Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 35 Mencari Saudara Kembar


__ADS_3

Aneisha Mihai sangat menikmati perjalanannya di Kota Ars-en-Rè itu, pemandangan kota sangatlah unik serta membuat santai dirinya saat berada di sana.


Dia berjalan seharian bersama Beaufort Abellard serta Bu Amarise yang menyamar menjadi Magde, si penyihir tua dalam karya tarian balet les sylphide sedangkan dirinya menjadi Sylphide, roh ajaib.


"Kapan kita bertemu dengan Benjamin Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.


"Bersabarlah, memang tidak mudah mencari orang di kota asing apalagi kita tidak pernah ke tempat ini, nak", ucap Bu Amarise.


"Fuih... Aku lelah... Magde..., kakiku hampir tidak bisa digerakkan lagi...", ucap Aneisha Mihai lesu.


"Hmm, baiklah, kita akan beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Bagaimana Beaufort Abellard, kamu setuju kita istirahat sebentar ?", tanya Bu Amarise.


"Baiklah... Aku tidak keberatan untuk beristirahat sejenak, mungkin Sylphide perlu merehatkan badannya karena seharian berjalan kaki, Magde", sahut Beaufort Abellard.


"Kita mencari tempat untuk menginap di Kota Ars-en-Rè karena tidak mungkin kita terus menerus berjalan di kota ini, setidaknya kita butuh tempat untuk beristirahat", ucap Bu Amarise.


"Itu benar sekali ! Mari kita mencari penginapan dan beristirahat disana setelah itu kita lanjutkan lagi pencarian kita !", ucap Aneisha Mihai berseru penuh semangat.


"Menginap ?", ucap Beaufort Abellard tertegun.


"Iya, karena pencarian kita untuk bertemu Benjamin Abellard masih butuh waktu lama dan kita juga memerlukan waktu untuk istirahat", ucap Bu Amarise.


"Mmm... Bukan aku keberatan melakukannya, tetapi... Aku tidak punya uang cukup untuk menginap di sebuah hotel atau semacamnya...", sahut Beaufort Abellard.


"Kamu tidak perlu memikirkannya karena kita hanya butuh tempat untuk mengistirahatkan tubuh kita sesaat kemudian melanjutkan pencarian kita lagi tanpa keluar uang", ucap Bu Amarise.


"Bagaimana mungkin kita tidak memerlukan uang untuk membayar penginapan !? Itu tidak mungkin !?", ucap Beaufort Abellard.


"Bukankah kami adalah roh ajaib dari dunia Les Sylphide ?", ucap Bu Amarise seraya tersenyum lebar.


"Ehk !?", sahut Beaufort Abellard.


Pria asing itu tampak kebingungan dengan jawaban dari Bu Amarise yang mengatakan bahwa mereka tidak memerlukan uang untuk menginap, lantas dia berpikir keras seraya bertanya pada dirinya, dengan apa untuk membayar penginapan jika bukan dengan uang.


"Aku tidak mengerti dengan ucapan anda, Magde", ucap Beaufort Abellard seraya mengerutkan keningnya.


"Kamu tidak perlu memikirkannya dan serahkan saja kepada Magde untuk melakukannya, Beaufort Abellard", ucap Aneisha Mihai.


"Benar, nak", sahut Bu Amarise.


"Apa mungkin kamu dapat melakukan keajaiban Sylphide !? Meski kamu roh ajaib tetapi aku sama sekali tidak melihat kemampuan khusus itu pada dirimu !?", ucap Beaufort Abellard ragu seraya melirik ke arah Aneisha Mihai.


"Ehem... Ehem...", terdengar Bu Amarise tengah berdehem pelan saat mendengar ucapan Beaufort Abellard tentang Aneisha Mihai yang menjadi Sylphide tanpa kemampuan.


"Apa yang kamu katakan !?", tanya Aneisha Mihai.


"Oh tidak apa-apa ! Tidak ada yang aku katakan ! Aku hanya bertanya pada diriku sendiri tadi. Sungguh !", sahut Beaufort Abellard.


