Mengubah Takdir Aneisha Mihai

Mengubah Takdir Aneisha Mihai
Bab 39 Roh Hantu Kepala


__ADS_3

Aneisha Mihai yang berdiri dengan sudut mata terbelalak memandangi sebuah sosok kepala yang muncul dari permukaan lantai ruangan gedung sekolah ballet.


Terlihat Bu Amarise menghampiri kepala yang menyembul keluar dari dalam lantai itu seraya mencubit pipi sosok kepala dengan marah.


"Keluar ! Apa yang kamu lakukan di sekolah ? Apa kamu ingin menakuti gadis muda ini ?", ucap Bu Amarise.


"Aduh... Aduh... !? Sakit ! Jangan mencubitku seperti itu, malaikat Amarise !", ucap sosok kepala yang berada di atas lantai ruangan sekolah ballet.


"Karena itu maka keluarlah dari dalam lantai dan jangan menakut-nakuti gadis ini ! Lihatlah dia sangat ketakutan sekali !", ucap Bu Amarise.


"Tetapi aku tidak bermaksud menakutinya, aku hanya mencoba memanggilnya dan ternyata dia mampu mendengarkan suaraku dan dapat melihatku", sahut sosok kepala yang menyembul itu membela diri.


"Sama saja ! Apa kamu tidak mengerti jika kemunculanmu mampu membuat orang lain yang dapat melihatmu mati berdiri ?", ucap Bu Amarise.


"Aku hanya memanggilnya dan tidak ada maksud lainnya, sungguh !", sahut sosok kepala dari arah lantai.


"Keluar ! Ayo, keluar dari sana !", bentak wanita tua bergaun merah.


"Aduh ! Jangan memukul kepalaku ! Sakit, malaikat Amarise !", jerit sosok kepala itu kesakitan.


"S--siapa dia, Bu Amarise ?", tanya Aneisha Mihai ketakutan.


"Roh yang bergentayangan tetapi dia tidak bermaksud mencelakaimu, tenanglah !", sahut Bu Amarise.


"Apa !? R--oh b--bergentayangan... Apa dia sudah mati ???", tanya Aneisha Mihai gemetaran.


"Iya, dia sudah mati tetapi sayangnya, dia tidak dapat bereinkarnasi kembali karena sesuatu yang menghalanginya", sahut Bu Amarise.


"M--menghalanginya !? A--apakah itu, Bu Amarise ?", tanya gadis muda berparas cantik itu.


"Nanti kamu akan mengetahui ceritanya dari dia sendiri karena aku tidak tahu apakah yang membuatnya tidak dapat bereinkarnasi", sahut Bu Amarise.


Wanita tua bergaun merah serta topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya mengarahkan payung berendanya kepada sosok kepala yang berada di lantai ruangan.


BRUK !


Bu Amarise memukul lantai disekitar sosok kepala yang menyembul itu dengan sangat kerasnya.


Membuat sosok hantu kepala itu terpaksa keluar dari dalam lantai ruangan gedung dan terbang melayang-layang.


"A--astaga ! Hanya kepala saja...", pekik Aneisha Mihai lalu jatuh lunglai tergeletak ke lantai serta tidak sadarkan diri.


"Aneisha Mihai !", jerit Bu Amarise kaget.


Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi sebagian wajahnya itu tergopoh-gopoh menghampiri tubuh Aneisha Mihai yang berbaring pingsan.


Bu Amarise menepuk kedua pipi gadis cantik itu, berusaha membangunkannya tetapi sia-sia, karena Aneisha Mihai benar-benar terkejut sehingga ketakutan untuk membuka kedua matanya yang indah.


"Ini akibat ulahmu dan membuatnya ketakutan hingga jatuh pingsan, kenapa kamu mencarinya bukan yang lainnya ? Apakah kamu mempunyai masalah dengan gadis ini ?", tanya Bu Amarise kesal.


"Tidak, aku tidak sengaja menakutinya dan aku tidak mempunyai masalah dengannya, sungguh, malaikat Amarise !", sahut roh tersebut panik.


