
Gedung Folies Bergere terletak jauh dari rumah makan tempat Beaufort Abellard bekerja, dan sangat jauh apabila di tempuh dengan berjalan kaki.
Aneisha Mihai hampir tak sanggup melanjutkan perjalanan kakinya menuju gedung itu.
Dia bersandar di dinding tembok yang terbentang di tepi jalan menuju Gedung Folies Bergere, dengan bermandi peluh keringat.
Bu Amarise hanya memandangi Aneisha Mihai yang berada di sampingnya berdiri, rasa lelah tidak pernah dirasakan oleh wanita tua itu karena dia adalah sang malaikat pelindung.
Wanita bergaun merah dengan topi merah yang menutupi sebagian wajahnya itu menyunggingkan senyumannya.
Tak ada ucapan yang keluar darinya saat melihat sikap dari gadis muda berparas cantik itu, wanita tua itu hanya tertawa kecil pada gadis itu.
"Fuih... Masih jauh lokasi gedung itu, Bu Amarise, sepertinya aku sudah tidak sanggup untuk melanjutkan langkah kaki ini", ucap Aneisha Mihai sambil tersengal-sengal.
"Gedung Folies Bergere sudah cukup dekat dari sini, nak, tinggal beberapa langkah lagi, kita pasti akan sampai disana", sahut Bu Amarise.
"Ya Tuhan... Bisakah aku beristirahat sebentar, aku benar-benar sangat lelah, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai.
"Mmm, tapi arah ke gedung itu tidak jauh lagi, nak, bertahanlah, bukankah ini tidak sebanding dengan latihan balet yang berjam-jam, mari kita lanjutkan lagi langkah kita", ucap Bu Amarise masih tersenyum.
"Ya Tuhanku, aku rasa ini lebih berat dari latihan tari balet dan ini jauh lebih melelahkan, aku tidak sanggup lagi, kakiku terasa mau lepas", ucap Aneisha Mihai.
"Jangan putus asa, nak, bersabarlah, tinggal beberapa langkah, mungkin sekitar lima belas menit kita akan sampai di Gedung Folies Bergere", jawab Bu Amarise.
"Aduh ! Aduh ! Tolonglah, Bu Amarise, bisakah kita beristirahat sejenak dari letihnya hari ini, aku sungguh sangat lelah sekali", ucap Aneisha Mihai.
Gadis muda nan cantik itu terlihat sekali kelelahan setelah berjalan kaki bolak-balik sejauh itu. Dan sangat jelas rasa letih tergambar di wajahnya yang merona merah.
Aneisha Mihai masih menyandarkan tubuhnya di dinding tembok di tepi jalan menuju Gedung Folies Bergere.
Lain halnya yang dilakukan nenek tua yang berdiri di samping gadis muda itu. Tampak Bu Amarise melangkahkan kedua kakinya untuk melanjutkan tujuannya pergi ke gedung yang tak jauh dari mereka.
Wanita bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutup sebagian wajahnya meninggalkan Aneisha Mihai yang masih bersandar di tembok jalan.
Gadis muda berparas cantik itu segera menyusul wanita tua di depannya, setengah berlarian.
"Tunggu, Bu Amarise ! Jangan tinggalkan aku sendirian !", teriak Aneisha Mihai sembari melambaikan tangannnya.
Sesekali gadis cantik itu menghentikan langkahnya di tengah jalan dengan nafas terengah-engah dan terkadang ia membungkukkan badannya karena lelah.
Bu Amarise hanya menoleh sebentar ke arah Aneisha Mihai yang berada di belakangnya, kemudian melanjutkan lagi langkah kakinya menuju ke Gedung Folies Bergere.
Beberapa saat kemudian mereka berdua telah sampai di depan gedung opera yang megah itu kembali, seperti pada saat pertama kali mereka datang di gedung tersebut.
Memperhatikan arah muka gedung yang pintu serta jendelanya tertutup rapat.
Aneisha Mihai yang masih tersengal-sengal mulai berbicara pada wanita tua di sebelahnya berdiri.
"Bagaimana kita akan masuk ke dalam gedung itu ? Semuanya terkunci rapat, Bu Amarise !?", tanya Aneisha Mihai.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah wanita bergaun merah itu dengan tatapan penuh tanya.
"Hmm... Sepertinya kita harus memaksa masuk ke dalam gedung itu, nak, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk masuk ke sana", sahut Bu Amarise.
Wanita tua itu melihat ke arah gedung di depannya dengan menunjukkan wajah yang sangat serius.
Dia melangkahkan kedua kakinya menaiki tangga-tangga gedung itu kemudian berdiri mematung di depan pintu gedung yang terkunci.
"Hmm, pintu gedung ini terkunci dan terpaksa kita harus menggunakan kekuatan ajaib itu untuk membukanya, nak", ucap Bu Amarise sambil berdiri dengan memegang gagang payung berenda miliknya.
