
Aneisha Mihai memperhatikan peta Kota Ars-en-Rè sekali lagi dengan cermat, menelusuri setiap garis pantai yang ada di peta.
"Bagaimanakah pantai yang kamu sukai itu, Beaufort Abellard ?", tanya Aneisha Mihai.
"Pantai yang aku sukai... selama aku di negara asal ibuku yang cukup terkenal akan lautnya, aku sering ke pantai dengan biota hutan disekitarnya", sahut Beaufort Abellard.
"Aku rasa kesukaan saudaramu pastilah sama denganmu yaitu pantai dengan hutan atau lainnya yang sama dengan kegemaranmu", ucap Aneisha Mihai.
"Yah, mungkin saja, aku pikir dia juga akan mengunjungi pantai seperti kegemaranku", ucap Beaufort Abellard.
"Aku rasa juga seperti itu tetapi aku pikir saudara kembarmu juga menyukai tari balet sama denganmu", ucap Aneisha Mihai.
"Oh iya ? Apa itu benar ?", tanya Beaufort Abellard.
"Tentu saja, karena kalian adalah saudara kembar, pastilah saudaramu itu juga sama menyukai tari balet apalagi ibumu seorang balerina", sahut Aneisha Mihai.
"Hmmm, memang ayahku juga seorang danseur terkenal sama dengan ibuku yang seorang balerina assoluta tetapi sejak berpisah dengan ibuku, aku tidak pernah mendengar kisah ayahku lagi di dunia ballet", ucap Beaufort Abellard.
"Karena itulah kamu tidak pernah bertemu mereka. Apakah kamu membenci ayahmu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Untuk membencinya aku tidak pernah menaruh rasa benci itu dalam hatiku karena aku ingat saat mereka berpisah disebabkan Benjamin Abellard jatuh sakit yang membuat mereka bertengkar hebat", sahut Beaufort Abellard.
"Itu artinya kamu masih ingin bertemu dengan ayahmu serta saudara kembarmu", ucap Aneisha Mihai lalu menoleh ke arah Beaufort Abellard.
"Iyah, aku hanya ingin membawa Benjamin Abellard bertemu ibuku", ucap pria asing itu yang berdiri di sebelah Aneisha Mihai.
Tatapan Beaufort Abellard tampak sendu saat mengingat kenangan sewaktu dia kecil, ingatan yang tertanam dalam di kepalanya dan terus melekat hingga dia dewasa.
Gambaran saat ayahnya membawa paksa mereka yang masih kecil keluar dari rumah mereka yang sederhana di Paris.
Pertengkaran diantara ayah dan ibunya yang tergambar jelas dalam benaknya utuh, selalu Beaufort Abellard kenang.
Kenangan yang mengiris hatinya dan sangat menyedihkan itu kembali muncul dalam benak Beaufort Abellard bahkan dia tidak pernah untuk dapat melupakannya.
"Apakah keinginanmu juga ingin menyatukan ayah dan ibumu kembali ?", tanya Aneisha Mihai.
"Ah... Itu tidak mungkin Sylphide...", sahut Beaufort Abellard sambil menengadahkan kepalanya.
"Mengapa ?", tanya Aneisha Mihai singkat.
"Karena keduanya sudah tidak mungkin bersama lagi, pastinya ayahku sudah menikah lagi sekarang, dan itu sudah sangat lama sekali sekitar tiga belas tahun yang lalu", sahut Beaufort Abellard tersenyum pahit.
"Benar juga yang kamu katakan, itu sudah sangat lama sekali dan mungkin ayahmu telah menikah lagi sekarang", ucap Aneisha Mihai.
"Iyah, mungkin...", sahut Beaufort Abellard sambil menghela nafas panjang.
Aneisha Mihai mencoba mengalihkan pembicaraan diantara mereka berdua dengan kembali memfokuskan pikiran mereka kepada peta yang ada di hadapan mereka.
