
Aneisha Mihai mengintip pria asing yang ada di hadapannya itu tanpa berkedip, gadis muda itu benar-benar penasaran dengan pria tersebut.
Dia menolehkan kepalanya dan memandang wanita tua bergaun merah yang berada disampingnya.
"Anda sedang apa bu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Apa yang kamu tanyakan ?", tanya Bu Amarise balik bertanya.
"Mengamati ?", sahut Aneisha Mihai. "Anda ?"
"Apa aku terlihat sedang memasak ? Tentu saja, kita sedang mengamati pria asing itu !? Tapi bagaimana caranya kita menemukan petunjuk itu !?", ucap Bu Amarise.
"Bukan seperti itu... Kenapa anda membuka payung berenda anda ? Apa ada yang penting ?", tanya Aneisha Mihai.
"Oh ? Aku hanya berjaga-jaga seandainya pria asing itu tiba-tiba melihat kita, maka kita bisa cepat pergi dari tempat ini dan kabur !", jawab Bu Amarise.
"Kabur ? Kabur kemana ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kabur sejauh mungkin dan menghilang dari sini sejauhnya !?", sahut wanita tua itu.
"Bukankah anda mengatakan kalau anda tidak boleh menggunakan keajaiban di masa lalu dalam jumlah yang besar ?", tanya Aneisha Mihai.
"Eh !? Apa aku pernah mengatakannya ?", sahut Bu Amarise.
"Tidak ! Anda tidak mengatakannya hanya anda berkata pada ku kalau tadi kita harus berhati-hati dan tidak tampak mencolok ? Tanpa sentuhan keajaiban", ucap Aneisha Mihai.
"Oh Iya ? Apakah aku pernah berkata seperti itu ?", tanya Bu Amarise.
"Mungkin...!?", sahut Aneisha Mihai.
"Tapi... Aku pikir-pikir lagi sebaiknya aku lebih berjaga-jaga untuk hal yang tidak kita inginkan terjadi, terutama jangan sampai ada yang melihat kita disini dan mengetahui kalau kita datang dari masa depan", ucap Bu Amarise.
"Baiklah, aku pikir juga seperti itu, lebih baik kita mengantisipasi hal-hal buruk terjadi nanti", jawab Aneisha Mihai.
"Hmm..., Itu benar ! Kita harus lebih berhati-hati !", ucap Bu Amarise.
"Benar !", sahut Aneisha Mihai.
"Tapi pria asing itu tidak melihat kita di gedung tadi, apakah dia berpura-pura tidak melihat kita atau memang tidak menyadarinya ?", tanya Bu Amarise.
"Bagaimana caranya kita memastikannya jika anda tidak boleh menggunakan keajaiban anda ?", tanya Aneisha Mihai.
"Itu dia, aku juga tidak tahu !? Apa yang harus kita lakukan ?", sahut Bu Amarise.
"Bagaimana jika kita melemparkan sesuatu agar perhatiannya teralihkan pada kita ?", ucap Aneisha Mihai.
"Sama saja kita mengantar nyawa kita jika dia benar-benar melihat kita dan seandainya ia tahu kita disini sedang melihatnya, maka kita akan tertangkap", ucap Bu Amarise.
"Oh iya, aku baru sadar itu", sahut Aneisha Mihai sambil menepuk dahinya.
"Lebih baik kita dengan serius mengamatinya dari sini saja dan menjaga jarak dari pria asing itu agar tidak tertangkap", ucap Bu Amarise dengan tatapan seriusnya.
***
Tiba-tiba terdengar suara mengalun dari alat musik Gramofon yang diputar oleh pria asing itu, lagu yang asing ditelinga Aneisha Mihai.
Pria asing itu mulai menggerakkan bagian tubuhnya perlahan-lahan. Dia bergerak melakukan gerakan pointe work atau en pointe yaitu berjinjit hingga ujung jari kaki sembari melakukan gerakan-gerakan balet.
Gerakannya sangat halus dan ia menggunakan langkah-langkah pendek di atas jari kaki.
Dia berputar cepat di ujung kakinya dan bergerak dengan melakukan releve yang sempurna.
Gerakan en pointenya sangat sempurna kemudian ia melakukan saute yang indah, saat ia melakukan plie dengan menekuk kedua lutut, menekan tumitnya ke lantai aula, lalu ia mengerahkan kekuatan otot kakinya untuk mendorong tubuhnya ke atas supaya ia bisa melompat lebih tinggi.
Pria asing itu melakukan saute dan mendarat dalam posisi plie sambil bergerak mengalir dan ia mengkombinasikan saute nya dengan posisi yang lain.
__ADS_1
Dia melakukan en pointe dengan saute arabesque untuk melakukan lompatan yang khusus dan sempurna.
"Tarian balet apakah yang sedang ia tarikan ?", ucap Aneisha Mihai.