"Apakah kita lebih baik mendobrak masuk ke dalam gedung ini tanpa menggunakan kekuatan magis, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai yang berdiri di sisi wanita tua itu.
"Tidak mungkin jika kita mendobrak paksa masuk ke dalam gedung ini karena kita akan ketahuan oleh orang-orang disini", jawab Bu Amarise seraya memperhatikan ke atas gedung.
"Jika menggunakan kekuatan ajaib, apakah tidak terlalu berbahaya untuk kita, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Bagaimana lagi, nak, kita terpaksa harus melakukannya karena kita diburu oleh waktu yang tidak lama di masa lalu ini, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.
__ADS_1
"Yeah, aku mengerti itu, dan ini memang cukup merepotkan anda", ucap Aneisha Mihai.
"Jangan berkata demikian, nak, tidak ada yang merasa repot atau berat, aku dengan senang hati membantu dirimu", ucap Bu Amarise.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya mulai mengangkat payung berenda miliknya ke arah atas.
Mulutnya tampak komat-kamit dengan kedua mata terpejam, ia sangat serius saat melakukan hal itu.
Aneisha Mihai hanya terdiam melihat ke arah wanita tua di sampingnya yang terlihat berkonsentrasi.
Terdengar suara pintu yang terbuka lebar dan mengeluarkan suara sangat kerasnya dari arah depan mereka berdua.
Aneisha Mihai tersentak kaget melihat pintu gedung itu terbuka dengan sendirinya dengan daun pintu yang terus menerus bergerak-gerak sendiri.
"Ayo, kita masuk, nak !", ucap Bu Amarise.
"Em, baiklah, mari kita masuk ke dalam", sahut Aneisha Mihai.
Kedua perempuan berbeda umur itu kemudian melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam gedung megah yang ada di depan mereka.
Ketika keduanya telah masuk ke gedung, tiba-tiba pintu tersebut tertutup kembali dengan sendirinya.
Aneisha Mihai memandangi ruangan Gedung Folies Bergere yang tampak lenggang dan kosong itu.
Hanya terdengar langkah kaki keduanya di dalam gedung yang merupakan bangunan kuno.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan disini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kita akan mencari petunjuk tentang ibu dari Beaufort Abellard, apakah ada sesuatu yang akan kita temukan di tempat ini", sahut Bu Amarise.
"Petunjuk dari ibunya Beaufort Abellard, ini terasa sangat misterius sekali...", ucap Aneisha Mihai.
"Hmmm... Yah, ini memang sedikit penuh misteri, karena masih ada teka-teki di balik kisah mengenai dua anak laki-laki kembar itu yang harus kita pecahkan, nak", ucap Bu Amarise.
"Benar sekali, Bu Amarise, kenapa kemudian muncul kisah tentang dua anak kembar itu dan ini sedikit membingungkan sekali", ucap Aneisha Mihai.
"Bukan karena tarian balet Les Bourgeois yang menjadi alasan kuat kita kemari tapi ini berkaitan dengan pemilik sekolah balet, lalu hubungan dengan tarian balet itu apa, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai heran.
"Hubungannya adalah tarian tersebut memiliki sejarah yang kuat dengan pemilik sekolah balet tapi disini kita menemui kejanggalan dari kisah itu", sahut Bu Amarise.
"Hmmm... Ini sangat rumit sekali, dan tidak tampak sederhana dari yang aku bayangkan", ucap Aneisha Mihai.
"Benar sekali dengan yang kamu ucapkan, nak, ini sangat misterius dan sedikit membuat kita berpikir keras", ucap Bu Amarise menanggapi perkataan Aneisha Mihai itu.
"Aku sedikit takut, Bu Amarise...", ucap gadis cantik itu.
Aneisha Mihai lalu merapatkan tubuhnya ke tubuh wanita tua bergaun merah di sampingnya saat mereka berjalan memasuki lorong Gedung Folies Bergere.
Ruangan di dalam gedung terasa sangat sepi sekali tanpa adanya lampu yang menerangi di dalamnya.
Mereka berdua harus terpaksa berjalan dengan meraba-raba di dalam gelapnya gedung yang megah itu.
"Kenapa anda tidak menyalakan lampu di ruangan gedung ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai dengan suara bergetar.
"Mmm, aku tidak dapat melihat apa-apa di dalam ruangan gedung yang gelap ini, nak", sahut Bu Amarise.
"Tidakkah payung berenda milik anda berkhasiat sekali, apakah tidak ada senter di payung anda, Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai penuh tanda tanya.
"Oh, tunggu sebentar, aku akan melihatnya tetapi bagaimana aku dapat menemukan senter itu di payung berenda ku ini dalam kegelapan, nak ?", bisik Bu Amarise.
"Kita cari jendela, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
"Jendela ? Untuk apa, nak ?", tanya Bu Amarise setengah bergumam.
"Untuk membuka tirai jendela yang menutupi kaca-kaca itu", ucap Aneisha Mihai.
