Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 38 Saatnya Berpisah


__ADS_3

Aneisha Mihai menitikkan air matanya saat menyaksikan pertemuan yang mengharukan antara Beaufort Abellard dengan saudara kembar laki-lakinya yang bernama Benjamin Abellard.


Pertemuan yang terjadi di Pantai chemice Trousse sungguh membuat hati gadis muda itu bergetar haru.


Berulangkali Aneisha Mihai mengusap kedua matanya yang basah oleh linangan air mata, betapa yang terharunya gadis itu melihat kedua saudara kembar itu saling berpelukan setelah tiga belas tahun terpisah.


Meski keduanya kala itu terbilang masih berusia lima tahun tetapi ingatan mereka masing-masing yang berisi tentang ingatan akan saudara kembar mereka melekat erat pada benak mereka berdua hingga keduanya dewasa.


"Ini sungguh mengharukan sekali", ucap Aneisha Mihai sesenggukkan.


"Yah, akhirnya kita dapat mempertemukan saudara kembar itu, nak", sahut Bu Amarise.


"Iya, benar, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai sendu.


"Dan ini saatnya kita berpisah dengan mereka, nak", ucap Bu Amarise.


"Emm !? Apakah kita sudah bisa kembali pulang ke masa depan, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Yah, sepertinya demikian karena aku melihat salju mulai berhenti turun di sini, nak", ucap Bu Amarise.


"Salju...", ucap Aneisha Mihai terdiam.


Gadis muda berparas cantik itu memandangi butiran salju terakhir yang jatuh turun dari langit dengan tatapan teduh.


Salju yang seharusnya tidak turun pada bulan mei akhirnya berhenti tepat saat mereka mempertemukan kedua saudara kembar itu di Kota Ars-en-Rè ini.


Musim kembali pada asalnya semula, dan tiba saatnya untuk berpamitan dengan Beaufort Abellard dan Benjamin Abellard.


"Apakah kita akan pamit ke Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.


"Hmmm... Sepertinya itu tidak perlu lagi, nak. Karena alangkah baiknya jika Benjamin Abellard tidak melihat kita disini...", sahut Bu Amarise.


"Kita langsung pulang ke masa depan, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


"Yah, aku rasa itu lebih baik kita segera pergi dari tempat ini, Aneisha Mihai", jawab Bu Amarise.


"Bagaimana caranya kita pulang, bukankah kita harus kembali ke Gedung Folies Bergere lagi, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Yah, tampaknya seperti itu, nak", sahut Bu Amarise.


"Mari kita segera kembali ke gedung itu dan pulang ke rumah", ucap Bu Amarie. "Dan katakanlah selamat tinggal pada mereka dari sini, nak !"


"Baiklah... Selamat tinggal Beaufort Abellard... Semoga harimu selalu bahagia dan menyenangkan... Selamat tinggal Benjamin Abellard ! Jagalah saudara kembar kalian !", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm...", gumam Bu Amarise. "Ayo, kita segera pergi dari Pantai chemice Trousse dan bersiaplah karena sebentar lagi waktu akan kembali semula, Aneisha Mihai", sambung wanita tua itu.


"Iya, Bu Amarise...", sahut Aneisha Mihai.


Terlihat kilauan cahaya warna-warni bagaikan pelangi mengelilingi tubuh Aneisha Mihai serta Bu Amarise.


Cahaya itu menggulung mereka berdua pelahan-lahan lalu keduanya menghilang dari area Pantai chemice Trousse.


Meninggalkan Beaufort Abellard dengan saudara kembar laki-lakinya bernama Benjamin Abellard di pantai Kota Ars-en-Rè.


Gedung Folies Bergere...


Muncul cahaya warna-warni berkilauan di dalam ruangan Gedung Folies Bergere, tempat dimana mereka berdua datang ke Kota Paris pada tahun 1962 untuk pertama kalinya.


Tubuh Aneisha Mihai pelan-pelan terlihat di ruangan Gedung Folies Bergere dan di sampingnya wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya berdiri dengan memegang payung berenda miliknya.


Mereka kembali ke gedung itu lagi dan saat cahaya berkilauan itu lenyap dari tubuh mereka, muncul lingkaran besar di gedung tersebut.


Lingkaran cahaya berwarna biru kembali terlihat di dalam Gedung Folies Bergere seperti pertama mereka datang ke tahun 1962 ke Paris.


Hanya saja letak lingkaran besar itu tidak terletak di lantai gedung melainkan pindah ke dinding gedung membentuk putaran.

__ADS_1


"Lingkaran besar itu muncul lagi, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.


Gadis muda itu menolehkan kepalanya ke arah lingkaran bercahaya biru langit yang ada di dinding Gedung Folies Bergere.


Menatapnya dingin lalu mendekat ke arah lingakaran yang berputar cepat itu.


Aneisha Mihai melihat wanita tua bergaun merah yang masih berdiri agak jauh dari dirinya dan lingkaran bercahaya biru langit dengan tatapan seriusnya kemudian gadis muda itu berkata pelan kepada wanita tua tersebut.


