
Aneisha Mihai memandang gedung usang itu, ia tidak melihat lampu di ruangan aula besar, tempat Beauofort Abellard tinggal sementara di Paris.
Gadis berparas cantik itu hanya berpikir tentang Beaufort Abellard menghabiskan waktunya di gedung seusang ini sendirian, dan tanpa perlengkapan yang memadai untuk bertahan hidup.
Bagaimana caranya Beaufort Abellard membantu sekolah balet milik ibunya sedangkan dia sendiri tidak memiliki banyak uang.
"Film... !? Beaufort Abellard berencana untuk mengikuti audisi pemeran utama film yang berlatar belakang balet... Tapi pria itu tidak memiliiki keahlian berakting... Bagaimana caranya dia akan memenangkan audisi itu... Dan ini tugasku membantunya...!?"
Aneisha Mihai berpikir keras untuk mencari cara agar dia dapat menolong Beaufort Abellard mendapatkan peran utama itu supaya pria itu dapat mengumpulkan uang untuk modal sekolah balet milik ibunya.
Dia mendekat ke arah Bu Amarise yang memainkan perannya sebagai Magde.
"Mmm... Apakah anda mempunyai rencana, Bu Amarise ?", bisik Aneisha Mihai di dekat wanita tua bergaun merah itu sangat pelan.
"Rencana ? Rencana apa ?", tanya Bu Amarise ikut berbisik pelan.
"Rencana untuk membantunya mendapatkan peran utama di audisi film tentang balet itu ? Apakah anda mempunyai ide untuk menolong pria itu ?", tanya Aneisha Mihai di telinga Bu Amarise.
"Oh !? Tentang itu !? Aku belum memikirkannya tapi kita bisa langsung melihat tempat yang akan diadakannya audisi itu, karena kita akan mendapatkan sebuah petunjuk disana apabila kita melihatnya, sehingga kita bisa membantunya", sahut Bu Amarise.
"Mmm..., seperti itu, baiklah ! Bagaimana kalau kita pergi sekarang ?", tanya Aneisha Mihai.
"Boleh... Tapi tanyakan kepada pria muda itu tentang minatnya pada audisi film tersebut terlebih dahulu !", saran Bu Amarise.
"Iya, aku akan menanyakannya setelah menghabiskan minuman ini", sahut Aneisha Mihai.
"Baik, aku akan menunggunya", ucap Bu Amarise.
Beberapa saat kemudian terlihat ketiga orang itu keluar dari gedung usang, berjalan bersama meninggalkan tempat itu.
Mereka bertiga menuju ke pusat kota untuk melihat tempat audisi film akan diadakan.
Aneisha Mihai kembali melewati jalan-jalan yang tadi ia lewati, berjalan menelusuri gang-gang kecil yang dipisahkan oleh gedung-gedung tua yang menjulang tinggi.
"Masih jauh tempat audisi film itu ?", tanya Aneisha Mihai pada pria muda yang berjalan di depannya.
"Masih...", sahut Beaufort Abellard.
"Kira-kira berapa jam kita akan sampai disana ?", Aneisha mengulang pertanyaannya.
"Sekitar dua jam lebih jika berjalan kaki kesana", jawab Beaufort Abellard.
"Hah ? Dua jam !? Apa tidak salah ?", tanya Aneisha Mihai.
"Memang lama jika berjalan kaki tetapi kalau kita menempuhnya dengan kendaraan mungkin hanya memerlukan waktu tiga puluh menit sampai kesana", ucap Beaufort Abellard.
"Kenapa kamu tidak memberitahukannya sejak tadi, sehingga kita tidak perlu berjalan kaki kesana !?", keluh Aneisha Mihai.
"Aku tidak punya uang untuk naik kendaraan umum atau mengajak kalian mengendarai taksi... Karena aku harus menghemat uangku !?", sahut Beaufort Abellard.
"Astaga ! Kamu tinggal mengatakannya kepada kami sehingga kita tidak perlu berjalan kesana, benar bukan Magde ?", ucap Aneisha Mihai.
