
Aneisha Mihai berjalan menuju ke lorong sekolah baletnya dengan langkah cepat.
Berhenti tepat di depan papan pengumuman lalu membaca hasil dari daftar siswa yang akan ikut lomba.
Dia melihat namanya tertera pada daftar peserta lomba pemilihan primadona.
Aneisha Mihai tersenyum lembut ketika namanya ada di papan pengumuman.
Dia berlari cepat mencari Joshua Abellard di ruangan pribadinya.
"Joshua Abellard ! Joshua Abellard !", teriak Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai lalu membuka pintu ruangan yang diperuntukkan untuk pemilik sekolah tetapi dia tidak melihat Joshua Abellard disana.
"Ehk !? Kemana dia ?", ucap Aneisha Mihai.
Dia berjalan masuk ke ruangan pribadi pemilik sekolah dan memastikan lagi keberadaan Joshua Abellard.
"Apakah dia tidak ke sekolah hari ini ?", tanya Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai berbalik badan lalu keluar dari ruangan pemilik sekolah dan tak lupa menutup kembali pintu ruangan.
Berlari kembali menelusuri area jalan sekolah balet mencari-cari keberadaan Joshua Abellard.
Aneisha Mihai berjalan diantara bangunan sekolah.
Menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri sekitar area sekolah balet.
Dia lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Sepertinya dia tidak datang ke sekolah...", gumam Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai membalikkan badannya bermaksud meninggalkan area bangunan yang diperuntukkan khusus untuk pemilik sekolah balet.
Pada saat dia hendak pergi, dia melihat sosok seorang pria berdiri sendirian yang sedang menatap ke arah papan pengumuman.
Bayangan pria itu membentuk siluet di atas permukaan lantai sekolah balet.
Aneisha Mihai menghentikan langkah kakinya dan menatap lurus ke arah pria yang tak asing untuknya.
"Joshua Abellard...", bisik pelan Aneisha Mihai.
Aneisha Mihai lalu berlari ke arah pria yang berdiri di depan papan pengumuman seraya berteriak keras padanya.
"Joshua Abellard !"
Pria itu menolehkan kepalanya ke kanan lalu membalikkan badannya menghadap Aneisha Mihai yang berlari ke arah dirinya.
"Joshua Abellard !", teriak Aneisha Mihai lagi.
"Aneisha Mihai...", sahut Joshua Abellard.
Pria berwajah sangat tampan itu lalu berlari ke arah Aneisha Mihai.
Mereka berdua bertemu tepat di tengah-tengah jalan yang menghubungkan antara area bangunan sekolah balet.
"Aneisha Mihai...", ucap Joshua Abellard.
Dia menghentikan langkah kakinya seraya memandang lembut ke arah Aneisha Mihai.
"Joshua Abellard...", ucap Aneisha Mihai.
Mereka saling berpandangan lama dan sama-sama tersipu malu.
"Ehk !?", ucap Joshua Abellard sambil menggaruk kepalanya.
Dia melirik Aneisha Mihai yang berdiri di depannya.
"Ada apa ?", tanya Joshua Abellard.
"Aku masuk daftar pemilihan lomba primadona...", ucap Aneisha Mihai.
"Mmm... Selamat...", sahut Joshua Abellard sambil mengusap hidungnya.
"Apakah ini usaha mu memasukkan ku ke daftar lomba ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak", sahut Joshua Abellard.
"Lalu...", ucap Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Aku hanya mengirimkan data-data mengenai dirimu kepada pihak panitia pemilihan primadona dan ternyata mereka menerima mu untuk ikut pemilihan itu", sahut Joshua Abellard.
"Bukankah pihak sekolah balet ini yang mengadakannya !?", ucap Aneisha Mihai.
"Memang benar, awalnya memang pihak sekolah balet yang berencana mengadakan acara tersebut tetapi kami bekerja sama dengan pihak penyelenggara utama pemilihan primadona pusat agar jangkauan kita lebih luas", lanjut Joshua Abellard.
"Kenapa kamu memilih ku ?", tanya Aneisha Mihai.
"Karena kamu sangat berbakat sekali, maka aku memilih mu untuk ikut pemilihan primadona nanti", sahut Joshua Abellard.
"Kenapa ?", ucap Aneisha Mihai.
"Kamu termasuk yang memenuhi kriteria primadona", sahut Joshua Abellard.
