
"Mau apa ke ke kamar aku?" tanya Rea dengan jengah.
"Jangan terlalu percaya diri, Firas nikah denganmu hanya karna reputasi keluarga. Tidak ada cinta sedikitpun didalam pernikahan kalian! Andai saja saat itu aku ada disini sudah pasti Firas akan memilih menikah denganku dibanding denganmu!" ejeknya pada Rea.
"Andai saja saat itu semua terjadi aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia. Tapi sayangnya itu tidak terjadi sehingga aku merasa menjadi wanita yang paling menyedihkan." Rea memasang wajah paling menyedihkan namun seketika ia tertawa lepas.
"Dasar gila!" Cherin berteriak dengan begitu kuat sehingga suaranya begitu menggema di ruangan kamar Firas.
"Ya. Aku mendadak menjadi sangat gila saat berada di depanmu entah kenapa tanganku ini terasa gatal sekali." Rea ******* - ***** jarinya ke udara hal itu membuat Cherin bergidik ngeri dan langsung pergi begitu saja.
Rea tersenyum penuh kemenangan dan mengambil kesimpulan ternyata harus begini cara menghadapi perempuan sepertinya. Sikap wanita itu malam ini telah membuatnya menjadi tahu wanita seperti apa yang saat ini dihadapinya.
"Kau pikir akan takut padamu! Wanita licik! Terimakasih telah datang ke kamarku dan menunjukan sifatmu didepanku" gumamnya sendiri lalu menutup pintu dengan kasar hingga mengagetkan wanita yang sudah semakin menjauh pergi.
"Dasar wanita gila!" gerutu Cherin seraya terus berjalan.
Cherin merasa sangat kesal karna ternyata wanita yang bernama Laudrea itu bukanlah wanita yang lemah seperti dugaannya.
Selama ini ia selalu menduga jika wanita yang telah menjadi istri Firas itu hanyalah wanita manja dan lemah yang mudah ditindas namun ternyata ia salah besar karna wanita itu sangatlah kuat bahkan tidak merasa takut sama sekali kepadanya.
"Aku harus cari cara lain untuk menyingkirkan wanita itu dari rumah ini!" rencana licik mulai tersusun.
...****************...
Pagi beranjak menandakan akan banyak aktivitas yang akan dilakukan.
Firas dan Rea yang telah siap untuk pergi kekantor. Pagi ini mereka terlihat lebih santai dari biasanya.
Hubungan yang semakin bisa menerima satu sama lain membuat para penghuni rumah yang sedang menikmati sarapan pagi itu merasa heran dengan sikap yang tidak biasa yang ditunjukan Firas.
Tatapan Firas yang biasanya sangat kaku, entah kenapa pagi ini tiba - tiba menjadi begitu hangat pada istrinya.
"Fir, apa kau salah minum obat?" ejek Leon heran.
"Kenapa apa pemandangan pagi ini mengganggu penglihatanmu," ucapnya santai.
"Harusnya tidak begitu."
"Dimana wanita itu?" Firas menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Entahlah pagi sekali wanita itu telah pergi." Leon menjawab seraya menyesap kopinya.
"Kau sudah mencari tahu apa maksud kedatangannya?"
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh salah satu anak buahku untuk mengawasinya, tenang saja!"
"Memangnya apa yang pernah dilakukannya?" tanya Rea penasaran.
Leon menceritakan kejadian yang dilakukan oleh Cherin beberapa tahun silam pada keluarga Mahotra.
Mengingat sikap Cherin semalam saat mendatangi kamarnya membuatnya sudah bisa menebak. Jika wanita itu tertarik dengan suaminya.
"Hmmm, jadi seperti itu ceritanya." Rea manggut - manggut.
"Hati hati jika berhadapan dengannya. Jangan sampai kau terpancing omongan yang keluar dari mulutnya!" Kali ini Firas yang berbicara memperingatkan istrinya untuk lebih berhati - hati.
Rea mulai berpikir tentang tindakannya semalam saat menghadapi seorang Cherin adalah benar. Menghadapi wanita seperti itu memang harus dengan sedikit gila pikirnya.
Lalu ia tersenyum geli memikirkan saat ia berhadapan dengannya semalam.