Gadis muda itu bertanya sambil menolehkan kepalanya ke arah Bu Amarise dan tersenyum pada wanita tua itu sedangkan Bu Amarise terkejut saat mendengar ucapan Aneisha Mihai.
Wanita tua bergaun merah itu lalu memandang Aneisha Mihai seraya mengernyitkan dahinya.
"Apa !?", ucap Bu Amarise.
"Bukankah kita bisa menempuh ke tempat audisi film itu dengan cepat, benar bukan apa yang aku katakan ini, Magde", ucap Aneisha Mihai sambil mengedipkan kedua matanya.
"Kenapa denganmu ?", sahut Bu Amarise tidak mengerti.
"Katakan padanya jika kita bisa pergi ke tempat audisi itu tanpa berjalan kaki tetapi dapat menempuhnya dengan menaiki taksi", bisik Aneisha Mihai.
__ADS_1
"Bagaimana caranya ? Bukankah tidak boleh menggunakan kekuatan ajaib di masa lalu secara berlebihan !?", jawab Bu Amarise kebingungan.
"Aduh... Aduh... Aku melupakannya, maaf, jika aku sering lupa !", ucap Aneisha Mihai.
"Kau ini..., seringkali ceroboh dan lalai, sekarang apa yang akan kamu katakan padanya ?", bisik Bu Amarise.
"Aduh ! Aku tidak tahu, bagaimana ini !?", ucap Aneisha Mihai kebingungan.
Tiba-tiba Beaufort Abellard menoleh ke arah mereka berdua yang berada di belakangnya, berjalan mengikuti dirinya.
"Ada apa ? Kenapa dari tadi aku lihat kalian terus menerus saling berbisik ?", tanya Beaufort Abellard.
"Ahk, tidak ! Tidak ada, tidak ada yang kami bicarakan ! Hanya masalah keadaan di hutan roh !?", sahut Aneisha Mihai sambil tersenyum lebar.
"Benarkah itu ?", ucap Beaufort Abellard.
"Iya... Iya..., benar...", ucap Aneisha Mihai.
"Apakah ada masalah di hutan roh itu ?", tanya Beaufort Abellard.
"Oh Tidak ! Tidak ada masalah sama sekali dan semuanya baik-baik saja !", jawab Aneisha Mihai.
"Oh iya, tadi kamu berkata kalau kita tidak perlu berjalan ke tempat audisi itu dan dapat menempuhnya dengan menaiki taksi ?", tanya Beaufort Abellard.
"Iya...", jawab Aneisha Mihai gusar.
"Bagaimana caranya ?", tanya pria muda itu.
"Naik taksi ! Yah, naik taksi !", jawab Aneisha Mihai panik.
"Benar, tapi mana taksinya ? Aku tidak melihatnya, Sylphide ?", tanya Beaufort Abellard.
"Aha... Ha... Ha... Ha... Iya, ya, mana taksinya ? Aku tidak melihatnya sama sekali !? Taksi ? Taksi ? Taksi, kau dimana ?", ucap Aneisha Mihai mencoba menutupi gugupnya.
"Apa yang kamu lakukan, Sylphide ? Tidakkah bersikap sedikit serius ? Tidak ada taksi di sini, biasanya kendaraan itu terparkir di jalan-jalan utama di kota, kau tidak akan menemukannya disini !", ucap Beaufort Abellard.
"Kamu yang tidak bertanya, bukankah kamu yang bilang tadi jika kita tidak perlu berjalan kaki ke tempat audisi itu dan kita bisa naik taksi, dan aku beritahu padamu kalau disini tidak terdapat taksi, kamu mengerti !", ucap Beaufort Abellard.
"Ah Iya, aku lupa, dan maaf jika aku membuatmu repot", ucap Aneisha Mihai.
"Nah ! Kau sudah tahu jawabannya, roh ajaib, Sylphide, jadi tetaplah tenang sampai kita di tempat audisi itu, bukankah kalian ingin ikut aku untuk melihat pengumuman disana", ucap Beaufort Abellard.
