
Aneisha Mihai turun dari podium penonton berjalan menghampiri Beaufort Abellard yang berdiri di antara kerumunan orang.
Gadis itu berusaha menyeruak masuk ke dalam kumpulan orang-orang yang ada disekitar Beaufort Abellard.
Menggapai ke arah pria itu agar dapat mendekatinya, tetapi pesona Beaufort Abellard mengalahkan segalanya, pria itu nyaris tidak dapat didekati atau disentuh.
"Beaufort Abellard ! Beaufort Abellard !", teriak Aneisha Mihai diantara kerumunan orang yang mengelilingi pria itu.
Beaufort Abellard menoleh ke arah Aneisha Mihai seraya melambaikan tangannya kepada gadis cantik itu.
"Hai ! Sylphide ! Aku disini, sebentar ! Aku akan kesana !", sahut Beaufort Abellard.
"Iyaaa !!!", teriak Aneisha Mihai.
"Permisi..., permisi...", kata Beaufort Abellard.
Pria asing itu lalu bergerak diatara orang-orang yang mengerumuni dirinya, berjalan menuju ke arah gadis cantik itu.
Beaufort Abellard terlihat kesulitan untuk keluar dari kerumanan orang yang ingin bersalaman dengannya.
"Puih ! Sesak sekali, aku hampir kehabisan nafas, maaf Sylphide, aku baru bisa menemuimu", ucap pria itu.
"Wow ! Sekarang kamu telah terkenal dan menjadi pemeran utama film. Selamat, aku ucapkan kepadamu, Beaufort Abellard !", ucap Aneisha Mihai seraya menarik tangan pria itu menjauh dari kerumunan orang-orang ke ruangan yang agak sepi dan tersembunyi.
Keduanya berdiri saling berhadapan dan saling tersenyum senang.
"Selamat Beaufort Abellard ! Selamat aku ucapkan sekali lagi atas kemenanganmu !", ucap Aneisha Mihai memberi selamat kepada Beaufort Abellard.
"Aku juga berterimakasih kepadamu dan Magde telah membantuku sampai sejauh ini, tanpa kalian bersama menemaniku dalam audisi film ini, aku tidak akan bisa sanggup mengikuti audisi ini dan menang", sahut Beaufort Abellard.
"Yah, aku tahu itu tetapi kemenanganmu adalah hasil dari kerja kerasmu, kami hanya membantumu semampu kami saja dan tidak banyak yang kami perbuat sebenarnya", ucap Aneisha Mihai.
"Jangan merendah seperti itu, Sylphide !? Semangat yang kalian berikan untuk mendukungku, itu saja merupakan bantuan besar buatku", ucap Beaufort Abellard.
"Oh iya ? Syukurlah kalau demikian, aku turut senang mendengarnya", sahut Aneisha Mihai seraya tersenyum.
"Selamat, ya, nak, atas keberhasilanmu mendapatkan peran ini, semoga kesuksesan selalu mengiringimu, nak", ucap Bu Amarise yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Magde !? Aku sangat berterimakasih sekali atas bantuanmu yang telah memberiku pakaian sebagus ini, karena penampilanku pulalah yang menunjang kemenanganku untuk mendapatkan peran itu", ucap Beaufort Abellard.
"Aku senang membantumu dan itu telah menajdikan kewajibanku untuk membantumu, nak", ucap Bu Amarise.
"Hmmm..., aku hendak mengatakan suatu kabar kepadamu dan aku harap kamu menyukainya, Beaufort Abellard", ucap Aneisha Mihai.
"Kabar ? Kabar apakah itu Sylphide ?", tanya Beaufort Abellard.
"Mmm... Apakah tidak sebaiknya anda saja yang memberitahukannya, Magde ?", ucap Aneisha Mihai.
"Aku ?", tanya balik Bu Amarise sambil menunjuk kepada dirinya.
"Ya !", ucap Aneisha Mihai.
Gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya saat wanita bergaun merah itu berbicara kepadanya dengan terkejut.
"Ya, anda saja yang mengatakan kepada Beaufort Abellard tentang kabar tersebut, Magde !?", sahut Aneisha Mihai.
"Kabar apakah yang ingin kalian sampaikan kepadaku ?", tanya Beaufort Abellard penasaran.
"Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu akan kabar itu dan kami berdua harap kamu senang mendengar kabar ini", sahut Bu Amarise.
"Katakanlah, tidak perlu ragu dan aku akan menerima kabar itu dengan hati senang selama kabar yang disampaikan adalah kabar baik", ucap Beaufort Abellard.
"Tetapi mungkin kamu akan sangat terkejut saat mendengar kabar ini, Beaufort Abellard", ucap Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Apa ? Kabar apa yang ingin kalian sampaikan kepadaku ? Katakanlah terus terang, dan aku harap kalian tidak ragu untuk mengatakannya", tanya Beaufort Abellard.
"Mmm..., begini..., kami berdua telah mendapatkan informasi mengenai saudara kembar laki-lakimu, nak", ucap Bu Amarise dengan hati-hati saat mengatakannya.
