Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 53 MUSIM HUJAN


__ADS_3

Aneisha Mihai tengah bersiap-siap pergi ke sekolah balet dengan menenteng tas miliknya menuju ke mobil.


Muncul wanita bergaun merah dengan payung berendanya si sebelah Aneisha Mihai yang hendak masuk ke dalam mobil miliknya.


"Apa kabar Aneisha Mihai ?", sapa Bu Amarise.


"Aahk !", teriak Aneisha Mihai.


Gadis berparas cantik itu terperanjat kaget ketika wanita bergaun merah itu tiba-tiba muncul di sampingnya serta menyapa dirinya.


"Aduh, Bu Amarise !? Jangan muncul tiba-tiba seperti itu ! Anda membuat ku terserang penyakit jantung", ucap Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai mengusap dadanya pelan ketika wanita bergaun merah itu berdiri disampingnya.


"Jangan berkata berlebihan, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.


"Huft... !", hela nafas Aneisha Mihai.


"Apakah kamu akan ke sekolah sekarang ?", tanya Bu Amarise.


"Iya, seperti biasanya, setiap hari kecuali jumat dan minggu, aku pasti ke sekolah balet", ucap Aneisha Mihai samil membuka pintu mobil.


"Kamu sudah mendengar pengumuman mengenai pemilihan calon primadona sekolah", lanjut Bu Amarise.


"Sudah, aku mendengarnya dari Joshua Abellard", jawab Aneisha Mihai.


"Latihan balet mu sudah mengalami peningkatan menjadi lebih baik daripada waktu-waktu yang lalu, dan kamu sudah mendaftar lomba pemiilihan primadona", ucap Bu Amarise.


"Iya, aku sudah mendaftar bersama Joshua Abellard tetapi aku masih belum tahu kelanjutan dari lomba itu", sahut Aneisha Mihai.


"Dua hari lagi lomba akan diadakan pada festival tahun baru, kamu sudah siap untuk menghadapi lomba itu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.


"Aku tidak terlalu memikirkannya, bagiku yang terpenting saat ini adalah membalaskan kematian ku pada Izebel dan setidaknya aku dapat menemukan penyebab kematian ayah", sahut Aneisha Mihai.


Gadis muda dengan jaket tebalnya lalu masuk ke dalam mobil dan duduk terdiam menatap ke arah setir mobilnya.


"Tidakkah kamu pernah curiga pada orang terdekat mu, Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise dari arah luar mobil.


Aneisha Mihai terkejut kaget ketika mendengar ucapan dari Bu Amarise padanya.


"Orang terdekat ku !? Siapa !?", ucap Aneisha Mihai.


"Kematian ayah mu menyebabkan spekulasi diantara orang-orang di rumah mu waktu lima tahun di masa depan", sahut Bu Amarise.


"Apakah misteri kematian ayah di masa depan berhubungan dengan orang lain selain Izebel ?", tanya Aneisha Mihai.


"Mungkin...", sahut Bu Amarise.

__ADS_1


"Lalu siapa yang sebenarnya membunuh ayah ku di masa lima tahun ke depan itu, Bu Amarise ?", lanjut Aneisha Mihai.


"Coba kamu perhatikan sekitar mu khususnya orang-orang yang sering sekali bersama mu", ucap Bu Amarise menjawab.


"Siapa !?", ucap Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai terlihat berpikir keras sembari mengingat-ingat kejadian yang terjadi di masa lima tahun di masa depan saat Izebel menjadi ibu tirinya.


"Ahk ! Masalah ini semakin rumit, dan aku tidak memahaminya...", sahut Aneisha Mihai.


"Tenanglah !", ucap Bu Amarise. "Kita pasti akan segera mengungkap misteri kematian ayah mu yang terjadi lima tahun di masa depan, Aneisha Mihai".


"Bagaimana cara kita menghentikan Izebel bertemu kembali dengan ayah karena aku lihat kemunculan Valeska di sekolah balet merupakan sebuah tanda !?", lanjut Aneisha Mihai.


"Tanda !? Apakah kamu merasakan tanda berbahaya dari Valeska ?", tanya Bu Amarise.


"Iya..., karena saat aku mengingat pertama kalinya ayah dan Izebel bersama, di tandai dengan adanya Valeska di sekolah balet...", sahut Aneisha Mihai.


"Dan adakah hubungannya dengan puteri dari Izebel itu dengan bersamanya ayah mu dan Izebel ?", ucap Bu Amarise menanggapi serius perkataan Aneisha Mihai.


"Waktu itu persis sama dengan saat ini..., tepat musim hujan di bulan akhir tahun... Sekolah balet yang waktu di masa lima tahun ke depan masih dipegang orang lain bukan oleh kekuarga Beaufort Abellard...", ucap Aneisha Mihai.


"Hmmm...", gumam Bu Amarise sembari menengadahkan kepalanya ke atas.


