Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 30 Terkuaknya Misteri Balerina Assoluta


__ADS_3

Aneisha Mihai tidak mampu menutupi rasa ngerinya ketika ia melihat manekin berwajah mirip wanita muda dalam frame besar yang dilihatnya pada saat ia berada di dalam Gedung Opera Palais Garnier.


Manekin yang dibuat berdasar wajah dan tubuh dari ibu Beaufort Abellard yang berparas cantik jelita.


Menari dengan lemah gemulai serta bergerak hidup seperti manusia, menarikan tarian balet dengan iringan musik klasik berupa orkestra yang merdu.


Manekin hidup itu membawakan tarian balet berjudul The Echanted Flute yang diciptakan tahun 1791 itu.


"Manekin itu menari dengan sangat indah sekali dan ia bisa bergerak pada posisi Rond De Jambe dengan fleksibel, hampir mirip seorang manusia", ucap Bu Amarise.


"Ha..., iya..., iya...", sahut Aneisha Mihai gemetaran.


"Kenapa denganmu, apakah kamu takut pada manekin hidup itu, nak ?", tanya Bu Amarise.


"Aha..., ha..., ha...", tawa gadis muda itu dengan terpaksa.


"Jangan takut, ia hanya manekin, sebuah boneka peraga, tidak menakutkan seperti yang kamu pikirkan, nak", ucap Bu Amarise.


"Aku tidak takut, hanya..., hanya..., aku merasa kalau ini sangat aneh saja buatku, sebuah manekin dapat hidup...", sahut Aneisha Mihai merinding ngeri.


"Ssstt..., jangan bersuara lagi, dia akan mengetahui kita ada disini, nak", bisik Bu Amarise seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Apakah dia dapat melihat kita, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai berbisik pelan.


"Entahlah, tapi ini sangat aneh karena aku tidak melakukan hal yang ajaib di tempat ini dan manekin itu dapat hidup dengan sendirinya", bisik Bu Amarise lagi.


"Mungkinkah ini hanya kebetulan saja ataukah ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada kita, Bu Amarise !?", sahut Aneisha Mihai berbisik lirih.


"Mungkin saja, dan ini juga mungkin, karena adanya perputaran waktu yang tidak stabil sehingga hal-hal yang berkenaan dengan masa lalu itu, semuanya dapat terjadi tiba-tiba", ucap Bu Amarise seraya memelankan suaranya.


"Bagaimana bisa itu terjadi ?", bisik Aneisha Mihai.


"Aku juga tidak tahu, yang aku pahami dari kasus ini adalah mulai pada saat La Sylphide, yang membuat sepatu merah milikmu bergerak dan mungkin ini memang keajaiban yang misteri hingga manekin hidup yang dapat menari sendiri", sahut Bu Amarise.


"Benar, aku rasa ini juga sama dengan hal itu, tentang La Sylphide yang dibawakan oleh Beaufort Abellard yang tampak hidup sehingga memunculkan diriku dihadapannya, mungkin juga karena tarian itu mengandung keajaiban dari roh ajaib, apakah karena pengaruh tarian balet La Shylphide yang mengandung magis itu ?", ucap Aneisha Mihai.


"Mmm..., mungkin saja, tapi ini sangat mempengaruhi jalannya perputaran waktu dan memiliki resiko tinggi untuk kita kembali pulang", sahut Bu Amarise.


"Apa teka-teki dari manekin itu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Kita lihat saja pertunjukkan yang di tampilkan oleh manekin itu, nak", sahut Bu Amarise.


"Hmmm... Baiklah, aku akan menontonnya", ucap Aneisha Mihai.


Terdengar kembali suara langkah kaki manekin yang menyentuh permukaan lantai gedung pada saat manekin itu tengah menari ballet.


Manekin berwajah wanita berparas jelita itu membawakan tarian ballet The Echanted Flute dengan sangat indahnya.


Boneka peraga itu berubah menjadi hidup saat menari ballet, melompat dengan lincahnya lalu berputar riang mengikuti irama musik klasik yang mengalun sepanjang tarian balet yang dibawakan manekin hidup itu terus di tarikan.

__ADS_1


Sesekali ia melakukan tarian balet dalam posisi adage andalannya yang sangat indah sekali.


Terkadang satu kakinya di tekuk seperti plie sedangkan satu kaki lagi berdiri tegak lurus di ujung kaki dengan tangan mengulur ke arah depan. Dan yang paling mengejutkan Aneisha Mihai adalah manekin itu dengan lihainya ia dapat menggerakkan kakinya dengan membuat setengah lingkaran di lantai.


Mengangkat kakinya yang terbuat dari manekin dengan gemulai, gadis muda itu tidak dapat menahan kekagumannya pada saat melihat tarian balet yang di bawakan oleh boneka peraga yang bergerak ajaib itu.