"Yah, itu benar...", sahut Aneisha Mihai.
"Ya, baguslah, mari kita lanjutkan perjalanan kesana dan nikmatilah tanpa berkeluh kesah, hanya dua jam berjalan kaki, dan itu tidak lama, karena berjalan itu bagus untuk melatih otot-otot kaki", ucap Beaufort Abellard.
"Baiklah, aku mengerti, maaf menghambat perjalanan ini", sahut Aneisha Mihai.
"Tidak apa-apa, ayo, kita lanjutkan lagi perjalanan ini", ucap pria muda itu.
Aneisha Mihai menoleh ke arah Bu Amarise yang berjalan disampingnya. Dia hanya tidak ingin wanita tua itu merasa lelah karena berjalan jauh, meski Bu Amarise adalah seorang malaikat tetapi dia adalah orang yang sudah tua dan wanita tua.
Gadis muda itu kemudian bertanya pada wanita bergaun merah dengan topi merah berenda.
"Apakah anda baik-baik saja, ini sangat jauh, tidakkah anda merasa kecapaian nanti ?", tanya Aneisha Mihai.
"Kamu bertanya padaku ?", tanya Bu Amarise balik bertanya.
"Iya...", sahut Aneisha Mihai sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak ! Aku tidak merasa lelah sedikitpun, kamu bisa melihatnya, aku baik-baik saja, bukan ?", jawab wanita tua itu.
"Syukurlah... Aku sempat khawatir dengan keadaanmu karena harus berjalan kaki selama dua jam", ucap Aneisha Mihai lega.
__ADS_1
"Tenanglah, aku tidak apa-apa, bukankah aku ini malaikat, dan aku masih muda dan kuat", sahut Bu Amarise.
"Ya sudah, jika anda kuat berjalan kesana, aku jadi tidak merasa khawatir lagi", ucap Aneisha Mihai.
Bu Amarise tersenyum mendengar ucapan gadis muda itu, dia sangat senang dengan sikap Aneisha Mihai yang penuh perhatian padanya.
"Aku cukup senang melihat kamu sangat memperhatikanku, nak", ucap Bu Amarise haru.
"Yeah... Bukankah itu adalah tugasku untuk bersikap sopan pada anda, karena bagaimanapun juga, anda adalah malaikat pelindungku, aku hanya tidak ingin melihatmu lelah saja, karena tanpamu, entah bagaimana nasibku...", sahut Aneisha Mihai gamblang dan lugas.
"Ehk !? Lugas sekali dia berkata seperti itu pada malaikat pelindungnya ? Ya Tuhan ! Apa seperti itu sikap anak muda zaman sekarang ?", ucap Bu Amarise sambil geleng-geleng kepala, pusing.
Mereka bertiga melangkahkan kaki menuju ke area kota yang tidak jauh lagi dan tinggal beberapa meter dari tempat mereka saat ini.
Hampir dua jam lebih dua puluh menit, mereka bertiga telah sampai ke sebuah gedung yang sangat megah.
Bangunan megah dengan gaya arsitektur Napoleon III, yang ornamennya mengombinasikan elemen gaya Reinasans dan Barok, sangat memukau hati Aneisha Mihai yang baru pertama kali melihatnya.
Gedung Opera Palais Garnier merupakan gedung dimana pagelaran opera balet tradisional biasa di gelar. Dirancang oleh arsitek Charles Garnier, Palais Garnier Paris dibangun antara tahun 1861 dan 1875.
Tempat audisi film itu berada tepat di lobi gedung yang terletak di lantai bawah gedung tersebut.
Aneisha Mihai, Bu Amarise dan Beaufort Abellard, ketiganya masuk ke dalam ruangan gedung menuju lobi, tempat audisi itu diadakan disana.
"Apa benar disini tempatnya, audisi film itu dilaksanakan ?", tanya Aneisha Mihai yang berjalan dengan pakaian balet khasnya yang berwarna merah dengan sepatu balet merah dan mahkota menghias rambutnya yang tersanggul rapi.
