Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 42 KESYEA


__ADS_3

Aneisha Mihai berjalan mendekat ke arah roh kepala didepannya dan menahan kepala yang melayang itu dengan salah satu tangannya.


Menatapnya tajam lalu tersenyum kepada roh hantu kepala.


"Siapakah kamu sebenarnya ?", tanya Aneisha Mihai.


Roh kepala tersentak kaget ketika gadis cantik itu memegangi kepalanya seraya memandanginya dengan ekspresi wajah serius.


"Aku ?", sahut roh kepala gugup.


"Yah, katakan saja siapakah kamu ? Dan siapa yang menyuruhmu datang menghantui kami ?", tanya Aneisha Mihai.


"A--ku datang sendiri dan tidak ada yang menyuruhku", sahut roh hantu kepala.


"Benarkah ? Kamu mengatakan yang sejujurnya padaku ?", tanya Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai memicingkan kedua matanya dan menatap roh hantu kepala dihadapannya dengan pandangan menyelidik.


Roh kepala terdiam tanpa berani menatap ke arah Aneisha Mihai.


"Kamu takut ?", tanya gadis cantik itu.


"Emm..., a--aku...", sahut roh hantu kepala dengan gelisah.


"Hmm...", gumam Aneisha Mihai seraya memiringkan kepalanya ke samping.


Aneisha Mihai menyadari akan sesuatu dari kisah cerita roh kepala yang melayang itu. Dia menebak isi cerita yang mengandung sebuah teka-teki yang membuat gadis cantik itu tidak percaya.


Gadis cantik itu tidak melepaskan pegangan tangannya yang dia letakkan di atas kepala roh hantu.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepadaku maka aku akan memaksa mu mengatakannya", ucap Aneisha Mihai.


"M--maksudnya...!?", tanya roh hantu kepala.


"Katakanlah ! Kenapa kamu mengarang cerita bohong itu ? Siapakah kamu yang sebenarnya ?", tanya Aneisha Mihai lagi.


"A--ku tidak mengada-ada, itu cerita yang sebenarnya, aku tidak berbohong padamu", sahut roh hantu kepala.


"Tidak ! Tidak mengatakan yang sebenarnya, baiklah...", ucap Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai memegang kepala roh hantu itu, menahannya kuat-kuat lalu memutar kepala hantu dengan sangat cepatnya.


WUSH... WUSH... WUSH...


Roh hantu kepala berputar-putar sangat cepatnya dan tanpa henti.


Terdengar suara jeritan dari roh hantu kepala saat dia berputar seperti lingkaran, Aneisha Mihai lalu melepas pegangan tangannya dari atas kepala roh hantu itu.


"A--ampuun... !!!", suara dari roh hantu kepala.


"Aku sudah katakan padamu untuk tidak berbohong padaku tetapi kamu tetap bertahan jika kamu jujur", ucap Aneisha Mihai.


Gadis berparas cantik itu berdiri sambil bertolak pinggang dengan menatap tajam ke arah hantu kepala yang berputar-putar itu.


Aneisha Mihai membiarkan roh hantu kepala itu lalu melangkah pergi ke arah tempat tidur dan duduk kembali.


Dia hanya memandangi roh hantu kepala yang berputar-putar itu dari arah tempat duduknya seraya menyilangkan kedua kakinya lalu berkata kepada wanita bergaun merah.


"Apakah anda masih memiliki buah apel merah, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Oh itu, yah, aku masih mempunyai cadangannya. Apakah kamu menginginkannya buah itu lagi ?", sahut Bu Amarise.


Wanita bergaun merah itu hanya mengedipkan salah satu matanya ke arah Aneisha Mihai lalu mengeluarkan sebutir buah apel merah itu dari telapak tangannya yang terbuka lebar.


Dia berjalan menuju gadis cantik itu seraya menyerahkan buah apel merah kepadanya sambil menyunggingkan senyumannya.


Aneisha Mihai meraih buah apel merah itu lalu menimang-nimang buah di tangannya seraya menatap buah apel merah.


"Apakah kamu suka buah apel merah dari neraka jahanam itu, Aneisha Mihai ?", tanya Bu Amarise kemudian duduk disebelah gadis cantik itu.


"Hmmm..., yah..., karena rasanya sangat lezat dan segar...", sahut Aneisha Mihai.


Gadis cantik itu menggigit buah apel merah di tangannya seraya mengunyahnya lembut, dia memandangi ke arah kepala roh hantu yang masih berputar-putar cepat itu.


Bergumam pelan seraya menikmati buah apel merah dengan lahapnya.


Aneisha Mihai tidak banyak berkomentar tentang roh hantu kepala itu pada Bu Amarise karena dia tahu jika roh hantu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


Tatapan dingin Aneisha Mihai terlihat jelas di matanya, tarik napasnya berhenti dengan kerasnya.


Dia tidak pernah berpikir bahwa sosok roh hantu kepala bisa membohongi dirinya. Disisi lain, dia mengagumi keberanian roh hantu kepala itu.