"Bagaimana jika kita lanjutkan dengan memikirkan pantai di Kota Ars-en-Rè yang mungkin dikunjungi saudara kembarmu itu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Baiklah, aku rasa dia akan mengunjungi tempat ini", ucap Beaufort Abellard.
Pria asing itu lalu menunjukkan jarinya ke arah sebuah lokasi pada peta di atas meja kamar penginapan.
Aneisha Mihai menatap dengan serius ke arah lokasi yang di tunjuk oleh Beaufort Abellard.
"Pantai chemise Trousse !?", ucap Aneisha Mihai sambil membaca tulisan keterangan lokasi tersebut.
"Iya, benar, dan aku rasa tempat itulah yang akan dikunjungi saudara kembarku di Kota Ars-en-Rè ini", sahut Beaufort Abellard.
Bu Amarise memperhatikan kedua anak muda di depannya dengan menikmati secangkir espresso di tangannya dari arah kursi.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya tampak mengamati keduanya dengan sangat serius serta terlihat senyuman tipis tersungging di bibirnya saat melihat kedua anak muda itu tengah sibuk berdiskusi di depan peta Kota Ars-en-Rè.
Dia lalu menghabiskan kopi espresso yang ada di cangkir di tangannya kemudian berbicara kepada dua anak muda itu.
__ADS_1
"Pantai chemice Trousse terletak di selatan Portes en Ré dekat hutan dengan nama yang sama, tempat wisata yang sangat indah dan biasanya orang Perancis sering berkumpul serta berkunjung ke sana", ucap Bu Amarise.
"Apakah anda tahu tempat itu, Magde ?", tanya Beaufort Abellard.
"Tidak, aku hanya melihatnya dari mata roh ajaibku", sahut Bu Amarise sembari meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja.
"Hmmm... Bagaimana jika kita langsung saja mengunjungi tempat itu sekarang ?", tanya Aneisha Mihai.
"Tetapi lokasi pantai chemice Trousse tidaklah mudah untuk kita tempuh karena adanya hutan disekitar daerah pantai itu", sahut Bu Amarise.
"Itu benar karena Pantai chemice Trousse terletak di selatan Portes en Ré dekat hutan", ucap Beaufort Abellard.
"Benar sekali, dan untuk sampai ke pantai ini dari pusat Portes en Ré, kita harus mengikuti rambu ke Patache. 2 km setelah perkemahan La Providence, belok kiri akan ada sebuah tanda yang menunjukkan pantai. Dan akan ada tempat parkir di hutan", sahut Bu Amarise.
"Iya, yang anda katakan sangatlah benar sekali, Magde", ucap pria asing itu.
"Mengapa kamu sangat yakin sekali kalau saudara kembarmu akan menyukai tempat itu ? Tidakkah ada tempat lainnya selain chemice Trousse yang menjadi lokasi favoritnya !?", tanya Bu Amarise.
"Nah, itu benar sekali, aku juga berpikir sama dengan anda, Magde ! Karena pantai di Kota Ars-en-Rè ini cukup banyak jumlahnya dan mungkin saja saudara kembar Beaufort Abellard mengunjungi pantai yang lainnya", sahut Aneisha Mihai.
"Tidak ! Tidak ! Tidak... Karena pada saat aku melakukan telepati dengan Benjamin Abellard, aku melihat sebuah gambaran hutan dengan gumpalan pasir yang terbuka saat air surut..., dan tempat itu hanya ada di pantai chemice Trousse", ucap Beaufort Abellard.
"Apakah kamu yakin itu, nak ?", tanya Bu Amarise dari arah tempat duduknya.
"Aku sangat yakin sekali karena itulah yang aku lihat dalam telepatiku dengan saudara kembarku, dan aku melihat Benjamin Abellard tengah menghadap ke Banc du Bucheron yang hanya ada di pantai chemice Trousse", sahut Beaufort Abellard.