"Apakah anda tidak ikut kembali pulang bersamaku, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai dengan tatapan teduh.


"Oh, tentu saja, nak, aku akan pulang bersama denganmu, Aneisha Mihai... Bukankah aku adalah malaikat pelindungmu ?", sahut Bu Amarise.


Wanita tua itu lalu melangkahkan kedua kakinya dengan langkah panjang menuju Aneisha Mihai yang berdiri di hadapan lingkaran bercahaya berwarna biru langit.


Bu Amarise menyunggingkan senyumannya kepada gadis cantik itu lalu menggenggam erat tangannya.


"Mari kita pulang ke masa depan, kembali ke rumah lagi. Dan mari kita selesaikan tugas misi kita, nak", ucap Bu Amarise.


Aneisha Mihai menganggukkan kepalanya perlahan seraya tersenyum lembut dan menjawab ucapan wanita tua di sampingnya.


"Ayo, kita pulang ke rumah, Bu Amarise. Dan ucapkanlah selamat tinggal Paris serta selamat datang kembali hidup baru", ucap Aneisha Mihai.


Sejenak Aneisha Mihai melihat ke arah Gedung Folies Bergere dengan hati sendu namun bahagia karena dia dapat membantu Beaufort Abellard mencapai impiannya yang sangat indah.


Menarik nafas pelan lalu mengeluarkan perlahan udara yang dia hirup seraya memejamkan kedua matanya yang berair.


"Selamat tinggal Beaufort Abellard ! Semoga bahagia selalu bersama denganmu, teman baruku, dan terimakasih atas perjuanganmu mempertahankan sekolah ballet kami ! Salam dari Sylphide, roh ajaib !", ucap Aneisha Mihai seraya melelehkan air matanya pelan.


"Ayo, Aneisha Mihai... Mari kita pulang...", ucap Bu Amarise.


Aneisha Mihai lalu membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya ke dalam lingkaran bercahaya berwarna biru langit menuju kembali pulang ke rumah.


Bersamaan masuknya Aneisha Mihai dan Bu Amarise ke dalam lingkaran maka tertutupnya pula lingkaran besar itu kemudian menghilang dari ruangan Gedung Folies Bergere.


Salju...


Suasana Kota Paris terlihat cerah ketika mereka meninggalkan kota tersebut. Udara kembali sejuk, temperatur menengah dan matahari yang bersinar terang meskipun terkadang diselingi hujan menghias Kota Paris, Perancis tempat Beaufort Abellard sang pemilik sekolah balet tinggal.


Tanpa disadari oleh Beaufort Abellard jika kedua perempuan berbeda usia itu telah pergi dari Kota Paris dan kembali ke masa lima puluh lima tahun ke depan.


Tahun 2017...


Muncul cahaya berkilauan terang di halaman belakang sekolah ballet tempat Aneisha Mihai menuntut ilmu tari ballet disertai suara yang teramat keras.


DAR... DUAR... DUAR... JEDAAR...


Lingkaran bercahaya berwarna biru langit keluar dari dalam permukaan tanah di halaman tersebut.


"Aduh !?", jerit seorang gadis muda terjatuh keras di area halaman belakang sekolah.


"Astaga !", disusul suara dari seorang wanita tua bergaun merah yang ikut jatuh di halaman belakang sekolah.


BRUK...


Aneisha Mihai terduduk di tanah seraya memegangi pantatnya yang terbentur keras oleh permukaan tanah padat. Dan dia terlihat meringis kesakitan akibat benturan tersebut.


"Auwh !? Sakit sekali !", keluh Aneisha Mihai.


"Bagaimana keadaanmu, Aneisha Mihai ?", tanya Bu Amarise.


"Mmhf... Sakit sekali, Bu Amarise..., tetapi sudah agak baikan meski masih nyeri...", sahut Aneisha Mihai.


"Kita berada dimana sekarang ini, sepertinya ini sebuah halaman sekolah. Apakah kamu tahu tempat ini, nak ?", tanya Bu Amarise seraya menolehkan kepalanya kesekitar area itu.


"Aku tidak tahu tepatnya kita dimana tetapi jika melihat bentuk dari bangunan disini, aku rasa ini halaman sekolah ballet tempatku sekolah, Bu Amarise", sahut gadis muda itu.

__ADS_1


"Aduh ! Aduh ! Bagaimana bisa kita dijatuhkan disini ? Tidak adakah tempat yang lebih baik lagi daripada halaman sekolah", keluh wanita tua bergaun merah seraya beranjak berdiri.


Bu Amarise berpegangan erat pada gagang payung berenda miliknya saat dia berdiri kemudian dia memperhatikan ke sekeliling tempat itu seksama.


"Aku rasa yang kamu katakan itu benar, nak, karena firasatku mengatakan jika kita telah sampai ke tahun kita datang", ucap Bu Amarise.


"Yah, akhirnya kita sudah kembali pulang, Bu Amarise... Mari kita segera pergi dari halaman sekolah ballet ini dan pulang ke rumah", sahut Aneisha Mihai.


"Tunggu, nak !", tahan Bu Amarise.


