Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 51 Rahasia Yang Menyeramkan


__ADS_3

Aneisha Mihai kurang sehat bukan karena sakit melainkan mual di perutnya saat melihat rumah Izebel yang penuh dengan kepala manusia.


"Tidakkah kita pergi dari sini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Belum, aku masih belum menemukan yang aku cari", sahut Bu Amarise.


"Apa yang anda cari Bu Amarise ?", lanjut Aneisha Mihai.


"Jasad", jawab Bu Amarise.


"A--apa... Jasad... !?", tanya Aneisha Mihai gugup.


"Hmmm, iya", sahut Bu Amarise sambil mengangguk.


"Tuhan !? Apa lagi ini !?", kata Aneisha Mihai terperangah.


"Sebentar, kamu tunggu di sini dulu dan jangan kemana-mana !", lanjut Bu Amarise.


"Iya, aku akan menunggu anda di sini", kata Aneisha Mihai.


Bu Amarise lalu pergi menghilang dari pandangan Aneisha Mihai yang tinggal sendirian di ruangan rumah suram itu.


"Astaga... Wanita itu meninggalkan aku seorang diri di dalam rumah aneh ini...", ucap Aneisha Mihai.


Dia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar rumah Izebel yang di penuhi aura gelap, dia hanya bisa berdiri menepi di dinding ruangan.


"Apa yang Bu Amarise cari di rumah ini ?", tanya Aneisha Mihai.


Beberapa saat kemudian muncul Bu Amarise di tengah-tengah ruangan rumah dengan menyeret jasad tanpa kepala.


"Ap--apa ini !?", jerit Aneisha Mihai sambil melototkan kedua matanya.


"Ini yang aku cari, jasad", sahut Bu Amarise tersenyum.


Aneisha Mihai berdiri gemetaran dengan mulut terbuka lebar saat jasad tanpa kepala itu di letakkan di atas lantai oleh wanita bergaun merah.


"Aku masih mencari pasangan dari jasad perempuan ini tetapi aku belum tahu pasangannya yang mana", ucap Bu Amarise.


"Untuk apa anda mencari jasad ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku akan membawanya ke neraka hari ini", sahut Bu Amarise.


"N--neraka !?", ucap Aneisha Mihai.


"Yah", lanjut wanita bergaun merah itu.


"Siapa jasad ini ?", tanya Aneisha Mihai.


"Permaisuri raja", sahut singkat Bu Amarise.


"Maksud anda dia adalah istri dari selingkuhan ibunya Izebel, dia tidak di sucikan dengan benar dan dibiarkan di dalam rumah ini", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm...", sahut Bu Amarise hanya bergumam.


"Tuhan ! Bagaimana dia tidak di makamkan selayaknya ? Dan kenapa dia masih awet !?", ucap Aneisha Mihai.


"Permaisuri raja dimanfaatkan oleh Izebel untuk membuat Valeska tetap hidup", ucap Bu Amarise.

__ADS_1


"Hah !? Apa ?", pekik Aneisha Mihai.


"Valeska terluka parah saat dia terlibat pertengkaran dengan seorang wanita yang memaksa suaminya untuk meninggalkan Izebel, ibunya", ucap Bu Amarise.


"Ya Tuhan ku ?", seru Aneisha Mihai. "Tetapi bukankah permaisuri itu telah mati beberapa tahun yang lalu dan saat itu Izebel masih kecil !?"


"Sebenarnya usia dari Izebel sekitar ribuan tahun dan dia mendapatkan usia panjang karena ilmu sihir hitam yang di wariskan pada Izebel", sahut Bu Amarise.


"Oh Tuhan ku !!!", ucap Aneisha Mihai tersentak kaget.


"Mmm, itu kepala pasangan dari badan ini", ucap Bu Amarise.


Wanita bergaun merah dengan payung berenda yang dia gantungkan di tangannya berjalan pelan menuju ke deretan kepala yang berjejer di atas perapian.


"Ternyata kemampuan Izebel dalam mengawetkan kepala serta jasad sangat hebat bahkan masih terlihat utuh seperti saat jasad ini masih hidup", ucap Bu Amarise.


"Siapakah sebenarnya Izebel itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Dia adalah anak dari Keysea yang merupakan wanita dari pegunungan Moncayo yang mendalami ilmu sihir hitam untuk hidup abadi bahkan mampu membuat manusia-manusia tiruan dari api yang di pujanya", sahut Bu Amarise.


"Berarti yang di ceritakan oleh hantu Keysea adalah benar adanya bahwa dia memiliki skandal dengan seorang raja sehingga dia mempelajari ilmu sihir hitam", ucap Bu Amarise.


"Yah, begitulah kisah yang sebenarnya tetapi Keysea sengaja membuat cerita itu tampak bohong, bukankah kamu sendiri sudah mengetahuinya", sahut Bu Amarise.


"Aku memang sudah mengetahuinya saat Keysea bercerita perihal hidupnya hanya saja aku tidak pernah menyangka jika cerita itu fakta", ucap Aneisha Mihai.


"Baiklah, kita pergi sekarang", lanjut Bu Amarise.


"Tetapi apakah Izebel tidak akan mengetahuinya, Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai.