"Lalu untuk apa kamu muncul dihadapan gadis ini ? Bagaimana kamu tahu nama gadis muda ini ?", tanya Bu Amarise geram.


"Ka--karena... karena dia dapat mendengarku dan melihatku... Dan aku bermaksud meminta bantuan kepadanya, malaikat Amarise...", sahut hantu itu gemetaran di hadapan wanita tua bergaun merah.


"Meminta bantuan ? Hanya karena dia dapat melihatmu dan mendengarmu maka kamu menggangunya ?", ucap Bu Amarise.


"Oh tidak, tidak ! Aku tidak bermaksud mengganggunya... Aku benar-benar ingin meminta tolong kepada Aneisha Mihai...", ucap hantu sosok kepala itu ketakutan.


"Katakan yang sejujurnya ! Jika tidak aku akan menghukummu ke dalam seribu kurungan berantai di dasar kerak bumi ini !", ucap Bu Amarise mengancam pada hantu kepala itu.


"Benar !? Aku tidak berbohong dan aku mengatakan yang sejujurnya, malaikat Amarise !", sahut roh hantu itu semakin ketakutan.


"Baiklah..., tetapi bagaimana kamu bisa mengetahui nama dari gadis muda ini, bukankah kalian baru bertemu ?", tanya Bu Amarise.


"Karena..., karena dia kenal dengan orang yang menyebabkan aku menjadi hantu seperti ini...", sahut roh gentayangan merinding takut.

__ADS_1


"Siapa ?", tanya Bu Amarise sembari mengerutkan keningnya.


"Tapi aku takut mengatakannya, malaikat Amarise", sahut roh hantu kepala seraya terbang meringkuk.


"Astaga !? Kamu berani melawan perintah malaikat, hebat sekali kamu roh hantu. Tidakkah kamu takut aku benar-benar mengirimmu ke dasar kerak bumi dan mengurungmu ?", ucap Bu Amarise dengan mata bersinar terangnya.


"Aku tidak berani, malaikat Amarise", sahut roh hantu itu.


"Kalau begitu katakan saja padaku, siapa yang telah membuatmu menjadi hantu gentayangan dan berkeliaran di gedung sekolah balet ini ?", tanya Bu Amarise.


"Ak--aku takut jika orang itu akan mendengarnya", jawab roh hantu.


"Jangan berbelit ! Langsung katakan saja ! Siapa yang menyebabkanmu seperti ini, mati !?", tanya Bu Amarise sambil melototkan kedua matanya.


"Iz--Izebel !", sahut roh hantu itu.


"Izebel !?", ucap Bu Amarise.


"Iya, dia yang telah menyebabkan aku menjadi roh gentayangan, malaikat Amarise", ucap roh hantu itu.


Bu Amarise berdiri tertegun saat mendengar ucapan dari hantu roh yang mengatakan bahwa wanita penyihir jahat itu yang telah menjadikan sosok kepala itu menjadi hantu gentayangan.


Wanita tua bergaun merah berjalan mendekati sosok hantu kepala yang terbang melayang ketakutan seraya menatapnya lekat-lekat. Dan tersenyum menyeringai ke arah hantu kepala itu sehingga hantu itu bertambah ketakutan serta menjerit.


"Aaaaaakh !? Jangan menatapku seperti itu, malaikat Amarise ! Kamu membuatku ketakutan !?", ucap hantu kepala merinding gemetaran.


"Hai, tunggu ! Kamu mau pergi kemana !?", ucap Bu Amarise seraya memegangi kepala hantu itu dan menahannya.


"Tidak, aku tidak kemana-mana, malaikat Amarise", sahut roh hantu itu.


"Kemana badanmu ? Kenapa hanya tinggal kepala saja ?", tanya Bu Amarise sambil mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Aku tidak tahu..., kemana badanku kini berada, malaikat Amarise...", sahut roh hantu itu gemetaran.


"Sungguh ? Kamu tidak tahu ? Mana mungkin kamu tidak mengetahui hilangnya badanmu itu, hantu kepala ?", tanya Bu Amarise.


"Benar, aku mengatakan yang sebenarnya, dan aku tidak tahu dimana wanita jahat itu menyembunyikan tubuhku", sahut roh gentanyangan itu.