"Apakah alasan anda membeli buah apel merah ini dari neraka jahanam ?", tanya gadis cantik itu tanpa emosi.


"Yah...", sahut wanita bergaun merah singkat.


"Aku rasa tindakan anda tepat dan itu tidak salah, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Apakah kamu sudah melihatnya ?", tanya Bu Amarise.


"Tidak buruk", sahut Aneisha Mihai.


"Tapi kamu suka dengan kerumitan ini, bukan !?", ucap Bu Amarise seraya menyandarkan payung berendanya di depan dadanya.


"Dia tengah memainkan dadunya kepada kita, tanpa tahu resikonya", sahut Aneisha Mihai.


"Dia tengah melemparkan dadunya tanpa tahu memainkannnya, godaan yang bagus, dan kita hampir mengikutinya", ucap Bu Amarise.


"Tidak hebat, menurutku", ucap Aneisha Mihai seraya melirik wanita bergaun merah disampingnya.


"Kapan kamu menyadarinya ?", tanya Bu Amarise tersenyum tipis.


Wanita bergaun merah itu menatap lurus ke arah roh hantu kepala yang masih berputar cepat.


Bu Amarise berpikir jika dia sudah cukup tegas dan kejam tetapi dia tidak percaya akan ada orang yang menyamai dirinya dalam menangani kasus yang dia temui di dunia manusia.


Gadis cantik itu lebih buruk darinya ketika menangani kasus dalam menginterogasi seseorang.


Aneisha Mihai tidak terlihat seperti penampilannya yang lemah gemulai dan cantik, dia dingin dan tanpa perasaan dari yang Bu Amarise bayangkan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu pastinya, kapan aku menyadarinya, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


"Lalu kamu akan membiarkannya seperti itu ?", tanya wanita bergaun merah kembali pada gadis berparas cantik itu.


Bibir Aneisha Mihai membentuk lengkungan senyuman tipis yang lebih mengerikan dari hantu manapun.


"Tidak lucu tapi aku menyukai permainan ini meski aku agak kesal dengan ucapan roh hantu kepala itu", sahut Aneisha Mihai.


Bu Amarise tertawa mendengar perkataan yang diucapkan gadis cantik duduk disampingnya.


"Aku sudah bosan terjebak dalam permainan tetapi jika kamu menikmatinya maka aku dengan senang hati menyerahkannya padamu", ucap Bu Amarise.


"Kapan anda mengetahui kebenaran cerita dari roh hantu kepala itu, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Dari awal ketika aku menyadari ada yang janggal pada kisah yang dia ceritakan pada kita dan saat dia mengatakan bahwa rumahmu terlindungi semacam mantra pengusir hantu", sahut Bu Amarise.


"Mantra pengusir hantu !? Apakah ayah yang membawanya dari luar kota ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak jelas sekali memang kelihatannya mantra pelindung itu karena tertutup mendung", sahut Bu Amarise.


"Apakah berbahaya ?", tanya Aneisha Mihai tetap pada posisinya yang duduk tegak sambil menyilangkan kedua kakinya ke atas.


"Aku tidak dapat memastikannya karena terhalang aura asing di area rumah ini", ucap Bu Amarise.


"Hmm...", gadis cantik itu hanya bergumam sambil mengunyah apel di mulutnya.


"Bagaimana ? Apakah kamu akan mengambil dadu darinya dan mengikuti permainannya ataukah langsung mematikannya ?", ucap Bu Amarise.


Aneisha Mihai menarik nafasnya lalu membuangnya dengan tajamnya.


Terdiam merenung lalu melemparkan buah apel yang masih tersisa separuh ke arah roh hantu kepala dan menyerempetnya pelan.


Bu Amarise hanya tersenyum melihat sikap Aneisha Mihai yang berusaha memancing emosi dari roh hantu kepala itu.


Tidak butuh waktu lama roh hantu kepala itu berubah wujudnya menjadi sosok seorang wanita dengan wajah pucat pasinya.


Gaun yang dikenakan hantu wanita itu penuh bercak darah yang membekas dan tatapan hantu wanita itu penuh amarah seraya memperlihatkan gigi taringnya yang mengerikan.


"Sudah kubilang, dia melemparkan godaan pada kita tetapi dia tetap menyangkalnya kalau dia berkata jujur", ucap Aneisha Mihai menanggapi kehadiran sosok wanita itu dengan santainya.


"Yah, itu juga salah satu kegunaan buah apel merah, sehingga memancingnya keluar dan memperlihatkan sosok aslinya", ucap Bu Amarise seraya tertawa keras.


Sosok hantu wanita yang bergaun itu terbang cepat ke arah kedua perempuan yang tengah duduk santainya di atas ranjang tidur yang terhampar di area halaman belakang rumah Aneisha Mihai.


Hantu kepala yang berubah menjadi hantu wanita berusaha mengintimidasi kedua perempuan dihadapannya.

__ADS_1


Memperlihatkan gigi taringnya serta berusaha menakuti kedua perempuan itu.