"Hmmm... Baiklah, aku mengerti... Mari kita segera ke tempat itu sekarang dan jangan lagi menundanya karena kita akan kehilangan petunjuk lagi mengenai keberadaan Benjamin Abellard saat ini", ucap Bu Amarise seraya beranjak dari kursi.
"Iya, mari kita berangkat kesana", sahut Beaufort Abellard seraya berjalan.
"Tunggu ! Tunggu ! Kita akan naik apa ke pantai chemice Trousse ? Bukankah kita tidak memiliki kendaraan untuk sampai ke tempat itu !?", tanya Aneisha Mihai.
"Benar juga, tidak mungkin kita berjalan kaki ke sana karena lokasi pantai chemice Trousse cukup jauh dari pusat Kota Ars-en-Rè ini, Magde", sahut Beaufort Abellard.
"Kenapa kalian tampak ragu sekarang, bukankah aku adalah penyihir dari roh ajaib yang berasal dari dunia dalam tarian balet Sylphide !?", ucap Bu Amarise sambil tersenyum manis.
"Mari kita gunakan sedikit magic di sini ! Dan segera kita pergi ke Pantai chemice Trousse dari penginapan ini secepatnya !", ucap Bu Amarise seraya mengedipkan matanya.
"Maksud anda kita akan kembali terbang menghilang seperti saat ke Kota Ars-en-Rè ini !?", sahut Beaufort Abellard.
"Yah !", ucap Bu Amarise sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Wow !? Ini luar biasa dan sungguh menakjubkan sekali ! Dan aku tidak percaya kita akan pergi terbang menghilang seperti tadi !? Ini sungguh keren !", ucap Beaufort Abellard sangat bersemangat.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang menuju ke Pantai chemice Trousse sekarang", ucap Aneisha Mihai lalu berjalan ke arah pintu kamar.
"Baiklah. Mari kita segera berangkat ke sana sekarang juga, dan bersiaplah untuk menikmati perjalanan ini !", ucap Bu Amarise berjalan ke pintu kamar dan berdiri di samping Aneisha Mihai.
"Ayo Beaufort Abellard ! Apa yang kamu tunggu disana ? Dan kemarilah !", ucap Aneisha Mihai sambil melambaikan tangannya ke arah pria asing itu.
"Oh iya, iya, iya, aku akan segera ke sana", sahut Beaufort Abellard seraya berlarian kecil menuju pintu kamar penginapan tempat kedua perempuan berbeda usia itu berdiri.
Bu Amarise memandangi mereka berdua kemudian dia membuka payung berenda miliknya lebar-lebar sambil berkata kepada kedua anak muda itu.
"Bersiaplah dan jangan lupa berpegangan erat kepadaku, mengerti !", ucap wanita tua bergaun merah.
Aneisha Mihai hanya menganggukkan kepalanya pelan sedangkan Beaufort Abellard tersenyum dengan ceria.
Keduanya lalu berpegangan erat kepada gagang payung berenda milik Bu Amarise.
Pada saat bersamaan wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya menghentakkan salah satu kakinya di atas lantai kamar.
Muncul secercah bintang-bintang bercahaya terang disekitar mereka bertiga sehingga membuat ketiganya berputar-putar di udara dengan perlahan-lahan lalu mereka semuanya menghilang dari ruangan kamar penginapan.
NING... NING... NING...
__ADS_1
Terdengar suara seperti bunyi lonceng yang mengiringi kepergian ketiga orang itu dari Le Sénéchal.
Pantai chemice Trousse...
Pantai chemise Trousse terletak di selatan Portes en Ré dekat hutan dengan nama yang sama. Pantai ini menghadap ke Banc du Bucheron dengan gumpalan pasir yang terbuka saat air surut. Adalah waktu yang sangat mengasyikkan berjalan pada saat air surut di pantai tersebut.
Pantai ini sangat populer, salah satu yang paling indah di bagian Ile de Ré ini. Dan untuk ke sana aksesnya melalui hutan.
Terlihat bintang-bintang bercahaya indah dan terang tiba-tiba berputar-putar kencang di atas pasir, lalu muncul ketiga orang yang telah berdiri di pantai.
