
Beberapa saat setelah kepergian kedua orang tuanya.
"Sayang, apa kamu mau mandi?"
"Tentu saja, badanku sudah terasa sangat lengket dan gerah."
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Tunggu aku lihat dulu pakaian gantimu apa Leon tadi membawakannya atau tidak."
Firas meraih koper dan mencari baju ganti untuk sang istri.
"Hah nyata Leon cukup pengertian juga ya. Dia membawakan pakaian ganti juga untuk istriku!" pujinya pada adik sepupunya itu.
Lalu lelaki itu membawa sang istri ke dalam kamar mandi. Dengan telaten lelaki terus membantunya.
Sungguh suami idaman. Lelaki selalu memperlakukan sang istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Dan membuat siapapun wanita yang melihatnya akan merasa iri.
Saat bersamaan sang perawat datang dan melihat Firas begitu telaten mengurus sang istri. Perawat itu berdecak kagum akan kelembutan lelaki itu memperlakukan istrinya
"Beruntung sekali wanita itu mempunyai suami sepertinya," ucapnya dalam hati.
Perawat itu menatap kagum pada sepasang suami istri itu. Sungguh benar-benar pasangan yang romantis menurutnya.
Satunya begitu tampan dan satunya begitu cantik mereka sangat serasi.
"Selamat pagi tuan, dan nona," Sapa sang perawat itu.
"Pagi suster." Rea membalas sapaan sang perawat.
"Maaf Nona saya mau memeriksa kondisi anda Silakan berbaring!" titah perawat tersebut pada Rea.
Rea menurut dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien miliknya.
Dan perawat itu mulai memeriksa keseluruhan tubuh Rea termasuk bayi yang ada didalam kandungannya
"Baiklah semuanya sudah normal detak jantung bayinya pun sangat normal.," ucap perawat itu setelahnya, lalu pamit keluar.
"Suster apa hari ini aku sudah boleh pulang?" tanya Rea penuh harap.
"Kita lihat kondisi Nona hingga siang ini jika siang ini Kondisi nona semakin baik, Nona bisa pulang hari ini."
Rea mengangguk antusias.
__ADS_1
Lama-lama berada di rumah sakit membuatnya merasa jenuh. Wanita itu sudah tidak betah berada di rumah sakit dan ingin segera pulang ke rumahnya menikmati udara bebas. Dan udara bersih tanpa ada aroma obat - obatan seperti di rumah sakit ini.
"Minum yang banyak!" titahnya seraya menyodorkan cangkir berisi air putih pada sang istri.
"Minum terus Fir, entar yang ada malah kembung perutku jadi gak enak!" tolaknya.
"Kalo begitu makan aja gimana?"
"Apa itu Fir?"
"Sop iga bakar mau?" tawarnya basa basi karna Firas tahu betul jika sang istri sama sekali tidak suka dengan sop seperti itu.
"Harum sekali baunya kak, mau donk," ucapnya.
Panggilan kak yang wanita itu sematkan membuat Firas seketika terdiam dan merasa sekarang ia benar benar sedang bersama Lea kecilnya.
Lelaki itu menyimpulkan senyuman, lalu menatap sang istri.
"Kamu tahu Lea, aku sangat bahagia dengan panggilan itu!" tuturnya.
"Kalo begitu kita kembali ke panggilan masa kecil kita gimana?" tanyanya penuh semangat.
"Oke, siapa takut?" Firas menoel hidung mancung sang istri.
"Sebenarnya perubahan wajahmu tidak begitu jauh sih, tapi kenapa aku tidak mengenalimu saat pertama melihatmu di pelaminan. Apa karna kamu terlihat begitu menyedihkan saat itu sehingga membuatku tidak bisa mengenalimu engan baik hm?"
"Jangan seperti itu, bibirmu membuat hasratku memuncak sayang, apa kamu sudah siap untuk aku makan di ruangan ini?!" ancamnya pada Lea.
"His dasar omes!"
"Biarin kan omesnya hanya sama istri!"
