali dan sangat menyenangkan lalu untuk apa kamu tidak mengijinkan kami memakainya ?", ucap Aneisha Mihai bertanya tidak mengerti.


"Alasannya cukup sederhana", sahut Joshua Abellard.


"Apa ?", tanya gadis cantik itu.


"Bukankah kamu sudah mengatakannya tentang keindahan tempat ini tadi", sahut Joshua Abellard.


Pria yang sangat tampan bernama Joshua Abellard itu sambil berkata dengan pandangannya ke arah luar jendela lebar yang ada dihadapan mereka berdua.


"Kamu takut kalau siswa-siswa di sekolah balet ini tidak berkonsentrasi dengan tarian mereka karena terpengaruh suasana indah di tempat ini", ucap Aneisha Mihai seraya melirik ke arah Joshua Abellard.


"Tidak juga", sahut Joshua Abellard singkat.

__ADS_1


"Lalu... Apa alasannya ?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku tidak ingin membuat orangtua mereka semua kecewa karena anak-anak mereka gagal di sekolah balet ini", sahut Joshua Abellard.


Joshua Abellard tersenyum kepada Aneisha Mihai yang berdiri dihadapannya dengan tatapan mata penuh tanda tanya.


"Oh begitu !?", ucap gadis cantik itu.


"Hmm...", gumam Joshua Abellard menundukkan kepalanya.


Aneisha Mihai semakin penasaran dengan sikap yang ditunjukkan oleh pria tampan itu, dia terlihat sedikit muram ketika dia menundukkan kepalanya ke bawah lantai.


"Apa kamu baik-baik saja, Joshua Abellard ?", tanya Aneisha Mihai dengan masih memegangi tas miliknya yang dia sampirkan di atas pundaknya.


"Iya..., tapi tidak juga, menurutmu...", sahut Joshua Abellard.


"Maksudmu Joshua Abellard, aku tidak benar-benar memahami maksud ucapanmu itu, katakanlah ! Ada apa yang sebenarnya denganmu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak apa-apa", sahut Joshua Abellard.


Pria tampan itu lalu membalikkan tubuhnya menuju ke arah meja mahoni yang di atasnya terdapat alat musik gramofon.


Joshua Abellard memutar alat musik gramofon dengan meletakkan piringan hitam diatasnya, kemudian terdengar suara lembut berupa orkestra mengalun indah dari gramofon.


Dia lalu mengganti sepatu kulitnya dengan pointe shoes berwarna putih miliknya.


Joshua Abellard melepas jasnya, meletakkannya disamping alat musik gramofon diatas meja.


"Ayo !", ucap Joshua Abellard.


Pria tampan itu memandang Aneisha Mihai seraya mengulurkan kedua tangannya kepada gadis cantik yang ada di depannya.


Aneisha Mihai dengan tergesa-gesa mengganti sepatunya dengan pointe shoes yang dia taruh di dalam tas.


Memasangkan pointe shoes berwarna merah ke arah kedua kakinya yang terbungkus kaus kaki panjang tipis sembari melilitkan pita yang ada di sepatu baletnya kemudian mengikatnya erat.


Dia berdiri sembari menghentakkan kedua kakinya ke atas lantai kayu lalu merenggangkan badannya.


Tak lama kemudian dia bergerak dengan langkah kaki berjinjit pelan ke arah Joshua Abellard dan menyambut uluran kedua tangan pria tampan itu.


"Sudikah kiranya kamu menerima ajakanku untuk menari denganku, Joshua Abellard ?", ucap Aneisha Mihai saat menggenggam erat tangan Joshua Abellard dengan menatapnya lurus.


Joshua Abellard tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aneisha Mihai kepadanya yang menyambut ajakan menari duet dengannya.


Dia menganggukkan kepalanya kemudian membawa Aneisha Mihai menari balet di tengah-tengah ruangan yang luas itu.


"Dengan senang hati, nona cantik", sahut Joshua Abellard dengan hati gembira.


Terlihat Aneisha Mihai dan Joshua Abellard melangkahkan kedua kaki mereka beriringan menarikan tarian balet mereka serta mengkombinasikan seluruh gerakan balet yang mereka miliki.


Terdengar suara langkah kaki keduanya menggema di ruangan tari yang sangat luas itu.


Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk...


Begitulah kedua kaki mereka berdua antara Aneisha Mihai berserta Joshua Abellard saat memainkan peranannya secara bergantian di satu titik sebagai pembuka atraksi tarian balet mereka.


Suara lembut dari alat musik gramofon yang mengalun indah mengiringi langkah-langkah tarian balet Aneisha Mihai dan Joshua Abellard.


Bergerak lincah dengan lemah gemulai memadukan gerakan balet mereka secara berirama mengikuti suara musik berupa orkestra, dan mereka membawakan gerakan-gerakan tarian balet mereka dengan sangat indahnya serta keduanya terlihat serasi serta harmonis.


Pada hentakan musik tertentu, gerakan balet mereka memberikan tekanan maksimal pada lantai ruangan agar keduanya dapat melayang dengan indahnya di udara, lalu berputar cepat selaras dengan nada dan irama musik dari gramofon.


Keduanya menari dengan sangat kompak serta terlihat tubuh mereka berdua melayang seolah-olah tengah terbang.


Sesekali satu kaki mereka terlihat ditekuk seperti melakukan plie, sedangkan satu kaki mereka lagi di posisi pointe yaitu berdiri tegak lurus di ujung kaki.


Mereka berdua juga mengkombinasikan gerakan balet mereka dengan mengutamakan keseimbangan tubuh mereka terutama di bagian punggung mereka.


Joshua Abellard lalu memutar tubuh Aneisha Mihai dan mengangkatnya ke atas pundaknya dengan posisi tetap menjaga keseimbangan kedua kakinya saat mengarahkan salah satu kakinya ke belakang sedangkan Aneisha Mihai melakukan dengan gerakan merentangkan kedua tangannya ke arah depan dan belakang bersama-sama.


Gerakan tarian balet milik mereka berdua terlihat sederhana, indah, dan kuat.

__ADS_1


Tarian duet yang mengkombinasikan seluruh gerakan tari balet menjadi sebuah tarian dengan langkah-langkah kaki yang harmonis tercipta pada tarian mereka.


Suara musik lembut dari gramofon berhenti berputar di ruangan tari yang luas dengan lantai kayu parket. Dan secara bersamaan berhentinya musik, maka tarian balet duet yang dibawakan oleh Aneisha Mihai dan Joshua Abellard turut terhenti dan keduanya mengakhiri tarian balet mereka dengan manisnya.


__ADS_2