Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 24 Namanya Beaufort Abellard


__ADS_3

Aneisha Mihai melangkah mundur, ia bersiap akan pergi dari aula dan lari saat pria asing itu terus mencercarnya dengan pertanyaan, sedangkan ia sendiri tidak mampu menjawabnya.


Dia hendak kabur meninggalkan aula besar itu, tetapi sesuatu menahannya untuk lari dari sana.


Pria asing itu berdiri di tengah ruangan aula sambil memandangi bergantian kedua perempuan yang berbeda usia tersebut.


"Siapa kalian sebenarnya ? Mengapa kalian bisa berada di aula ini ?", tanya pria asing itu.


"Aku adalah Madge... Penyihir tua dalam kisah La Sylphide dan aku datang karena aku ingin menolongmu yang kebingungan", ucap Bu Amarise.


Wanita tua itu memerankan karakter penyihir tua bernama Magde dalam la sylphide, penyihir yang selalu mengatakan takdir James yang akan berkhianat pada tunangannya Effie dan pergi bersama roh ajaib, Sylphide.


"Magde ? Kau seorang penyihir tua itu ? Apa benar yang kau katakan ?", ucap pria asing itu terperanjat kaget.


"Iya, aku adalah Magde... Mengapa ?", tanya Bu Amarise yang menyamar menjadi Magde.


"Susah untuk dipercaya bahwa penyihir itu memang ada ? Ini sungguh sebuah keajaiban !?", ucap pria asing itu.


Pria asing itu berjalan mengelilingi Bu Amarise yang bersandiwara menjadi Magde, agar meyakinkan pria asing itu jika mereka datang karena tarian balet La Sylphide yang di tarikan oleh pria itu.


Dia berjalan berputar tak percaya dengan yang dilihatnya kemudian berjalan mendekat ke arah Aneisha Mihai yang berpura-pura menjadi Sylphide, roh ajaib.


"Sandiwara apa yang sedang kalian berdua mainkan ?", tanya pria asing itu sambil berkacak pinggang.


"La Sylphide !!!", jawab kedua perempuan itu kompak.


"Emm...", gumam pria asing itu kaget dan menolehkan kepalanya ke arah samping kanan dan kiri.


"Bukan ! Kami tidak sedang bersandiwara, James ! Kami bena-benar datang dari tarian balet yang engkau tarikan tadi !?", ucap Aneisha Mihai sambil melirik Bu Amarise.


"Benar, James ! Kami berasal dari tarian balet La Sylphide !", ucap Bu Amarise.


"Benarkah !?", sahut pria asing itu sambil mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Untuk apa aku berbohong !? Dia memang Magde ! Tapi aku tidak kenal dengannya ! Karena aku roh ajaib, dan bukan berasal dari kaum penyihir. Percayalah, James !", ucap Aneisha Mihai sambil mengedipkan matanya ke arah Bu Amarise.


Bu Amarise langsung mengerti dengan sinyal yang di kirimkan oleh Aneisha Mihai kepadanya kemudian ia mulai menjalankan perannya sebagai Magde, penyihir tua.


"Aku tidak mengenalnya, James, karena kami tidak berasal dari alam yang sama !", ucap Bu Amarise.


"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian ?", ucap pria asing itu.


"Percayalah... James... Aku benar-benar datang dari hutan roh karena tertarik dengan tarian balet yang engkau tarikan itu, begitu indahnya !", ucap Aneisha Mihai dengan mata berbinar-binar.


"Apa buktinya jika memang berasal dari tarian balet itu ?", ucap pria asing yang dipanggil oleh Aneisha Mihai dengan panggilan James.


"B--bukti ? Bukti apa yang ingin engkau lihat ?", tanya Aneisha Mihai panik.


"Seperti terbang melayang bagaikan roh ajaib, Sylphide !", ucap pria asing itu.


"Hah !?", pekik Aneisha Mihai.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, maka akan aku buktikan ! Lantas apa balasan dari kau kepada kami jika aku dapat membuktikan aku berasal dari tarian tersebut !?", ucap Bu Amarise.