"Mmm... !?", gumam Aneisha Mihai sambil memiringkan kepalanya.


"Benar !? Aku berkata benar !", ucap Beaufort Abellard seraya menggaruk kepalanya.


"Ayo, kita segera mencari sebuah penginapan kemudian melanjutkan lagi perjalanan ini sembari kita memikirkan kembali arah tujuan kita dengan terencana", ucap Aneisha Mihai.


"Iya, itu benar sekali, nak", sahut Bu Amarise.


Wanita bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya tampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Dia berjalan di depan Aneisha Mihai dan pria asing bernama Beaufort Abellard.


"Kita akan menginap dimana, Bu Amarise ?", bisik Aneisha Mihai disamping wanita tua itu.


"Aku masih berpikir, nak, karena aku sendiri tidak paham betul dengan kota ini", sahut Bu Amarise.


"Aduh !? Bagaimana ini !? Dan bagaimana kita membayar penginapan itu, Bu Amarise ?", bisik Aneisha Mihai.


"Tenanglah ! Jangan kamu pikirkan tentang masalah itu tetapi sekarang kita mencari tempat untuk menginap dahulu di Kota Ars-en-Rè ini", sahut Bu Amarise sambil berbisik di dekat gadis berparas cantik itu.


"Baiklah... Baiklah... Aku akan menuruti ucapan anda...", bisik Aneisha Mihai yang kini ganti dia yang menganggukkan kepalanya.


Beaufort Abellard hanya berjalan sambil mengikuti langkah kedua perempuan berbeda usia itu dengan patuh dan diam.

__ADS_1


Tiba di sebuah area jalan yang terdapat sebuah rumah bertuliskan rumah liburan, Le Sénéchal.


Gedung berbentuk kotak pada bangunan utamanya tidak mirip sebuah hotel atau tempat penginapan lebih mirip sebuah bangunan rumah.


"Kita telah sampai di tempat tujuan kita, di penginapan", ucap Bu Amarise.


"Tunggu sebentar, Bu Amarise ! Apa itu benar-benar tempat untuk menginap ?", ucap Aneisha Mihai pelan.


"Yah, jika aku lihat dengan mata malaikatku, itu memang bangunan untuk menginap", sahut wanita tua itu tanpa menoleh sedikitpun.


"Benarkah itu !?", gumam Aneisha Mihai.


Dia hanya termenung menatap bangunan di depannya yang merupakan tempat penginapan dan sama sekali tidak mirip sekali dengan hotel.


Aneisha Mihai tampak ragu saat melangkahkan kakinya untuk masuk ke tempat untuk menginap itu.


"Mmm... Apakah ini benar sebuah penginapan ?", tanya gadis muda itu.


"Ayo, kita masuk ke dalam sana !", ucap Bu Amarise.


Terlihat wanita tua bergaun merah itu berjalan menuju ke bangunan bertuliskan Le Sénéchal dengan sangat santainya.


"Ayo, jangan bengong saja dan hanya berdiri di depan pintu masuk, Sylphide !", tegur Beaufort Abellard.


"Emm... !?", gumam Aneisha Mihai masih bingung.


"Ayo !!!", ajak pria asing itu sambil menarik tangan Aneisha Mihai.


"Ehk, iya, iya !", sahut gadis muda itu lalu mengikuti langkah mereka dengan tergesa-gesa.


Bu Amarise hanya melewati meja di depan ruang utama penginapan tanpa menoleh ke arah petugas yang tengah berdiri di sana.


Petugas penginapan itupun tidak memperhatikan kedatangan wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang berjalan di depannya meski dia tengah mengamati ruangan penginapan serta pengunjung di tempat itu.


"Ya ampun...", gumam Aneisha Mihai terbengong saat melihat semuanya berjalan lancar tanpa aral melintang yang menghadang mereka ketika masuk ke penginapan itu.


"Apa kita memang tidak perlu membayar uang sepersenpun atau mendaftar untuk memesan kamar di sini ?", tanya Beaufort Abellard ikut terpana.