"Sepertinya ia sedang menari tarian La Sylphide dengan iringan musik orkestra yang di rekam pada Gramofon itu adalah lagu berjudul Chopiniana, Op. 46 pada lagu piano, karena pria asing itu sering melakukan en pointe pada setiap tarian baletnya", ucap Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya itu tengah memperhatikan payung berenda miliknya yang tengah berputar-putar.
Payung berenda itu mengarah pada pria asing yang sedang menari tarian balet dan payung itu memancarkan cahaya benderang ke arah pria tersebut.
"Bagaimana anda tahu ?", tanya Aneisha Mihai penasaran.
"Aku membaca petunjuk yang ada pada payung berenda milikku ini, benda ini dapat membaca dan menganalisis secara akurat apa yang ada di dekatnya, termasuk membaca gerakan tarian balet yang dibawakan pria asing itu", ucap Bu Amarise.
"Mmm... !?", gumam Aneisha Mihai.
"Aku tidak menggunakan keajaiban pada payung berenda milikku ini melainkan saat payung berenda ini terbuka olehku maka otomatis payung berenda ini akan bereaksi secara sempurna dan ajaib", ucap Bu Amarise menerangkan fungsi benda yang ada di tangannya.
Mereka berdua lalu kembali memperhatikan pria asing yang melakukan en pointe dengan gerakan-gerakan baletnya serta ia menarikannya dengan mengandalkan kekuatan otot-otot kakinya yang bertumpu dan berjinjit.
"La Sylphide ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kisah dari Skotlandia tentang cerita cinta tragis antara Sylphide dengan seorang pemuda, ini adalah tarian balet jenis romantis dan dilakukan secara solo pada karakter pria serta duet pada karakter kedua pemeran utama La Sylphide saat mereka bertemu", ucap Bu Amarise.
"Aku baru melihatnya, dan pria asing itu menarikan balet dengan sangat sempurna sekali", ucap Aneisha Mihai.
"Dan sangat indah, ia mampu menghidupkan karakter pria dalam kisah La Sylphide yang menjadi tokoh utama pada pemeran penari pria bernama James", ucap Bu Amarise.
"Dia sangat kuat sekali dan gagah, apalagi saat ia melompat, sungguh luar biasa, bahkan ia mampu melompat setinggi itu, hebat !", ucap Aneisha Mihai.
"Itulah kelebihan seorang danseur, nak, mungkin banyak stigma jika balet identik dengan wanita dan lemah gemulai tapi sebenarnya pada danseur membutuhkan ketahanan fisik yang sangat kuat serta kekuatan otot karena biasanya danseur selalu melakukan gerakan melompat dan mengangkat tubuh balerina saat menari balet", ucap Bu Amarise.
"Siapakah dia sebenarnya ? Dan apa hubungannya dia dengan kita sehingga menyebabkan kita terjebak di sini dan tidak bisa kembali pulang, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak seorangpun dari kita mengenalnya, sosok pria asing itu, tapi jika aku melihatnya, pria itu sedikit mirip dengan seseorang yang pernah aku temui !?", ucap Aneisha Mihai.
"Pastinya, karena dia adalah kakek dari pemilik sekolah balet tempatmu menuntut ilmu, dan kemungkinan besar kamu pernah melihat orang yang mirip denganmu disana", sahut Bu Amarise.
"Itu dia !? Pria asing itu mirip dengan pria yang aku temui di ruangan pemilik sekolah ! Iyaaa... Itu dia... Pria asing itu mirip dengannya, pria yang memanggilku dengan panggilan bonsai !", ucap Aneisha Mihai.
"Berarti pria asing itu adalah kakek pria yang kamu temui di sekolah balet, artinya ini juga ada hubungannya dengan sekolah balet itu !", ucap Bu Amarise.
"Benar, Bu Amarise ! Tapi apa hubunganya dengan kita yang terlempar jauh melintasi waktu kembali ke tahun 1962 dengan sekolah balet itu ? Bukankah awalnya karena kita akan berlatih tarian balet les bourgeois !? Lantas apa hubungannya dengan kakek pemilik sekolah balet itu, si pria asing itu !?", ucap Aneisha Mihai.
"Itulah teka-teki yang harus kita pecahkan agar kita dapat segera kembali pulang ke masa depan, nak !", sahut Bu Amarise.
"Bagaimana jika kita tidak dapat menemukan jawabannya ? Dan terjebak disini selamanya, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai mulai cemas.
***
Rasa panik mulai datang menghinggapi Aneisha Mihai ketika memikirkan mereka tidak dapat kembali lagi ke masa depan, ia mulai merasa ketakutan karena bahaya masih mengintai keluarganya.
Bu Amarise mencoba menenangkannya dan mengatakan hal-hal penuh positif untuk membuat gadis muda itu tetap tenang.
"Tetaplah tenang, nak, dan tetaplah fokus pada tujuan kita untuk mencari petunjuk itu !", ucap Bu Amarise.
"Baik, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai patuh.
Ketika mereka mengamati pria asing yang merupakan kakek pemilik sekolah balet itu membawakan tarian balet la sylphide.