"Ya Tuhan, tidak sempat terpikirkan oleh ku untuk membuka tirai jendela tetapi jika kita membuka semua tirai, aku takut nantinya akan mengundang perhatian orang di luar gedung ini", ucap Bu Amarise.
__ADS_1
"Tetapi kita hanya membuka sebagian tirai jendela saja, tidak semua tirai kita buka, Bu Amarise, hanya untuk mendapatkan sedikit pencahayaan", ucap Aneisha Mihai.
"Hmmm, baiklah kalau demikian, aku setuju dengan idea kamu, tunggulah disini aku akan berjalan ke arah jendela untuk membuka tirai, nak", ucap Bu Amarise.
"Tunggu Bu Amarise ! Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, aku sangat takut sekali, Bu Amarise !?", ucap Aneisha Mihai seraya memegangi lengan wanita tua itu erat-erat.
"Tenanglah, nak, tidak akan terjadi apa-apa di gedung ini, ada aku yang bersamamu, tenang..., tenanglah, nak", bujuk Bu Amarise.
Namun, bujukan wanita tua bergaun merah itu tidak mempan buat Aneisha Mihai yang sudah terlanjur ketakutan karena memikirkan kisah dari pria asing itu yang sarat penuh misteri.
Aneisha Mihai menggenggam erat tangan Bu Amarise yang sedang berjalan ke arah jendela Gedung Folies Bergere.
Tanpa henti-hentinya mulut gadis muda berparas cantik itu berkomat-kamit melantunkan doa keselamatan.
Bu Amarise lalu menyibakkan setengah tirai yang menutupi jendela ruangan gedung agar keluar cahaya terang yang menerangi ke dalam Gedung Folies Bergere yang gelap gulita itu.
"AAAAHHH...!!!", jerit Aneisha Mihai tiba-tiba.
Wanita tua bergaun merah di samping gadis muda itu turut terkejut kaget ketika gadis itu menjerit keras.
Bu Amarise lalu menolehkan kepalanya ke arah Aneisha Mihai yang merapatkan tubuhnya ke arah dirinya.
"Ada apa, nak, kenapa kamu menjerit seperti itu ?", tanya Bu Amarise bingung.
"D--di sana..., di sana..., coba anda lihat, ada kepala !", sahut Aneisha Mihai dengan tubuh gemetaran sembari menunjuk ke sudut ruangan gedung.
"Apa ?", ucap Bu Amarise tertegun.
Kala ia melihat sesuatu di sudut ruangan gedung megah itu, wanita tua bergaun merah tercengang tak percaya dengan yang di lihatnya itu.
"GLEDUK... GLEDUK... GLEDUK..."
Sebuah kepala manekin yang menggelinding pelan dan berhenti di atas lantai ruangan gedung.
Bu Amarise berjalan menghampiri onggokan kepala manekin yang tergeletak di atas lantai.
"Kepala manekin ? Punya siapakah ini ?", ucap Bu Amarise tertegun.
"Ha--hati... Hati-hatilah, Bu Amarise ! Jangan gegabah !", ucap Aneish Mihai berusaha mengingatkan.
"M..., tenanglah, aku akan waspada, nak", ucap Bu Amarise.
Bu Amarise duduk berjongkok di depan kepala manekin yang tergeletak di atas lantai sembari memperhatikannya, wanita tua itu lalu membungkus kedua tangannya dengan sarung tangan merah pada saat ia akan memungut kepala manekin itu.
Tiba-tiba wanita tua itu duduk terjengkang ke belakang pada saat tangannya memegang kepala manekin.
Dia menutup mulutnya yang terbuka dengan salah satu tangannya serta membelalakkan kedua matanya terkejut.
Pandangan Bu Amarise mendadak berubah menjadi ngeri saat dirinya melihat kepala manekin yang ada di tangannya.
"Ya Tuhanku ! Apa ini !?", pekiknya tertahan.
"Ada apa !?", gumam Aneisha Mihai pelan.
Aneisha Mihai yang mendengar ucapan Bu Amarise lantas mengalihkan pandangannya ke arah wanita tua bergaun merah itu.
Dia mendapati Bu Amarise yang terkejut ngeri saat wanita tua itu melihat kepala manekin yang ia pegang.
Gadis berparas cantik itu memandangi ke arah Bu Amarise dengan penasaran dan ia mencoba berjalan mendekat ke arah wanita tua itu berada.
"A--pa... Apa... Apa... Apa maksud dari semua ini ?", ucap Bu Amarise tergagap.
Ucapan Bu Amarise semakin membuat Aneisha Mihai penasaran dan berusaha menengok ke arah kepala manekin yang wanita tua itu pegang.
Betapa kagetnya Aneisha Mihai ketika ia melihat dari dekat kepala manekin itu, gadis muda itu terkejut tatkala Bu Amarise mendongakkan kepala manekin ke arah atas sehingga ia dapat dengan jelas melihat keseluruhan wajah dari manekin tersebut.
Aneisha Mihai hanya sanggup berkata, "Oh Tuhan..."
__ADS_1