Bu Amarise tetap berjalan dengan langkah pasti saat memasuki penginapan itu, dia menaiki tangga tanpa ada keraguan sedikitpun saat dia melangkahkan kedua kakinya naik ke lantai atas penginapan.


Wanita tua bergaun merah itu berjalan melewati ruangan-ruangan yang ada di Le Sénéchal tanpa menengok ke arah manapun bahkan ke arah Aneisha Mihai dan Beaufort Abellard.


Dia berhenti di sebuah kamar lalu pintu kamar terbuka dengan sendirinya dan dia masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tunggu Magde ! Bagaimana denganku !?", tanya Beaufort Abellard yang hanya berdiri di depan kamar tertegun.


"Masuklah dulu, kita diskusikan terlebih dahulu rencana kita dalam mencari saudara kembar laki-lakimu itu, nak ! Masuklah !", ucap Bu Amarise.


"Masuk ?", ucap Beaufort Abellard dengan kedua alis terangkat ke atas.


"Iya... Benar... Silahkan masuk dulu lalu kamu boleh pergi ke kamar yang ada tepat di sebelah kiri kamar ini", ucap Bu Amarise.


"Oh !? Baiklah ! Aku akan masuk, Magde", sahut Beaufort Abellard.


Aneisha Mihai hanya menoleh ke arah pria itu tanpa bersuara lalu gadis muda itu duduk di atas ranjang tidur yang telah tersedia di kamar dengan ekspresi wajah yang sangat lega.


BRAK...


Terdengar suara keras pintu kamar tertutup dengan sendirinya saat Beaufort Abellard telah masuk ke dalam kamar.


"Astaga !?", ucap Beaufort Abellard kaget.


Dia langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar penginapan yang tertutup sendiri dengan sangat cepatnya sehingga membuatnya bergidik.


"Tenanglah, nak ! Tidak perlu takut dan duduklah sebentar sebelum kita melanjutkan pencarian kita untuk mencari saudara kembar laki-lakimu itu", ucap Bu Amarise dengan ekspresi wajah serius.


"Baik, Magde", sahut Beaufort Abellard.


"Apa rencana kita selanjutnya Magde ?", tanya Aneisha Mihai.


"Aku sedang berpikir tentang saudara kembar laki-laki Beaufort Abellard yang bernama Benjamin Abellard, nak", sahut Bu Amarise.

__ADS_1


Wanita bergaun merah itu berdiri tegak dengan sikap siaga sembari berpegangan pada gagang payung berenda miliknya.


"Maksud anda, Magde...", tanya Beaufort Abellard.


"Mmm, aku sedari berpikir mengenai hal kebiasaan yang dilakukan oleh saudara kembar laki-lakimu yang bernama Beaufort Abellard, nak", sahut Bu Amarise.


"Kebiasaan Benjamin Abellard !?", ucap Beaufort Abellard terkejut dan bingung.


"Iya, semacam hobi atau kegemaran yang disukai dan biasa dilakukan oleh Benjamin Abellard", ucap Bu Amarise.


"Bagaimana aku dapat mengetahuinya, sejak kecil kami terpisah dan hanya ingatan sewaktu Benjamin Abellard dan ayahku pergi dari rumah kami di Paris ?", tanya Beaufort Abellard.


"Kalau begitu, aku akan bertanya kepadamu tentang hobi atau kegemaran yang paling kamu sukai selain tari ballet", ucap Bu Amarise.


"Hobiku selain ballet !?", tanya Beaufort Abellard seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Benar, nak, aku ingin tahu hobi yang kamu sukai selain menari ballet", sahut Bu Amarise.


"Aku suka pantai karena aku suka sekali berenang, Magde", ucap Beaufort Abellard.


"Nah ! Bagaimana kalau kita segera pergi ke pantai karena kemungkinan saudara kembar laki-lakimu berada di sana !?", ucap Aneisha Mihai berseru lantang sambil melompat berdiri dari ranjang.


"Kamu sangat bersemangat sekali, nak", ucap Bu Amarise.