"Saudara kembarku ? Bagaimana kalian tahu tentang dia ?", tanya Beaufort Abellard seraya melangkah mundur.
"Ya, tentu saja kami tahu apapun yang tidak kamu ketahui dan kami mengetahuinya akan kisah saudara kembar laki-lakimu dari pendengaran mata batin roh kami", sahut Bu Amarise.
"Ehk !? Ah, iya, iya ! Itu benar sekali Beaufort Abellard !", ucap Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari Bu Amarise yang mengatakan jika mereka mengetahui kisah saudara laki-laki Beaufort Abellard dari dunia roh.
"Oh, begitu... Aku tahu jika kalian adalah roh ajaib dan memiliki kekuatan di luar batas manusia...", ucap Beaufort Abellard.
"Benar !", sahut Aneisha Mihai dan Bu Amarise kompak.
"Lantas apa hubungannya aku dengan saudara kembarku ?", tanya Beaufort Abellard.
"Kami bermaksud mempertemukan kalian berdua", sahut Bu Amarise.
"Bertemu dengannya ? Mana mungkin !?", ucap Beaufort Abellard.
"Kenapa tidak ? Bukankah kalian berdua adalah saudara kembar, kenapa tidak dapat saling bertemu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Karena saudara kembarku sudah lama terpisah denganku sejak kami masih kecil dan akan sangat sulit untuk kami bertemu", sahut Beaufort Abellard.
"Apakah kamu tidak ingin bertemu dengannya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Untuk apa aku bertemu dengannya, jalan hidup kami sudah berbeda sekarang, dia lebih memilih bersama pria tua itu dan tidak pernah menemui kami", sahut Beaufort Abellard.
"Seandainya kami mengajakmu berjumpa dengannya, apakah kamu akan mau bertemu dengan saudara kembarmu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Hmmm... Aku sudah lama mencarinya di Perancis ini tetapi aku sama sekali tidak dapat menemukannya...", sahut Beaufort Abellard.
"Yah, aku akui jika aku memang ingin melihat saudara kembarku lagi dan bermaksud mengajaknya bertemu dengan ibu tetapi aku tidak tahu harus mencarinya dimana", ucap Beaufort Abellard.
"Kita akan membawamu bertemu dengan saudara kembarmu, Beaufort Abellard", ucap Aneisha Mihai. "Benar bukan, Magde !?"
"Iya, kami akan mengajakmu menemui saudara kembar laki-lakimu, nak", ucap Bu Amarise.
"Dimanakah dia ? Apakah kalian tahu keberadaan saudara kembarku itu ?", tanya Beaufort Abellard.
"Kami tahu dimana dia sekarang. Apakah kamu benar-benar ingin bertemu dengannya, jika memang kamu ingin menemuinya katakanlah "Iya" dengan hati yakin !", ucap Aneisha Mihai.
"Tentu saja aku ingin bertemu dengannya... Dan "Iya", aku ingin bertemu saudara kembarku", ucap Beaufort Abellard.
"Maka ucapkanlah dengan suara yang cukup keras bahwa kamu ingin berjumpa dengan saudara kembarmu serta penuh keyakinan yang kuat !", ucap Bu Amarise.
"Aku ingin bertemu Benjamin Abellard !", teriak Beaufort Abellard lantang.
Pada saat Beaufort Abellard menyebutkan nama saudara kembar laki-lakinya dengan suara sangat keras dan penuh rasa yakin yang kuat, muncullah bintang-bintang disekitar mereka bertiga.
Bintang-bintang itu memancarkan cahaya terang benderang disekeliling ketiga orang itu dan membawa tubuh mereka berputar serta terangkat di udara, bergerak lambat kemudian sangat cepat sekali.
Tiba-tiba ketiganya menghilang dari ruangan Gedung Opera Palais Garnier tanpa jejak.
Kota Ars-en-Ré, tahun 1962...
Mereka bertiga sampai di sebuah kota di Perancis bernama Kota Ars-en-Ré yang letaknya cukup jauh dari Kota Paris, butuh waktu kurang lebih enam jam untuk sampai di Kota Ars-en-Ré.
"Kita sudah sampai", ucap Bu Amarise.
"Ini sangat luar biasa Magde ? Bagaimana kamu melakukannya, Magde !? Luar biasa sekali kekuatan yang kamu miliki, Magde !", ucap Beaufort Abellard terkagum-kagum saat mendapati dirinya terbang menghilang lalu tiba secara mendadak di sebuah kota dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya, nak, aku sangat tersanjung dengan ucapanmu itu", ucap Bu Amarise menanggapi perkataan dari Beaufort Abellard.
"Kita sudah sampai !? Benarkah itu ? Aku sungguh tidak percaya ini terjadi begitu saja, Magde !?", seru Beaufort Abellard.
"Benarkah !? Kita berada dimana sekarang, Magde ?", tanya Aneisha Mihai.
"Iya, kita sudah sampai", sahut Bu Amarise.