Kantuk mulai melanda mata Lea, obat itu sungguh membuat wanita itu terus mengantuk dan melupakan rasa mual yang mendera didalam perutnya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu hingga bangun nanti!" titahnya seraya menaikan selimut itu hingga batas dada sang istri.
Ditempat lain.
Samuel yang baru saja tiba di apartemennya terlihat menelpon seseorang.
"Baiklah aku akan segera ke sana!" ucapnya lalu kembali menyambar kunci mobil miliknya.
Seorang wanita yang tidak asing dimata Samuel kini sedang duduk menanti kedatangan Samuel untuk membicarakan sesuatu hal penting.
"Ada apa Riana, kenapa tiba tiba menelponku?" tanya Samuel dengan tatapan penuh kebencian dan amarah.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sinis.
"Kembalikan perusahaan ayahku atau kau akan tahu akibatnya!"
"Jangan pernah coba coba mengancam ku Riana. Perusahaan itu bukan hak ayahmu, dan asal kau tahu jika perusahaan itu sudah hampir bangkrut jika saja aku terlambat datang mungkin perusahaan itu sudah beralih ke tangan orang lain!" ucap Samuel dengan penuh amarah.
Berani sekali wanita itu meminta kembali perusahaan yang bukan sama sekali haknya.
"Itu hak ayahku El, Om sultan adalah adik satu satunya ayahku dan harta peninggalannya hanya akan menjadi hak ayahku, dan ayahku sudah memberikannya untukku!"
"Apa kau melupakan seseorang yang ditinggalkan oleh Om Sultan dan Tante , dia adalah satu satunya orang yang berhak atas harta ayahnya!"
"Aku tidak peduli dengannya lagian anak itu juga sekarang entah masih hidup atau tidak setelah peristiwa di rumah sakit malam itu!"
Jadi, Rania tidak tahu jika Lea masih hidup hingga saat ini. Ya, itu lebih baik demi keselamatan Lea, aku harus berpura pura tidak tahu apapun tentangnya.
"Aku hanya akan memberikan perusahaan itu pada seseorang yang lebih berhak dibanding kau dan suamimu yang bedebah dan biadab itu!"
"Berani sekali kau mengatakan suami seperti itu!"
"Sebutan apalagi yang pantas untuk lelaki sepertinya selain dua kata itu, aku rasa tidak ada yang lebih cocok!"
" Kembalikan perusahaan itu atau..!"
"Atau apa hah, kau akan membunuhku? Lakukan saja, tapi sampai matipun kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan perusahaan itu kembali ketanganmu!!!!"
El segera bangkit dan beranjak dari kursinya. Lalu pergi meninggalkan wanita yang bernama Rania.
"Ikuti terus kemana wanita itu pergi, jangan sampai lolos dari pemantauan!" titah Samuel pada salah satu anak buahnya kepercayaannya selama ini.
"Siap bos!"
"Laporkan semua padaku tentang apa saja yang dilakukannya! Jangan sampai ada terlewat sedikitpun, mengerti!" ucapnya lagi seraya menepuk pundak orang kepercayaannya itu.
"Siap bos!".
Setelahnya ia berlaku pergi dan melihat semua hasil laporan anak buahnya yang selama ini ia tugasnya untuk mengikuti wanita yang bernama Riana.
Samuel terperangah kaget saat melihat sebuah rekaman Video yang merekam saat Riana melihat Lea dan Firas.
"Ternyata Raina mengenal Firas, tapi mendengar penuturannya tadi tentang Lea, sepertinya Riana tidak mengenalinya, Baguslah. Jika sampai Riana tau itu adalah Lea, hidup Lea akan dalam bahaya besar!"
Ngomong - ngomong tentang Lea, bagaimana kabarnya sekarang sudah lama dirinya tidak menghubungi sepupunya itu semenjak peristiwa di danau dan berakhir Firas masuk rumah sakit saat itu.
Lelaki merogoh ponselnya lalu segera menekan kontak sepupunya itu untuk sekedar menanyakan kabarnya. Namun tidak ada jawaban dari ponsel sepupunya itu
__ADS_1
Akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Firas saja esok hari pikirnya.