Firas dan Leon mengernyitkan keningnya heran dengan tingkah Rea yang senyum - senyum sendiri.
"Apa sekarang hobbimu berubah jadi suka tersenyum sendiri?" tanya Fir pada istrinya itu.
"Aku hanya teringat saat semalam Cherin datang ke kamar kita," tuturnya pada sang suami.
Seketika Leon dan Firas saling tatap.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Leon dan Fir secara bersamaan.
"God girl." Firas mengusap lembut puncak kepala sang istri. Entah kenapa pagi ini perasaan Firas berubah menjadi begitu hangat pada Rea.
Apa mungkin ia mulai membuka hati. Entahlah hanya saja dia ingin memperbaiki hubungan yang selama ini tak berarti baginya. Hubungan pernikahan karna sebuah reputasi.
"Ibu sama Daniel kapan kembali dari jogja?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Rea membuat Firas seketika berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Padahal Rea sendiri juga tidak sadar dengan pertanyaannya baru saja. Rea hanya berusaha menutupi kegugupan karna sikap yang ditunjukan suaminya beberapa menit yang lalu.
"Apa kau sudah begitu merindukan Daniel!" tanya Firas yang saat ini sudah kembali menunjukan raut wajah datarnya.
"Bukan begitu maksudku. Aku kan hanya bertanya."
Rea kembali fokus sarapan dam dengan segera menghabiskan makanan di piringnya.
Baru saja senang melihatnya bersikap hangat , eh udah berubah datar dan kaku lagi. Lagian ni eke punya mulut ya gak bisa diajak kompromi banget. Kenapa juga aku nanyain Daniel. hadeuh.... Batinnya terus mengutuk dirinya
Leon menyimpulkan senyuman menyaksikan sepasang suami istri yang sedang merasakan salah tingkah satu sama lain.
__ADS_1
Ritual sarapan pagi telah selesai Leon, Rea dan Firas segera pergi kekantor.
Mereka menuju kantor menggunakan satu mobil yang sama dengan dikemudikan oleh Leon dan Firas di samping kemudi sementara Rea duduk di kursi bagian belakang.
Hanya ada hening yang menemani perjalanan mereka pagi ini.
"Bagaimana tentang kerja sama yang ditawarkan oleh perusahaan LAS Crop company?" pertanyaan Firas memecah keheningan.
"Setelah jam makan siang Direktur utama itu sendiri yang akan menghadiri pertemuannya dengan kita."
"Oh ya!" ucap Firas antusias.
"Ya kemarin aku mendapatkan telpon dari sekretaris pribadinya."
"Kalo begitu kosongkan semua jadwal untukku di jam tersebut." titahnya kemudian.
"Tenang saja, semuanya sudah ku atur dengan sebaik mungkin!"
Firas melirik kursi belakang dengan sudut matanya.
Dilihatnya Rea yang sedang asik memainkan ponselnya tanpa menghiraukan kedua orang yang berada dalam satu mobil.
Sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu jika wanita itu sedang fokus pada ponselnya ia selalu mengabaikan dunia sekitar. Entah apa yang terjadi dihadapan sekalipun wanita itu tidak mengalihkan tatapan pada layar ponselnya.
Jadi wajar saja jika saat itu tiba tiba terjadi penculikan.
Hap
Firas menyambar ponsel milik Rea.
"Astaga!" Rea terkejut bukan kepalang.
Sementara Firas dengan acuhnya memasukan ponsel sang istri kedalam saku jasnya.
"Hais... Selalu saja menggangguku. Kembalikan ponselku!" pintanya pada Firas.
"Mulai sekarang aku akan merubah kebiasaanmu itu."
"Apa maksudmu!"
"Jika kau terus membiasakan dirimu seperti itu, aku tidak yakin kau bisa menghindari bahaya."
"Apa maksudmu aku benar - benar tidak mengerti! Kembalikan ponselku!" ucapnya geram.
__ADS_1
"Di kantor nanti kau akan mendapatkannya kembali."
Dengan terpaksa Rea pun menuruti ucapan suaminya. Toh tidak lama lagi mereka akan segera tiba di kantor.