"Apakah kita sudah berada di kota tempat saudara kembarku tinggal ?", tanya Beaufort Abellard.
"Benar, kita sudah sampai di Kota Ars-en-Ré, kota dimana saudara kembar laki-lakimu tinggal, nak", sahut Bu Amarise seraya tersenyum.
"Kota Ars-en-Ré !? Wow ! Itu jauh sekali dari Kota Paris !?", seru Beaufort Abellard.
"Apakah kamu pernah kemari, Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.
"Belum pernah, bahkan aku tidak pernah menyangka jika saudara kembar laki-lakiku ternyata tinggal di Kota Ars-en-Ré ini", sahut Beaufort Abellard.
"Apakah kamu belum pernah pergi dari Kota Paris selama ini, nak ?", tanya Bu Amarise.
"Tidak, aku tidak pernah datang ke kota ini sebelumnya karena aku mengira saudara kembarku itu tinggal di pusat kota, dan karena kesibukanku yang padat sehingga aku tidak dapat pergi kemana-mana", sahut Beaufort Abellard.
"Nah, sekarang kamu telah datang di Kota Ars-en-Ré ini jadi ini adalah kesempatanmu untuk bertemu dengan saudara kembar laki-lakimu", ucap Bu Amarise.
"Dan juga kamu berkesempatan untuk berlibur di Kota Ars-en-Ré ini, Beaufort Abellard !'', ucap Aneisha Mihai dengan riangnya.
"Berlibur ? Liburan di Kota Ars-en-Ré ini !? Tidak mungkin Sylphide, karena aku harus mengikuti serangkaian kegiatan dan acara untuk film Les Bourgeois nanti", sahut Beaufort Abellard.
"Oh iya... Aku hampir lupa jika kamu harus menjalani syuting film Les Bourgeois itu setelah ini, dan hanya ini waktumu yang tersisa untuk pergi menemui saudara kembarmu", ucap Aneisha Mihai.
"Aku tahu itu, karena itulah aku tidak mungkin bisa berlibur di Kota Ars-en-Ré ini dalam waktu yang lama, Sylphide", jawab Beaufort Abellard.
"Kapan kamu akan menjalani syuting film Les Bourgeois itu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tiga hari lagi setelah acara audisi untuk film Les Bourgeois selesai, aku akan memulai syuting filmku untuk pertama kalinya", sahut Beaufort Abellard.
"Hmmm... Itu waktu yang sangat singkat sekali dan tidak mungkin kamu tinggal di Kota Ars-en-Ré ini lama, karena waktu kita hanya tinggal tiga hari lagi maka secepatnya kita menemukan saudara kembarmu di kota ini", ucap Aneisha Mihai.
"Benar yang kamu katakan, Sylphide. Tidak mudah untuk menemukan seseorang di sebuah kota apalagi kita tidak pernah tahu seluk beluk tempat ini", ucap Bu Amarise.
"Dan dalam waktu singkat... Tiga hari... Bayangkanlah ! Itu membutuhkan ekstra tenaga yang tidak sedikit untuk mencari orang di kota asing ini", ucap Aneisha Mihai.
"Iya, aku tahu itu, tidak mudah untuk kita dalam waktu tiga hari mencari Benjamin Abellard di Kota Ars-en-Ré", sahut Beaufort Abellard.
"Seperti mencari jarum di tumpukan jerami..., sangat sulit sekali...", ucap Aneisha Mihai.
"Baiklah, dan jangan menunda waktu kita lagi di sini, mari kita segera pergi mencari saudara kembarmu di Kota Ars-en-Ré ini", ucap Bu Amarise.
"Tepat sekali. Ayo, kita segera pergi dari sini dan mencari saudara kembarmu itu ! Oh, iya, siapa nama saudara kembarmu itu, Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.
"Benjamin Abellard..., nama saudara kembarku adalah Benjamin Abellard...", sahut Beaufort Abellard mengulang jawabannya lagi.
"Hmmm..., baiklah. Ayo, kita segera menemukannya secepatnya karena waktu kita sangat singkat di kota ini", ucap Aneisha Mihai.
Tampak Bu Amarise memperhatikan suasana di Kota Ars-en-Ré dengan seksama, ekspresi wajah wanita bergaun merah itu terlihat sangat serius sekali ketika melihat kota tersebut.
Kota Ars-en-Ré yang menawan yang dipenuhi dengan sepeda, dengan rumah-rumah putihnya dan jendela-jendela hijaunya, hollyhocks, salt pans, dan kota pantai.
Kota kecil penuh pelaut dan merupakan tujuan para pelaut dan pedagang, untuk berkunjung ke Kota Ars-en-Rè ini membutuhkan waktu kurang lebih enam jam lamanya agar sampai di kota ini.
Ketiga orang itu berjalan beriringan di sepanjang jalan di Kota Ars-en-Rè seraya memperhatikan keadaan di jalan dengan sangat serius.
Berharap berjumpa Benjamin Abellard yang merupakan saudara kembar laki-laki dari Beaufort Abellard di jalan Kota Ars-en-Rè.
__ADS_1