"Ehk !? Ada apa, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai yang langkahnya tertahan oleh tangan wanita tua itu.


"Firasatku mengatakan jika kita kembali pulang tetapi tidak kembali ke rumah melainkan ke sekolah, aku rasa ada sesuatu di tempat ini yang misterius, nak", ucap Bu Amarise.


"Maksud anda, ada lagi misteri yang harus kita pecahkan disini, Bu Amarise !?", tanya Aneisha Mihai.


"Sepertinya begitu, nak... Bagaimana kalau kita segera mencari tahu jawabannya !?", sahut Bu Amarise bertanya.


"Apakah kita tidak sebaiknya langsung pulang ke rumah saja dan mencari yang misterius itu pada esok hari saja, Bu Amarise ?", ucap gadis muda penuh energik itu sedikit mengeluh.


"Tidak, tidak, nak ! Sebaiknya kita segera mencari tahu jawabannya yang menjadikan alasan kita datang ke sini yang seharusnya kita itu kembali ke rumah seperti awal kita pergi ke tahun 1962 itu bukannya kita datang ke halaman belakang sekolah ballet ini, nak", sahut Bu Amarise dengan panjang lebar.


"Artinya...", ucap Aneisha Mihai seraya menggosok pantatnya yang terasa nyeri akibat terhantam tanah di halaman sekolah ballet.


"Umf !? Kita cari tahu alasannya, mungkin ada misteri di balik ini karena biasanya sesuatu yang penuh keajaiban menyimpan sebuah misteri", sahut Bu Amarise lalu melangkahkan kakinya dari halaman menuju ke gedung sekolah.


"Sepertinya anda sangat penasaran sekali, Bu Amarise, kalau aku lihat tidak ada yang aneh atau misterius di tempat ini", ucap Aneisha Mihai seraya berjalan tertatih-tatih, dan sambil memegangi pantatnya yang berdenyut-denyut sakit.


"Yah... Yah... Kita lihat saja, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang di sekolah ballet ini, aku yakin ada yang ingin disampaikan kepada kita yang berkaitan erat dengan pemilik sekolah ini", sahut Bu Amarise melenggang pergi.


Wanita tua bergaun merah itu tidak memperdulikan keberadaan Aneisha Mihai yang berjalan menahan kesakitan di belakangnya. Dan terus berjalan menuju ke arah gedung sekolah ballet.


"Tu...Tunggu Bu Amarise ! Jangan cepat-cepat ! Aku tidak dapat menyusulmu jika anda berjalan secepat itu, Bu Amarise !", teriak Aneisha Mihai.


"Cepatlah...", sahut Bu Amarise tanpa menoleh.


"Astaga !? Dia sangat bersemangat sekali kali ini", ucap gadis muda itu tertatih-tatih.


Gedung sekolah ballet...


"Aneisha Mihai... Aneisha Mihai...", panggil suara asing itu pada Aneisha Mihai yang berjalan di koridor sekolah.


Suara terdengar dari bawah lantai gedung sekolah ballet, memanggil-manggil nama gadis muda itu ketika mereka melangkah masuk ke dalam gedung sekolah dan pada saat Aneisha Mihai memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut.


Dia melihat sebuah kepala muncul dari dalam lantai gedung seraya menyeringai ke arah gadis muda itu.


Langsung saja tanpa Aneisha Mihai sadari dia menjerit sangat kencangnya.


"AAAAAAAAAAAAAA !!!! SETAAAN !!!!", teriak Aneisha Mihai ketakutan.


Suara teriakan Aneisha Mihai mengejutkan Bu Amarise yang berjalan di depan gadis cantik itu.


Wanita tua bergaun merah itu lalu berlari menghampiri Aneisha Mihai yang wajahnya berubah pucat pasi serta menggigil lemas.


Aneisha Mihai membelalakkan kedua matanya penuh rasa ngeri saat dia melihat sesosok kepala yang keluar dari lantai gedung sekolah dan memanggil dirinya terus menerus serta tersenyum menyeringai kepadanya.


"Ada apa Aneisha Mihai ? Kenapa kamu terlihat sangat ketakutan sekali, nak ?", tanya Bu Amarise seraya mengusap wajah gadis cantik itu.


"Se... Setan... Ada setan di bawah sana, Bu Amarise !!!", ucap Aneisha Mihai tergagap tanpa mampu bergerak sedikitpun.


Sangat jelas dia merasa kaku dan membeku ketika melihat sebuah kepala yang muncul dari permukaan lantai gedung sekolah serta memanggil namanya.


"Setan ! Setan, Bu Amarise ! Ada setan !", ucap Aneisha Mihai melototkan matanya.


"Setan ?", tanya Bu Amarise kebingungan.

__ADS_1


Pada saat wanita tua bergaun merah serta bertopi merah berenda yang menutupi wajahnya melihat ke arah bawah lantai gedung sekolah.


Ekspresi wajah Bu Amarise tampak marah seraya mencibir kecut pada sosok kepala yang tiba-tiba muncul di lantai gedung sekolah ballet. Dan menatap sosok kepala itu dengan tatapan dingin.


__ADS_2