"Mmm... Terserah kalian, apa yang kalian inginkan dariku maka aku akan memenuhi keinginan kalian", sahut pria asing itu.


"Bisakah kau menjamin ucapanmu itu dan kami percaya ?", ucap Bu Amarise.


"Kenapa tidak !? Tentu saja, kalian bisa mempercayai ucapanku, kenapa tidak ?", jawab pria asing itu seraya merentangkan kedua tangannya.


"Oh iya...", gumam Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai dan Bu Amarise saling berpandangan dan bersikap sangat hati-hati saat pria asing itu mencurigai mereka berdua.


"Bagaimana kami harus membuktikannya jika kami benar-benar berasal dari dunia tarian balet Sylphide ? Dan bagaimana caranya aku terbang seperti roh ajaib, Sylphide ? Apa yang harus aku lakukan !?" , ucap Aneisha Mihai dalam hatinya.


Aneisha Mihai berdiri tak jauh dari Bu Amarise yang berada tepat di depan pria asing itu, dan gadis muda itu tidak berani mendekat ke arah wanita tua bergaun merah karena akan semakin menimbulkan kecurigaan pada pria asing itu.


Dia memutuskan untuk tetap berdiri di tempatnya dan tetap bersikap sangat hati-hati saat ini.


Aneisha Mihai tidak ingin usahanya kali ini gagal untuk kembali pulang ke masa depan, karena itu ia menjaga sikapnya dan lisannya agar tidak membuat pria asing itu tidak mempercayainya.


"Bagaimana ? Apakah kalian mampu membuktikannya jika kalian memang berasal dari dunia tarian balet peri Sylphide ?", ucap pria asing itu.

__ADS_1


"Tentu, aku akan membuktikannya !", sahut Bu Amarise.


"Baiklah... Silahkan kau membuktikannya, Magde !", ucap pria asing itu seraya melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Ingat, kau harus memegang janjimu ! Jika tidak, aku akan menghukummu !", ucap Bu Amarise dengan sangat serius.


"Tentu saja !", sahut pria asing itu.


"Baiklah, dan perhatikan baik-baik !", ucap Bu Amarise.


"Tunggu, Bu Amarise !", teriak Aneisha Mihai.


"Ada apa ?", tanya Bu Amarise.


"Jika kamu tidak dapat membuktikan perkataanmu maka aku tidak akan membantumu untuk menyelamatkan sekolah balet milik ibumu !", ucap Aneisha Mihai.


"Emm !?", gumam pria asing itu terkejut dengan ucapan Aneisha Mihai.


"Silahkan Magde ! Lanjutkanlah !", ucap Aneisha Mihai.


"Baik, Sylphide !", sahut Bu Amarise.


Bu Amarise lalu mulai mengayunkan payung berenda miliknya dan ia hendak memakai kekuatan ajaibnya.


Aneisha Mihai sengaja mengancam pria asing itu supaya ia menghentikan keinginannya untuk memaksa mereka berdua membuktikan keajaiban dari tarian balet Sylphide.


Gadis muda itu tahu jika wanita tua bergaun merah itu menggunakan kekuatan ajaib dalam jumlah besar maka akan menyebabkan kekacauan terjadi pada putaran waktu serta lintasan waktu.


Hal itu akan membuat mereka berdua tidak dapat kembali pulang dari tahun 1962 ke masa depan, dunia asal Aneisha Mihai.


Itu sebabnya Aneisha Mihai menggunakan sekolah balet milik pria asing itu serta ibu dari pria itu untuk mengancamnya untuk tidak membantu pria tersebut.


Tampaknya usaha Aneisha Mihai berhasil dan pria asing itu terlihat ragu-ragu dengan keputusan gadis muda itu.


"Tunggu Magde !", teriak pria asing itu cepat-cepat.


"Ada apa ?", tanya Bu Amarise berlagak tidak mengerti.


"Tunggu, tunggu, jangan lakukan itu ! Karena aku percaya pada kalian berdua ! Tidak usah kalian buktikan jika kalian benar-benar berasal dari dunia tarian balet Sylphide !", ucap pria asing itu setengah ketakutan.