Aneisha Mihai hampir melonjak kegirangan dan hampir bertepuk tangan ketika ia melihat tarian ballet yang di tarikan oleh manekin hidup itu jika ia tidak langsung menyadari sikapnya sendiri, dia tidak akan dapat menahan kegembiraan hatinya yang meluap-luap itu.


"Ini benar-benar sangat indah sekali, dia membawakan tariannya dan menjelma menjadi manusia yang sesungguhnya, menarikan tarian ballet yang cantik serta sangat sempurna", ucap Aneisha Mihai dalam hatinya.


Muncul dari gelapnya ruangan, terlihat seseorang berlari kemudian melompat seakan-akan tengah melayang, seraya merentangkan kedua tangannya yang kekar dan turun ke bawah dengan gerakan yang apik.


Dia mendekati manekin yang hidup itu, seolah-olah tengah mengajaknya berbicara dalam gerakan tarian ballet yang sangat indah itu.


Mereka melakukan pase de deux yang biasa dilakukan dalam tarian ballet dengan sangat harmonis dan selaras.


Ballerina manekin dan pasangannya menarikan tarian ballet secara duet dengan berurutan, mulai dari gerakan Adagio, Barrierion hingga Coda yang juga disebut grand pas de atau ketiga tarian ballet itu bisa juga dinamai Pas de Troyes dan gabungan keempat pada tarian balet pasangan itu disebut Pas de Cattle Pa.


Mereka melakukan langkah ballet bersama secara selaras dan seirama mengikuti alunan musik klasik berupa orkestra karya komposer Wolfgang Amadeus Mozart.


Sebuah tarian balet duet yang sangat luar biasa indahnya, mereka saling megharmonisasikan langkah-langkah tarian ballet mereka satu dengan lainnya dan saling menjaga keseimbangan mereka saat menari.


Pada saat danseur mengangkat tubuh sang ballerina manekin di atas pundaknya, mereka benar-benar harus saling bekerjasama dengan baik.


Musik masih terdengar mengalun merdu di dalam ruangan Gedung Folies Bergere yang megah dan tampak dipenuhi sorotan lampu-lampu panggung yang bercahaya.


"Bu Amarise tidakkah anda melihat wajah danseur itu ?", bisik Aneisha Mihai.


"Jangan-jangan...", ucap mereka kompak.


"Ssssttt..., jangan keras-keras, nanti mereka mendengar suara kita, dan jangan menimbulkan gerakan berlebihan yang menarik perhatian manekin itu", bisik Bu Amarise.


"Iya...", sahut Aneisha Mihai lirih.


"Jika manekin itu tahu kita disini tengah memperhatikannya menari ballet maka kita tidak akan mengetahui akhir teka-teki ini", bisik Bu Amarise.


"Mangapa bisa begitu ?", tanya Aneisha Mihai seraya berbisik.


"Dalam tarian yang dibawakan oleh manekin itu akan ada akhir kisahnya dan kita akan menemukan misteri dua bocah kembar yang terpisah itu, alasan yang mendasari kita membantu Beaufort Abellard hanya satu, kamu mengerti, nak", bisik Bu Amarise.


"Iya, aku mengerti, kita disini hanya mencari jawaban dari pertanyaan kita tentang kisah Beaufort Abellard agar kita dapat kembali pulang ke masa depan", bisik Aneisha Mihai.


"Nah, kamu sudah tahu akan jawabannya, bukan, karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak takut pada manekin hidup itu dan tetap menonton pertunjukkan tarian ballet mereka sampai habis", ucap Bu Amarise lirih.


Aneisha Mihai hanya menganggukkan kepalanya pelan dan ia kembali memperhatikan tarian ballet tersebut.


Tiba-tiba alur cerita pada tarian balet yang ditarikan oleh ballerina manekin itu berubah drastis, tidak menampilkan lagi pertunjukkan tari ballet melainkan sebuah pemandangan berbeda seperti kisah kehidupan mengenai wanita berparas jelita itu dan mirip cerita film yang kini terlihat dihadapan Aneisha Mihai dan Bu Amarise.


Terlihat dua orang tengah bertengkar hebat di sebuah ruangan yang tidak jelas tempatnya, sedangkan disamping mereka berdua terdapat dua anak laki-laki kecil yang memiliki wajah yang mirip yaitu kembar.

__ADS_1


Dua orang itu adalah wanita jelita dan pria muda yang gagah, wanita itu adalah ibu dari Beaufort Abellard sedangkan pria muda itu adalah pria yang agak mirip dengan Beaufort Abellard.


Pria muda itu melemparkan sebuah mahkota ke arah wanita berparas jelita di depannya lalu merobek lembaran kertas yang ada di tangannya kemudian meraih tangan kedua anak laki-laki kembar itu dan berusaha membawa keduanya keluar dari ruangan tersebut.