"B--benar..., aku berkata benar..., malaikat Amarise...", sahut roh hantu itu ketakutan.


Terdengar erangan dari Aneisha Mihai yang menggeliat pelan dari pingsannya, Bu Amarise mengalihkan pandangannya ke arah gadis muda cantik yang berbaring di lantai itu.


Masih menahan kepala roh hantu dengan tangannya, Bu Amarise lalu menghampiri gadis cantik itu dengan membawa serta hantu kepala bersamanya.


"Aneisha Mihai, kamu sudah bangun, nak", ucap Bu Amarise.


"Ehk !? Ha--hantu... !!!", pekik Aneisha Mihai lemas dan jatuh lunglai lagi.


"Aish !? Gadis ini !? Bagaimana dia bisa pingsan lagi padahal baru saja bangun dari pingsannya ?", ucap Bu Amarise.


"Karena anda membawaku sehingga membuatnya pingsan lagi", sahut roh hantu.


"Diamlah ! Jangan berbicara, ini akibat ulahmu ! Lihat gadis itu pucat pasi karena kamu menakuti dirinya !", ucap Bu Amarise kesal.


"M--maaf..., maaf, ini karena aku tidak sengaja mengagetkan dirinya, dan membuatnya pingsan, maafkan aku, malaikat Amarise !", ucap roh hantu.


"Ini merepotkan sekali karena aku harus membawanya pulang dalam keadaan pingsan", keluh Bu Amarise.


Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya sebagian itu mengangkat tubuh Aneisha Mihai lalu menggendongnya di belakang punggungnya.


Bu Amarise tampak kesulitan karena dia harus membawa payung berenda miliknya di tangannya.


"Aduh ! Dia ternyata sangat berat sekali sehingga aku harus membawanya di punggungku !", ucap Bu Amarise.


"Maafkan aku, ini semua salahku, malaikat Amarise !", ucap hantu roh itu.


"Tidak apa-apa, karena ini sudah menjadi tugasku, tetapi kamu harus ikut bersamaku sekarang, kamu mengerti", ucap Bu Amarise.

__ADS_1


"Baik, malaikat Amarise, aku akan ikut bersama denganmu", ucap roh hantu.


"Ikuti aku dan berpeganganlah kepadaku, karena aku akan menghilang sekarang", ucap Bu Amarise.


"I--ya..., iya, malaikat Amarise", sahut roh ajaib.


"Huuufh... Kalian benar-benar merepotkan aku saja..., dan ada-ada saja kejadian di dunia manusia ini, hampir diluar akal sehat", ucap Bu Amarise mengeluh sembari menghela nafas panjang. "Fuuuuh..., sangat berat sekali, ternyata tugasku mendampingi Aneisha Mihai sungguh berat", sambungnya sambil menghentakkan salah satu kakinya ke atas permukaan lantai.


Muncul bintang-bintang berkilauan disekitar tubuh wanita tua bergaun merah dengan topi merah yang menjuntai, menutupi sebagian wajahnya, lalu bergerak mengelilinginya dan berpendar terang.


Bu Amarise perlahan-lahan menghilang dari ruangan gedung sekolah balet dan pergi menuju ke rumah Aneisha Mihai yang mirip kastil istana.


Terlihat kilauan bintang-bintang terbang berputar di atas rumah Aneisha Mihai lalu menembus masuk ke dalam rumah megah itu dengan cepatnya kemudian lenyap.


"Akhirnya sampai di rumah, aku harus membaringkan Aneisha Mihai dahulu di atas tempat tidur", ucap Bu Amarise.


Mereka telah sampai di rumah Aneisha Mihai dan sekarang berada di dalam ruangan kamar tidur gadis cantik itu.


Tampak Bu Amarise berjalan sambil menggendong Aneisha Mihai di punggungnya lalu meletakkan tubuh gadis muda itu di atas ranjang mewah yang sangat empuk sekali sedangkan wanita tua itu duduk disamping gadis cantik yang tengah berbaring pingsan.