Akhirnya pria asing itu mencegah wanita bergaun merah itu untuk membuktikan bahwa mereka berasal dari dunia tarian balet La Sylphide.


"Baiklah... Baiklah... Aku mempercayai kalian berdua dan kalian tidak perlu membuktikan perkataan kalian ! Aku percaya, aku percaya pada kalian sepenuhnya !", ucap pria asing itu terengah-engah.


"Hmm... Benarkah itu ?", ucap Bu Amarise yang berusaha menahan tawanya.


"Tentu... Tentu saja ! Kalian tidak perlu harus terbang melayang di udara layaknya roh ajaib sesungguhnya, cukup adanya kalian di dalam bangunan usang ini sudah membuktikan perkataan kalian !", ucap pria asing itu sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Oh Iya !?", sahut Bu Amarise lalu tersenyum.


"Maaf, maafkan aku yang telah lancang karena tidak mempercayai kalian ! Tolong maafkan aku !", ucap pria asing itu.


"Mmm... Baiklah !? Aku akan memaafkannya...", sahut Bu Amarise.


Wanita tua bergaun merah itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Aneisha Mihai dan tersenyum penuh arti pada gadis muda itu.


"Bantuan apa yang kamu tawarkan padanya, Sylphide ?", tanya Bu Amarise seraya berkedip.


"Emm, bantuan !?", gumam Aneisha Mihai.


"Apa yang kamu janjikan untuk membantu pria itu, Sylphide ?", tanya Bu Amarise.


"Bagaimana jika James sendiri yang menceritakannya kepada anda, Magde ? Karena akan lebih jelas jika James yang mengatakannya !", sahut Aneisha Mihai.


"Aku !?", ucap pria itu terkejut.


Aneisha Mihai memandang pria asing yang dipanggilnya dengan nama James itu dengan tatapan yang sangat serius, dan membuat pria asing itu sedikit merasa takut.


"Baik, aku akan menceritakan kisahku pada kalian, kenapa aku berada di gedung usang ini, dan tinggal disini seorang diri !?", jawab pria asing itu.


"Apa !? Kau tinggal disini !? Di gedung usang dan menyeramkan ini !? Manusia seperti apa kau itu !?", ucap kedua perempuan itu bersama-sama.


"Ehk !?", sahut pria asing itu tercengang. "Kenapa !?"

__ADS_1


"Ya Tuhan !!!", teriak mereka kompak.


"Apa kalian suka sekali duet ? Aku lihat dari tadi kalian selalu berbicara bersama-sama !?", ucap pria asing itu sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.


"TIDAK !!!", sahut keduanya bersama-sama.


"Astaga...", gumam pria asing itu terkejut.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita duduk santai mendengarkan ceritaku ?", ucap pria asing itu sambil tersenyum kaku.


"Baiklah...", sahut keduanya bersama-sama.


Ketiga orang yang ada di dalam aula besar itu lalu duduk sambil bersila di atas karpet yang telah disediakan oleh Bu Amarise.


Mereka terlihat sedang menikmati seteko minuman hangat serta makanan yang sengaja Bu Amarise buat untuk mereka bertiga.


Pria itu juga mengeluarkan sekotak burger yang sudah dingin dari dalam saku bajunya lalu memakannya.


"Kenapa kamu tidak memakan makanan hangat yang baru aku buat ini ?", tanya Bu Amarise.


"Nanti, aku akan memakannya nanti saja setelah menghabiskan burger ini, makanan itu untuk persedian nanti malam", jawab pria asing itu.


"Makanlah setelah kamu menghabiskan burger itu, aku akan membuatkannya lagi untuk makan malam", ucap Bu Amarise jatuh iba pada pria asing yang masih muda itu.


"Mmm..., tidak usah repot-repot, Magde ! Ini semua sudah lebih dari cukup !", ucap pria asing itu.


"Jangan menolak pemberian kami, itu tidak baik ! Makanlah James !", ucap Aneisha Mihai.