Beaufort Abellard hanya terdiam seraya menoleh ke arah gadis muda berparas cantik itu.


Terlihat sekali jika semangat dari Aneisha Mihai pulih kembali.


"Iya, setelah beristirahat, semangatku kembali menyala dan seakan ada energi lebih yang datang kepadaku", ucap Aneisha Mihai.


"Kamu tadi berkata bahwa dirimu lelah dan ingin beristirahat, Sylphide tetapi sekarang kamulah yang paling bersemangat untuk mencari Benjamin Abellard", ucap pria asing itu tersenyum kecil.


"Aha..., iya..., aku tadi memang sangat lelah sekali karena perutku terasa lapar disebabkan seharian berjalan di kota ini", ucap Aneisha Mihai tersipu malu.


"Oh iya, kita memang belum makan seharian setelah sampai di Kota Ars-en-Rè dan terus mencari saudara kembar laki-lakimu, nak", ucap Bu Amarise.


"Itu benar sekali, aku juga hampir lupa kalau kita belum makan apapun di kota ini", ucap Beaufort Abellard.


"Baiklah, aku akan memesan makanan di penginapan ini", ucap Bu Amarise.


"APA !?", sahut mereka berdua kompak saat mendengar yang di ucapkan wanita tua bergaun merah itu.


"Kenapa ? Apa ada yang salah dari perkataanku ?", tanya Bu Amarise.


"Memesan makanan dengan cara apa anda memesannya, Magde !?", tanya Beaufort Abellard dan Aneisha Mihai serempak.


"Yah..., memesan kepada petugas penginapan Le Sénéchal...", sahut Bu Amarise.


"Apa anda telah lupa bahwa anda masuk ke tempat penginapan ini tanpa mendaftar untuk memesan kamar, Magde !? Lalu... Bagaimana caranya anda memesan makanan ?", tanya Beaufort Abellard bingung.


"Tenang saja ! Dan lihatlah, karena sebentar lagi akan ada petugas yang datang kemari untuk mengirim makanan kepada kita", sahut wanita tua bergaun merah itu sambil mengedipkan salah satu matanya.


"O... !?", ucap Beaufort Abellard.


Tidak butuh waktu sampai sepuluh menit, terdengar suara pintu kamar penginapan diketuk dari arah luar sebanyak tiga kali.


TOK... TOK... TOK...


Bu Amarise berjalan pelan menuju pintu kamar yang tertutup rapat itu lalu dengan sikap santainya wanita tua bergaun merah serta topi merah berenda yang menutupi wajahnya itu membukakan pintu tersebut.


Muncul seorang pria berpakaian seragam yang tengah bertugas membawa senampan makanan dan minuman ke kamar tempat mereka menginap.


"Astaga... Tuhanku... !?", ucap Beaufort Abellard melongo terheran-heran.


Pria asing itu hanya mampu bergumam tanpa dapat berbuat apa-apa ketika melihat pemandangan yang penuh keajaiban di depan kedua matanya berlangsung.


Petugas penginapan memberikan nampan berisi makanan serta minuman kepada wanita tua bergaun merah itu tanpa berbicara sepatah katapun lalu pergi begitu saja dari kamar penginapan.


"Mari kita coba makanan khas Kota Ars-en-Rè ini, dan segera pergi mencari Benjamin Abellard setelah mengisi energi kita", ucap Bu Amarise seraya menyunggingkan senyumannya yang ramah.


Beaufort Abellard tidak mampu menjawab ucapan Bu Amarise dan hanya melihat pada wanita tua itu tanpa berkedip sedikitpun, sedangkan Aneisha Mihai yang menyamar menjadi Sylphide terlihat acuh dan berlari ke arah wanita tua itu sambil mengambil Croque Madame dari atas nampan serta secangkir espresso hangat.

__ADS_1


Croque Madame adalah Sandwich berisi ham dan lelehan keju yang diatasnya di tambah telur mata sapi yang menyerupai topi wanita zaman dahulu.


__ADS_2