Muncul cahaya biru dari sepatu balet merah yang dikenakan oleh Aneisha Mihai yang mulai bergerak-gerak pelan.
"Ada apa ini ? Bu Amarise, tolong aku !", jerit Aneisha Mihai.
"Aneisha Mihai !", teriak Bu Amarise.
__ADS_1
Dia melihat Aneisha Mihai yang bergerak sambil menari ke arah tengah ruangan aula besar dan menubruk tubuh pria asing itu.
Pria itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Aneisha Mihai yang terduduk di atas lantai dengan wajah menahan kesakitan.
"Siapa kamu ? Datang dari mana ?", ucap pria asing itu.
"Ehk...???", gumam Aneisha Mihai panik.
"Aku ? Oh, Aku...?? Aku adalah Sylphide, cintaku... Aku adalah roh tarian dari tari Sylphide yang sedang engkau tarikan...", sahut Aneisha Mihai berbohong untuk mengalihkan perhatian pria asing itu.
"Sylphide ?", ucap pria asing itu terheran-heran.
"Benar... Aku adalah Sylphide, roh ajaib yang datang karena engkau menarikan tarian tersebut... Aku kemari karena engkau memanggilku...Sylphide...", sahut Aneisha Mihai mencoba tetap tenang.
"Benarkah...", gumam pria asing itu.
"Apakah aku harus membohongimu ? Dan apakah aku boleh meminta tolong padamu ?", ucap Aneisha Mihai mulai menjalankan perannya sebagai Sylphide.
"Apa ?", tanya pria asing itu.
"Tolong, bantu aku untuk berdiri !", ucap Aneisha Mihai memasang muka memelas.
"Oh... Baiklah...", sahut pria asing itu.
"James..., bagaimana kalau kita menari bersama ?", ucap Aneisha Mihai.
"Apa yang sedang aku katakan ini ? Kenapa mulutku ini tidak bisa berhenti bicara ? Dan kenapa aku malah meladeni pria asing ini ? Kemana Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai dalam hatinya.
"Baiklah Sylphide... Mari kita menari bersama-sama...", ucap pria itu sambil membungkukkan badannya kepada Aneisha Mihai.
"Terimakasih...", sahut Aneisha Mihai terpana.
Gadis muda itu berdiri dihadapan pria asing itu dengan kedua tangan saling berpegangan, dan mereka berdua saling memandang satu dengan lainnya.
Aneisha Mihai sebenarnya tidak mengerti dengan sikapnya sendiri yang bergerak tanpa kendali darinya dan mengalir mengikuti plot cerita tarian balet La Sylphide yang dramatis.
Mereka perlahan-lahan bergerak pelan mengikuti irama alunan musik chopin lagu piano yang terekam pada piringan hitam yang terpasang di Gramofon.
Keduanya menari beriringan bersama, dan bergerak dengan melakukan en pointe bersama-sama.
Melayang tinggi dengan melompat ke atas bersama-sama, lalu mendarat dengan plie kemudian berputar dengan saling berpegangan.
La Sylphide bercerita tentang kisah seorang petani bernama James dari Skotlandia yang jatuh cinta pada Sylphide, roh ajaib udara yang cantik.
Sylphide membangunkan James saat ia tertidur di sebuah kursi sehingga membuat James terjaga.
Ketika ia melihat Sylphide yang cantik dan bersayap, James, petani muda itu jatuh cinta pada roh ajaib itu.
Keduanya akhirnya saling jatuh cinta dan menjalin kasih.
Seorang pemuda yang diprediksi oleh penyihir tua bakal mengkhianati tunangannya sendiri untuk bersama dengan roh ajaib, Sylphide.
Pada acara pernikahan James dan tunangannya, tiba-tiba Sylphide muncul dan menariknya meninggalkan tunangannya dalam pesta tersebut.
Sylphide membawa James menari ke dalam hutan, roh ajaib itu terbang meninggalkan James.
Di dalam hutan penyihir muncul memberikan syal kerudung merah muda pada James untuk menangkap Sylphide agar dapat ia miliki.
Akibat bujukan penyihir tua itu, James melakukan perintah penyihir itu dan membungkuskan syal kerudung yang dipintal para penyihir untuk menyegel Sylphide, yang merupakan roh ajaib yang telah berhasil menggoda James.
Untuk memenuhi hasratnya memiliki Sylphide yang cantik maka James menangkap roh ajaib yang terbang itu tetapi bukannya mendapatkan Sylphide, ia malah menyebabkan roh ajaib itu mati karena sayapnya yang patah.
Keduanya terpisahkan dan tidak dapat bersama lagi, Sylphide dibawa saudara perempuannya ke udara sedangkan James tenggelam ke dalam tanah.
Akhirnya mereka berdua tidak dapat bersama-sama dan kisah cinta mereka berakhir tragis dan memilukan dan penyihir tua itu merasa sangat senang.
__ADS_1