"Terimakasih...", sahut Aneisha Mihai dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih untuk apa ?", ucap Joshua Abellard.
"Terimakasih telah mempercayai ku", sahut Aneisha Mihai.
"Oh...", ucap Joshua Abellard.
"Terimakasih", ucap Aneisha Mihai lagi dengan mata berurai air mata.
"Astaga... Apakah aku berbuat salah ?", ucap Joshua Abellard.
Aneisha Mihai menggelengkan kepalanya cepat seraya mengusap kedua matanya yang berair.
"Lalu kenapa menangis ?", tanya Joshua Abellard.
"Tidak apa-apa", sahut Aneisha Mihai.
"Ya sudah ! Jangan menangis lagi !", ucap Joshua Abellard.
"Apa tidak boleh ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak boleh ! Aku tidak suka melihat mu menangis, tersenyumlah karena wajah mu lebih baik jika tersenyum", sahut Joshua Abellard.
Joshua Abellard berjalan melewati Aneisha Mihai dan berjalan pelan.
"Ayo, kita mempersiapkan festival tahun baru !", ucap Joshua Abellard.
"Festival tahun baru !? Oh, iya, aku hampir melupakannya...", sahut Aneisha Mihai.
Tiba-tiba Joshua Abellard menghentikan langkah kakinya sehingga menabrak punggung pria pemilik sekolah balet itu.
"Aduh !", pekik pelan Aneisha Mihai.
Joshua Abellard berdiri terdiam sesaat lalu berkata pada Aneisha Mihai.
"Ingat ! Jangan menangis lagi, mengerti !", ucap Joshua Abellard.
Aneisha Mihai tertegun menatap punggung Joshua Abellard.
"Jangan menatap ku seaneh itu...", lanjut Joshua Abellard sembari melirik ke arah belakang.
"Iya...", sahut Aneisha Mihai.
Joshua Abellard melanjutkan langkah kakinya ke dalam bangunan sekolah balet menuju area depan sekolah balet.
"Tunggu..., tunggu Joshua !", panggil Aneisha Mihai.
"Apa !?", sahut Joshua Abellard.
"Jangan berjalan secepat itu karena aku tidak dapat menyusulmu, Joshua !", ucap Aneisha Mihai.
"Cepatlah ! Mana mungkin aku menggendong mu...", sahut Joshua Abellard.
"Dia kembali seperti semula...", ucap Aneisha Mihai terheran-heran.
Joshua Abellard berjalan ke arah petugas yang tengah mempersiapkan perayaan festival menyambut tahun baru.
"Wah ! Ternyata sudah siap semua padahal tadi saat aku masuk ke sekolah, halaman ini masih kosong, tidak ada apa-apa sama sekali", ucap Aneisha Mihai terkagum-kagum.
Joshua Abellard terlihat bercakap-cakap dengan seorang petugas.
Di area halaman sekolah balet mulai di bangun panggung pertunjukkan yang cukup luas.
Beberapa tenda sponsor festival telah berdiri di sisi-sisi area halaman depan sekolah balet.
__ADS_1
Spanduk mulai terbentang di atas sepanjang halaman sekolah yang diikatkan ke tiang-tiang penyangga yang baru ditancapkan ke dalam tanah.
Bendera-bendera penuh warna berderet menghias seluruh area lokasi festival.
"Aneisha Mihai", panggil seorang wanita dari samping gadis muda itu.
Aneisha Mihai membalikkan badannya ke arah suara yang barusan tadi memanggilnya.
Dia melihat wanita bergaun merah dengan topi merah berjalan mendekat ke arahnya seraya tersenyum.
"Bagaimana kabar pemilihan primadona nanti ?", tanya Bu Amarise.
"Aku sudah melihatnya tadi di papan pengumuman dan aku berhasil diterima untuk mengikuti acara pemilihan primadona nanti, Bu Amarise", sahut gadis cantik itu.
"Baguslah..., aku turut senang mendengarnya", sahut Bu Amarise yang memegang payung berenda miliknya.
"Apakah pemilihan primadona nanti akan diadakan di sekolah balet ini ataukah di tempat lainnya, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Yah... Menurut aku sebagai kepala sekolah balet ini, aku memang mengaturnya bahwa pemilihan primadona nanti di sekolah, sebagai tahap awal dari acara pemilihan primadona", sahut Bu Amarise.