"Bukankah akan berpengaruh pada Valeska karena anda mencabut nyawa dari rumah ini !?", tanya Aneisha Mihai.


"Biarkan saja hal itu karena Izebel akan mencari cara lainnya untuk menyelamatkan hidup Valeska ketika dia tahu khasiat dari rumahnya berkurang", sahut Bu Amarise.


"Mencari cara lainnya !? Bagaimana kalau dia mencari manusia untuk menggantikan jasad itu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Izebel tidak akan berani melakukannya", sahut Bu Amarise.


"Kenapa ?", tanya gadis cantik itu.


"Jelas dia akan menjadi target utama pencarian polisi karena kejahatan kriminal yang dia lakukan, Izebel tidak akan suka berurusan dengan aparat penegak hukum", sahut Bu Amarise.


"Lalu apa yang akan terjadi dengan rumah ini selanjutnya !?", ucap Aneisha Mihai.


"Beberapa bulan ke depan rumah ini akan musnah dan lebur menjadi tanah", sahut Bu Amarise.


"Jika itu terjadi mungkinkah Izebel akan diam saja saat dia mengetahui rumahnya hancur", ucap Aneisha Mihai.


"Karena itulah kita harus segera menghancurkan mantera sihir Izebel secepatnya sebelum dia tahu rumahnya musnah", sahut Bu Amarise.


"Bagaimana caranya !?", tanya gadis muda itu.


"Kamu harus memenangkan gelar primadona dan menjadikan dirimu satu-satunya kandidat kuat dalam audisi film setelah lomba primadona itu selesai", ucap Bu Amarise.


"Saat itulah kelemahan Valeska akan berkurang setelah nyawa dari rumah ini terambil oleh ku, jadi manfaatkan kesempatan itu sampai rumah ini musnah", ucap Bu Amarise.


"Ada hubungannya rumah ini dengan Izebel, kalau begitu, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.

__ADS_1


"Jelas sekali ada hubungan yang sangat kuat dengan Izebel", sahut Bu Amarise.


"Apakah setelah rumah ini musnah maka Izebel juga turut musnah ?", ucap Aneisha Mihai penasaran.


"Benar, karena nyawa yang sebenarnya dari Izebel adalah rumah ini", sahut Bu Amarise.


"Rumah ini adalah nyawa Izebel !?", ucap Aneisha Mihai semakin terkaget-kaget.


"Aneisha Mihai...", panggil Bu Amarise.


"Iya, Bu Amarise", sahut gadis cantik itu.


"Waktu kita tidak banyak...", ucap Bu Amarise.


Aneisha Mihai hanya terdiam mendengar ucapan dari wanita bergaun merah dengan topi warna merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya, tidak ada kata yang dapat dia ucapkan saat ini.


"Aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk memenangkan gelar primadona itu, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


Tampak sekali raut wajah serius yang ditunjukkan oleh gadis muda itu ketika mendengar ucapan Bu Amarise kepadanya.


"Baiklah kalau begitu, kita pergi dari tempat ini", ucap Bu Amarise.


Wanita bergaun merah itu kemudian membuka payung berenda miliknya serta mengajak Aneisha Mihai pergi dari rumah Izebel.


Mereka berdua menghilang dengan cepat, meninggalkan rumah seram itu.


Pada saat keduanya dalam perjalanan pulang dari pegunungan Moncayo, Bu Amarise berpamitan kepada Aneisha Mihai untuk pergi membawa jasad permaisuri raja ke neraka.


"Kita berpisah disini dahulu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise. "Karena aku harus melanjutkan perjalanan ku ke neraka untuk membawa permaisuri ini ke tempatnya yang seharusnya", sambungnya.


"Baik, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai patuh.


"Kamu dapat melanjutkan perjalanan mu pulang sendiri karena aku telah memberi mu cookies spesial dari langit agar kamu memperoleh kekuatan", ucap Bu Amarise.


"Oh cookies rasa cokelat itu...", sahut Aneisha Mihai.


Dia langsung teringat dengan kue berbentuk bulat dengan taburan butiran cokelat yang dia makan saat di rumah Izebel.


"Angin akan membawa mu pulang ke rumah, Aneisha Mihai", lanjut wanita bergaun merah itu.


"Baik, aku mengerti", sahut Aneisha Mihai.


"Ingat ! Jangan menoleh ke belakang ! Kamu paham, Aneisha Mihai", pesan wanita bergaun merah itu.


"Kenapa aku tidak boleh melihat ke arah belakang ku ?", tanya Aneisha Mihai.


"Karena rumah bernyawa milik Izebel mengikuti kita dengan memantau pergerakan kita dari dalam rumah itu", sahut Bu Amarise.


Aneisha Mihai tersentak kaget dan dia langsung memahami pesan wanita bergaun merah itu secepatnya.


"Baik, aku akan mematuhi pesan anda", sahut Aneisha Mihai.


"Baiklah, kita berpisah di sini dan aku akan pergi terlebih dahulu, ingat akan pesan ku, kamu mengerti, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Iya, aku mengerti, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


Gadis cantik itu lalu menganggukkan kepalanya cepat dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah sedangkan Bu Amarise pergi menuju neraka dengan membawa jasad serta kepala permaisuri raja.

__ADS_1


__ADS_2