Wanita berparas jelita itu menjerit keras seraya menangis histeris dan memohon kepada pria muda itu untuk tidak pergi meninggalkannya dan tidak membawa kedua buah hatinya yang masih kecil.


Bersujud diujung kedua kaki pria muda itu seraya menangis tersedu-sedu, terlihat memohon amat sangat kepada pria tersebut untuk tetap bersamanya.


Kedua anak kecil itu juga terlihat menangis keras ketika menyaksikan mereka bertengkar dan melihat wanita berparas jelita itu menangis.


Anak kembar laki-laki itu berusaha meraih tubuh wanita muda di depan mereka dengan menjerit-jerit kencang tetapi pria muda tersebut mengahalangi kedua bocah kembar itu untuk mendekati wanita muda yang beruraian air mata yang duduk bersimpuh di bawah lantai.


Pria muda itu lalu berkata pada wanita muda itu dengan nada berat serta ekspresi wajah dingin.


"Choisir entre moi et les enfants ou votre ambition de gagner le titre d'assoluta !!!", ucap pria muda itu dengan nada tinggi.


"Tapi ini hidupku ! Duniaku, aku hidup didalamnya, sayangku, tanpa ballet aku akan mati, aku mohon mengertilah aku, sayangku !", sahut wanita muda itu.


"Non, tu ne supportes pas de ne pas faire attention aux enfants et de laisser Benjamin Abellard malade seul avec la seule compagnie de Beaufort Abellard qui est tout aussi jeune pour ton ambition !", ucap pria muda itu marah.


"Non Abellard ! Non !!! Je les aime tous, c'est pour ça que je dois réussir ma carrière pour que mes enfants puissent vivre décemment !", sahut wanita berparas jelita itu sambil menangis.


Pria muda yang tengah memegangi tangan kedua bocah laki-laki kembar itu hanya menghela nafas panjangnya seraya memejamkan kedua matanya.


"Aku mohon sayangku, berilah aku kesempatan untuk mewujudkannya, hanya itu cara untuk membuat anak-anak memiliki masa depan yang cerah", ucap wanita muda itu dengan berlinangan air mata.


"Mère mère... !!!", teriak kedua bocah kecil kembar itu seraya menangis.


"Anak-anakku ! Ini ibu, nak ! Ibu akan selalu bersama dengan kalian !", teriak wanita muda itu berusaha meraih tangan mereka yang menggapai-gapai ke arahnya.


"Mère mère... !!! Mère mère... !!!", hanya kata-kata itulah yang keluar dari bibir mungil kedua bocah laki-laki kembar itu saat hendak meraih ibu mereka.


"Anak-anakku...", ucap wanita itu hampir terjatuh.


Wanita muda itu kembali memohon dengan iba kepada pria muda itu seraya memegangi salah satu kaki pria itu.


"Maafkanlah atas kekeliruanku yang telah lalai menjaga anak-anak tetapi aku tidak tahu jika Benjamin Abellard sakit, aku hanya berpikir dia flu saja dan tetap pergi ke acara pertunjukkan ballet untuk menari", ucap wanita itu terus memohon dengan penuh sesal.


"Juste pour le bien de votre rêve d'obtenir le titre d'assoluta, vous étiez prêt à ignorer l'état de votre fils et heureusement nos voisins me l'ont dit après que Beaufort Abellard ait demandé de l'aide pour son frère !", sahut pria muda itu dengan penuh emosi.


"Maafkanlah aku..., aku juga lupa memberitahukannya padamu karena kita sama-sama sibuk untuk persiapan pertunjukkan ballet itu...", ucap wanita muda itu menangis.


"Au moins tu ne l'as pas négligé et dis-moi, heureusement Benjamin Abellard a survécu et a été emmené chez le médecin sinon...", ucap pria muda itu dengan mata memerah.


"Je suis désolé ma chérie, je suis désolé, je suis désolé...", sahut wanita muda itu memohon belas kasihan.


"Je te pardonne mais tu dois choisir entre nous et ton titre assoluta ou je t'enlèverai les enfants pour que tu sois libre de réussir !", ucap pria itu dengan nada tinggi.


"Bukankah dunia balet juga duniamu dan mimpimu, sayangku, kenapa aku harus memilihnya !?", sahut wanita itu tidak mengerti. "Dan kedua-duanya sangat berarti dalam hidupku, sayangku !"

__ADS_1


"D'accord, si c'est ta décision, alors je cède pour m'occuper des enfants, nous nous séparons et je ramènerai les enfants avec moi dans ma ville !", ucap pria muda itu lalu membawa paksa kedua bocah kembar itu yang tengah menangis keras dan menghentak-hentakkan kedua kaki kecil mereka dengan menjerit kesal.


__ADS_2