"Apakah festival ini juga anda yang mengaturnya, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Yah, aku sengaja menjadikan tahun baru sebagai tema festival tetapi aku hanya mengikuti tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun di sekolah balet ini yang pernah terhenti", sahut Bu Amarise.
"Anda menghidupkan tradisi lama sekolah balet ini", ucap Aneisha Mihai.
"Pemilihan primadona selama ini berasal dari sekolah pada tahap awal kemudian primadona yang terpilih akan dikirim ke pusat ajang pemilihan primadona tahap seleksi hingga tahap pemenang", lanjut Bu Amarise.
Terlihat wanita bergaun merah itu memperbaiki letak topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya.
"Apakah nanti aku akan diseleksi pada tahap awal di sekolah, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tidak...", sahut seorang pria dari arah belakang.
Aneisha Mihai menolehkan kepalanya dan dia melihat Joshua Abellard berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu sudah terpilih sebagai perwakilan sekolah balet ini jadi tidak akan ada pemilihan primadona lagi di festival ini tetapi aku sengaja menggelar lomba sebagai ajang pencarian bibit primadona selanjutnya", sahut Joshua Abellard.
"Apakah kamu akan ikut lomba bersama Aneisha Mihai sebagai pasangan duetnya ?", tanya Bu Amarise.
"Iya, aku akan ikut pemilhan lomba primadona sebagai wakil sekolah balet ini bersama-sama Aneisha Mihai sebagai pasangan duetnya", jawab pria tampan itu.
"Aku sangat lega mendengarnya, Joshua Abellard", ucap wanita bergaun merah itu.
"Apa yang anda cemaskan Bu Amarise ?", tanya Joshua Abellard.
"Tidak ada yang aku cemaskan sekarang karena aku lega bahwa kamu akan ikut ke acara pemilihan primadona sebagai pasangan duet Aneisha Mihai", sahut Bu Amarise.
"Sepertinya kalian berdua sangat dekat dan akrab", ucap Joshua Abellard.
"Ehk !?", sahut kedua perempuan berbeda umur serta berbeda dunia itu terkejut bersama-sama. "Tidak !", sambung mereka kompak.
"Oh..., maaf, jika aku salah menilainya", lanjut Joshua Abellard.
"Tidak apa-apa !", sahut Aneisha Mihai dan Bu Amarise serempak.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi", ucap Joshua Abellard.
"Apakah aku akan tampil di festival nanti ?", tanya Aneisha Mihai.
"Iya, karena aku ingin semua siswa lainnya melihat kehebatan tarian balet mu pada festival tahun baru", sahut Joshua Abellard.
"Aku tidak sehebat itu... Joshua Abellard...", ucap Aneisha Mihai tersipu malu.
"Bukan seperti itu, aku hanya ingin mereka melihat mu menari balet di atas panggung nanti menunjukkan kepada semuanya bahwa kamu layak mewakili sekolah dan terpilih sebagai primadona sekolah", sahut Joshua Abellard.
"Kenapa tidak diadakan lomba pemilihan primadona sekolah dan kenapa kamu justru langsung memilih Aneisha Mihai sebagai perwakilan primadona serta penerima beasiswa sekolah ?", tanya Bu Amarise.
"Aku sudah melihat kemampuan menari balet Aneisha Mihai dan aku langsung suka dengan bakatnya yang gemilang", sahut Joshua Abellard.
"Dan kamu cocok berduet dengan Aneisha Mihai", ucap Bu Amarise.
"Iya, aku sudah cocok berpasangan duet dengan Aneisha Mihai, dan aku bermaksud menjadikannya pasangan duet tari balet ku selanjutnya", lanjut Joshua Abellard.
"Hmmm... Aku mengerti..., karena menari duet tidaklah mudah dan perlu pendalaman karakter masing-masing pasangan", sahut Bu Amarise.
Wanita bergaun merah itu lalu tersenyum mengerti serta mulai menyadari perasaan yang sesungguhnya dari Joshua Abellard terhadap Aneisha Mihai.
Terlihat wajah yang menunjukkan kelegaan dari Bu Amarise ketika mendengar jawaban Joshua Abellard tentang Aneisha Mihai.
__ADS_1
Wanita bergaun merah itu senang mendengar bahwa Joshua Abellard sangat menyukai gadis cantik nan energik itu.
Hati Bu Amarise menjadi sangat tenang dan dia melihat sebuah masa depan yang indah dan cemerlang tengah menanti kedua pasangan muda serta berbakat itu.