Aneisha Mihai lalu memandang ke arah wanita bergaun merah itu dan sebaliknya Bu Amarise juga tengah menatapnya serius.


"Apakah tidak salah dia menakuti kita dengan cara seperti itu ?", tanya Aneisha Mihai seraya mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Tidak, aku rasa dia tidak salah, bukankah wajar jika dia berusaha menakuti kita !?", sahut Bu Amarise.


"Lalu untuk apa dia bersikap demikian kepada kita ?", tanya Aneisha Mihai.


"Mungkin dia salah orang", sahut Bu Amarise.


"Apakah wanita jahat itu sedikit bodoh !?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku rasa tidak, dan aku berpikir dia telah bersikap benar, hanya saja dia keliru menaruh umpan untuk melemparkan dadunya kepada kita agar kita berdua masuk ke dalam permainannya", ucap Bu Amarise.


"Kalau begitu, itu sama saja jika dia bodoh", ucap Aneisha Mihai sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.


"Tidak sepintar puterinya, aku kira, benar bukan dugaanku ini !?", ucap Bu Amarise seraya tertawa terkekeh-kekeh.


"Anda lebih menyeramkan dari hantu wanita ini, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


"Setidaknya itu berita baik sehingga tidak seorangpun akan berani melawanku", ucap wanita bergaun merah itu semakin tertawa lepas.


Aneisha Mihai menjadi bergidik ngeri mendengar tawa wanita bergaun merah itu yang sangat menyeramkan melebihi sosok hantu wanita yang terbang melayang ke arah mereka berdua.


Tampaknya gadis cantik itu tengah merasakan dirinya berada di sebuah area pintu neraka.


Berpaling salah karena dia akan menyaksikan sosok hantu wanita bertaring sedangkan di depannya dia melihat sosok malaikat yang tengah tertawa mengerikan melebihi hantu.


"Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang !?", ucap gadis cantik itu datar tanpa ekspresi.


"Aku akan menghadapi hantu sialan ini", ucap Bu Amarise seraya berdiri dari tempatnya.


"Baiklah...", sahut Aneisha Mihai.


Bu Amarise lalu mengarahkan payung berenda miliknya ke arah sosok hantu wanita yang menggeram pelan itu sambil memperlihatkan gigi-gigi taringnya.


"Apa tujuanmu !? Apakah puteri mu begitu kejamnya sehingga mengirimmu kemari !?", ucap Bu Amarise.


"Grmm...Grmm... Grmm.."


Terdengar suara menggeram dari sosok hantu wanita itu.


Parasnya yang cantik masih membekas di raut wajah sosok hantu wanita bergaun panjang itu.


Dia terlihat sangat marah seraya mengarahkan kedua tangannya yang berkuku panjang kepada Bu Amarise yang berdiri dihadapannya dengan menahan tubuh hantu wanita itu dengan payung berendanya.


"Siapa namamu ?", tanya Bu Amarise.


"Grmm... Grmm... Grmm... Kesyea...", sahut hantu wanita jelita itu sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Bu Amarise terdiam dengan tangan masih memegang payung berendanya yang dia arahkan kepada sosok hantu wanita bernama Kesyea itu.


Dia lalu berkata pada Aneisha Mihai yang duduk tegak dengan kedua kaki menyilang ke atas sembari bersikap santainya menghadapi sosok hantu wanita yang tergolong menyeramkan.


"Apakah kamu mendengar ucapannya ?", tanya Bu Amarise.


"Yah, aku mendengarnya, dan aku rasa namanya sangat indah sekali terdengar di telinga, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai dengan wajah tertunduk. "Kenapa ?"


"Namanya Keysea, kau dengar itu", ucap Bu Amarise.


"Hmmm...", hela nafas Aneisha Mihai sembari beranjak berdiri lalu menengadahkan kepalanya seraya menatap dingin.


"Kau sudah tahu siapa dia, bukan ?", tanya Bu Amarise lagi.


"Yeah, aku sudah tahu siapa dia yang sebenarnya hanya saja aku masih ingin bermain dadu yang dia lemparkan sebagai godaan kepada kita, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


"Ayolah ! Jangan mempermainkan roh hantu wanita ini, tidak bagus kedengarannya karena sedikit terlalu kejam, aku rasa, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Lebih kejam mana antara aku dengan dia yang telah melahirkan monster jahat yang sangat kejam itu, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.


"Jangan limpahkan kesalahan puterinya kepadanya dan jangan dendam padanya karena dia tidak tahu menahu tentang dirimu", ucap Bu Amarise.


"Tapi dialah yang menciptakan wanita yang sangat jahat dan kejam itu", ucap Aneisha Mihai tanpa emosi.


"Ya, aku tahu itu dan memang benar dengan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa "Buah tak jatuh jauh dari pohonnya"...", sahut wanita bergaun merah itu.

__ADS_1


Aneisha Mihai hanya menatap dingin dengan ekspresi wajah tanpa emosi menanggapi ucapan Bu Amarise.


__ADS_2