
Aneisha Mihai beserta Bu Amarise bergerak turun ke area pegunungan Moncayo dekat bangunan rumah besar milik Izebel.
Tampak payung berenda milik Bu Amarise terbuka lebar memayungi tubuh mereka saat keduanya berjalan menuju area rumah Izebel.
"Apakah dia tidak akan mengetahui kita, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak akan, hanya saja kamu harus lebih berhati-hati, kita tidak tahu apakah sihir itu bekerja dengan sendirinya ?", sahut Bu Amarise memberi saran.
"Ini mengerikan sekali karena bagaimana mungkin seorang wanita bisa berbuat seperti itu, menanamkan sihir di seluruh rumahnya", ucap Aneisha Mihai ngeri.
"Bahkan akan kamu lihat yang sebenarnya rupa rumah ini, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.
"Rupa rumah ini ? Maksud anda dengan rupa rumah ini !?", ucap Aneisha Mihai kebingungan.
"Nanti kamu akan melihatnya sendiri keadaan rumah milik penyihir Izebel", sahut Bu Amarise.
"Apakah kita akan masuk ke dalam rumah ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tentu saja, kita pasti masuk ke dalam rumah ini tetapi aku akan membuat sesuatu yang lain pada diri kita, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.
"Ada apa ini...", Aneisha Mihai hanya memperhatikan sekitarnya dengan tanda tanya besar tanpa mampu mengucap sepatah katapun.
"Ayo masuk Aneisha Mihai !", perintah Bu Amarise.
"Ba--baik Bu Amarise !", ucap Aneisha Mihai.
Pada saat mereka masuk ke dalam rumah milik Izebel keluar cahaya terang membias ke seluruh tubuh mereka dari arah payung berenda milik Bu Amarise yang tertutup rapat.
"Cahaya apakah ini, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ini cahaya untuk menghilangkan kehadiran kita agar tidak terlihat oleh mata orang lain", sahut Bu Amarise.
"Benarkah ini akan membuat kita menjadi tidak kelihatan", ucap Aneisha Mihai penasaran.
"Kita buktikan nanti, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.
Mereka berjalan diantara ruangan rumah Izebel dan tergantung beberapa kepala manusia di rumah itu.
"Bu Amarise ! Apakah maksud ini semuanya ?", tanya Aneisha Mihai terkejut kaget.
"Semua ini adalah serangkaian ritual yang dilakukan oleh beberapa penyihir jahat untuk membuat semacam mantera atau pemanggil roh semacam Keysea", sahut Bu Amarise.
"Lihat Bu Amarise !", pekik Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai menunjuk ke arah sebuah ranjang di sudut ruangan rumah yang unik serta sangat khas.
"Apa !?", ucap Bu Amarise sambil menolehkan kepalanya.
Wanita bergaun merah serta mengenakan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya itu terlihat kaget melihat seseorang tengah terbaring di atas ranjang tidur dengan hamparan bunga disekitarnya.
Tercium aroma dupa yang khas dari arah tempat tidur itu dan menghembuskan asap yang beraroma aneh ke arah hidung mereka.
__ADS_1
"Bau aneh apakah ini, Bu Amarise ?", ucap Aneisha Mihai lalu menutup hidungnya dengan jari tangannya.
"Aku rasa ini semacam ramuan khusus untuk menyembuhkan orang sakit", sahut Bu Amarise.
"Orang sakit ?", tanya Aneisha Mihai kaget.
"Apakah kamu tahu siapa orang yang tengah terbaring di sana, Aneisha Mihai ?", tanya Bu Amarise.
"Aku tidak dapat melihatnya secara dekat, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.
"Kalau begitu kita mendekat ke arah ranjang itu", lanjut Bu Amarise.
Mereka bergerak maju mendekati ranjang tidur yang terdapat seseorang sedang berbaring di atas hamparan bunga disekitarnya.
"Oh Tuhanku !", pekik Aneisha Mihai.
"Kamu mengerti sekarang, Aneisha Mihai...", ucap Bu Amarise.
"Mengerti apa Bu Amarise !? Dan aku melihat Valeska yang terbaring di atas ranjang tidur itu", sahut Aneisha Mihai tidak mengerti.
"Inilah yang aku maksud rupa dari rumah milik Izebel itu yang sebenarnya", ucap Bu Amarise.
"Rupa rumah ini...", sahut Aneisha Mihai tersentak kaget.
"Coba kamu lihat disana !", tunjuk Bu Amarise.
Aneisha Mihai lalu mengalihkan pandangannya ke arah sudut rumah Izebel dan dia melihat Keysea berada di antara manekin balerina.
"Oh tidak...", ucap Aneisha Mihai semakin tersentak.