"Benar, memang disini tempatnya diadakan audisi film itu digelar, kita kesini untuk mendaftar lebih awal, karena akan banyak yang datang untuk ikut audisi film ini, maka itulah aku mengajakmu kemari lebih awal", ucap Beaufort Abellard.
"Ini sangat luar biasa sekali Beaufort Abellard karena tempat ini sangat bersejarah dan tidak mudah untuk masuk ke tempat ini !", ucap Aneisha Mihai terkagum-kagum.
"Oh iya, aku memang hebat bukan, sebab ini adalah pengalaman yang sangat langka sekali bisa masuk ke gedung semegah ini", ucap Beaufort Abellard bangga.
"Wow ! Ini benar-benar sangat Wow ! Ini Wow ! Dan Wow !", ucap Aneisha Mihai.
Gadis muda berparas cantik itu berjalan dengan langkah pelan sembari memperhatikan sekitar ruangan lobi gedung yang mewah dan penuh ukiran barok.
Ruangan bangunan Opera Palais Garnier sangatlah mempesona ditunjang besarnya ukuran bangunan tertua di Perancis itu.
Eksteriornya terkenal dengan patung di atap gedung, sedangkan interiornya penuh dengan hiasan dinding, mosaik, serta dekorasi berlapis marmer dan emas.
Gedung dengan arsitektur mewah dan terkenal itu, rumah opera Paris pertama yang terletak di 9th Arrondidissement di Boulevard des Capucines, Paris, Perancis.
Palais Garnier terletak di sisi kanan Sungai Seine, di kawasan yang dikenal sebagai Distrik Opera.
"Bagaimana cara kau akan ikut audisi film itu ?", tanya Aneisha Mihai.
"Aku akan mendaftarnya dan tunggulah disini, aku akan ke lobi itu", sahut Beaufort Abellard.
"Mmm... Baiklah, aku dan Magde akan menunggu disini, dan semoga mendapat urutan nomer audisi yang beruntung", ucap Aneisha Mihai penuh semangat.
"Benar, semoga beruntung dan mendapatkan nomer urutan yang bagus untuk audisi film nanti", ucap Bu Amarise.
"Terimakasih semua atas dukungannya, tanpa kalian berdua mungkin aku tidak akan pernah sanggup untuk datang kemari", ucap Beaufort Abellard.
"Kenapa ?", sahut kedua perempuan itu kompak.
"Mungkin aku tidak akan sampai ke tempat ini karena kelaparan dan tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan sejauh itu ke gedung ini, terimakasih telah membantuku", ucap Beaufort Abellard dengan mata berkaca-kaca dan berlari cepat menuju lobi.
Aneisha Mihai dan Bu Amarise saling berpandangan dengan perasaan terharu ketika melihat perjuangan Beaufort Abellard untuk mempertahankan sekolah balet milik ibunya itu meski pria muda itu harus berkorban sangat banyak untuk sekolah tersebut.
Semangat Beaufort Abellard mengispirasi hidup Aneisha Mihai untuk lebih bersemangat dalam hidupnya lagi, terutama dalam mencapai beasiswa itu dan menjadi seorang balerina yang hebat.
Mencapai tujuannya untuk melindungi keluarga tercintanya dari kehancuran dan mencegah Izebel yang berniat jahat serta berusaha merebut kebahagiaan keluarganya.
__ADS_1
Beaufort Abellard terlihat berdiri mengantri di depan beberapa orang yang ikut audisi film yang berlatar belakang tentang balet. Sedangkan kedua perempuan yang ikut bersamanya tadi yaitu Aneisha Mihai dan Bu Amarise tampak menikmati pemandangan di dalam ruangan bangunan megah itu, Bangunan Opera Palais Garnier.
Mengagumi keindahan dari arsitektur bangunan tersebut. Salah satu bangunan tertua di Perancis dan merupakan salah satu tempat yang menjadi daya tarik wisata yang sangat terkenal di kawasan Distrik Opera, Paris, Perancis. Opera Palais Garnier.