Dia mengamati wajah Aneisha Mihai yang berubah pucat pasi dan masih tidak sadarkan diri itu.


"Aku sebaiknya segera membangunkan Aneisha Mihai agar dia ikut mendengarkan cerita hantu kepala itu", ucap Bu Amarise.


Wanita tua bergaun merah itu lalu tersadar dan mengalihkan pandangannya dari gadis cantik yang tengah berbaring pingsan itu.


Mencari-cari ke arah sekeliling ruangan kamar tidur yang luas itu dari arah tempatnya duduk di atas ranjang tidur Aneisha Mihai.


"Kemana hantu roh kepala itu ? Apakah dia kabur dariku saat di gedung sekolah balet dan tidak ikut bersama kami ke rumah ini ?", tanya Bu Amarise.


Tiba-tiba terdengar suara yang tidak terlihat menggema di ruangan kamar tidur Aneisha Mihai dan suara itu memanggil-manggil nama wanita tua bergaun merah.


"Malaikat Amarise... Malaikat Amarise...", panggil suara itu.


"Siapa ? Keluarlah !", sahut Bu Amarise seraya mencari asal suara itu.


"Ini aku, malaikat Amarise... Apakah kamu sudah lupa padaku ? Aku roh hantu...", ucap suara yang ternyata berasal dari roh hantu.


"Keluarlah ! Kenapa kamu bersembunyi ?", tanya Bu Amarise keheranan.


Wanita tua bergaun merah itu lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pelan ke arah asal suara itu.


"Kamu dimana ? Keluarlah ! Apakah kamu sedang mempermainkan aku ?", tanya Bu Amarise.


"Tidak, tidak, aku tidak mempermaikanmu, malaikat Amarise", sahut suara yang menggema itu.


"Lalu kenapa kamu tidak keluar dan menampakkan diri lagi ? Ada apa ?", tanya Bu Amarise.


"Ada semacam mantera khusus pengusir roh hantu yang menyelubungi rumah ini sehingga aku tidak bisa masuk ke sana, malaikat Amarise", sahut suara itu.


"Apakah kamu hantu kepala tadi ?", tanya Bu Amarise.


"Iya, benar, ini aku, roh hantu", sahut suara menggema itu.


"Aku mendengarmu dan ternyata itu kamu", ucap Bu Amarise.


"Iya, ini memang aku, malaikat Amarise", sahut suara menggema itu setengah berbisik. "Bagaimana ini ? Aku tidak dapat masuk ke dalam rumah ini !?"


"Sebentar, aku akan memikirkan sebuah cara yang tepat untuk kita semua", sahut Bu Amarise.


Bu Amarise berjalan mengelilingi ruangan kamar tidur dan berdiri dengan ekspresi wajah yang sangat serius sekali.


"Hmmm, ternyata rumah ini telah dilindungi doa khusus untuk menolak roh hantu, tetapi ini sangat bagus juga sehingga penghuni rumah terlindungi dari gangguan roh hantu gentayangan", ucap Bu Amarise seraya memperhatikan ruangan kamar tidur. "Syukurlah, aku tidak melihat bahaya di tempat ini."


Bu Amarise lalu mendongakkan kepalanya ke atas dan memperhatikan letak atap ruangan kamar Aneisha Mihai yang berlapis kaca dengan hiasan lampu gantung kristal yang bergelantungan mempercantik ruangan tidur gadis muda itu.


Dia juga tidak dapat membawa roh ajaib ke dalam rumah sedangkan Aneisha Mihai masih pingsan maka satu-satunya cara adalah membangunkan paksa gadis muda yang terbaring di atas ranjang tidurnya.

__ADS_1


Bu Amarise lalu mengarahkan payung berendanya ke arah ranjang tidur Aneisha Mihai, dan muncul bintang-bintang diantara ranjang itu sehingga membuat ranjang tidur gadis cantik itu menghilang bersama dengan Aneisha Mihai yang turut hilang.


Disusul pula menghilangnya wanita tua bergaun merah dengan payung berenda yang selalu dibawanya kemana-mana itu dari ruangan kamar tidur Aneisha Mihai.


__ADS_2