"Demi Tuhan Yang Maha Kuasa... Bagaimana bisa Izebel meletakkan mereka di dalam rumahnya !? Untuk apa semua ini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Itu adalah salah satu kekuatan dari rumah ini untuk melakukan tenung dan menjaga agar mantera-mantera sihir jahat Izebel bertahan awet", sahut Bu Amarise.
"Tidak ! Tidak ! Ini sangat mustahil sekali, Bu Amarise ! Ini adalah sebuah dosa yang besar", ucap Aneisha Mihai.
"Bukan hanya dosa tetapi telah melampaui batas kuasa Tuhan karena membuat tubuh orang yang telah tiada sebagai kekuatan hitam sihir milik Izebel", sahut Bu Amarise.
"Aku akan menghancurkannya, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai.
Tampak gadis muda berwajah cantik jelita itu hendak maju melangkah ke arah manekin-manekin serta tubuh Keysea serta raja dan ratu yang terpajang di dinding rumah Izebel.
"Tunggu Aneisha Mihai !", tahan Bu Amarise seraya menarik tangan gadis muda itu dengan cepat-cepat.
"Kenapa anda menahanku untuk itu ?", tanya Aneisha Mihai terheran.
"Karena akan sangat berbahaya bagimu, Aneisha Mihai", sahut wanita bergaun merah itu.
"Berbahaya ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kita tidak cukup memiliki kemampuan untuk mematahkan mantera sihir itu sebelum kamu benar-benar mengalahkan Valeska", sahut Bu Amarise.
__ADS_1
"Tapi Valeska ada disini", ucap Aneisha Mihai.
"Aku juga tidak mengerti yang sebenarnya terjadi pada Valeska karena beberapa waktu yang lalu, kamu bertemu dengannya", lanjut Bu Amarise.
"Lalu sosok siapakah ini ?", tanya Aneisha Mihai.
"Valeska...", sahut Bu Amarise.
"Kenapa dia bisa seperti ini dan untuk apa dia harus terbaring di atas hamparan bunga kalau dia baik-baik saja ?", ucap Aneisha Mihai.
"Mungkinkah... Dia juga telah tiada !?", terka sang malaikat pelindung itu.
"Maksud anda, dia meninggal", ucap Aneisha Mihai tersentak kaget.
"Entahlah...", jawab Bu Amarise sambil mengangkat pundaknya ke atas.
"Ba--bagaimana mungkin !? Kemarin aku sempat melihatnya dan berpapasan dengannya di koridor sekolah lalu kenapa sekarang dia seperti ini !?", ucap Aneisha Mihai.
"Jangan bersuara Aneisha Mihai !", bisik Bu Amarise.
"Emph !?", Aneisha Mihai menahan suaranya dengan menutup mulutnya.
Terlihat dari arah ranjang tidur, Valeska mulai bangun dari tempatnya berbaring lalu dia duduk dengan menurunkan kedua kakinya ke bawah.
Aneisha Mihai terbelalak kaget saat melihat gadis itu terbangun dengan mata menatap tajam. Tiba-tiba menghilang dari pandangan Aneisha Mihai serta Bu Amarise.
"Oh !?", pekik Aneisha Mihai tertahan.
"Valeska pergi dari rumah ini", ucap Bu Amarise sambil mendongakkan kepalanya ke arah atas.
"Tuhanku...", Aneisha Mihai hampir terjatuh jika tidak cepat Bu Amarise menahannya.
"Apakah kamu baik-baik saja Aneisha Mihai ?", tanya Bu Amarise.
"Aku mual sekali, dan aku ingin muntah rasanya, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai dengan wajah pucatnya.
"Tenanglah, aku harap kamu bertahan Aneisha Mihai !", ucap Bu Amarise mencoba menguatkan gadis cantik itu.
"Tidak bisakah kita pergi saja dari rumah ini, Bu Amarise", lanjut gadis berparas jelita itu.
"Belum saatnya Aneisha Mihai karena masih ada yang kita cari dan harus kita temukan di tempat ini", sahut Bu Amarise.
"Aku benar-benar tidak dapat menahan rasa mual diperutku ini, Bu Amarise", ucap Aneisha Mihai sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Sabarlah, sampai aku menemukan yang kucari di rumah ini", lanjut Bu Amarise.
"B--baik bu... Aku akan mencoba bertahan...", sahut Aneisha Mihai.
"Ini ! Makanlah ini terlebih dahulu !", ucap Bu Amarise.
Wanita bergaun merah dengan topi merah beranda memberikan Aneisha Mihai sebungkus cokies rasa coklat sebagai penawar rasa mual di perut gadis itu.
__ADS_1
Aneisha Mihai mengambil cokies dari tangan Bu Amarise lalu memakannya cepat dan dia tidak merasakan rasa mual di dalam perutnya telah berhenti.
Namun, dia tidak mampu menatap lama kondisi rumah milik Izebel yang tampak mengerikan itu dan berusaha bertahan di dalam rumah yang aneh itu serta sesekali memejamkan matanya.