NING... NING... NING...
Aneisha Mihai lalu melepaskan genggaman tangannya pada gagang payung berenda, begitu pula yang dilakukan sama oleh Beaufort Abellard.
Wanita tua bergaun merah dengan topi merah berenda yang menutupi wajahnya lalu menutup payung berenda miliknya setelah mereka bertiga sampai di Pantai chemice Trousse.
"Indahnya ! Ini sangat mengagumkan sekali !", pekik Aneisha Mihai berlompatan kegirangan.
"Kita sudah sampai !?", ucap Beaufort Abellard tersenyum tipis.
"Pantai ini ternyata memiliki pemandangan laut yang sangat cantik", ucap Bu Amarise.
"Benar, Magde ! Pantai chemice Trousse ini cantik sekali", ucap Aneisha Mihai.
"Hmmm... Dan sangat menarik sekali...", sahut Bu Amarise.
Beaufort Abellard berdiri mematung saat pandangannya tertuju pada sosok orang yang tengah berdiri menghadap laut yang agak jauh dari tempatnya berada.
Pria asing itu lalu melangkahkan kedua kakinya perlahan-lahan kemudian berlari pelan menuju ke arah orang tersebut.
Dia berteriak keras memanggil nama orang yang tengah berdiri menghadap lepas ke arah laut.
"Benjamin Abellard !!!", teriak Beaufort Abellard.
Orang yang dipanggil oleh Beaufort Abellard lantas memalingkan wajahnya dari pemandangan laut ke arah Beaufort Abellard yang berlari di atas pasir Pantai chemice Trousse.
Pria itu tampak sangat terkejut saat melihat orang yang mirip dengannya itu tengah memanggil namanya dengan kerasnya.
"Benjamin Abellard !!!", panggil Beaufort Abellard.
Kedua pria asing yang mirip itu lalu saling berhadapan dan berpandangan, lama terdiam tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka.
"Apa kabar Benjamin Abellard ?", ucap Beaufort Abellard menyapanya.
Pria itu hanya tertegun saat melihat ke arah Beaufort Abellard yang berdiri dihadapannya dan sangat mirip sekali wajahnya dengan dirinya.
"Kau... Kau... Apakah kamu Beaufort Abellard ?", tanya pria asing itu.
"Yeah... Ini aku... Saudara kembarmu, Beaufort Abellard ! Apa kabarmu ?", sahut Beaufort Abellard.
Pria yang dipanggil dengan nama Benjamin Abellard itu tersentak kaget serta terharu saat dia mendengar perkataan dari Beaufort Abellard.
Benjamin Abellard tidak dapat berkata apa-apa dan hanya berurai air mata ketika melihat saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya sekarang ada dihadapannya.
"Apakah itu benar dirimu, Beaufort Abellard, saudara kembar laki-lakiku !?", tanya pria asing itu dengan suara bergetar.
"Yah ! Ini aku ! Beaufort Abellard ! Saudara kembarmu !", sahut Beaufort Abellard seraya merentangkan kedua tangannya.
"Sialan ! Kenapa kamu baru muncul dihadapanku !", ucap Benjamin Abellard seraya memukul pelan bahu Beaufort Abellard.
"Maaf... Bukan aku tidak ingin menemuimu tetapi aku memang tidak punya uang untuk bertemu denganmu...", sahut Beaufort Abellard seraya memeluk erat saudara kembarnya.
"Hai ! Lepaskan aku ! Dan jangan memelukku seperti itu !", ucap Benjamin Abellard seraya menyeka air matanya.
Kedua pria yang sangat mirip sekali wajahnya itu saling berpelukan melepas rindu setelah terpisah lama selama tiga belas tahun.
__ADS_1
Pertemuan yang sangat mengharukan antara saudara kembar laki-laki yang lama dipisahkan oleh takdir itu kini akhirnya bersama kembali untuk selamanya.