"Mmm...!?", gumam pria asing itu tampak ragu-ragu.


"Makanlah ! Jangan menolaknya !", ucap Aneisha Mihai seraya menyodorkan makanan yang ada di depan pria asing itu.


"Benar, James, makanlah, karena kamu terlihat sangat kurus sekali !?", ucap Bu Amarise.


"Mmm... Terimakasih atas makanannya, aku sangat menghargainya, terimakasih", ucap pria asing itu terharu.


"Sama-sama...", sahut Bu Amarise.


"Apakah kamu benar-benar tinggal di tempat ini ?", tanya Aneisha Mihai sembari memandangi gedung usang itu lalu bergidik ngeri.


"Iya..., karena aku harus berhemat untuk tinggal di negara ini dan bersekolah serta bekerja...", ucap pria asing itu.


"Ya Tuhan ! Betapa beratnya hidupmu disini, bukankah dari uang hasil kamu bekerja, kamu dapat mencari tempat tinggal yang layak ?", ucap Aneisha Mihai.


"Yeah... Benar sekali..., tapi aku harus berhemat dan mengumpulkan uang untuk membantu modal sekolah balet milik ibuku", sahut pria asing itu muram.


"Sekolah balet ?", tanya Bu Amarise.


"Benar sekali... Oh Iya, namaku sebenarnya bukanlah James tetapi namaku adalah Beaufort Abellard, ayahku berasal dari kota kecil di Perancis sedangkan ibuku dari luar negeri", ucap Beaufort Abellard, si pria asing itu.


"Wow ! Nama kamu sangat bagus sekali, aku baru tahu itu", ucap Aneisha Mihai berseru kagum.


"Kenapa kamu tidak tinggal bersama ayahmu melainkan tinggal di gedung usang ini ?", tanya Bu Amarise heran.


"Ayahku... !? Kedua orangtuaku telah berpisah lama dan ibuku memutuskan kembali ke negaranya dan mendirikan sekolah balet disana sedangkan aku ikut ibuku tetapi kembali ke Perancis untuk melanjutkan sekolah baletku di Académie Royale de Danse, tempat ibuku dulu bersekolah", ucap Beaufort Abellard.


"Oh begitu, tapi kenapa kamu tidak tinggal bersama ayahmu untuk berhemat ?", tanya Aneisha Mihai yang menyamar menjadi Sylphide.


"Ayahku menentangku untuk sekolah balet..., karena itulah aku tidak tinggal bersama dengannya..., dan memutuskan untuk hidup mandiri di kota ini seorang diri...", sahut Beaufort Abellard.


"Oh Tuhan !? Betapa malangnya dirimu !?", ucap Aneisha Mihai dengan mimik prihatin.


"Ha... Ha... Aku tahu itu...", sahut Beaufort Abellard.


"Apakah kau tidak merasa takut untuk tinggal di gedung usang ini ? Bukankah itu sangat berbahaya sekali bagi keselamatanmu ?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku terpaksa melakukannya untuk bertahan hidup meski aku tidak pernah sedikitpun dapat tenang tinggal di gedung ini seorang diri", sahut Beaufort Abellard jujur.


"Oh Tuhan... Kenapa hidupmu tidak lebih baik dari hidup James dan aku...", ucap Aneisha Mihai sedih.


"Mmm... !?", gumam Beaufort Abellard.


"Kenapa takdir begitu kejamnya mempermainkan hidup kita !? Ini sangat tidak adil sekali !?", ucap Aneisha Mihai sendu.

__ADS_1


Suasana di gedung usang itu terlihat sunyi saat mereka bertiga tengah memakan makanan mereka tanpa bersuara lagi, masing-masing terdiam sambil memandangi makanan mereka dengan perasaan yang haru.


Tidak lagi terdengar mereka yang berdebat dan berbicara, atau beradu argumen lagi, hanya suasana yang sepi menemani mereka saat makan, dan ketiganya tenggelam dalam pikiran mereka tanpa berkata-kata lagi.


__ADS_2