Terlihat rintik-rintik hujan mulai turun dari atas langit sedangkan air hujan menggenang masih belum memenuhi area jalan.


"Hujan mulai turun...", ucap Bu Amarise.


Dia mengingat pertama kalinya berkenalan dengan Izebel yang merupakan ibu dari Valeska, sang primadona sekolah balet.


"Aku ingat saat ayah berjumpa dengan Izebel di sekolah balet, waktu itu, ayah tidak sengaja menabrak Izebel yang menghadiri pertunjukkan tari balet Valeska", ucap Aneisha Mihai.


Bu Amarise tersenyum mendengar cerita dari Aneisha Mihai kemudian wanita bergaun merah dengan topi merah itu duduk di atas payung berenda miliknya.


"Aku sendiri tidak menyangka jika itu adalah awal musibah dalam hidup kami sekeluarga di masa depan", lanjut Aneisha Mihai.


Terlihat gadis muda nan lincah itu sangat bersedih ketika mengenang kisahnya yang tragis di masa lima tahun ke depan.


Dia mengingat saat di malam lima tahun mendatang itu seusai makan malam di rumah kastilnya yang megah.


Aneisha Mihai teringat akan peristiwa tragis yang behubungan dengan kematian ayahnya, kala itu ayahnya membawa seorang pria bernama John dari luar kota.


"Apakah sejak kejadian tabrakan di sekolah ayah mu menjadi dekat dengan Izebel ?", tanya Bu Amarise.


Wanita bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya menatap lurus Aneisha Mihai yang berada di dalam mobil.


Dia melihat dengan tatapan yang sangat serius dari arah payung berenda, tempatnya dia duduk.

__ADS_1


"Iya... Keduanya sering bertemu di sekolah balet sedangkan ayah dengan alasannya menemui ku di sekolah...", sahut Aneisha Mihai.


"Dan Izebel bertemu Rithya...", ucap Bu Amarise.


Bu Amarise terlihat duduk di atas payung berendanya di tengah-tengah turunnya air hujan yang mulai lebat.


"Bu Amarise ! Masuklah ke dalam mobil karena hujan mulai turun semakin lebat !", ucap Aneisha Mihai.


Gadis cantik itu baru menyadari jika Bu Amarise masih berada di luar mobil dengan air hujan yang turun lebatnya.


Hujan mulai menumpuk disekitar halaman rumah dan turun butiran-butiran air hujan dari atas langit.


"Aku akan pergi ke sekolah balet dan aku akan menunggu mu disana, Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.


"Apakah anda tidak ikut bersama ku, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.


"Tidak, aku akan pergi sekarang, setelah kamu sampai di sekolah balet segeralah kamu temui aku di ruangan sekolah", jawab memberi perintah Bu Amarise.


"Baik, Bu Amarise", sahut Aneisha Mihai.


Perlahan-lahan hujan yang turun membuat tubuh Bu Amarise tersamarkan kemudian menghilang lenyap dari pandangan Aneisha Mihai yang memandanginya dari dalam mobil.


"Kemana dia ? Apakah dia sudah pergi ?", tanya Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai tidak lagi melihat keberadaan wanita bergaun merah dengan payung berendanya itu.


Tidak ada jejak tertinggal di atas genangan airu hujan yang mulai mengaliri permukaan tanah di halaman rumah milik Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai lalu menutup pintu mobilnya dan menghidupkan mobil miliknya untuk bergegas pergi dari halaman rumahnya.


Mobil yang di kendarai oleh Aneisha Mihai bergerak lamban, meninggalkan area sekitar rumahnya yang mulai dipenuhi genangan-genangan air hujan.


Melaju pelan menuju ke arah jalan kemudian bergerak kencang diantara turunnya hujan yang mulai lebat.


Aneisha Mihai mengendarai mobilnya menuju ke tempat sekolah baletnya yang berada di pertigaan jalan kota dekat lampu lalu lintas.


Dia membelokkan mobilnya ke jalan ke arah sekolah baletnya.


Tidak jauh beberapa meter lagi, mobil yang dikemudikan oleh Aneisha Mihai mulai sampai di tujuan.


Terlihat gerbang sekolah balet yang masih tertutup rapat.


"Apakah aku terlambat datang ke sekolah ?", tanya Aneisha Mihai.


Aneisha Mihai menengok kembali arloji di tangannya dan memastikan jamnya tidak terlambat masuk ke sekolah balet.


Mobil Aneisha Mihai berhenti tepat di depan gerbang sekolah balet.

__ADS_1


Seorang satpam berlari diantara derasnya hujan yang turun membasahi area sekolah balet, membukakan pintu gerbang agar mobil yang dikendarai oleh Aneisha Mihai dapat masuk ke sekolah balet.


Tampak mobil milik gadis muda berparas cantik itu memasuki halaman sekolah balet, menuju tempat parkir yang telah tersedia di samping bangunan sekolah yang besar dan menjulang tinggi.


__ADS_2